Rabu, 16 Februari 2011

Dasa Warsa Pertama



Waktu selalu bergulir gegas. Dekade demi dekade sering berjalan tanpa terasa. Begitu pula yang dirasakan Biantoro Santoso, tentang Nadi Gallery yang didirikannya sepuluh tahun silam. Menandai dasa warsa pertamanya, Nadi meluncurkan sebuah buku yang mencatat jejak perjalanan galeri yang berada di bilangan Puri Indah ini. “Buku ini mungkin belum layak jadi acuan penting bagi yang mau mengaji secara serius soal galeri seni di Indonesia. Tapi bisa jadi sumber informasi tentang apa yang pernah dikerjakan dan dicapai oleh Nadi Gallery,” kata Biantoro tentang buku berjudul Tha Show Must Go On itu. Peluncuran buku ini ditandai dengan sebuah pameran yang sedikit keluar dari pakem Nadi selama ini. Kalau biasanya kami mengusung tema atau pendekatan tertentu dalam tiap pameran, kali ini kami membiarkan para seniman datang dengan ide mereka masing-masing, tanpa tema yang mengikat. Namun kami yakin, karya-karya yang tampil tetap bisa kita nikmati dan dijadikan acuan untuk membaca bagaimana perkembangan karya masing-masing seniman akhir-akhir ini.,” kata Biantoro lagi. Mungkin kita bisa menganalogikan pameran ini serupa sebuah pesta tanpa kode busana. Karena yang berjaya sejatinya bukanlah warna yang mengikat mereka, melainkan ide yang ada di baliknya. (ISA), Foto: Dok. Nadi Gallery

DUA DALAM SATU


Dua konser musik digelar di dua tempat berbeda di Kompleks Taman Ismail Marzuki pada tanggal unik 11 November 2010 silam. Di tanggal 11/11 itu, Orkes Simfoni Institut Kesenian Jakarta (IKJ) yang sempat vakum selama hampir lima tahun, kembali membentuk kelompok yang terdiri atas mahasiswa, dosen dan alumni IKJ. Pentas perdana kelompok baru ini digelar di Teater Kecil. Mereka memainkan beberapa komposisi abadi Ismail Marzuki, dan komponis dunia lain seperti Hyden. Sementara itu, di Planetarium yang bersisian dengan Teater Kecil, digelar pertunjukan musik bertajuk 11.11 From Duality to Oneness: Diddi Agephe + Andy Ayunir. Duo musisi ini sejak lama dikenal sebagai pioneer dalam musik elektronik. Mereka berdua menampilkan 10 komposisi kompleks yang berkaitan dengan frekuensi, vibrasi, resonansi, dan kesadaran semesta. Repertoar yang mereka tampilkan malam itu, berawal dari kisah penciptaan semesta, berjudul Big Bang 14,000,000,000 BC – Universe Created dan dipungkas dengan 11.11 Cosmic Consiousness. (ISA), Foto: Dok. Diddi AGP

Senin, 20 Desember 2010

LANGGAM DIPLOMASI RETNO MARSUDI


Kaki dan kiprahnya melanglang buana. Tapi hati dan cintanya tertambat pada akar kearifan Jawa.

Suara gending lamat-lamat menyapa telinga. Lembut, seakan datang dari dunia tak bernama. World music. Itu dugaan pertama yang melintas di kepala, mengingat pemilik ruangan apik beraroma sedap malam dan pandan itu adalah Retno Lestari Priansari Marsudi. Salah seorang Duta Besar di Kementrian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu-RI) yang sejak 2008 menjadi Direktur Jenderal Amerika dan Eropa (Dirjen Amerop). “Bukan world music. Ini klenengan asli Jawa,” kata Retno ketika ditanyakan perihal musik yang melantun di ruang itu. “Saya ini sangat Jawa. Lahir dan tumbuh besar di tengah keluarga Jawa yang kental memegang tradisi,” katanya. Itu sebab kenapa Retno menghadirkan atmosfer itu lewat musik dan aroma di ruang kerjanya. “Ketika menghadapi tekanan pekerjaan yang sangat tinggi, saya berusaha membangun suasana yang rileks dan homey,” katanya membuka rahasia. Dua hari sekali, ia mengganti bunga dan rajangan pandan agar atmosfer itu tetap sinambung nemenaninya. Irama pelog dan slendro terus berjalin dalam ritme lambat.

Ritme yang berbeda seratus delapan puluh derajat dengan aktivitas Retno yang demikian padat dan pesat. “Kadang-kadang, 24 jam terasa kurang,” cetusnya tertawa. Retno tak berlebihan. Seringkali ia berada di Jakarta seminggu saja dalam sebulan. Sebagai orang yang bertanggung jawab atas hubungan Indonesia dengan dua benua sebesar Amerika dan Eropa yang berjarak ribuan mil dari tanah air, perempuan pertama sepanjang sejarah Kemlu-RI yang bisa menempati posisi sebagai dirjen ini memang harus kerap menghabiskan waktunya di perjalanan menuju negara-negara yang dilawatnya. “Kadang-kadang hanya untuk perjalanan saja saya harus menghabiskan waktu empat hari pulang pergi,” katanya. Ketika berada di Jakarta pun, hari-harinya telah dipadati jadwal yang mengantri. “Tiap jam ada jadwal meeting. Ini waktu terlama yang pernah saya alokasikan untuk sebuah pertemuan,” katanya, sambil menyebut waktu tiga jam yang diberikannya untuk wawancara dan pemotretan dengan Dewi.

