<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5717489757531263022</id><updated>2012-02-16T01:29:29.952-08:00</updated><category term='Khas Feature'/><title type='text'>dibuang sayang...</title><subtitle type='html'>seperti kavling perumahan, halaman dalam majalah memiliki keterbatasan yang tak bisa disiasati. kebutuhan visual acap kali membuat hasil wawancara terbuang percuma dalam keranjang sampah editor. blog ini adalah tempat saya menyimpan versi lengkap tulisan sebelum masuk ke meja editor. sebab, setiap perbincangan selalu mengandung banyak hal berharga yang sangat sayang kalau dibuang...</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://indah-ariani.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717489757531263022/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indah-ariani.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>indahariani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01863084398389371134</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S5joGjEc2iI/AAAAAAAAAFs/giY1-nj4iUQ/S220/cemong.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>38</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5717489757531263022.post-3031619440116957269</id><published>2011-02-16T04:57:00.000-08:00</published><updated>2011-02-16T05:02:42.331-08:00</updated><title type='text'>Dasa Warsa Pertama</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-RMm35GuMiLs/TVvK0cB5o4I/AAAAAAAAAKM/6ZtaikVhkNU/s1600/Agus%2BSuwage-Ego%2BWorship.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 253px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-RMm35GuMiLs/TVvK0cB5o4I/AAAAAAAAAKM/6ZtaikVhkNU/s320/Agus%2BSuwage-Ego%2BWorship.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5574271966027293570" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu selalu bergulir gegas. Dekade demi dekade sering berjalan tanpa terasa. Begitu pula yang dirasakan Biantoro Santoso, tentang Nadi Gallery yang didirikannya sepuluh tahun silam. Menandai dasa warsa pertamanya, Nadi meluncurkan sebuah buku yang mencatat jejak perjalanan galeri yang berada di bilangan Puri Indah ini. “Buku ini mungkin belum layak jadi acuan penting bagi yang mau mengaji secara serius soal galeri seni di Indonesia. Tapi bisa jadi sumber informasi tentang apa yang pernah dikerjakan dan dicapai oleh Nadi Gallery,” kata Biantoro tentang buku berjudul Tha Show Must Go On itu. Peluncuran buku ini ditandai dengan sebuah pameran yang sedikit keluar dari pakem Nadi selama ini. Kalau biasanya kami mengusung tema atau pendekatan tertentu dalam tiap pameran, kali ini kami membiarkan para seniman datang dengan ide mereka masing-masing, tanpa tema yang mengikat. Namun kami yakin, karya-karya yang tampil tetap bisa kita nikmati dan dijadikan acuan untuk membaca bagaimana perkembangan karya masing-masing seniman akhir-akhir ini.,” kata Biantoro lagi. Mungkin kita bisa menganalogikan pameran ini serupa sebuah pesta tanpa kode busana. Karena yang berjaya sejatinya bukanlah warna yang mengikat mereka, melainkan ide yang ada di baliknya. (ISA), Foto: Dok. Nadi Gallery&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5717489757531263022-3031619440116957269?l=indah-ariani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indah-ariani.blogspot.com/feeds/3031619440116957269/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://indah-ariani.blogspot.com/2011/02/dasa-warsa-pertama.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717489757531263022/posts/default/3031619440116957269'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717489757531263022/posts/default/3031619440116957269'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indah-ariani.blogspot.com/2011/02/dasa-warsa-pertama.html' title='Dasa Warsa Pertama'/><author><name>indahariani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01863084398389371134</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S5joGjEc2iI/AAAAAAAAAFs/giY1-nj4iUQ/S220/cemong.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-RMm35GuMiLs/TVvK0cB5o4I/AAAAAAAAAKM/6ZtaikVhkNU/s72-c/Agus%2BSuwage-Ego%2BWorship.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5717489757531263022.post-7238901244737347195</id><published>2011-02-16T04:41:00.001-08:00</published><updated>2011-02-16T04:55:30.188-08:00</updated><title type='text'>DUA DALAM SATU</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-pHLPqVFV0Ec/TVvI-MDONUI/AAAAAAAAAJ8/zt7N15Af72A/s1600/11_11%2Bfrom%2BDuality%2Bto%2BOneness%2B6.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-pHLPqVFV0Ec/TVvI-MDONUI/AAAAAAAAAJ8/zt7N15Af72A/s320/11_11%2Bfrom%2BDuality%2Bto%2BOneness%2B6.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5574269934513304898" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dua konser musik digelar di dua tempat berbeda di Kompleks Taman Ismail Marzuki pada tanggal unik 11 November 2010 silam. Di tanggal 11/11 itu, Orkes Simfoni Institut Kesenian Jakarta (IKJ) yang sempat vakum selama hampir lima tahun, kembali membentuk kelompok yang terdiri atas mahasiswa, dosen dan alumni IKJ. Pentas perdana kelompok baru ini digelar di Teater Kecil. Mereka memainkan beberapa komposisi abadi Ismail Marzuki, dan komponis dunia lain seperti Hyden. Sementara itu, di Planetarium yang bersisian dengan Teater Kecil, digelar pertunjukan musik bertajuk 11.11 From Duality to Oneness: Diddi Agephe + Andy Ayunir. Duo musisi ini sejak lama dikenal sebagai pioneer dalam musik elektronik. Mereka berdua menampilkan 10 komposisi kompleks yang berkaitan dengan frekuensi, vibrasi, resonansi, dan kesadaran semesta. Repertoar yang mereka tampilkan malam itu, berawal dari kisah penciptaan semesta, berjudul Big Bang 14,000,000,000 BC – Universe Created dan dipungkas dengan 11.11 Cosmic Consiousness. (ISA), Foto: Dok. Diddi AGP&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5717489757531263022-7238901244737347195?l=indah-ariani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indah-ariani.blogspot.com/feeds/7238901244737347195/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://indah-ariani.blogspot.com/2011/02/dua-dalam-satu.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717489757531263022/posts/default/7238901244737347195'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717489757531263022/posts/default/7238901244737347195'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indah-ariani.blogspot.com/2011/02/dua-dalam-satu.html' title='DUA DALAM SATU'/><author><name>indahariani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01863084398389371134</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S5joGjEc2iI/AAAAAAAAAFs/giY1-nj4iUQ/S220/cemong.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-pHLPqVFV0Ec/TVvI-MDONUI/AAAAAAAAAJ8/zt7N15Af72A/s72-c/11_11%2Bfrom%2BDuality%2Bto%2BOneness%2B6.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5717489757531263022.post-329608508511444987</id><published>2010-12-20T20:53:00.000-08:00</published><updated>2010-12-20T22:44:30.476-08:00</updated><title type='text'>LANGGAM DIPLOMASI RETNO MARSUDI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/TRBMhjFM9pI/AAAAAAAAAJk/tOOfl1vuLJY/s1600/crop2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 214px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/TRBMhjFM9pI/AAAAAAAAAJk/tOOfl1vuLJY/s320/crop2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5553022479784277650" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kaki dan kiprahnya melanglang buana. Tapi hati dan cintanya tertambat pada akar  kearifan Jawa.  &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara gending lamat-lamat menyapa telinga. Lembut, seakan datang dari dunia tak bernama. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;World music&lt;/span&gt;. Itu dugaan pertama yang melintas di kepala, mengingat pemilik ruangan apik beraroma sedap malam dan pandan itu adalah Retno Lestari Priansari Marsudi. Salah seorang Duta Besar di Kementrian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu-RI) yang sejak 2008 menjadi Direktur Jenderal Amerika dan Eropa (Dirjen Amerop). “Bukan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;world music&lt;/span&gt;. Ini &lt;span style="font-style:italic;"&gt;klenengan&lt;/span&gt; asli Jawa,” kata Retno ketika ditanyakan perihal musik yang melantun di ruang itu.  “Saya ini sangat Jawa. Lahir dan tumbuh besar di tengah keluarga Jawa yang kental memegang tradisi,” katanya. Itu sebab kenapa Retno menghadirkan atmosfer itu lewat musik dan aroma di ruang kerjanya. “Ketika menghadapi tekanan pekerjaan yang sangat tinggi, saya berusaha membangun suasana yang rileks dan homey,” katanya membuka rahasia. Dua hari sekali, ia mengganti bunga dan rajangan pandan agar atmosfer itu tetap sinambung nemenaninya. Irama pelog dan slendro terus berjalin dalam ritme lambat.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ritme yang berbeda seratus delapan puluh derajat dengan aktivitas Retno yang demikian padat dan pesat. “Kadang-kadang, 24 jam terasa kurang,” cetusnya tertawa.  Retno tak berlebihan. Seringkali ia berada di Jakarta seminggu saja dalam sebulan. Sebagai orang yang bertanggung jawab atas hubungan Indonesia dengan dua benua sebesar Amerika dan Eropa yang berjarak ribuan mil dari tanah air, perempuan pertama sepanjang sejarah Kemlu-RI yang bisa menempati posisi sebagai dirjen ini memang harus kerap menghabiskan waktunya di perjalanan menuju negara-negara yang dilawatnya. “Kadang-kadang hanya untuk perjalanan saja saya harus menghabiskan waktu empat hari pulang pergi,” katanya. Ketika berada di Jakarta pun, hari-harinya telah dipadati jadwal yang mengantri. “Tiap jam ada jadwal &lt;span style="font-style:italic;"&gt;meeting&lt;/span&gt;. Ini waktu terlama yang pernah saya alokasikan untuk sebuah pertemuan,” katanya, sambil menyebut waktu tiga jam yang diberikannya untuk wawancara dan pemotretan dengan Dewi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Retno bukan sedang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;sambat&lt;/span&gt;. Setelah hampir seperempat abad, masa telah menempanya menjadi seorang diplomat tangguh yang tak gentar menghadapi berbagai rintangan. Hal itu dibuktikan, misalnya ketika ia ditugaskan menjadi salah satu anggota Tim Pencari Fakta (TPF) kasus pembunuhan aktivis Hak Asasi Manusia, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Munir&lt;/span&gt; pada 2004. Retno harus melakukan negosiasi diplomasi yang sangat alot dengan pihak Belanda, tempat di mana akhirnya Munir ditemukan tewas tatkala pesawat yang membawanya mendarat di Bandar udara Schipol. “Pengalaman bekerja dalam TPF Munir itu memberi saya pelajaran yang mungkin tidak akan pernah saya peroleh di sekolah mana pun,” katanya. Retno juga mengaku berhasil mematahkan stigma yang ia dengar dari banyak kalangan pemerintah yang acap menganggap bekerja dengan para aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) itu sebagai sesuatu yang sulit. “Awalnya saya sempat khawatir memikirkan omongan-omongan itu. Tapi di akhir hari, saya bisa membuktikan kalau kerjasama dengan teman-teman LSM itu tidak sesulit yang dibayangkan. Bahkan sampai sekarang pun, saya masih berhubungan baik dengan teman-teman di TPF,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usman Hamid, seorang kolega Retno di TPF Munir, mengamini hal ini.  &lt;br /&gt;“Sesekali saya masih bertemu Mbak Retno, entah dalam acara formal atau sekadar ngopi santai membincangkan berbagai hal,” kata Usman. Retno, dalam pandangan Ketua Dewan Pengurus Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindakan Kekerasan (Kontras) ini merupakan satu dari sedikit diplomat yang menjanjikan dedikasi besar terhadap dunia diplomasi Indonesia. Usman tak asal bicara. Dirinya dan Retno bersama-sama menjadi anggota tim negosiasi di Belanda . “Waktu itu saya mewakili keluarga Munir. Mbak Retno dari Kemlu. Kami harus melakukan negosiasi dengan pemerintah Belanda agar diizinkan membawa specimen dari jasad mendiang Munir ke Indonesia sebagai bukti dalam proses penyidikan,” katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses negosiasi saat itu, menurut Usman, menjadi sangat alot karena ada perbedaan kebijakan antara Indonesia dan Belanda perihal penerapan hukuman mati. “Hal ini menjadi isu sentral kala itu. Belanda terikat dengan Konvensi Eropa untuk tidak menerapkan hukuman mati, sementara Indonesia, dalam beberapa kasus, masih meniscayakan kemungkinan itu. Pihak Belanda tidak berkenan memberikan bantuan hukum, dalam hal ini specimen sebagai barang bukti, jika di kemudian hari berakibat penjatuhan hukuman mati terhadap seseorang,” Usman menjelaskan. Tarik menarik kepentingan terjadi seperti dua magnet berkekuatan besar. “Posisi Mbak Retno jelas tidak mudah saat itu,” kata Usman. Dengan pemahaman, dan kemampuan word engineering yang dimilikinya, Retno dapat membuat kesepakatan yang membuat kedua belah pihak nyaman. “Mbak Retno itu negosiator ulung yang membuat misi kami tercapai,” kata Usman mengenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diplomasi dan negosiasi barangkali telah mendarahdaging dalam dirinya. Retno kerap memimpin delegasi untuk banyak perundingan penting di berbagai negara. ”Dia punya pemahaman dasar yang sangat solid tentang apa yang dilakukannya. Bukan hanya urusan hubungan internasional yang dikuasainnya secara purna, tapi juga hukum internasional,” kata Usman. Retno, seperti yang telah terbukti di banyak meja negosiasi, memiliki naluri yang kuat sebagai seorang negosiator. “Masing-masing perundingan itu memilik karakter berbeda dan semua memerlukan ketekunan untuk diselesaikan,” kata Retno. Menurutnya, kombinasi antara fleksibiltas, semangat berkompromi dan keteguhan selalu diperlukan dalam setiap negosiasi. Retno biasanya juga mempelajari curriculum vitae sang ketua tim perunding. “Saya cari di mana persamaannya dengan kita. Walau pun urusannya urusan negara, tapi penting pula mengetahui faktor personal. Ini akan sangat membantu untuk mencairkan suasana,” jelasnya. Selain negosiasi kasus Munir, perundingan untuk menghapuskan larangan terbang maskapai penerbangan Indonesia ke Eropa juga menjadi perundingan yang menantang buat Retno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karier perempuan kelahiran Semarang, 27 November 1962, melesat segegas meteor. Lulusan Fakultas Hubungan Internasional UGM 1985 ini tersaring lewat jalur rekrutmen langsung yang diadakan Kemlu-RI di kampusnya setahun sebelum ia usai kuliah. “Jadi saat wisuda, saya sudah enteng. Sudah punya tempat yang dituju,” katanya bersahaja. Jenjang demi jenjang dalam tangga birokrasi di Kemlu-RI, dengan pesat dan pasti dicapainya. Retno sendiri mengaku tak pernah membuat target jabatan apa yang ingin diraihnya. “I just always try to do my best,” katanya. Ini yang membuat ia cepat mendapat promosi. Bergabung sebagai staf pada Biro Analisa dan Evaluasi untuk kerjasama ASEAN pada 1986, Retrno diangkat menjadi Direktur Eropa Barat. Promosi yang mengejutkan baginya, “Sebab saat itu usia saya baru 38. Relatif sangat muda untuk ukuran birokrat,” katanya. Kejutan lain juga datang kemudian. Retno diangkat sebagai duta besar di usia 42 tahun dan menjadi Dirjen Amerop beberapa tahun kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan yang dinamis dalam diplomasi diikuti dengan santai oleh Retno. Ia selalu terbuka terhadap berbagai perubahan. “Justru pada dinamika itu letak  daya tariknya. Setiap hari isu yang harus saya tangani berbeda. Selalu ada perubahan setiap saat. Ini memaksa saya untuk selalu alert dan mengikuti perkembangan,” katanya membagi kiat. Menurutnya, dalam diplomasi modern diplomat hanya merupakan satu dari banyak pelaku yang terlibat dalam hubungan antar Negara. “Dalam kondisi hubungan yang baik, tentu tugas diplomat menjadi lebih mudah karena tugas utamanya menjaga dan meningkatkan hubungan yang sudah baik. Namun dalam kondisi yang tidak baik, diplomat harus bisa menjalankan tugas sebagai pendamai yang mencoba mengkonversikan situasi seburuk apapun menjadi situasi yang lebih baik,” katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pandangan Retno, diplomasi ekonomi akan menjadi penekanan bagi diplomasi indonesia di masa mendatang. “Tugas para diplomat ke depan adalah bagaimana mengkonversikan hubungan politik yang baik yang dimiliki indonesia dengan semua negara menjadi hubungan baik di bidang lainnya, terutma bidang ekonomi,” katanya. Apalagi menurutnya, dari sisi diplomasi, Indonesia berada dalam posisi yang lebih ringan dari masa-masa yang lalu. “Kalau dulu, kita banyak sekali dibebani oleh isu hak asasi manusia, demokratisasi, good governance dan sebagainya. Isu-isu yang terus terang sangat membebani diplomasi kita pada saat itu, kini terus terang sudah tidak ada sama sekali,” katanya mantap. Retno menggaris bawahi, dari sisi perkembangan penghormatan hak asasi manusia, Indonesia sudah jauh lebih maju. Dari sisi demokrasi,menurutnya, Indonesia sekarang bisa dengan bangga mengklaim sebagai Negara demokratik ketiga di dunia, setelah Amerka dan India. Dari sisi good governance, kendati masih banyak hal yang harus dibenahi, komitmen pemerintah untuk melakukan perbaikan, pemberantasan korupsi, menurutnya layak dihargai karena hal tersebut membuat Indonesia dihormati di kancah diplomasi dunia. “Dengan semakin entengnya “beban” diplomasi itu, energi kita jadi bisa lebih banyak terfokus pada diplomasi ekonomi,” katanya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hal itu pula yang terus ia upayakan terjalin antara Indonesia dengan Amerika dan eropa. Retno mencatat respon yang sangat positif dari dua wilayah adidaya itu. “Indonesia dan Amerika saat ini tengah menjalin kemitraan komprehensif (Comprehensive partnership). Tidak banyak negara yang dapat membuat Amerika mau menjalin kerjasama ini. Peresmiannya memang belum karena kita menunggu kunjungan Presiden Obama. Tapi dalam praktiknya hubungan itu sudah mulai berjalan,” katanya. Tak hanya dengan Amerika, Indonesia juga punya kemitraan komprehensif dan strategis dengan Uni Eropa dan negara besar lain seperti Jepang, Cina, juga Australia. “Sebuah negara tidak akan mau menjalin kemitraan komprehensif atau strategis dengan negara yang tidak mereka pandang,” katanya. Di tangan Retno, segala hal memang terasa memiliki masa depan. Kerja yang demikian berat itu berhasil dipikulnya. Ini memberinya konsekuensi lain. Mobilitas yang sangat tinggi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini sama sekali tidak mengganggunya. Sejak awal memilih diplomasi sebagai jalan hidup, Retno sudah tahu benar risiko yang harus diambilnya itu. “Memang harus membangun team work yang baik dengan suami dan anak-anak. Apalagi wilayah kerja saya Amerika dan Eropa yang secara geografis sangat jauh, waktu saya benar-benar habis di jalan. Pada saat saya masuk Deplu, dia sudah tahu benar apa risiko yang harus kami ambil,” kata istri Agus Marsudi yang seorang arsitek itu. Retno menolak pandangan yang mengatakan bahwa karier dan rumah tangga adalah pilihan. “Tidak ada yang perlu dikorbankan. Semua bisa berjalan beriringan jika rasa aman bisa sama-sama kita bangun,” kata Retno yang rutin jogging dan berdansa dengan suaminya setiap pagi. Mereka juga punya ritual tahunan yang mungkin jarang dilakukan pasangan lain: mendaki gunung. Baginya, mendaki gunung bukan hanya perkara raga. “Seperti gunung, hidup punya puncak yang harus didaki dan suatu saat juga harus dituruni,” katanya beramsal. Retno mengaku selalu rindu kembali mendaki punggung Merapi, bermalam di sana, menyesap sahaja penduduk desa sembari menyeruput hangat tawa mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rindu yang mungkin tak bisa ditunaikan oleh gagah Pulpit Rock di Norwegia yang pernah pula ia daki hingga puncak bersama sang suami. Jangan heran  pula jika suatu kali melihat Retno dan Agus duduk santai berdua di emper Malioboro nggedabrus -berbincang ke sana ke mari- dengan pedagang wedang ronde dan tukang becak. Ia mengaku, saat-saat seperti itu serupa proses kalibrasi rasa baginya. “Menjadi bukan siapa-siapa seperti itu membawa saya kembali ke akar. Mengajak jiwa saya kembali eling bahwa hidup sejatinya begitu sederhana,” kata. Ya, seperti seekor elang, ibunda dua remaja putra  Dyota dan Bagas ini memang selalu butuh sarang untuk pulang setelah jelajah panjang yang melelahkan. Rumah dengan segala cinta dan aroma Jawa yang bisa dihirup di dalamnya, adalah sarang menenangkan bagi Retno, sang elang, untuk kembali ke kesejatian diri. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(Indah S. Ariani), Fotografer: Irene Iskandar, Pengarah gaya: Ayundha Wardhani, Rias wajah dan rambut:  &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5717489757531263022-329608508511444987?l=indah-ariani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indah-ariani.blogspot.com/feeds/329608508511444987/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://indah-ariani.blogspot.com/2010/12/langgam-diplomasi-retno-marsudi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717489757531263022/posts/default/329608508511444987'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717489757531263022/posts/default/329608508511444987'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indah-ariani.blogspot.com/2010/12/langgam-diplomasi-retno-marsudi.html' title='LANGGAM DIPLOMASI RETNO MARSUDI'/><author><name>indahariani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01863084398389371134</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S5joGjEc2iI/AAAAAAAAAFs/giY1-nj4iUQ/S220/cemong.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/TRBMhjFM9pI/AAAAAAAAAJk/tOOfl1vuLJY/s72-c/crop2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5717489757531263022.post-3603129709936802373</id><published>2010-10-14T06:50:00.000-07:00</published><updated>2010-10-14T07:30:11.482-07:00</updated><title type='text'>SEPERCIK MIMPI  BUDI &amp; PEGGY</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/TLcS8iZIhFI/AAAAAAAAAJc/1PnigI8A9KM/s1600/Budi-Peggy.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/TLcS8iZIhFI/AAAAAAAAAJc/1PnigI8A9KM/s320/Budi-Peggy.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5527907898854245458" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sebuah keputusan kecil, mengubah jalan hidup pasangan ini. Mereka tak pernah bermimpi jadi pahlawan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;26 Oktober 2007. Sebuah batu besar melayang lewat jendela terbuka ke dalam mobil  pick up yang ditumpangi Peggy Soehardi. Malam itu, mantan pramugari yang kini mendedikasikan diri menjadi ibu rumah tangga dan total menjadi pekerja kemanusiaan ini tertidur di mobil setelah lelah membangun pagar di sekeliling lahan sawah milik Roslin Orphanage, panti asuhan yang ia dirikan bersama Budi Soehardi suaminya, seorang pilot Singapore Airlines. Peggy terlalu pulas untuk menghindar, bahkan ketika batu yang dilemparkan seseorang yang terlibat dalam tawuran antar warga itu mendarat tepat di wajah dan mematahkan hidungnya. Ia tak sadar apa yang terjadi hingga matanya tertumbuk pada cairan merah yang tumpah ke baju jingga yang dikenakannya. Hidung Peggy telanjur hancur terhantam batu. Budi Soehardi yang saat itu tengah bertugas di Los Angeles segera terbang ke Kupang. Peggy dilarikan ke Singapura, menjalani perawatan intensif. Beberapa waktu sebelum wawancara dengan dewi terjadi, Peggy baru saja menjalani operasi hidung setelah hampir tiga tahun proses penyembuhan berlangsung. “Ini hidung palsu,” katanya ringan sambil tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya sedih, marah, kecewa, dan sangat ingin menutup panti. Saya tidak bisa terima. Kenapa Peggy sampai harus celaka?” kenang Budi yang telah lama menetap di Singapura dan kini dipercaya menjadi Presiden Rotary Club di negeri jiran tersebut. ”Tapi saya sudah telanjur jatuh cinta pada anak-anak itu. Jangankan menutup, mempercayakan panti ini pada orang lain saja saya keberatan. Akhirnya kami sepakat untuk meneruskan ini,” tambah Peggy. Tak disangka, keteguhan itu diganjar dengan sebuah penghargaan bergengsi. “Budi terpilih sebagai peraih CNN Hero tahun 2008. Sesuatu yang sama sekali tak pernah kami bayangkan, karena kerja ini kami lakukan semata-mata karena panggilan hati, bukan ingin dapat penghargaan,” kisah Peggy. Boleh jadi itu, seperti yang diyakini Budi dan Peggy, adalah penghiburan Tuhan buat mereka. Tapi semua berawal dari perjuangan panjang mereka bagi cinta kasih dan kemanusiaan. Mengikuti ketergarakan hati, Budi, Peggy dan tiga anak mereka -Christine, Tasha, Christian yang kala itu tengah berangkat remaja- memutuskan mengubah rencana perjalanan mereka berlibur keliling dunia untuk pergi ke Kupang, di mana para pengungsi konflik Timor Timur menyelamatkan diri. Keputusan yang diambil pertengahan tahun 1999, lantas memang tak hanya mengubah rencana liburan, tapi juga jalan dan pilihan hidup mereka.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bagaimana awal berdirinya Panti Roslin?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Budi Soehardi(BS)&lt;/span&gt;: Kami tidak pernah berpikir akan punya panti asuhan. Suatu malam pada 1999, saat akan makan bersama sambil membicarakan rencana liburan keluarga keliling dunia, kami melihat sebuah siaran berita yang menayangkan kondisi para pengungsi Timor Timur di Kupang. Kami sangat prihatin melihat itu dan muncul ide untuk mengalihkan rencana liburan keliling dunia itu untuk datang ke Kupang membantu para pengungsi. &lt;br /&gt;`&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Apakah ide itu segera disambut istri dan anak-anak?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;BS:&lt;/span&gt; Justru istri dan anak-anak yang mengusulkannya. Mereka ingin membantu. Jadi dana yang sedianya untuk jalan-jalan, kami belikan bantuan untuk para pengungsi di sana. Mereka berpikir, kelilng dunia masih bisa dilakukan kapan-kapan. Para pengungsi itu berhadapan dengan hidup dan mati. Mereka harus segera dibantu. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Peggy Soehardi (PS)&lt;/span&gt;: Anak-anak senang sekali keputusan ini. Sejak kecil, mereka tidak pernah menetap di Indonesia. Jadi mereka tertarik sekali pada segala hal yang berhubungan dengan tanah airnya. Mereka juga prihatin melihat kondisi para pengungsi. Anak-anak tidak menyangka ada orang yang sampai kesulitan mendapat makanan sementara mereka bisa makan apa saja yang mereka suka kapan pun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bagaimana keterlibatan anak-anak di Panti Roslin?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;BS:&lt;/span&gt; Delapan tahun terakhir ini, setiap libur sekolah mereka selalu menghabiskan waktu di Kupang, membantu ibunya mengurusi panti. Anak saya yang pertama dan kedua sekarang berkuliah di Australia dan Kanada, yang bungsu sudah sekolah menengah, tinggal bersama saya di Singapura, sementara mamanya ringgal di Kupang dan sesekali datang ke Singapura. Saya sendiri, segera pulang ke Kupang . &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;PS:&lt;/span&gt; Anak-anak punya macam-macam di sana. Punya anak asuh sendiri, celana pendek untuk ke pantai, dan waktu yang menyenangkan. Mereka bisa mengajak anak-anak panti bermain di pantai seharian tanpa ada yang menyuruh mereka segera pulang. Anak-anak panti juga selalu menunggu kedatangan anak-anak kami. Mereka menunggu Christine Tasha dan Christian, seperti menunggu kedatangan kakaknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Anda berdua orang asing di Kupang. Bagaimana Anda memulai langkah di sana?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;BS&lt;/span&gt;: Pada saat kami datang ke sana tahun 1999, kami benar-benar sendiri dan harus bertanya ke sana kemari. Kami menginap di hotel saat itu. Ketika pertama kali kami punya anak asuh, kami belum punya panti. Kami lalu mengontrak sebuah rumah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Lalu sejak kapan Panti Roslin punya gedung sendiri?&lt;br /&gt;PS:&lt;/span&gt; Sejak 2001. Saat masuk ke sana, rumah itu masih berlantai tanah dan hanya punya satu kamar. Pertimbangan saya saat itu hanya supaya uang sewa rumah bisa dialokasikan untuk pembangunan rumah. Daripada uangnya habis untuk mengontrak rumah, lebih baik saya pindah ke sana, apa pun kondisinya. Saat itu kami hidup benar-benar dalam kondisi yang tidak enak. Ada delapan anak yang beberapa di antaranya bayi saat itu. Saya tinggal di Kupang terus karena kalau tidak, bahan bangunan kami akan dicuri. Saya sampai tidak boleh masuk Singapura karena saya terjangkit malaria. Saya bahkan sempat di karantina di rumah sakit karantina yang biasa disebut Kandang kerbau. Di situ orang-orang yang terjangkit malaria, AIDS, dan berbagai penyakit menular dikarantina. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pernah merasa frustrasi ketika membangun ini?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;PS&lt;/span&gt;: Sering. Tapi saya tidak bisa menyalahkan mereka yang tidak pernah tahu bahwa ada cara untuk memperbaiki hidup mereka. Kalau sudah merasa frustrasi begitu, saya bekerja, menyibukkan diri, bikin ini itu dan tahu-tahu hari sudah malam, dan saya sudah terlalu lelah untuk merasa frustrasi. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;BS&lt;/span&gt;: Dalam keadaan seperti itu, Peggy biasanya menelepon saya dan kami bicara lama sekali untuk saling menguatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bagaimana Anda berdua bisa begitu yakin?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;BS&lt;/span&gt;: Tuhan memberi kami banyak sekali berkah. Di lahan sawah kami yang awalnya kering kerontang, Tuhan memberi mata air di sawah kami yang berjarak sekitar 40 kilometer dari panti. Lahan itu awalnya gersang, kering kerontang. Lahan seluas 10 hektar itu dijual pun karena tidak bisa lagi ditanami apa pun. Kami nekat membeli karena harganya sangat murah. Kami lalu coba membuat pompa, mencari air agar tanah gersang itu jadi lahan subur yang ditumbuhi pohon-pohon hijau. Kami berdua mencoba mencari tempat yang mungkin ada airnya. Enam titik kami tetapkan sebagai alternatif. Kami tidak memakai alat berteknologi tinggi, dan pencarian itu pun  kami lakukan sendiri. Orang-orang mentertawakan kami. Tuhan ternyata ingin kami menyaksikan kekuasanNya. Bukannya sumur yang Dia berikan pada kami, tapi air mancur yang terus memancarkan air hingga sekarang. Kami sama sekali tidak membutuhkan pompa dan genset itu. Dari lahan tandus, tanah itu berubah jadi sawah yang bisa kami tanami sepanjang tahun dan memberi kami panen berlimpah. Sejak April 2008, kami swa sembada beras. Jadi apa yang kami rencanakan, selalu diberi hasil yang lebih baik oleh Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;PS&lt;/span&gt;: Kami memang harus punya sawah, karena kalau kami membeli beras, jelas kami tidak akan mampu mencukupi kebutuhan yang demikian besar. Sehari, kami harus memasak 45 kilogram beras untuk semua penghuni. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Berapa persen uang keluarga yang dialokasikan untuk panti?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;PS&lt;/span&gt;: Kalau ditanya prosentasenya agak susah, karena kebutuhan setiap bulan berbeda-beda. Kami tidak punya simpanan. Untungnya, di Jakarta kami punya beberapa rumah kos yang disewakan. Ada asset yang menghasilkan yang bisa menunjang keuangan kami. Makanya di sana, saya juga membangun hotel kecil untuk mereka yang bertandang ke tempat kami. Saya sendiri tidak pernah takut saya tidak punya apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dibiayai oleh siapa operasional Panti Roslin?&lt;br /&gt;PS:&lt;/span&gt; Enam tahun pertama kami membiayai sendiri biaya operasional. Karena kami tidak bisa mengajak orang sebelum kami menunjukkan kerja nyata kami. Setelah panti ada, berjalan dan ada hasilnya, orang mulai membantu. Setelah Budi masuk dalam CNN Hero, perhatian masyarakat makin besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Berapa banyak lembaga yang mensupport Panti Roslin sekarang?&lt;br /&gt;PS:&lt;/span&gt; Tidak ada lembaga yang secara tetap mensupport kami. Kadang-kadang saja ada yang memberi sumbangan. Tapi selama ini kami tidak pernah kekurangan. Tidak pernah kami kekurangan makanan. Malah berkelimpahan. Kami sendiri tidak tahu itu semua datang dari mana, karena kalau dihitung secara matematis, uang kami tidak akan cukup membiayai seluruh operasional panti. Di situlah kami percaya, kalau sungguh-sungguh memperjuangkan niat, semua yang datang akan lebih dari apa yang kami niatkan. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;BS&lt;/span&gt;: Harusnya istri saya yang dapat semua penghargaan karena dia yang memperjuangkan mimpi ini hingga dapat terjadi. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;PS&lt;/span&gt;: Ah, ini kan kerja kita berdua. Kalau saya sendiri tidak mungkin, dan kalau Budi sendiri tidak mungkin. Kami harus melakukan ini berdua. Dia yang bekerja dan mencari sesuatu untuk keluarga besar kami ini. Saya yang menjaga dan merawat semua yang dia cari. Saya harus turun untuk berbuat sesuatu. Kami berterima kasih pada Tuhan karena hidup kami selalu diberkati, dipenuhi apa yang kami mau, dan selalu diberi keselamatan. Suami saya itu kan bekerja di dalam ‘tanganNya’ terus. Kalau belum dengar kabar Budi landing dengan selamat, saya belum bisa tenang. Dia tiangnya, kalau tidak ada dia, ke mana kami akan bergantung?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Jadi, siapa mendukung siapa sebenarnya?&lt;br /&gt;BS&lt;/span&gt;: Saya mendukung dia.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;PS&lt;/span&gt;: Ah, nggak juga. Dia orang yang hidupnya tidak pernah diberikan untuk dirinya sendiri. Apa yang dia dapat, selalu diberikan untuk orang lain yang dia cintai. Anak, istri, dan anak-anak panti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Apa pengalaman yang paling menggugah hati?&lt;br /&gt;PS&lt;/span&gt;: Menjadi ibu baptis buat 20 anak dalam sebuah acara yang sama. Kalau ibu-ibu lain hanya berdiri dengan seorang anak, saya harus berdiri di depan altar dua puluh kali dengan anak yang berbeda, berjanji di depan Tuhan untuk menjaga anak-anak yang tidak lahir dari rahim saya. Satu gereja menangis menyaksikan pembaptisan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Apa yang dulu membuat Anda berdua saling tertarik?&lt;br /&gt;BS&lt;/span&gt;: Dia mandiri sekali. Apa yang tidak bisa dia lakukan? Di panti, semua bangunan dia yang gambar, dia hitung bahan bangungan. Mau masak? Apa saja yang dimasak Peggy pasti enak. Dia membereskan rumah hingga sangat bersih. Mengurus anak, tidak perlu ditanya. Peggy bahkan mengemudikan sendiri mobil perpustakaan Panti Roslin dan membawanya ke kampung-kampung agar anak kampung bisa menbaca. Ketika sekarang saya hidup sendiri di Singapura, saya makin yakin Peggy sangat berharga bagi saya. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;PS&lt;/span&gt;: Kadang-kadang kita memang membutuhkan waktu sendiri untuk menghargai apa yang tidak kita rasakan ketika banyak orang di sekeliling kita. Bayangkan saja, keluarga kami terpencar di banyak tempat. Budi dan Christian di Singapura, saya di Kupang, Christine dan Tasha di Australia dan Kanada. Saya sendiri tidak pernah membayangkan kami akan hidup seperti sekarang. Tapi saya yakin, ini pilihan yang baik bagi kami semua. Saya hanya ingin anak-anak kami dan anak-anak panti akan jadi anak-anak berhasil suatu hari nanti. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(Indah S. Ariani), Fotografer: Jennifer Antoinette, Pengarah gaya: Karin Wijaya, Busana Peggy: CK Calvin Klein&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5717489757531263022-3603129709936802373?l=indah-ariani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indah-ariani.blogspot.com/feeds/3603129709936802373/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://indah-ariani.blogspot.com/2010/10/sepercik-mimpi-budi-peggy.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717489757531263022/posts/default/3603129709936802373'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717489757531263022/posts/default/3603129709936802373'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indah-ariani.blogspot.com/2010/10/sepercik-mimpi-budi-peggy.html' title='SEPERCIK MIMPI  BUDI &amp; PEGGY'/><author><name>indahariani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01863084398389371134</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S5joGjEc2iI/AAAAAAAAAFs/giY1-nj4iUQ/S220/cemong.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/TLcS8iZIhFI/AAAAAAAAAJc/1PnigI8A9KM/s72-c/Budi-Peggy.