Retno bukan sedang sambat. Setelah hampir seperempat abad, masa telah menempanya menjadi seorang diplomat tangguh yang tak gentar menghadapi berbagai rintangan. Hal itu dibuktikan, misalnya ketika ia ditugaskan menjadi salah satu anggota Tim Pencari Fakta (TPF) kasus pembunuhan aktivis Hak Asasi Manusia, Munir pada 2004. Retno harus melakukan negosiasi diplomasi yang sangat alot dengan pihak Belanda, tempat di mana akhirnya Munir ditemukan tewas tatkala pesawat yang membawanya mendarat di Bandar udara Schipol. “Pengalaman bekerja dalam TPF Munir itu memberi saya pelajaran yang mungkin tidak akan pernah saya peroleh di sekolah mana pun,” katanya. Retno juga mengaku berhasil mematahkan stigma yang ia dengar dari banyak kalangan pemerintah yang acap menganggap bekerja dengan para aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) itu sebagai sesuatu yang sulit. “Awalnya saya sempat khawatir memikirkan omongan-omongan itu. Tapi di akhir hari, saya bisa membuktikan kalau kerjasama dengan teman-teman LSM itu tidak sesulit yang dibayangkan. Bahkan sampai sekarang pun, saya masih berhubungan baik dengan teman-teman di TPF,” katanya.

Usman Hamid, seorang kolega Retno di TPF Munir, mengamini hal ini.
“Sesekali saya masih bertemu Mbak Retno, entah dalam acara formal atau sekadar ngopi santai membincangkan berbagai hal,” kata Usman. Retno, dalam pandangan Ketua Dewan Pengurus Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindakan Kekerasan (Kontras) ini merupakan satu dari sedikit diplomat yang menjanjikan dedikasi besar terhadap dunia diplomasi Indonesia. Usman tak asal bicara. Dirinya dan Retno bersama-sama menjadi anggota tim negosiasi di Belanda . “Waktu itu saya mewakili keluarga Munir. Mbak Retno dari Kemlu. Kami harus melakukan negosiasi dengan pemerintah Belanda agar diizinkan membawa specimen dari jasad mendiang Munir ke Indonesia sebagai bukti dalam proses penyidikan,” katanya.

Proses negosiasi saat itu, menurut Usman, menjadi sangat alot karena ada perbedaan kebijakan antara Indonesia dan Belanda perihal penerapan hukuman mati. “Hal ini menjadi isu sentral kala itu. Belanda terikat dengan Konvensi Eropa untuk tidak menerapkan hukuman mati, sementara Indonesia, dalam beberapa kasus, masih meniscayakan kemungkinan itu. Pihak Belanda tidak berkenan memberikan bantuan hukum, dalam hal ini specimen sebagai barang bukti, jika di kemudian hari berakibat penjatuhan hukuman mati terhadap seseorang,” Usman menjelaskan. Tarik menarik kepentingan terjadi seperti dua magnet berkekuatan besar. “Posisi Mbak Retno jelas tidak mudah saat itu,” kata Usman. Dengan pemahaman, dan kemampuan word engineering yang dimilikinya, Retno dapat membuat kesepakatan yang membuat kedua belah pihak nyaman. “Mbak Retno itu negosiator ulung yang membuat misi kami tercapai,” kata Usman mengenang.

Diplomasi dan negosiasi barangkali telah mendarahdaging dalam dirinya. Retno kerap memimpin delegasi untuk banyak perundingan penting di berbagai negara. ”Dia punya pemahaman dasar yang sangat solid tentang apa yang dilakukannya. Bukan hanya urusan hubungan internasional yang dikuasainnya secara purna, tapi juga hukum internasional,” kata Usman. Retno, seperti yang telah terbukti di banyak meja negosiasi, memiliki naluri yang kuat sebagai seorang negosiator. “Masing-masing perundingan itu memilik karakter berbeda dan semua memerlukan ketekunan untuk diselesaikan,” kata Retno. Menurutnya, kombinasi antara fleksibiltas, semangat berkompromi dan keteguhan selalu diperlukan dalam setiap negosiasi. Retno biasanya juga mempelajari curriculum vitae sang ketua tim perunding. “Saya cari di mana persamaannya dengan kita. Walau pun urusannya urusan negara, tapi penting pula mengetahui faktor personal. Ini akan sangat membantu untuk mencairkan suasana,” jelasnya. Selain negosiasi kasus Munir, perundingan untuk menghapuskan larangan terbang maskapai penerbangan Indonesia ke Eropa juga menjadi perundingan yang menantang buat Retno.

Karier perempuan kelahiran Semarang, 27 November 1962, melesat segegas meteor. Lulusan Fakultas Hubungan Internasional UGM 1985 ini tersaring lewat jalur rekrutmen langsung yang diadakan Kemlu-RI di kampusnya setahun sebelum ia usai kuliah. “Jadi saat wisuda, saya sudah enteng. Sudah punya tempat yang dituju,” katanya bersahaja. Jenjang demi jenjang dalam tangga birokrasi di Kemlu-RI, dengan pesat dan pasti dicapainya. Retno sendiri mengaku tak pernah membuat target jabatan apa yang ingin diraihnya. “I just always try to do my best,” katanya. Ini yang membuat ia cepat mendapat promosi. Bergabung sebagai staf pada Biro Analisa dan Evaluasi untuk kerjasama ASEAN pada 1986, Retrno diangkat menjadi Direktur Eropa Barat. Promosi yang mengejutkan baginya, “Sebab saat itu usia saya baru 38. Relatif sangat muda untuk ukuran birokrat,” katanya. Kejutan lain juga datang kemudian. Retno diangkat sebagai duta besar di usia 42 tahun dan menjadi Dirjen Amerop beberapa tahun kemudian.