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5717489757531263022.post-2331288979312916256</id><published>2010-08-05T00:21:00.000-07:00</published><updated>2010-08-05T00:42:43.238-07:00</updated><title type='text'>MEGHAN, KADEK, ROBERT Menggali Spirit Bali</title><content type='html'>Berangkat dari ide ingin mengundang kebaikan karma, perjalanan mereka berlabuh di ranah yang lebih kaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah wacana tentang karma yoga di benak Meghan Pappenheim, menggulirkan ide menarik yang lantas berkembang jadi jadi ajang yoga, musik, dan tari berskala internasional kala diimbuhi semangat dua pria yang sepenuh hati mendukungnya. Kadek Gunarta, suami Meghan, serta Robert Weber musisi Amerika yang menemukan ketenangan hidup dan memutuskan tinggal di Ubud. Sejak lama, Ubud memang dekat dengan seni dan spiritualitas. Banyak seniman  menjatuhkan cintanya pada desa di ketinggian Bali ini. Udara sejuk, kehidupan yang berjalan pelan, dan laku spiritual yang dijalani dengan teguh, membangun ‘keheningan’ yang sulit ditandingi daerah lainnya di Bali. Meditasi, musik, dan tari lantas jadi seperti denyut nadi yang menghidupi Ubud. Ketiganya jadi sari pati hidup yang disantap semua orang yang datang ke sana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak mengherankan jika Meghan lalu terinspirasi menggelar sebuah acara untuk para pelaku yoga dengan fokus yang lebih mengarah pada karma yoga, sebuah aliran dalam yoga yang dilakukan tidak dengan olah tubuh melainkan dengan berbuat kebaikan pada alam dan sesama. Ia ceritakan idenya pada Kadek, dan Rob yang lantas, dengan antusias menyambutnya. Ajang yang tadinya dibayangkan Meghan berbentuk jambore itu, akhirnya berkembang menjadi sebuah festival yoga internasional yang gaungnya nyaring terdengar di mancanegara. Para pelaku yoga dari berbagai negara berkumpul di sana selama lima hari untuk bersama-sama menyesap spirit Bali dan memasukkan Bali Spirit Festival (BSF) ke dalam agenda wajib mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang pertama kali memunculkan ide BSF ini? &lt;br /&gt;Meghan Pappenheim (MP): Saya. Awalnya saya ingin membuat Karma Yoga Festival yang tujuan utamanya menginspirasi orang lain untuk melakukan hal-hal baik agar karma baik kembali datang pada mereka. Sampai sekarang pun masih ingin mewujudkannya. Mungkin nanti, suatu hari. Saat itu, saking bersemangatnya, saya sudah kerjasama dengan web desainer, membeli nama domain, juga membuat logo. Sudah siap jalan, tapi saya tidak tahu bagaimana cara melakukannya. Akhirnya, semua hanya berhenti pada ide saja. Beberapa kali saya menceritakan soal ini pada Rob, juga Kadek sampai suatu hari saat saya duduk di Kafe bersama Rob dan Rachel istrinya, Rob bilang saat itu, “Ayo, mari kita buat.” Padahal saat itu, kami belum terlalu kenal satu sama lain. Lalu Rob memberi ide untuk menamakan acara itu Bali Spirit Festival dan menyarankan memasukkan musik ke dalam festival. Tiga bulan setelah itu, kami menggelar festival ‘gila’ ini. Dan festival pertama itu sangat luar biasa. Beberapa hal mungkin sedikit berbeda dengan ide awalnya. Tapi sekali pun ada perubahan, tujuan dan inspirasinya tetap soal bagaimana ‘mengembalikan apa yang sudah kita ambil’ dari alam. Semua acara yang digelar, selalu mengandung semangat berbagi. Para musisi saling mengajar satu sama lain,  tampil bersama, dan datang ke sekolah-sekolah mengadakan program peduli HIV/AIDS. Rencananya, kami akan mendatangi lebih dari 50 sekolah tahun depan.         &lt;br /&gt;Robert Weber (RW):  Ya. Benar-benar ‘gila’. Tapi kami dapat dukungan yang sangat besar dari banyak pihak. Saya pikir, ini ide dan kerja komunitas. &lt;br /&gt;Kadek Gunarta (KG): Orang yang datang ke Bali hampir selalu karena daya tarik seni, budaya, keindahan, dan kehidupan spiritualnya. Kami coba menggabungkan semua kekuatan itu bersama-sama. Kalau kami bikin sesuatu di sini, vibrasinya akan terdengar hingga mancanegara. Karma baik yang kami buat di sini, semoga jadi bola salju yang menggelinding ke seluruh pelosok dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda bertiga praktisi Yoga?&lt;br /&gt;MP: Ya, saya sangat suka yoga dan sudah mulai melakukannya sejak usia 13 tahun. Saya ikut kelas yoga Iyengar pertama saya di New York. Sempat on-off selama beberapa tahun. Pada 2002 saya mengambil pelatihan guru yoga. Saya punya sertifikat guru, tapi belum pernah mengajar. Setelah melahirkan anak pertama dan kedua lalu melahirkan BSF, akhirnya saya malah jarang latihan yoga lagi. Tapi saya masih tetap suka yoga dan tahu persis apa nilai serta manfaat yang diberikan yoga bagi saya. &lt;br /&gt;RW: Saya juga beryoga. Sebab, meski tinggal di Ubud, saya punya hidup yang lumayan sibuk. Yoga membantu saya tetap fokus, merasa sehat, dan lebih kreativitas. Yoga juga membawa lebih banyak inspirasi pada apa yang saya lakukan karena sebagai musisi, saya harus bisa terus berada di wilayah yang penuh hal-hal menarik untuk melakukan kerja itu. &lt;br /&gt;KG: Kalau bicara tentang yoga, sebenarnya semua orang Bali telah melakukan yoga sejak kecil. Kami menjalankan apa yang disebut karma dan bakti yoga. Kami dididik oleh keluarga dan komunitas untuk melakukan hal-hal baik bagi komunitas dan itu yang disebut karma yoga. Di sini, yoga tidak identik dengan olah tubuh, tapi lebih pada soal bagaimana kita menjadi bagian dari komunitas. &lt;br /&gt;MP: Ya, itu yang disebut karma yoga. Di setiap hal yang kami lakukan entah itu BSF, atau bisnis kami yang lain seperti The Yoga Barn, The Kafe, website Bali Spirit.com, atau juga studio milik istri Rob, kami jalankan dengan keyakinan penuh atas adanya karma yoga ini. Kami memberi dan melakukan apa yang kami bisa untuk berbagi dengan orang lain. Sebagai pengusaha, saya paham benar alasan kuat untuk menghasilkan uang banyak adalah agar saya bisa membagikannya pada orang lain, karena uang itu akan membantu banyak orang.      &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di mana titik temu antara musik, yoga, dan tari di BSF?&lt;br /&gt;RW: Seperti yang tadi sudah saya katakan, orang melakukan yoga karena mereka ingin menggali spiritnya. Dalam yoga dikenal istilah inhale dan exhale. Saya mengartikan inhale sebagai penggalian ke dalam diri, dan exhale sebagai perayaan hidup lewat musik dan tari. Jadi musik dan tari di sini sebagai ekspresi jiwa dan kebahagiaan yang ingin dibagi ke seluruh dunia. Setiap budaya, pasti memiliki secret music, atau musik spiritual. &lt;br /&gt;KG: Jika kita melihat kultur Bali, sebenarnya musik, tari, dan yoga akan ditemukan di mana-mana. Orang datang ke pura, yang selalu dihiasi suara gamelan, kidung, atau kakawin. Mereka beryoga, dan menari untuk persembahan di sana. Lingkungan dibentuk dari tiga kegiatan ini. Ini memang spiritnya Bali. Kami mengambil esensi budaya lokal jadi sebuah perayaan spiritualitas. Itu yang kami adaptasi dan bawa ke dalam BSF yang lantas menjadi nilai universal dari Negara lain seperti yang tadi Rob katakan. Kami sebenarnya tidak menciptakan sesuatu yang baru. Kami menawarkan esensi budaya yang setiap hari kami jalani. Dan ini menjadi sesuatu yang universal, karena apa yang kami tawarkan adalah sebuah common sense, sesuatu yang masuk akal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berapa banyak peserta yang ikut di BSF pertama, dan berapa yang ikut pada BSF tahun ini?&lt;br /&gt;MP: Saya tidak ingat berapa jumlah persisnya. Tapi pada BSF yang kedua, jumlah peserta meningkat dua kali lipat dari peserta BSF pertama, dan di tahun ketiga ini, pesertanya meningkat dua kali lipat dari BSF kedua. Jadi ada peningkatan sebanyak 200% sejak BSF pertama. Saya harap tahun keempat, jumlah peserta juga akan makin meningkat supaya semakin banyak orang yang mendapat manfaat dari ajang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa harapan Anda bertiga untuk BSF?&lt;br /&gt;MP: Saya tidak mau berharap terlalu banyak. Tapi saya ingin BSF ini tetap berlangsung, terus bertumbuh dan selalu bisa menginspirasi banyak orang. &lt;br /&gt;KG: Saya ingin kami bisa membawa lebih banyak kelompok musik tradisional Bali agar banyak orang muda dari berbagai negara yang bisa menikmatinya, hingga kecintaan pada spirit Bali terus bertumbuh.&lt;br /&gt;RW: Ya, semoga dari Ubud kami bisa membagi cinta pada dunia. Sebab di sini, selalu ada kebahagiaan, keseimbangan, dan hati yang penuh. Dengan kecantikan estetis dan spiritualnya, tempat ini punya keajaiban yang membuat hidup jadi begitu indah. (Indah S. Ariani), Foto: Agung Mulyajaya, Pengarah Gaya: ISA, Lokasi: The Yoga Barn, Ubud&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5717489757531263022-2331288979312916256?l=indah-ariani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indah-ariani.blogspot.com/feeds/2331288979312916256/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://indah-ariani.blogspot.com/2010/08/meghan-kadek-robert-menggali-spirit.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717489757531263022/posts/default/2331288979312916256'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717489757531263022/posts/default/2331288979312916256'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indah-ariani.blogspot.com/2010/08/meghan-kadek-robert-menggali-spirit.html' title='MEGHAN, KADEK, ROBERT Menggali Spirit Bali'/><author><name>indahariani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01863084398389371134</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S5joGjEc2iI/AAAAAAAAAFs/giY1-nj4iUQ/S220/cemong.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5717489757531263022.post-8292918173345135057</id><published>2010-06-01T06:02:00.001-07:00</published><updated>2010-06-01T06:04:55.616-07:00</updated><title type='text'>MENJARING BINTANG SENI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/TAUFDWUtpkI/AAAAAAAAAJM/IXAf8i3HBLQ/s1600/Ayu+A.M+-+2010+-+Water+Garden+(125x115)+MC.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 293px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/TAUFDWUtpkI/AAAAAAAAAJM/IXAf8i3HBLQ/s320/Ayu+A.M+-+2010+-+Water+Garden+(125x115)+MC.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5477790076856280642" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sebagai salah satu lokomotif seni rupa Indonesia, Edwin’s Gallery merasa perlu melakukan pengamatan terhadap seniman-seniman muda yang muncul ke jagat seni. Melalui sebuah program yang diberi nama Survey, Edwin melakukan pengamatan itu. “Ini bentuk apresiasi dan konsistensi kami yang ingin selalu menampilkan karya berkualitas dari seniman-seniman muda Indonesia,” kata Edwin dalam konferensi pers sebelum pameran itu dibuka. Sepuluh seniman terpilih mewakili 68 seniman yang ‘dijaring’ melalui program pertama yang diadakan pada 2008 silam menampilkan karya-karya mereka dalam pameran bersama bertajuk Survey 1.10. Sepuluh nama itu adalah A.T. Sitompul, Ayu Arista Murti, Beatrix Hendriani Kaswara, Gusmen Heriadi, I Made Widya Diputra, Made Wiguna, Valasara, R.E. Hartanto, Septian Harriyoga, Wedhar Riyadi, dan Yuli Prayitno. Karya seniman besar Francisco Giya berjudul The Sleep of Reason Produces Monster menjadi inspirasi yang diambil oleh Aminudin TH Siregar untuk pameran tersebut. Ucok, panggiln Aminudin, melihat adanya korelasi antara kondisi masyarakat Spanyol saat ketika karya-karya etsa Goya itu diciptakan di mana dikotomi antara kemewahan dan kemelaratan di tengah krisis ekonomi yang menjerat terpapar dengan nyata. “Ini saya pinjam sebagai metaphor untuk mewakili sejumlah hal yang berkaitan dengan kenyataan yang kita alami di tanah air sekarang ini,” ungkap Ucok. Menurutnya, pameran tersebut ia tujukan untuk membidik sisi kelam manusia –khususnya masyarakat Indonesia- dengan harapan bahwa pada suatu hari, para seniman bisa menjadi ‘pembunyi alarm’ yang secara signifikan mewarnai ranah social masyarakat Indonesia. Kendati mungkin terkesan terlalu heroic, tentu tak ada yang salah dengan tujuan ini. Sebab sejatinya, senia memang adalah cara untuk menuturkan sesuatu yang tak terkatakan. Kita tunggu saja sepakterjangnya. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ISA, Foto: Dok. Edwin’s Gallery &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5717489757531263022-8292918173345135057?l=indah-ariani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indah-ariani.blogspot.com/feeds/8292918173345135057/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://indah-ariani.blogspot.com/2010/06/menjaring-bintang-seni.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717489757531263022/posts/default/8292918173345135057'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717489757531263022/posts/default/8292918173345135057'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indah-ariani.blogspot.com/2010/06/menjaring-bintang-seni.html' title='MENJARING BINTANG SENI'/><author><name>indahariani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01863084398389371134</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S5joGjEc2iI/AAAAAAAAAFs/giY1-nj4iUQ/S220/cemong.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/TAUFDWUtpkI/AAAAAAAAAJM/IXAf8i3HBLQ/s72-c/Ayu+A.M+-+2010+-+Water+Garden+(125x115)+MC.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5717489757531263022.post-7057699505479730158</id><published>2010-06-01T05:55:00.000-07:00</published><updated>2010-06-01T06:01:08.192-07:00</updated><title type='text'>Dari Montblanc untuk sang Maestro</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/TAUD0FkzcPI/AAAAAAAAAJE/Ww3_MKYeJUo/s1600/Masazumi+Chaya,+Judith+Jamison++Jan-Patrick+Schmitz.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/TAUD0FkzcPI/AAAAAAAAAJE/Ww3_MKYeJUo/s320/Masazumi+Chaya,+Judith+Jamison++Jan-Patrick+Schmitz.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5477788715150700786" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Judith Jamison, direktur artistik di Alvin Alley American Dance Theater mendapat penghargaan Montblanc de la Culture Arts Patronage Award (MdlCAPA). Penghargaan ini diberikan 22 Maret silam di The Joan Weill Center for Dance New York. Judith, koreografer senior asal Philadelphia yang telah puluhan tahun malang melintang di jagad tari ini memulai karier sebagai penari bersama American Ballet Theater pada 1964. Mendiang Alvin Alley, orang yang berjasa besar dalam karier koreografi Judith, melihat bakat besar Judith dan menariknya bergabung dalam kelompok tari miliknya itu pada 1965. Sejak itu, Judith menjadi penari penting yang sering menjadi role dalam komposisi-komposisi tari Alley. Satu yang paling terkenal adalah penampilan solonya dalam komposisi berjudul Cry yang dipertunjukkan di banyak negara. Koreografer yang pernah meraih Emmy Award ini mendedikasikan diri lebih dari dua dekade sebagai Direktur Artistik di teater ternama di New York itu. Konsistensi itulah yang diapresiasi oleh Montblanc. Brand aksesori papan atas ini memang memberi dukungan besar pada mereka yang memberi energi bagi dunia seni dan kerja-kerja yang terjadi di dalamnya. Sejak diadakan pada 1992, ajang penghargaan ini pernah memberi apresiasi pada nama-nama besar antara lain pada John Skyes (2001), Rebecca Neuwirth (2006), Wynton Marsalis (2007), dan Susan Sarandon (2008). Selain memenangi hadiah sebesar 20.000 dolar yang akan digunakan untuk mengembangkan proyek-proyek seninya. Judith juga mendapat pena special yang diciptakan MOntblanc untuk para pemenang ajang tersebut yang mereka bernia nama Patron of the Arts Montblanc. Hadiah tersebut diserahkan oleh Lang Lang, yang menjadi ketua Montblanc Cultural Foundation. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(ISA), Foto: Dok. Montblanc  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5717489757531263022-7057699505479730158?l=indah-ariani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indah-ariani.blogspot.com/feeds/7057699505479730158/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://indah-ariani.blogspot.com/2010/06/dari-montblanc-untuk-sang-maestro.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717489757531263022/posts/default/7057699505479730158'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717489757531263022/posts/default/7057699505479730158'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indah-ariani.blogspot.com/2010/06/dari-montblanc-untuk-sang-maestro.html' title='Dari Montblanc untuk sang Maestro'/><author><name>indahariani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01863084398389371134</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S5joGjEc2iI/AAAAAAAAAFs/giY1-nj4iUQ/S220/cemong.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/TAUD0FkzcPI/AAAAAAAAAJE/Ww3_MKYeJUo/s72-c/Masazumi+Chaya,+Judith+Jamison++Jan-Patrick+Schmitz.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5717489757531263022.post-3976581221049330168</id><published>2010-06-01T05:48:00.000-07:00</published><updated>2010-06-01T05:52:47.902-07:00</updated><title type='text'>MERAYAKAN NYERI DI LAMA SABAKHTANI CLUB</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/TAUClYCZdzI/AAAAAAAAAI8/5g4KRbEazO4/s1600/IMG_0090.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/TAUClYCZdzI/AAAAAAAAAI8/5g4KRbEazO4/s320/IMG_0090.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5477787362897000242" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/TAUCk2qpSHI/AAAAAAAAAI0/jt81Lq5vfsU/s1600/IMG_0122.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/TAUCk2qpSHI/AAAAAAAAAI0/jt81Lq5vfsU/s320/IMG_0122.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5477787353939003506" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/TAUCkdiVhlI/AAAAAAAAAIs/KWebQ2cqCJI/s1600/IMG_0121.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/TAUCkdiVhlI/AAAAAAAAAIs/KWebQ2cqCJI/s320/IMG_0121.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5477787347193267794" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Apa yang terpikir ketika Anda mendengar kata club? Kesenangan? Kesegaran? Di “club” yang ini, Anda akan menemukan sesuatu yang berbeda.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini, kesenangan dan kesegaran memang diperoleh dengan cara berbeda. Tidak lewat bingar musik atau beraneka jenis alat gimnastik. Melainkan datang dari beragam kengerian, rasa nyeri, dan permenungan tentang penderitaan. Memang, derita dan rasa sakit bukan sesuatu yang layak dirayakan. Namun, di tangan Christine Ay Tjoe dan Deden Sambas, dua hal itu diramu jadi pertunjukan menarik. Setidaknya itu yang mereka hadirkan dalam pameran bertajuk Lama Sabakhtani Club, Ay Tjoe Christine in collaboration with Deden Sambas yang digelar sejak 16 April hingga 2 Mei 2010 silam di Galeri Lawangwangi, Bandung. Mengapa Lama Sabakhtani? “Temanya memang berangkat dari ucapan terkenal Isa ketika akan disalib, Eloi, Eloi, lama sabakhtani. Tapi pameran ini tidak berhenti pada kalimat itu sebagai teks keagamaan. Ada yang lebih luas dari itu, tentang keadaan sekarat dan tragedy yang sering terjadi dalam hidup manusia. Teks itu memuat sesuatu yang universal,” ungkap Hendro Wiyanto, kurator pameran, ketika kami duduk menghadapi sebuah guilotin(mesin pemenggal kepala) yang menjadi ‘diva’ dalam pameran itu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di letakkan di ruang tengah pameran, guilotin berukuran empat meter itu memang mengirimkan cekam yang dalam. Bentuk karya yang diberi tajuk Lama Sabakhtani #01 itu demikian kokoh, menghadirkan ngeri karena mengingatkan kita pada proses pemenggalan kepala yang biasa ada di film-fil tentang abad pertengahan. Dentuman pisau-pisaunya yang meluncur tanpa ampun, pasti menelan jantung siapa saja melompat karena suaranya. Tali-tali baja yang digayuti bola-bola kuningan bergerak menarik naik tiga pisau baja yang ada di mesin itu. Perlahan, tanpa suara pisau-pisau itu mengudara. Hening yang asing itu lantas pecah oleh dentuman, bunyi hempasan pisau. Satu, dua, tiga. Cekaman sirna, menyisakan kejut yang nyata. “Memang kesan mencekam itu yang ingin dihadirkan oleh Christine dan Deden. Awalnya mereka menggunakan mesin tenun untuk menghasilkan suara. Tapi kesan yang diinginkan kurang maksimal didapat. Lalu muncul ide untuk menggantinya dengan guilotin ini,” kata Hendro.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antara Bunyi dan Sunyi&lt;br /&gt;Guilotin itu tak sendirian. Ada dua instalasi lain yang mendampinginya berpameran. Lama Sabakhtani #2 berbentuk lilin terbalik yang ‘mengandung’ paku paku berbagai ukuran di dalamnya dan Lama Sabakhtani # 3, yang berupa sebuah mesin tulis manual yang tuts hurufnya telah ditelanjangi, siap mematuk jemari siapa saja yang menyentuhnya. Meski tak menimbulkan kesan sedramatis saudara pertamanya, kedua karya ini tetap saja menarik Paku yang tertancap di tubuh lilin berdiamter 12 cm dengan panjang 170 cm, adalah idiom rasa sakit yang menjadi tema utama pameran ini. Sebagai benda asing, tentu tak hanya sakit yang terasa oleh lilin itu, tapi juga keinginan untuk menolak unsure tak sejenis yang ditanam paksa dalam tubuhnya. “Ay Tjoe piawai sekali membahasakan sesuatu yang menakutkan dengan sangat puitis hingga di satu titik, ketakutan itu berubah sekaligus jadi sesuatu yang menyenangkan,” Hendro mengungkapkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurator ini menganggap Lama Sabakhtani #2 memiliki efek yang demikian karena citra tragis yang diwakili oleh kehancuran, kerapuhan, juga kemusnahan sebuah bentuk yang diperlihatkannya. Patri yang memanasi lilin, memang membuatnya meleleh hingga paku-paku itu jatuh satu persatu, menimbulkan ketukan yang mengingatkan kita pada dentum guilotin, tentu dalam skala kekuatan suara yang berkali-kali lebih rendah. Sayangnya, tak semua paku-paku itu jatuh sesuai scenario, hingga ada beberapa peluang ketukan yang gagal terjadi. Untung saja, visualisasi pembakaran lilin itu demikian menarik hingga ada substitusi kesan yang membuat kekurangan itu tak jadi terlalu mengganggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama Sabakhtani #3 mungkin adalah instalasi yang dari segi ukuran terbilang paling mungil. Tapi Ay Tjoe dan Deden berhasil membuatnya punya daya tarik yang tak kalah besar dari dua instalasi lainnya. Mengambil konsep mirip karya yang mereka tampilkan di Art Hongkong (2009)  dan Art Paris (2010) berjudul Panorama without Distance, karya ini menjadi menarik karena teka-teki yang tersimpan dalam tutsnya yang menyakiti itu. Para pengunjung pameran senang bermain-main mencari bilah besi mana yang mengantar mereka pada bunyi atau pada sepi. Mesin tulis itu memang terhubung pada kotak musik yang akan berbunyi atau berhenti manakala orang menekan tombol yang tepat. “Kegilaan ide yang ada dalam pameran ini memang menarik,” menurut Hendro. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunyi dan suara sepertinya memang menjadi hal penting dalam pameran ini. Ay Tjoe yang datang dengan kegilaan ide itu, bertemu Deden Sambas yang disebut oleh hendro sebagai perupa pelaksana yang cermat untuk penyelesaian karya-karya trimatra Ay Tjoe. “Sebenarnya tak berlebihan jika mengatakan Deden adalah arsitek dari benda-benda aneh tersebut. Lagi pula, memang ketertarikan Ay Tjoe pada Deden disebabkan oleh kepekaannya membangun imaji melalui bebunyian, juga keterampilannya merakit benda-benda untuk kebutuhan itu,” kata Hendro lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meretas Berbagai Batas&lt;br /&gt;Ditanya pendapatnya tentang karya-karya yang ia tampilkan, Ay Tjoe mengaku bahwa sesungguhnya ia mencoba mengisahkan kembali rasa sakit yang dialami Kristus dengan cara yang gembira. Lama Sabakhtani, ia pahami tak lagi semata hanya sebagai sebuah teriak putus asa, namun sesungguhnya adalah keintiman antara penyeru dan yang diseru. Ada keintiman yang membungkus kesakitan. Ay Tjoe juga seperti ingin melebarkan permasalahan yang terkandung dalam seruan itu yang sering dianggap sebagai milik penganut Kristiani menjadi sesuatu yang lebih universal lewat ide tentang rasa sakit yang bisa dialami siapa saja. “Konteks kalimat ini pantas untuk diperbarui secara spirit. Kata Club di belakang Lama Sabakhtani saya pakai supaya bisa memuncakkan, dan menegaskan hubungan intim antara pribadi manusia dan Penciptanya yang luar biasa menggembirakan,” kata Ay Tjoe. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka tak heran jika simbol-simbol yang ia gunakan lantas beranjak dari sekadar salib, menjadi banyak simbol universal seperti guilotin, mesin tulis dan sebagainya. Misalnya saja, Ay Tjoe mengadopsi konsep manusia menurut Marx dan bahkan memakai lajur dan baris matematika untuk menyampaikan pesannya. Hal ini muncul dalam karya berjudul Plat Hitam #01, #02, dan #03. Hanya berupa torehan jarum besi di atas plat tembaga yang lantas dilaburi tinta etsa berwarna putih. Ay Tjoe dan Deden salin menuliskan inspirasi mereka sepanjang proses persiapan pameran ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka muncullah ha-hall, nama, dan ide-ide beraneka rupa. Contohnya saja Doa Bapa Kami yang ditulis dalam kode rahasia yang tiap katanya diwakili oleh tiga komposisi angka, lajur dan baris. Penulisan kode ini menurut Ay Tjoe ia pelajari dari sebuah film tentang gerakan pemberontak di Jerman yang menentang keputusan pemerintahnya mendukung Amerika memerangi Vietnam. Lalu mengapa Ay Tjoe merasa harus berdoa secara rahasia, meski hubungan dengan Tuhan bukanlah sesuatu yang tabu? “Karena tak semua orang bisa berdoa pada Tuhannya dengan cara yang sangat intim. Simbol dan rahasia akan membuat saat berdoa terasa memiliki kualitas yang lebih kental karena ia menjadi sebuah momen personal,” katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia juga memindahkan penggalan teks Shakespeare dalam Timon of Athens ke dalam platnya. Teks yang berisi banyak sekali paradoks dan pertanyaan seperti yang biasa ia sematkan ke dalam karyanya. “Emas? Kuning, gemerlap,. Emas yang berharga? Bukan, dewa-dewa, aku pecandu yang malas,. Akar-akar. Kamu membersihkan surga?! Maka banyak yang akan membuat hitam putih kesalahan, keadilan, salah benar, jahat mulia, tua muda, pengecut berani. Demikian.” Maka paradoks itu memang sempurna muncul sebagai pernyataan. Hal lain yang juga menarik adalah melihat bagaimana symbol dua agama, Kristen dan Islam, yang dianut Ay Tjoe dan Deden berdampingan secara harmonis dalam karya-karya tersebut. Dalam plat yang berisi ucapan terima kasih, Deden menyebut Khidr, orang suci yang menjadi guru Nabi Musa dan memiliki kisah menarik dalam Al Quran, sebagai salah satu inspirasinya. Simbol muslim juga terlihat pada karya berjudul Tool Box yang masih mengambil bunyi sebagai pemikatnya. “Ketukan satu-satu ini mengingatkan kita pada dzikir yang teratrur, dan meditatif, ” Deden menjelaskan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pun karya dwimatra lainnya yang berupa lukisan khas Ay Tjoe. Darah dan luka dielaborasinya menjadi sebuah kisah yang indah, kendati miris dan nyeri tak bisa dienyahkan. Cekam yang datang bisa dientaskan menjadi keriaan lewat pengalaman yang membawa semua orang ingin bermain-main dengan nyeri dan rasa sakit, tanpa sedikit pun melontarkan keluhan. Kolaborasi simbol yang begitu membaur pada akhirnya juga memang menisbikan perbedaan yang hamper selalu mengemuka ketika banyak orang bicara tentang agama. Kendati bermula dari sebuah teks yang kental mengandung muatan agama, Lama Sabakhtani Club berhasil melintasi barikade perbedaan yang acap membelenggu itu. Jadi, mari kita rayakan nyeri dan luka bersama. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(Indah S. Ariani), Foto: ISA       &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5717489757531263022-3976581221049330168?l=indah-ariani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indah-ariani.blogspot.com/feeds/3976581221049330168/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://indah-ariani.blogspot.com/2010/06/merayakan-nyeri-di-lama-sabakhtani-club.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717489757531263022/posts/default/3976581221049330168'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717489757531263022/posts/default/3976581221049330168'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indah-ariani.blogspot.com/2010/06/merayakan-nyeri-di-lama-sabakhtani-club.html' title='MERAYAKAN NYERI DI LAMA SABAKHTANI CLUB'/><author><name>indahariani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01863084398389371134</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S5joGjEc2iI/AAAAAAAAAFs/giY1-nj4iUQ/S220/cemong.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/TAUClYCZdzI/AAAAAAAAAI8/5g4KRbEazO4/s72-c/IMG_0090.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5717489757531263022.post-8405304077502944827</id><published>2010-06-01T05:38:00.000-07:00</published><updated>2010-06-01T05:48:22.216-07:00</updated><title type='text'>MUARA CINTA ANDONOWATI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/TAUAzdjKDxI/AAAAAAAAAIk/0q-qIkt3CHM/s1600/DS__9241.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 232px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/TAUAzdjKDxI/AAAAAAAAAIk/0q-qIkt3CHM/s320/DS__9241.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5477785405871492882" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pada sains dan seni, cinta perempuan ini bermuara. Ia adopsi mereka jadi anak-anaknya. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Islamic Art Fair 2009 di Pacific Place Jakarta. Seorang perempuan berambut pendek menyambut dengan senyum ramah pengunjung yang memasuki  area pameran. Seorang teman kurator memperkenalkan perempuan itu. “Saya dari ArtSociates,” ujarnya ramah membuka perbincangan. Bicaranya tak terlalu banyak dan seringkali lugas, pendek-pendek tanpa basa basi berlebihan. Namun senyum malu-malu di wajahnya memancarkan ketulusan. Andonowati. Begitu nama yang tertera di kartu nama yang diangsurkannya.Usai berkeliling melihat karya-karya yang dipajang di seksi itu, ia kembali menghampiri. Kali ini dengan sebuah majalah seni rupa yang telah terbuka di tangannya. Ditunjukkannya sebuah halaman bergambar desain 3D sebuah proyek bernama Lawangwangi. “Kami sedang membangun pusat seni rupa dan sains di Bandung. Masih dalam tahap pembangunan. Rencananya akan kami resmikan Februari 2010 nanti,” katanya, tetap dengan kalimat pendek dan senyum yang sama. Nada bicaranya menarik. Intonasinya sering berakhir di nada tinggi. Ada antusiasme meluap di situ. Aan, begitu Andonowati biasa disapa, memang seperti tak pernah kehabisan energi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antusiasme itu tak hanya dia curahkan pada dunia seni rupa, tapi juga pada matematika, di mana cinta pertamanya tertambat. Associate professor di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Institut Teknologi Bandung (ITB) ini memiliki semangat yang sama tinggi untuk mengembangkan sains yang ia tekuni dan seni yang ia cintai. Antusiasme yang membuncah tak terbendung ketika dengan suara bergetar ia memberi sambutan di malam peresmian Lawangwangi Art &amp; Science Estate, di bulan Februari 2010 silam. Tempat yang menampung aktivitas Lab-Math Indonesia (LMI) dan ArtSociates (AS). Aan menyebut keduanya sebagai ‘anak-anak saya’. Ia memang memilih hidup berdua saja dengan suaminya yang juga seorang scientist berkebangsaan Belanda, E. (Branny) van Groesen. “Ada orang yang dikarunia anak untuk dibesarkan. Saya tidak punya. Jadi bagi saya, sains dan seni adalah anak-anak yang harus saya rawat dan jaga pertumbuhannya,” katanya di sebuah sore yang menggigil di Dago Giri, bukit di mana Lawangwangi berdiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jendela besar yang membatasi ruang kerjanya dengan kesejukan dibiarkan terbuka. Busana Carmanita yang ia kenakan untuk pemotretan telah berganti lagi dengan pakaian kebesarannya: celana katun, tank top dilapisi kemeja berwarna gelap. Make up masih menempel di wajahnya. Aan terlihat berbeda dan sesekali tertawa malu mendengar godaan yang dilontarkan para asistennya di LMI dan AS. Sosok perempuan yang mendapat gelar Doktor Matematika Fisiknya dari McGill University, Montreal, Kanada ini jauh sekali dari kesan angker yang kerap diruapkan oleh para ilmuwan. Tak ada kesan dingin, apalagi arogan. Semuanya cair, hangat dan membumi di sekitarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;memberi garis tebal pada kemampuan Aan punya kemampuan ‘membumikan’ ilmu pengetahuan. “Matematika jadi terasa luwes di tangannya. Bu Aan selalu berusaha mencari cara supaya matematika yang sering dianggap rumit itu bisa berguna bagi kemaslahatan masyarakat,” kata Didit Adytia, Head of Laboratory di LMI. Lewat berbagai jurnal ilmiah, Aan mencoba menuangkan pemikirannya. Salah satu yang cukup penting adalah tulisannya mengenai gelombang ekstrem yang ia susun bersama suaminya yang juga professor Matematika dari University of Twente, Belanda, E. (Brenny) van Groesen dan dipublikasikan di Physics Letter, jurnal penting dalam ilmu pasti. Suami yang selalu mendukung apa pun langkah yang diambil Aan itu tak menutupi kekaguman dan penghargaannya pada istrinya. Binar kagum memancar dari mata Branny ketika membicarakan Aan. “Dia selalu ingin mendidik masyarakat. Ingin memberi sesuatu yang berguna,” kata Branny jujur. Pria Belanda yang telah sembilan tahun mendampingnya ini memandang Aan sebagai sosok yang mandiri dan tahu betul apa yang ingin diraihnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan yang menjadi anggota Asian Fluid Mechanics Committee ini adalah ‘ibu’ yang baik dan bertanggung jawab. Dhanny Irawan, staf AS mengaku menjadi saksi mata cinta Aan pada ‘anak-anak’nya. “Sepanjang usia AS yang berdiri sejak 2007, saya melihat itu.Bu Aan, misalnya, sampai merelakan rumah dan mobilnya dijual demi membiayai pembangunan Lawangwangi. Mungkin orang mengira dia dapat bantuan dari sana sini. Nyatanya, dia membangun ini seorang diri,” kata Dhanny. “Ada lagi hal lain yang lebih mudah kelihatan. Bu Aan lebih memikirkan seni ketimbang penampilan. Dia akan lebih memilih membeli karya seni ketimbang mobil baru yang sangat ia butuhkan,” kata Dhanny.  Gairah besar untuk mengembangkan dunia seni rupa memang bergerak linear dengan totalitasnya berkutat dengan bidang keilmuan. Ia seperti ingin membuktikan bahwa dua hal itu berasal dari senyawa yang sama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski banyak disikapi secara skeptis oleh para pengamat seni, Aan tak surut langkah. Ia terus saja berjalan konstan dengan apa yang telah ia canangkan. “Lawangwangi punya empat program tetap dari enam pameran yang kami gelar setiap tahun yakni, Bandung Art Award, From The Collectors, Islamic Art Award, dan Art Project,’ Aan menjelaskan. Di luar itu, ada beberapa pameran dan program khusus yang ia adakan. “Dua pameran lepas, seperti pameran kolaborasi Christine Ay Tjoe dan Deden Sambas yang baru lalu, juga residensi kolaborasi antara seniman dan ilmuwan. Dalam proyek pertama, kami mengirim Ay Tjoe untuk menjalani residensi di Belanda dan akan berkolaborasi dengan fisikawan Detlef Lohse sejak Mei lalu hingga Juli mendatang,” jelasnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain berbagai program seputar matematika dan seni, ia kini mulai berkonsentrasi pada micro education yang ia harap dapat diterapkan beberapa tahun ke depan. “Micro education will be my last venture. Ini upaya untuk menyadarkan masyarakat atas kapasitas mereka. Bukan hanya kapasitas positif, tapi juga negatif. Apa kelebihan dan kekurangan mereka. Kalau mereka sadar atas kapasitasnya, mereka akan bisa melakukan nilai tambah terhadap kapasitas merekaJadi dua anak saya ini harus tumbuh dulu,” katanya mantap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbincangan bergulir pelan. Aan bukan orang yang pandai merangkai kata, kendati ia senang berbincang dan tak pelit bicara. Kalimat-kalimatnya selalu meluncur lugas, lurus tanpa renda-renda kata. Dengar saja kisah Aan tentang masa kecilnya di Magelang. Ia memulai kisah dari episode ketika sang bunda yang seorang guru kewalahan menghadapi  Aan yang hiperaktif. Ia memutuskan mengirim putrinya saban malam ke rumah guru matematika di desanya sejak ia belum lagi berusia enam tahun. “Bukan karena ibu ingin saya pandai. Tapi karena dia tidak tahan dengan saya yang tidak bisa diam. Kalau saya di rumah seharian, dia akan pusing melihat tingkah saya.Alhasil saya harus les matematika tiga jam setiap malam,” katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak ketiga dari enam bersaudara ini menggambarkan dirinya sebagai anak yang susah diatur. “Kalau disuruh A, maka yang saya lakukan