Perubahan yang dinamis dalam diplomasi diikuti dengan santai oleh Retno. Ia selalu terbuka terhadap berbagai perubahan. “Justru pada dinamika itu letak daya tariknya. Setiap hari isu yang harus saya tangani berbeda. Selalu ada perubahan setiap saat. Ini memaksa saya untuk selalu alert dan mengikuti perkembangan,” katanya membagi kiat. Menurutnya, dalam diplomasi modern diplomat hanya merupakan satu dari banyak pelaku yang terlibat dalam hubungan antar Negara. “Dalam kondisi hubungan yang baik, tentu tugas diplomat menjadi lebih mudah karena tugas utamanya menjaga dan meningkatkan hubungan yang sudah baik. Namun dalam kondisi yang tidak baik, diplomat harus bisa menjalankan tugas sebagai pendamai yang mencoba mengkonversikan situasi seburuk apapun menjadi situasi yang lebih baik,” katanya.

Dalam pandangan Retno, diplomasi ekonomi akan menjadi penekanan bagi diplomasi indonesia di masa mendatang. “Tugas para diplomat ke depan adalah bagaimana mengkonversikan hubungan politik yang baik yang dimiliki indonesia dengan semua negara menjadi hubungan baik di bidang lainnya, terutma bidang ekonomi,” katanya. Apalagi menurutnya, dari sisi diplomasi, Indonesia berada dalam posisi yang lebih ringan dari masa-masa yang lalu. “Kalau dulu, kita banyak sekali dibebani oleh isu hak asasi manusia, demokratisasi, good governance dan sebagainya. Isu-isu yang terus terang sangat membebani diplomasi kita pada saat itu, kini terus terang sudah tidak ada sama sekali,” katanya mantap. Retno menggaris bawahi, dari sisi perkembangan penghormatan hak asasi manusia, Indonesia sudah jauh lebih maju. Dari sisi demokrasi,menurutnya, Indonesia sekarang bisa dengan bangga mengklaim sebagai Negara demokratik ketiga di dunia, setelah Amerka dan India. Dari sisi good governance, kendati masih banyak hal yang harus dibenahi, komitmen pemerintah untuk melakukan perbaikan, pemberantasan korupsi, menurutnya layak dihargai karena hal tersebut membuat Indonesia dihormati di kancah diplomasi dunia. “Dengan semakin entengnya “beban” diplomasi itu, energi kita jadi bisa lebih banyak terfokus pada diplomasi ekonomi,” katanya.

Hal itu pula yang terus ia upayakan terjalin antara Indonesia dengan Amerika dan eropa. Retno mencatat respon yang sangat positif dari dua wilayah adidaya itu. “Indonesia dan Amerika saat ini tengah menjalin kemitraan komprehensif (Comprehensive partnership). Tidak banyak negara yang dapat membuat Amerika mau menjalin kerjasama ini. Peresmiannya memang belum karena kita menunggu kunjungan Presiden Obama. Tapi dalam praktiknya hubungan itu sudah mulai berjalan,” katanya. Tak hanya dengan Amerika, Indonesia juga punya kemitraan komprehensif dan strategis dengan Uni Eropa dan negara besar lain seperti Jepang, Cina, juga Australia. “Sebuah negara tidak akan mau menjalin kemitraan komprehensif atau strategis dengan negara yang tidak mereka pandang,” katanya. Di tangan Retno, segala hal memang terasa memiliki masa depan. Kerja yang demikian berat itu berhasil dipikulnya. Ini memberinya konsekuensi lain. Mobilitas yang sangat tinggi.

Hal ini sama sekali tidak mengganggunya. Sejak awal memilih diplomasi sebagai jalan hidup, Retno sudah tahu benar risiko yang harus diambilnya itu. “Memang harus membangun team work yang baik dengan suami dan anak-anak. Apalagi wilayah kerja saya Amerika dan Eropa yang secara geografis sangat jauh, waktu saya benar-benar habis di jalan. Pada saat saya masuk Deplu, dia sudah tahu benar apa risiko yang harus kami ambil,” kata istri Agus Marsudi yang seorang arsitek itu. Retno menolak pandangan yang mengatakan bahwa karier dan rumah tangga adalah pilihan. “Tidak ada yang perlu dikorbankan. Semua bisa berjalan beriringan jika rasa aman bisa sama-sama kita bangun,” kata Retno yang rutin jogging dan berdansa dengan suaminya setiap pagi. Mereka juga punya ritual tahunan yang mungkin jarang dilakukan pasangan lain: mendaki gunung. Baginya, mendaki gunung bukan hanya perkara raga. “Seperti gunung, hidup punya puncak yang harus didaki dan suatu saat juga harus dituruni,” katanya beramsal. Retno mengaku selalu rindu kembali mendaki punggung Merapi, bermalam di sana, menyesap sahaja penduduk desa sembari menyeruput hangat tawa mereka.

Rindu yang mungkin tak bisa ditunaikan oleh gagah Pulpit Rock di Norwegia yang pernah pula ia daki hingga puncak bersama sang suami. Jangan heran pula jika suatu kali melihat Retno dan Agus duduk santai berdua di emper Malioboro nggedabrus -berbincang ke sana ke mari- dengan pedagang wedang ronde dan tukang becak. Ia mengaku, saat-saat seperti itu serupa proses kalibrasi rasa baginya. “Menjadi bukan siapa-siapa seperti itu membawa saya kembali ke akar. Mengajak jiwa saya kembali eling bahwa hidup sejatinya begitu sederhana,” kata. Ya, seperti seekor elang, ibunda dua remaja putra Dyota dan Bagas ini memang selalu butuh sarang untuk pulang setelah jelajah panjang yang melelahkan. Rumah dengan segala cinta dan aroma Jawa yang bisa dihirup di dalamnya, adalah sarang menenangkan bagi Retno, sang elang, untuk kembali ke kesejatian diri. (Indah S. Ariani), Fotografer: Irene Iskandar, Pengarah gaya: Ayundha Wardhani, Rias wajah dan rambut:

Kamis, 14 Oktober 2010

SEPERCIK MIMPI BUDI & PEGGY


Sebuah keputusan kecil, mengubah jalan hidup pasangan ini. Mereka tak pernah bermimpi jadi pahlawan.

26 Oktober 2007. Sebuah batu besar melayang lewat jendela terbuka ke dalam mobil pick up yang ditumpangi Peggy Soehardi. Malam itu, mantan pramugari yang kini mendedikasikan diri menjadi ibu rumah tangga dan total menjadi pekerja kemanusiaan ini tertidur di mobil setelah lelah membangun pagar di sekeliling lahan sawah milik Roslin Orphanage, panti asuhan yang ia dirikan bersama Budi Soehardi suaminya, seorang pilot Singapore Airlines. Peggy terlalu pulas untuk menghindar, bahkan ketika batu yang dilemparkan seseorang yang terlibat dalam tawuran antar warga itu mendarat tepat di wajah dan mematahkan hidungnya. Ia tak sadar apa yang terjadi hingga matanya tertumbuk pada cairan merah yang tumpah ke baju jingga yang dikenakannya. Hidung Peggy telanjur hancur terhantam batu. Budi Soehardi yang saat itu tengah bertugas di Los Angeles segera terbang ke Kupang. Peggy dilarikan ke Singapura, menjalani perawatan intensif. Beberapa waktu sebelum wawancara dengan dewi terjadi, Peggy baru saja menjalani operasi hidung setelah hampir tiga tahun proses penyembuhan berlangsung. “Ini hidung palsu,” katanya ringan sambil tertawa.

“Saya sedih, marah, kecewa, dan sangat ingin menutup panti. Saya tidak bisa terima. Kenapa Peggy sampai harus celaka?” kenang Budi yang telah lama menetap di Singapura dan kini dipercaya menjadi Presiden Rotary Club di negeri jiran tersebut. ”Tapi saya sudah telanjur jatuh cinta pada anak-anak itu. Jangankan menutup, mempercayakan panti ini pada orang lain saja saya keberatan. Akhirnya kami sepakat untuk meneruskan ini,” tambah Peggy. Tak disangka, keteguhan itu diganjar dengan sebuah penghargaan bergengsi. “Budi terpilih sebagai peraih CNN Hero tahun 2008. Sesuatu yang sama sekali tak pernah kami bayangkan, karena kerja ini kami lakukan semata-mata karena panggilan hati, bukan ingin dapat penghargaan,” kisah Peggy. Boleh jadi itu, seperti yang diyakini Budi dan Peggy, adalah penghiburan Tuhan buat mereka. Tapi semua berawal dari perjuangan panjang mereka bagi cinta kasih dan kemanusiaan. Mengikuti ketergarakan hati, Budi, Peggy dan tiga anak mereka -Christine, Tasha, Christian yang kala itu tengah berangkat remaja- memutuskan mengubah rencana perjalanan mereka berlibur keliling dunia untuk pergi ke Kupang, di mana para pengungsi konflik Timor Timur menyelamatkan diri. Keputusan yang diambil pertengahan tahun 1999, lantas memang tak hanya mengubah rencana liburan, tapi juga jalan dan pilihan hidup mereka.

Bagaimana awal berdirinya Panti Roslin?
Budi Soehardi(BS): Kami tidak pernah berpikir akan punya panti asuhan. Suatu malam pada 1999, saat akan makan bersama sambil membicarakan rencana liburan keluarga keliling dunia, kami melihat sebuah siaran berita yang menayangkan kondisi para pengungsi Timor Timur di Kupang. Kami sangat prihatin melihat itu dan muncul ide untuk mengalihkan rencana liburan keliling dunia itu untuk datang ke Kupang membantu para pengungsi.
`
Apakah ide itu segera disambut istri dan anak-anak?
BS: Justru istri dan anak-anak yang mengusulkannya. Mereka ingin membantu. Jadi dana yang sedianya untuk jalan-jalan, kami belikan bantuan untuk para pengungsi di sana. Mereka berpikir, kelilng dunia masih bisa dilakukan kapan-kapan. Para pengungsi itu berhadapan dengan hidup dan mati. Mereka harus segera dibantu.
Peggy Soehardi (PS): Anak-anak senang sekali keputusan ini. Sejak kecil, mereka tidak pernah menetap di Indonesia. Jadi mereka tertarik sekali pada segala hal yang berhubungan dengan tanah airnya. Mereka juga prihatin melihat kondisi para pengungsi. Anak-anak tidak menyangka ada orang yang sampai kesulitan mendapat makanan sementara mereka bisa makan apa saja yang mereka suka kapan pun.

Bagaimana keterlibatan anak-anak di Panti Roslin?
BS: Delapan tahun terakhir ini, setiap libur sekolah mereka selalu menghabiskan waktu di Kupang, membantu ibunya mengurusi panti. Anak saya yang pertama dan kedua sekarang berkuliah di Australia dan Kanada, yang bungsu sudah sekolah menengah, tinggal bersama saya di Singapura, sementara mamanya ringgal di Kupang dan sesekali datang ke Singapura. Saya sendiri, segera pulang ke Kupang .
PS: Anak-anak punya macam-macam di sana. Punya anak asuh sendiri, celana pendek untuk ke pantai, dan waktu yang menyenangkan. Mereka bisa mengajak anak-anak panti bermain di pantai seharian tanpa ada yang menyuruh mereka segera pulang. Anak-anak panti juga selalu menunggu kedatangan anak-anak kami. Mereka menunggu Christine Tasha dan Christian, seperti menunggu kedatangan kakaknya.