adalah tidak A. Disuruh duduk diam, maka sudah pasti saya akan berlari-lari dan membuat keributan di rumah.,” kenangnya sambil tertawa. Hanya pergi ke rumah guru matematikanya saja yang ia turuti dengan patuh dan senang hati. “Soalnya saya bisa beradu pintar dengan anak lelaki guru saya. Senangnya luar biasa kalau bisa keluar sebagai pemenang. Hal yang membuat saya suka berada di sana barangkali karena saya ingin sekali mengalahkannya,” kata Aan tetawa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aan lantas tumbuh menjadi anak yang pandai dan menonjol secara akademis. Sejak Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA), ia selalu jadi juara kelas. “Saya tidak jadi juara kelas adalah ketika kelas 4 SD, ketika Ibu menjadi wali kelas saya.,” Aan mengenang. Meningkat ke sekolah menengah, Aan menjadi anak yang tak hanya cerdas, tapi juga kritis terhadap sekitar. Kesadarannya tentang perbedaan kelas muncul ketika ia dihadapkan pada begitu banyak kelompok di sekolahnya. “Ada kelompok orang kaya, kelompok anak cantik, kelompok siswa pintar dan kelompok murid miskin. Saya memilih masuk ke kelompok terakhir,” katanya. Dengan kecerdasan yang dimiliki, tentu mudah sekali bagi Aan bergabung dengan kelompok siswa elit di sekolahnya. Namun dengan sadar Aan menentukan keberpihakannya pada kelompok marjinal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berada di kelompok marjinal itu menyenangkan karena khalayaknya banyak. Mereka juga mudah menerima pendapat dan selalu memberi dukungan penuh,” katanya. Tingkat kepedulian kelompok itu menurut Aan juga sangat tinggi. “Saya merasa lebih disayang dan diperhatikan. Misalnya saja kalau saya bertengkar dengan anak lain. Mereka akan dengan total membantu dan melindungi. Itu lebih dari sekadar penghargaan,” katanya. Aan merasakan benar bahwa pembelaan yang diberikan teman-temannya tidak lagi berangkat dari kepentingan diri sendiri. “Kelompok itu biasanya merasa tak punya apa-apa lagi yang khawatir akan hilang. Mereka tidak punya apa-apa selain harga diri. Jadi kalau mereka melakukan pembelaan, tentu lebih murni ketimbang kelompok lain,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selulus SMP, Aan meninggalkan kampungnya untuk melanjutkan sekolah di Yogyakarta. “Sebenarnya Ibu menyuruh saya sekolah di Magelang. Tapi saya tidak mendaftar ke sekolah mana pun di Magelang. Tapi diam-diam, saya mendaftar di Yogyakarta,” katanya. Di sana, awalnya, Aan mondok di tempat kos yang bagus. “Harga sewanya 30.000 ribu sebulan. Tapi setelah setahun, ibu merasa keberatan karena memang kami bukan dari keluarga mampu. Beliau meminta saya pindah ke tempat kos yang lebih murah. Lalu saya pindah ke sebuah rumah gubuk di daerah Kauman yang saya sewa dengan harga 2000 rupiah dan selalu kebanjiran kala hujan,” kata Aan.  Ia mengaku tak kecil hati dengan keadaan itu. “Waktu SMA saya punya sahabat bernama Ratna Dewi. Dia dari keluarga yang sangat berada. Kalau hari Sabtu dan Minggu, dia sering mengajak saya menginap di rumahnya. Dari kamar yang jelek sekali, setiap akhir pekan saya pindah ke kamar yang mewah sekali. Di dalamnya ada grand piano, ada sound system yang bagus, dan pembantu khusus. Rumahnya berlantai empat dan luasnya minta ampun. Kehidupan saya dan Ratna seperti bumi dan langit. Tapi perbedaan itu tidak membuat saya minder,” katanya menerawang. Aan memang tak perlu minder. Ia hanya perlu terus melangkah tanpa henti menapaki jalan yang akan membawanya pada pencapaian untuk merawat anak-anak hatinya dengan ilmu dan cinta. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(Indah S. Ariani), Fotografer: Didi, Kontiki Photography, Pengarah Gaya: Karin Wijaya, Busana: Biasa, Rias Wjah dan Rambut: Diana Rose, Lokasi: Lawangwangi Art &amp; Science Estate&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5717489757531263022-8405304077502944827?l=indah-ariani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indah-ariani.blogspot.com/feeds/8405304077502944827/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://indah-ariani.blogspot.com/2010/06/muara-cinta-andonowati.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717489757531263022/posts/default/8405304077502944827'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717489757531263022/posts/default/8405304077502944827'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indah-ariani.blogspot.com/2010/06/muara-cinta-andonowati.html' title='MUARA CINTA ANDONOWATI'/><author><name>indahariani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01863084398389371134</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S5joGjEc2iI/AAAAAAAAAFs/giY1-nj4iUQ/S220/cemong.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/TAUAzdjKDxI/AAAAAAAAAIk/0q-qIkt3CHM/s72-c/DS__9241.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5717489757531263022.post-7865102923618552983</id><published>2010-04-23T02:39:00.000-07:00</published><updated>2010-04-23T02:53:31.293-07:00</updated><title type='text'>TUHAN, AY TJOE, DEDEN, DAN HAL-HAL YANG BELUM SELESAI *</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S9FuBDlBOkI/AAAAAAAAAIc/qKYS7Qy64jE/s1600/IMG_9416.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 214px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S9FuBDlBOkI/AAAAAAAAAIc/qKYS7Qy64jE/s320/IMG_9416.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5463268787396622914" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tunggu! Jangan baca dulu kisah tentang Christine Ay Tjoe dan Deden Sambas yang tertulis di halaman ini. Berhenti dulu sebentar. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pejamkan mata Anda. Bayangkan di hadapan Anda sekarang, tubuh dan ruh Anda mewujud sebagai sebuah bingkisan berbungkus pemandangan bernyawa yang terus saja tertawa, mencibir, menghujat, dan melakukan banyak hal yang memancing berbagai emosi. Bingkisan itu mempermainkan Anda hingga murka dan ingin membunuhnya. Hari ini, Anda benar-benar membunuhnya, menghabisinya. Anda sobek habis lapis pertama itu, berharap bertemu diri sejati. Namun lapis lainnya menghadang Anda. Pemandangan demi pemandangan kembali terputar, terus tertawa, mencibir, menghujat dan melakukan banyak hal yang memancing emosi. Anda lakukan pembunuhan berulang kali, namun tetap itu yang terjadi, lagi, dan lagi. Tinggal Anda yang tak lagi punya energi untuk meneruskan dan membiarkan diri tersungkup sunyi yang lengang dengan lansekap lapang menyita pandangan, mengarahkannya pada tiga huruf saja: G, O, D. God. Tuhan. Dia, Sang Pencipta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baik, buka mata Anda sekarang, dan silakan lanjutkan bacaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan adalah ide dan kata yang menyita perhatian Chrstine Ay Tjoe dan Deden Sambas. Mereka tak juga jenuh mencoba mengolah rasa untuk bicara tentang Entitas Agung itu. Sejak kolaborasi pertama mereka untuk Hong Kong Art Fair 2009 silam, dua seniman ini makin asyik 'bermain-main' dengan Tuhan. Dalam pameran yang digelar di Lawangwangi bulan April silam, Christine dan Deden seakan ingin melanjutkan 'perbincangan' mereka dengan Tuhan, seperti yang mereka berdua lakukan lewat karya  berjudul Today I Kill The First Layer. And Then I Find Other Layer As A Landscape, Landscape, Landscape (namun disimplifikasi oleh kurator pameran kala itu menjadi Panorama Without Distance-red) yang dipamerkan di ajang Hongkong Art Fair 2009 atau ART HK '09 silam. Instalasi berbentuk dua buah mesin ketik manual berkaki itu memikat para juri yang lantas menobatkannya sebagai pemenang Art Future Artist, perupa yang diyakini sangat menjanjikan di masa depan. Bulan Maret silam, karya itu juga dipamerkan di ART Paris bersama karya dari 19 seniman lainnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ay Tjoe dan Deden bukan nama baru di kancah dengan tuts terlepas hingga hanya menyisakan tulang besi yang siap mematuk jemari yang dihempaskan di tubuh mereka. Huruf-huruf yang tertera di bantalan aksara tak lagi sempurna; kikisan gerinda merusaknya. Hanya tiga aksara yang masih utuh bentuknya: G, O, D. Selempeng plat aluminium sepanjang delapan meter terpasang menjuntai  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kalau sedang bekerjasama, siapa yang membuat konsep?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Christine Ay Tjoe (CAT): Kalau yang sudah-sudah, dari saya dulu. Biasanya, kami bertemu, Kang Eden masih blank, kosong dulu, saya cerita konsep saya seperti apa. Mungkin Kang Eden memang sengaja membiarkan dirinya kosong. Lalu kira-kira dia punya apa saat itu, dia utarakan dan pembicaraan pertama itu biasanya hanya menghasilkan sedikit sekali hasil. Lalu beberapa saat kemudian, kami ketemu lagi, bicara lagi, tambah banyak ide yang keluar. Kalau di interaksi yang sudah-sudah dengan dia, saya perhatikan potensinya memang sangat baik dalam urusan mengumpulkan banyak elemen dan yang dikumpulkan memang nggak sembarangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Misalnya?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;CAT: Misalnya? Elemen-elemen kecil. Dia lebih melihat hal yang rinci, detail. Misalnya baut, jenis paku, binatang, dia punya kecenderungan untuk menyimpan barang-barang kecil. Temuan-temuan apa pun yang terkumpul, bisa dia jadikan sesuatu. Nah, kadang kalau membuat sesuatu, memang harus dibuat proyeksi, akan jadi seperti apa barang itu. Apakah sekadar barang pajangan, atau untuk pemuas diri sendiri, untuk kebutuhan desain atau memang mau jadi sesuatu yang lebih berbobot, yang akan diisi sesuatu yang berarti. Dari pertemuan-pertemuan kami, terasa sekali kami saling mengisi. Dia mengisi saya tentang banyak detail yang belum terbayang sebelumnya, dan dari saya, dia mungkin mendapat ‘gunting’ yang menyederhanakan imajinasi detailnya yang kadang terlalu berlebihan. Apalagi dia bertipe orang yang tekun, hobi bekerja setiap hari, tapi kalau itu tidak dilengkapi satu tujuan, saying kan? Dari beberapa kali kerjasama yang kami lakukan, idenya kadang sering melebar dan saya yang mengingatkan untuk tetap berada di jalur kami. Akan dibuat apa karya kami? Kami sering punya pertanyaan tentang banyak hal. Misalnya saja tentang patung. Kami sering bertanya, kenapa sekarang besar0besar sekali, bahannya juga sangat keras, dan menyita ruang. Kalau kita pikirkan beberapa tahun ke depan, mungkin kita menjadi terlalu padat. Kami berdua punya sisi yang selalu mengoreksi hingga kami berpikir, kok terlalu kejam sebagai seniman kalau hanya berpikir tentang sensasi hari ini atau sekian tahun ke depan dengan membuat karya-karya seperti itu. Tidak salah, tapi apakah mungkin kalau misalnya patung itu bisa dinikmati dalam ukuran besar, tapi juga tetap bisa dinikmati dalam ukuran kecil. Kami ingin mengadopsi prinsip antenna yang bisa dipanjangnkan dan dipendekkan. Memang dunia kreatif  tidak ingin terbatasi. Tapi ini dari pemikiran kami. Contohnya kemarin. Kami berpikir apakah mungkin kami membuat patung yang bisa mengempis, jadi tidak secara permanent memenuhi ruang. Toh yang lebih penting sebenarnya manusia. Ok sebagai seniman ada sisi yang peka. Kalau itu tidak disadari sebagai hal yang juga dibutuhkan oleh manusia lainnya, rasanya kok agak kejam ya seorang seniman kalau hanya memikirkan tentang sensasi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Apakah konsep itu dapat disebut sebagai seni yang adaptif atau seni yang bisa berguna bagi orang lain?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;CAT: Saya tidak bisa bilang begitu. Tapi menurut saya, itu cara melebarkan cara berpikir. Toh yang kita pikirkan tidak hanya material seni, tapi juga manusia yang berada di sekitarnya. Kita kompleks, orang lain kompleks, masalah juga kompleks, tapi kalau kita bisa membuka diri buat berpikir untuk juga memikirkan orang lain, tentu tidak salah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Apakah itu artinya lebih berempati pada para penikmat karya Anda berdua?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;CAT: Empati atau apa ya bilangnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kami sedang membicarakan konsep. Tadi saya bertanya pada Christine, kalau sedang berkarya bersama, idenya muncul dari siapa dan apa yang terjadi pada saat eksekusi. Christine bilang, biasanya Anda berdua saling mempengaruhi dan saling tarik menarik ke jalur yang seharusnya. Bagaimana pendapat Anda?