Anda berdua orang asing di Kupang. Bagaimana Anda memulai langkah di sana?
BS: Pada saat kami datang ke sana tahun 1999, kami benar-benar sendiri dan harus bertanya ke sana kemari. Kami menginap di hotel saat itu. Ketika pertama kali kami punya anak asuh, kami belum punya panti. Kami lalu mengontrak sebuah rumah.

Lalu sejak kapan Panti Roslin punya gedung sendiri?
PS:
Sejak 2001. Saat masuk ke sana, rumah itu masih berlantai tanah dan hanya punya satu kamar. Pertimbangan saya saat itu hanya supaya uang sewa rumah bisa dialokasikan untuk pembangunan rumah. Daripada uangnya habis untuk mengontrak rumah, lebih baik saya pindah ke sana, apa pun kondisinya. Saat itu kami hidup benar-benar dalam kondisi yang tidak enak. Ada delapan anak yang beberapa di antaranya bayi saat itu. Saya tinggal di Kupang terus karena kalau tidak, bahan bangunan kami akan dicuri. Saya sampai tidak boleh masuk Singapura karena saya terjangkit malaria. Saya bahkan sempat di karantina di rumah sakit karantina yang biasa disebut Kandang kerbau. Di situ orang-orang yang terjangkit malaria, AIDS, dan berbagai penyakit menular dikarantina.

Pernah merasa frustrasi ketika membangun ini?
PS: Sering. Tapi saya tidak bisa menyalahkan mereka yang tidak pernah tahu bahwa ada cara untuk memperbaiki hidup mereka. Kalau sudah merasa frustrasi begitu, saya bekerja, menyibukkan diri, bikin ini itu dan tahu-tahu hari sudah malam, dan saya sudah terlalu lelah untuk merasa frustrasi.
BS: Dalam keadaan seperti itu, Peggy biasanya menelepon saya dan kami bicara lama sekali untuk saling menguatkan.

Bagaimana Anda berdua bisa begitu yakin?
BS: Tuhan memberi kami banyak sekali berkah. Di lahan sawah kami yang awalnya kering kerontang, Tuhan memberi mata air di sawah kami yang berjarak sekitar 40 kilometer dari panti. Lahan itu awalnya gersang, kering kerontang. Lahan seluas 10 hektar itu dijual pun karena tidak bisa lagi ditanami apa pun. Kami nekat membeli karena harganya sangat murah. Kami lalu coba membuat pompa, mencari air agar tanah gersang itu jadi lahan subur yang ditumbuhi pohon-pohon hijau. Kami berdua mencoba mencari tempat yang mungkin ada airnya. Enam titik kami tetapkan sebagai alternatif. Kami tidak memakai alat berteknologi tinggi, dan pencarian itu pun kami lakukan sendiri. Orang-orang mentertawakan kami. Tuhan ternyata ingin kami menyaksikan kekuasanNya. Bukannya sumur yang Dia berikan pada kami, tapi air mancur yang terus memancarkan air hingga sekarang. Kami sama sekali tidak membutuhkan pompa dan genset itu. Dari lahan tandus, tanah itu berubah jadi sawah yang bisa kami tanami sepanjang tahun dan memberi kami panen berlimpah. Sejak April 2008, kami swa sembada beras. Jadi apa yang kami rencanakan, selalu diberi hasil yang lebih baik oleh Tuhan.
PS: Kami memang harus punya sawah, karena kalau kami membeli beras, jelas kami tidak akan mampu mencukupi kebutuhan yang demikian besar. Sehari, kami harus memasak 45 kilogram beras untuk semua penghuni.

Berapa persen uang keluarga yang dialokasikan untuk panti?
PS: Kalau ditanya prosentasenya agak susah, karena kebutuhan setiap bulan berbeda-beda. Kami tidak punya simpanan. Untungnya, di Jakarta kami punya beberapa rumah kos yang disewakan. Ada asset yang menghasilkan yang bisa menunjang keuangan kami. Makanya di sana, saya juga membangun hotel kecil untuk mereka yang bertandang ke tempat kami. Saya sendiri tidak pernah takut saya tidak punya apa-apa.

Dibiayai oleh siapa operasional Panti Roslin?
PS:
Enam tahun pertama kami membiayai sendiri biaya operasional. Karena kami tidak bisa mengajak orang sebelum kami menunjukkan kerja nyata kami. Setelah panti ada, berjalan dan ada hasilnya, orang mulai membantu. Setelah Budi masuk dalam CNN Hero, perhatian masyarakat makin besar.

Berapa banyak lembaga yang mensupport Panti Roslin sekarang?
PS:
Tidak ada lembaga yang secara tetap mensupport kami. Kadang-kadang saja ada yang memberi sumbangan. Tapi selama ini kami tidak pernah kekurangan. Tidak pernah kami kekurangan makanan. Malah berkelimpahan. Kami sendiri tidak tahu itu semua datang dari mana, karena kalau dihitung secara matematis, uang kami tidak akan cukup membiayai seluruh operasional panti. Di situlah kami percaya, kalau sungguh-sungguh memperjuangkan niat, semua yang datang akan lebih dari apa yang kami niatkan.
BS: Harusnya istri saya yang dapat semua penghargaan karena dia yang memperjuangkan mimpi ini hingga dapat terjadi.
PS: Ah, ini kan kerja kita berdua. Kalau saya sendiri tidak mungkin, dan kalau Budi sendiri tidak mungkin. Kami harus melakukan ini berdua. Dia yang bekerja dan mencari sesuatu untuk keluarga besar kami ini. Saya yang menjaga dan merawat semua yang dia cari. Saya harus turun untuk berbuat sesuatu. Kami berterima kasih pada Tuhan karena hidup kami selalu diberkati, dipenuhi apa yang kami mau, dan selalu diberi keselamatan. Suami saya itu kan bekerja di dalam ‘tanganNya’ terus. Kalau belum dengar kabar Budi landing dengan selamat, saya belum bisa tenang. Dia tiangnya, kalau tidak ada dia, ke mana kami akan bergantung?

Jadi, siapa mendukung siapa sebenarnya?
BS
: Saya mendukung dia.
PS: Ah, nggak juga. Dia orang yang hidupnya tidak pernah diberikan untuk dirinya sendiri. Apa yang dia dapat, selalu diberikan untuk orang lain yang dia cintai. Anak, istri, dan anak-anak panti.

Apa pengalaman yang paling menggugah hati?
PS
: Menjadi ibu baptis buat 20 anak dalam sebuah acara yang sama. Kalau ibu-ibu lain hanya berdiri dengan seorang anak, saya harus berdiri di depan altar dua puluh kali dengan anak yang berbeda, berjanji di depan Tuhan untuk menjaga anak-anak yang tidak lahir dari rahim saya. Satu gereja menangis menyaksikan pembaptisan itu.

Apa yang dulu membuat Anda berdua saling tertarik?
BS
: Dia mandiri sekali. Apa yang tidak bisa dia lakukan? Di panti, semua bangunan dia yang gambar, dia hitung bahan bangungan. Mau masak? Apa saja yang dimasak Peggy pasti enak. Dia membereskan rumah hingga sangat bersih. Mengurus anak, tidak perlu ditanya. Peggy bahkan mengemudikan sendiri mobil perpustakaan Panti Roslin dan membawanya ke kampung-kampung agar anak kampung bisa menbaca. Ketika sekarang saya hidup sendiri di Singapura, saya makin yakin Peggy sangat berharga bagi saya.
PS: Kadang-kadang kita memang membutuhkan waktu sendiri untuk menghargai apa yang tidak kita rasakan ketika banyak orang di sekeliling kita. Bayangkan saja, keluarga kami terpencar di banyak tempat. Budi dan Christian di Singapura, saya di Kupang, Christine dan Tasha di Australia dan Kanada. Saya sendiri tidak pernah membayangkan kami akan hidup seperti sekarang. Tapi saya yakin, ini pilihan yang baik bagi kami semua. Saya hanya ingin anak-anak kami dan anak-anak panti akan jadi anak-anak berhasil suatu hari nanti. (Indah S. Ariani), Fotografer: Jennifer Antoinette, Pengarah gaya: Karin Wijaya, Busana Peggy: CK Calvin Klein

Kamis, 05 Agustus 2010

MEGHAN, KADEK, ROBERT Menggali Spirit Bali

Berangkat dari ide ingin mengundang kebaikan karma, perjalanan mereka berlabuh di ranah yang lebih kaya.

Sebuah wacana tentang karma yoga di benak Meghan Pappenheim, menggulirkan ide menarik yang lantas berkembang jadi jadi ajang yoga, musik, dan tari berskala internasional kala diimbuhi semangat dua pria yang sepenuh hati mendukungnya. Kadek Gunarta, suami Meghan, serta Robert Weber musisi Amerika yang menemukan ketenangan hidup dan memutuskan tinggal di Ubud. Sejak lama, Ubud memang dekat dengan seni dan spiritualitas. Banyak seniman menjatuhkan cintanya pada desa di ketinggian Bali ini. Udara sejuk, kehidupan yang berjalan pelan, dan laku spiritual yang dijalani dengan teguh, membangun ‘keheningan’ yang sulit ditandingi daerah lainnya di Bali. Meditasi, musik, dan tari lantas jadi seperti denyut nadi yang menghidupi Ubud. Ketiganya jadi sari pati hidup yang disantap semua orang yang datang ke sana.

Tak mengherankan jika Meghan lalu terinspirasi menggelar sebuah acara untuk para pelaku yoga dengan fokus yang lebih mengarah pada karma yoga, sebuah aliran dalam yoga yang dilakukan tidak dengan olah tubuh melainkan dengan berbuat kebaikan pada alam dan sesama. Ia ceritakan idenya pada Kadek, dan Rob yang lantas, dengan antusias menyambutnya. Ajang yang tadinya dibayangkan Meghan berbentuk jambore itu, akhirnya berkembang menjadi sebuah festival yoga internasional yang gaungnya nyaring terdengar di mancanegara. Para pelaku yoga dari berbagai negara berkumpul di sana selama lima hari untuk bersama-sama menyesap spirit Bali dan memasukkan Bali Spirit Festival (BSF) ke dalam agenda wajib mereka.

Siapa yang pertama kali memunculkan ide BSF ini?
Meghan Pappenheim (MP): Saya. Awalnya saya ingin membuat Karma Yoga Festival yang tujuan utamanya menginspirasi orang lain untuk melakukan hal-hal baik agar karma baik kembali datang pada mereka. Sampai sekarang pun masih ingin mewujudkannya. Mungkin nanti, suatu hari. Saat itu, saking bersemangatnya, saya sudah kerjasama dengan web desainer, membeli nama domain, juga membuat logo. Sudah siap jalan, tapi saya tidak tahu bagaimana cara melakukannya. Akhirnya, semua hanya berhenti pada ide saja. Beberapa kali saya menceritakan soal ini pada Rob, juga Kadek sampai suatu hari saat saya duduk di Kafe bersama Rob dan Rachel istrinya, Rob bilang saat itu, “Ayo, mari kita buat.” Padahal saat itu, kami belum terlalu kenal satu sama lain. Lalu Rob memberi ide untuk menamakan acara itu Bali Spirit Festival dan menyarankan memasukkan musik ke dalam festival. Tiga bulan setelah itu, kami menggelar festival ‘gila’ ini. Dan festival pertama itu sangat luar biasa. Beberapa hal mungkin sedikit berbeda dengan ide awalnya. Tapi sekali pun ada perubahan, tujuan dan inspirasinya tetap soal bagaimana ‘mengembalikan apa yang sudah kita ambil’ dari alam. Semua acara yang digelar, selalu mengandung semangat berbagi. Para musisi saling mengajar satu sama lain, tampil bersama, dan datang ke sekolah-sekolah mengadakan program peduli HIV/AIDS. Rencananya, kami akan mendatangi lebih dari 50 sekolah tahun depan.
Robert Weber (RW): Ya. Benar-benar ‘gila’. Tapi kami dapat dukungan yang sangat besar dari banyak pihak. Saya pikir, ini ide dan kerja komunitas.
Kadek Gunarta (KG): Orang yang datang ke Bali hampir selalu karena daya tarik seni, budaya, keindahan, dan kehidupan spiritualnya. Kami coba menggabungkan semua kekuatan itu bersama-sama. Kalau kami bikin sesuatu di sini, vibrasinya akan terdengar hingga mancanegara. Karma baik yang kami buat di sini, semoga jadi bola salju yang menggelinding ke seluruh pelosok dunia.

Anda bertiga praktisi Yoga?
MP: Ya, saya sangat suka yoga dan sudah mulai melakukannya sejak usia 13 tahun. Saya ikut kelas yoga Iyengar pertama saya di New York. Sempat on-off selama beberapa tahun. Pada 2002 saya mengambil pelatihan guru yoga. Saya punya sertifikat guru, tapi belum pernah mengajar. Setelah melahirkan anak pertama dan kedua lalu melahirkan BSF, akhirnya saya malah jarang latihan yoga lagi. Tapi saya masih tetap suka yoga dan tahu persis apa nilai serta manfaat yang diberikan yoga bagi saya.
RW: Saya juga beryoga. Sebab, meski tinggal di Ubud, saya punya hidup yang lumayan sibuk. Yoga membantu saya tetap fokus, merasa sehat, dan lebih kreativitas. Yoga juga membawa lebih banyak inspirasi pada apa yang saya lakukan karena sebagai musisi, saya harus bisa terus berada di wilayah yang penuh hal-hal menarik untuk melakukan kerja itu.
KG: Kalau bicara tentang yoga, sebenarnya semua orang Bali telah melakukan yoga sejak kecil. Kami menjalankan apa yang disebut karma dan bakti yoga. Kami dididik oleh keluarga dan komunitas untuk melakukan hal-hal baik bagi komunitas dan itu yang disebut karma yoga. Di sini, yoga tidak identik dengan olah tubuh, tapi lebih pada soal bagaimana kita menjadi bagian dari komunitas.
MP: Ya, itu yang disebut karma yoga. Di setiap hal yang kami lakukan entah itu BSF, atau bisnis kami yang lain seperti The Yoga Barn, The Kafe, website Bali Spirit.com, atau juga studio milik istri Rob, kami jalankan dengan keyakinan penuh atas adanya karma yoga ini. Kami memberi dan melakukan apa yang kami bisa untuk berbagi dengan orang lain. Sebagai pengusaha, saya paham benar alasan kuat untuk menghasilkan uang banyak adalah agar saya bisa membagikannya pada orang lain, karena uang itu akan membantu banyak orang.

Di mana titik temu antara musik, yoga, dan tari di BSF?
RW: Seperti yang tadi sudah saya katakan, orang melakukan yoga karena mereka ingin menggali spiritnya. Dalam yoga dikenal istilah inhale dan exhale. Saya mengartikan inhale sebagai penggalian ke dalam diri, dan exhale sebagai perayaan hidup lewat musik dan tari. Jadi musik dan tari di sini sebagai ekspresi jiwa dan kebahagiaan yang ingin dibagi ke seluruh dunia. Setiap budaya, pasti memiliki secret music, atau musik spiritual.
KG: Jika kita melihat kultur Bali, sebenarnya musik, tari, dan yoga akan ditemukan di mana-mana. Orang datang ke pura, yang selalu dihiasi suara gamelan, kidung, atau kakawin. Mereka beryoga, dan menari untuk persembahan di sana. Lingkungan dibentuk dari tiga kegiatan ini. Ini memang spiritnya Bali. Kami mengambil esensi budaya lokal jadi sebuah perayaan spiritualitas. Itu yang kami adaptasi dan bawa ke dalam BSF yang lantas menjadi nilai universal dari Negara lain seperti yang tadi Rob katakan. Kami sebenarnya tidak menciptakan sesuatu yang baru. Kami menawarkan esensi budaya yang setiap hari kami jalani. Dan ini menjadi sesuatu yang universal, karena apa yang kami tawarkan adalah sebuah common sense, sesuatu yang masuk akal.

Berapa banyak peserta yang ikut di BSF pertama, dan berapa yang ikut pada BSF tahun ini?
MP: Saya tidak ingat berapa jumlah persisnya. Tapi pada BSF yang kedua, jumlah peserta meningkat dua kali lipat dari peserta BSF pertama, dan di tahun ketiga ini, pesertanya meningkat dua kali lipat dari BSF kedua. Jadi ada peningkatan sebanyak 200% sejak BSF pertama. Saya harap tahun keempat, jumlah peserta juga akan makin meningkat supaya semakin banyak orang yang mendapat manfaat dari ajang ini.

Apa harapan Anda bertiga untuk BSF?
MP: Saya tidak mau berharap terlalu banyak. Tapi saya ingin BSF ini tetap berlangsung, terus bertumbuh dan selalu bisa menginspirasi banyak orang.
KG: Saya ingin kami bisa membawa lebih banyak kelompok musik tradisional Bali agar banyak orang muda dari berbagai negara yang bisa menikmatinya, hingga kecintaan pada spirit Bali terus bertumbuh.
RW: Ya, semoga dari Ubud kami bisa membagi cinta pada dunia. Sebab di sini, selalu ada kebahagiaan, keseimbangan, dan hati yang penuh. Dengan kecantikan estetis dan spiritualnya, tempat ini punya keajaiban yang membuat hidup jadi begitu indah. (Indah S. Ariani), Foto: Agung Mulyajaya, Pengarah Gaya: ISA, Lokasi: The Yoga Barn, Ubud

Selasa, 01 Juni 2010

MENJARING BINTANG SENI


Sebagai salah satu lokomotif seni rupa Indonesia, Edwin’s Gallery merasa perlu melakukan pengamatan terhadap seniman-seniman muda yang muncul ke jagat seni. Melalui sebuah program yang diberi nama Survey, Edwin melakukan pengamatan itu. “Ini bentuk apresiasi dan konsistensi kami yang ingin selalu menampilkan karya berkualitas dari seniman-seniman muda Indonesia,” kata Edwin dalam konferensi pers sebelum pameran itu dibuka. Sepuluh seniman terpilih mewakili 68 seniman yang ‘dijaring’ melalui program pertama yang diadakan pada 2008 silam menampilkan karya-karya mereka dalam pameran bersama bertajuk Survey 1.10. Sepuluh nama itu adalah A.T. Sitompul, Ayu Arista Murti, Beatrix Hendriani Kaswara, Gusmen Heriadi, I Made Widya Diputra, Made Wiguna, Valasara, R.E. Hartanto, Septian Harriyoga, Wedhar Riyadi, dan Yuli Prayitno. Karya seniman besar Francisco Giya berjudul The Sleep of Reason Produces Monster menjadi inspirasi yang diambil oleh Aminudin TH Siregar untuk pameran tersebut. Ucok, panggiln Aminudin, melihat adanya korelasi antara kondisi masyarakat Spanyol saat ketika karya-karya etsa Goya itu diciptakan di mana dikotomi antara kemewahan dan kemelaratan di tengah krisis ekonomi yang menjerat terpapar dengan nyata. “Ini saya pinjam sebagai metaphor untuk mewakili sejumlah hal yang berkaitan dengan kenyataan yang kita alami di tanah air sekarang ini,” ungkap Ucok. Menurutnya, pameran tersebut ia tujukan untuk membidik sisi kelam manusia –khususnya masyarakat Indonesia- dengan harapan bahwa pada suatu hari, para seniman bisa menjadi ‘pembunyi alarm’ yang secara signifikan mewarnai ranah social masyarakat Indonesia. Kendati mungkin terkesan terlalu heroic, tentu tak ada yang salah dengan tujuan ini. Sebab sejatinya, senia memang adalah cara untuk menuturkan sesuatu yang tak terkatakan. Kita tunggu saja sepakterjangnya. ISA, Foto: Dok. Edwin’s Gallery

Dari Montblanc untuk sang Maestro


Judith Jamison, direktur artistik di Alvin Alley American Dance Theater mendapat penghargaan Montblanc de la Culture Arts Patronage Award (MdlCAPA). Penghargaan ini diberikan 22 Maret silam di The Joan Weill Center for Dance New York. Judith, koreografer senior asal Philadelphia yang telah puluhan tahun malang melintang di jagad tari ini memulai karier sebagai penari bersama American Ballet Theater pada 1964. Mendiang Alvin Alley, orang yang berjasa besar dalam karier koreografi Judith, melihat bakat besar Judith dan menariknya bergabung dalam kelompok tari miliknya itu pada 1965. Sejak itu, Judith menjadi penari penting yang sering menjadi role dalam komposisi-komposisi tari Alley. Satu yang paling terkenal adalah penampilan solonya dalam komposisi berjudul Cry yang dipertunjukkan di banyak negara. Koreografer yang pernah meraih Emmy Award ini mendedikasikan diri lebih dari dua dekade sebagai Direktur Artistik di teater ternama di New York itu. Konsistensi itulah yang diapresiasi oleh Montblanc. Brand aksesori papan atas ini memang memberi dukungan besar pada mereka yang memberi energi bagi dunia seni dan kerja-kerja yang terjadi di dalamnya. Sejak diadakan pada 1992, ajang penghargaan ini pernah memberi apresiasi pada nama-nama besar antara lain pada John Skyes (2001), Rebecca Neuwirth (2006), Wynton Marsalis (2007), dan Susan Sarandon (2008). Selain memenangi hadiah sebesar 20.000 dolar yang akan digunakan untuk mengembangkan proyek-proyek seninya. Judith juga mendapat pena special yang diciptakan MOntblanc untuk para pemenang ajang tersebut yang mereka bernia nama Patron of the Arts Montblanc. Hadiah tersebut diserahkan oleh Lang Lang, yang menjadi ketua Montblanc Cultural Foundation. (ISA), Foto: Dok. Montblanc