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Deden Sambas (DS): Ya, waktu berkarya bersama, yang sering terjadi memang selalu diawali dari kegelisahan salah satu dari kami yang lantas memunculkan ide. Kami membicarakannya bersama dan kemudian kami cari ide mana yang terasa sangat kuat konsep dan tujuannya. Kalau ada yang cukup kuat, baik dari segi estetika yang nampak semakin jelas, baru kami putuskan untuk diangkat, direalisasikan menjadi sebuah karya. Karena dari ide itu, salah satunya juga kemudian, kami harus membahas secara teknis. Ada juga yang mengalami beberapa perubahan seiring waktu berjalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Jadi perubahan ide dan bentuk adalah hal yang lazim terjadi dalam kerjasama Anda berdua?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;DS: Kalau ada perubahan, biasanya berarti karena konsep sebelumnya belum begitu kental,. &lt;br /&gt;CAT: Kang Eden itu lebih pandai menyimpan data. Kalau di awal saya sudah ngomong sesuatu dan banyak, dalam perjalanan idenya berkembang cukup jauh dari ide awal dan mentok, Kang Eden bisa merunut dan mengembalikannya ke awal. &lt;br /&gt;DS: Saya biasa mencatat poin-poin pembicaraan karena ide atau apa yang diungkapkan oleh Christine, belum bisa saya cerna saat itu juga. Jadi saya catat, kalau sedang senggang saya baca ulang dan biasanya baru bisa saya tangkap maksudnya. Lucunya, ketika diskusi kami menemui jalan buntu dan saya tunjukkan catatan saya, Christine biasanya sudah lupa kalau pernah mengatakan hal yang tercatat. Tapi kalau saya yang lupa, biasanya Christine yang mengingatkan, terutama dalam urusan detail. Kalau diibaratkan orang yang sedang membatik, saya sering terlalu banyak memakai corak. Christine yang mengingatkan saya untuk mengurangi motif itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tadi Ay Tjoe mengatakan kalau Deden adalah orang yang teliti terhadap detail dan punya kemampuan kemampuan elemen yang kuat. Setuju dengan pendapat itu?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;DS: (Tertawa kecil) Nggak tahu ya… Saya hanya menyadari kalau saya senang mengamati banyak hal, sampai ke hal-hal yang kecil. Mungkin itu yang ditangkap Christine. Dan kalau karya saya mulai terlihat terlalu dekoratif, Christine yang akan memberitahu, bagian mana yang harus dihilangkan. Kalau sudah begitu baru saya sadar bagian mana yang penting dan mana yang tidak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kapan kerjasama pertama terjadi?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;DS: Tahun lalu (2009). Bulannya lupa. Awalnya saya mencari kerjaan dan ketemu dia. Saya bilang saya sedang mencari kerja.           &lt;br /&gt;CAT: Saya tidak sengaja pulang ke Bandung. Janjian ketemu dan Kang Eden mengutarakan keadaannya. Saya sendiri pada saat itu sedang banyak kerjaan, pusing dan saya berpikir saya butuh orang untuk membantu. Nggak tahu tiba-tiba dating. Lucu juga. Momennya bisa pas beberapa bulan sebelum event yang kami kejar di Hongkong Art Fair 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Saat itu, sebanyak apa kapasitas kerja yang tengah dilakukan hingga merasa memerlukan bantuan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;CAT: Terlalu banyak. Hampir tiap bulan ada dan saat itu yang saya tahu adalah saya butuh waktu buat istirahat. Tahu-tahu Kang Eden datang, semua jadi berjalan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tadinya akan berhenti?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;CAT: Saya tahu saya capek dan butuh istirahat. Saat itu saya berpikir kalau tidak mungkin saya meneruskan ini. Nggak akan bagus juga hasilnya kalau dipaksakan.&lt;br /&gt;DS: Proyek di Hongkong tadinya nyaris dibatalkan karena waktunya terasa mepet sekali. Tapi saying sekali kan kalau dibatalkan? Saya malah merindukan pameran di luar. Tiba-tiba muncul ide dari Christine untuk meneksplorasi mesin ketik dan saya baru dating di Jogja satu bulan setelah pembicaraan kami di Bandung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dalam pertemuan awal, apakah sudah ada konsep karya dan sebagainya atau benar-benar memulai dari nol untuk keikutsertaan di Hong Kong Art Fair itu?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;CAT: Saat itu baru kerasa sesuatu saja. Saya ingin bikin ini. Biasanya suka muncul rasanya dulu, kira-kira begini. Tapi belum tajam, belum jelas, tapi atmosfernya sudah dapat, sudah terasa. Waktu itu termasuk cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Judul karyanya waktu itu apa?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;CAT: Kalau dibahasakan oleh kuratornya, judulnya adalah Panorama without Distance. Tapi judul karya yang saya buat sebenarnya adalah Today I Kill The First Layer. And Then I Find Other Layer As A Landscape, Landscape, Landscape. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Apa yang terbayang saat itu hingga muncullah judul dari Anda itu? Bagaimana Anda berdua mengkolaborasikan ide karena sangat mungkin terjadi perbedaan sudut pandang. Di mana titik temu yang Anda berdua peroleh?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;DS: Kalau saya, titik temunya ada pada media. Ketika kami memutuskan kalau materinya adalah mesin tik. Dari situ kemudian banyak sekali elemen yang lantas memekatkan gagasan itu. Seperti misalnya ketika kami memutuskan bahwa hanya tiga huruf saja yang dapat terbaca jelas sementara huruf lainnya kami rusak. Karena itu juga merupakan karya interaktif, kami sengaja membuat agar karya itu meninggalkan sensasi terhadap orang yang berinteraksi dengan karya tersebut. Misalnya lewat tuts yang terbuka, sehingga orang yang mengetik akan merasakan sakit.&lt;br /&gt;CAT: Font di mesin tik itu kami gerinda dan kikir sehingga tidak akan menorehkan bentuk huruf yang sempurna manakala diketikkan. Hanya huruf G, O, dan D saja yang kami biarkan utuh. Mungkin kami ‘ketemu’ karena kami masing-masing berada di posisi yang sedang membangun suasana dekat dengan Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Keputusan menyelamatkan tiga huruf itu sudah sejak awal ada atau terpikir di tengah perjalanan? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;CAT: Dari awal sudah kami putuskan begitu. Waktu kami ngobrol di awal, itu cukup seru, panas dan ide terus mengalir bahkan ketika sudah sangat larut. Itu selalu saja nyambung. Kami ingin karya itu menjadi sesuatu yang lengkap. Sisi yang personal menuju God itu ada, tidak diketahui, samar, tahu-tahu dari hasil ketikkan itu muncul tiga huruf itu. Dan tidak selalu muram. Kami menyelipkan juga unsur riang lewat bunyi yang muncul dari aktivitas mengetik itu. Bagaimana juga orang merasa tidak nyaman Karena harus mengetik sambil berlutut di landasan kasar yang cukup menyakitkan kulit. Kami ingin semua rasa bisa muncul ketika orang mencoba berinteraksi denagn karya kami. Riangnya ada, lucunya ada, sakitnya ada, serius juga ada.&lt;br /&gt;DS: Tadinya kami ingin menggunakan kertas untuk media ketiknya. Tapi karena ada kekeliruan dari pihak produsen yang tak bisa mewujudkan kertas sesuai bayangan kami, akhirnya kami menggunakan plat almunium yang ternyata memberi kesan yang lebih dramatis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pernah dipamerkan di Indonesia?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;CAT: Belum pernah. Hanya pernah ditampilkan sebagai bahan presentasi di sebuah diskusi di Galeri Sangkring. Karya itu dipamerkan lagi di Art Paris Maret lalu.&lt;br /&gt;DS: Kuratornya yang meminta kami ikut pameran lagi. Lucunya, tema karya kami itu bertemu realitasnya di Hong Kong. Karena pada saat pembukaan, karya itu belum datang, dan booth kami kosong melompong. Hanya ada sederet tulisan tentang karya yang menempel di dinding. Banyak orang yang datang ke booth itu lalu membaca dengan muka heran. Saya sampai menangis karena putus asa. Saya tahu ini terlambat, tapi tidak bisa melakukan apa-apa. Saya mau memberitahu Christine, saya khawatir, Pak Deddy Irianto (pemilik Langgeng Galeri yang membawa mereka berpameran di sana-red) merasa saya mengadu. Kalau tidak, juga saya salah. Akhirnya, saya terima kondisi itu dan meminta Pak Deddy memberi tahu Christine. Saya sudah siap mengeksekusi apa pun. Sampai saya sempat berpikir kalau karya itu tidak datang juga, saya akan isi dengan performing art. Tapi saya tidak bisa juga melakukan itu, kan? Karya itu baru datang keesokan harinya, dua jam sebelum penjurian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Jadi dia memilih kapan dia mau ikut serta ya?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;DS: Iya. Jadi begitu dia datang, saya langsung display karena memang sudah dipersiapkan semua. Boothnya berukuran memanjang karena plat almuminiumnya menjuntai memanjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ketika dikabari karya itu belum sampai, apa yang Anda rasakan di tanah air?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;CAT: Saya waktu itu cuma bisa diam. Kalau mengikuti emosi, tentu ingin marah karena keterlambatan itu sesuatu yang sangat parah. Tap saat itu saya Cuma berpikir, “ini hari terakhir saya nggak boleh marah”. Kalau memang dia datang, ya datang. Kalau tidak, ya tidak. Saya membebaskan diri saya dari amarah ketika itu. &lt;br /&gt;DS: Kalau dikaitkan dengan tema, mungkin itu kejadian yang sangat dalam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Saat itu, bagaimana respon pengunjung terhadap booth Anda?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;DS: Orang mengira bahwa karyanya adalah konsep yang terpasang di dinding itu. Saya sedih sekali. Perasaan saya campur aduk, bukan semata-mata karena karya itu terlambat datang, tapi karena itu kali pertama saya pergi ke luar negeri dan kejadiannya mengejutkan begitu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Apa pelajaran penting yang Anda berdua petik dari kejadian itu?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;DS: Dari penglaman itu, saya jadi merasa lebih rileks memang, meski tetap dalam kapasitas target. Karena saya melihat, ada orang lain yang juga mengalami saat sulit ketika itu. Saya melihat istrinya Pak Deddy begitu marah pada pihak kargo dan setelah dia marah dengan sangat hebat, dia tetap juga tidak bisa mengubah keadaan. Hal yang juga menarik adalah ketika akhirnya karya itu datang. Kepanikan terjadi lagi karena Pak Deddy menyangsikan kesanggupan saya mendisplay karya. Sekuat tenaga saya berusaha memasang karya sesuai tenggat waktu yang sangat mepet itu. Ketika akhirnya pemasangan selesai, saya menyalami Pak Deddy dan pamit jalan-jalan. Saya tidak menyaksikan proses penjurian berlangsung. Ketika pulang ke hotel, Pak Deddy dan istrinya memberitahu kalau karya kami berdua mendapat grant. Saya pikir mereka berdua menghibur saja. Ternyata benar. Kaget tapi sekaligus juga senang sekali. Luar biasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ketika dikabari karya itu mendapat grant, apa yang Anda berdua rasakan?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;CAT: Saya mengira itu bercanda dan hanya upaya menghibur kami berdua. Jadi saya tidak membalas sms pertama yang dikirimkan Pak Deddy pada saya. Kalimat sms-nya sangat lempang. “Kamu dapat hadiah, selamat ya.” Baru ketika sms kedua dikirimkan, saya membalas dengan kalimat tanya, “Serius, Pak?” Saat itu saya belum dapat informasi dari Kang Eden jadi nggak percaya. Baru setelah dijelaskan panjang lebar dan dikirimi foto, dan juga dapat sms dari Kang Eden, baru saya percaya. Senang tentu saja. Tapi anehnya, saya datar saja menerima kabar gembira itu. Saya hanya berpikir, bahwa momen yang dialami karya saya menjadi lengkap. Dari awal, saya merasa disangsikan sebagai seorang seniman. Pertanyaan ‘Bisa nggak kamu bikin karya yang berbeda untuk Hong Kong Art Fair ini?” yang dilontarkan di awal, sangat mengganggu saya. Saat itu saya berpikir, “Kalau tidak percaya sama saya, silakan pilih seniman lain. Kalau memang ingin tetap saya, tenang saja. Saya juga mikir, kok…”  Ternyata, semua berjalan baik. Kang Eden datang, kerja juga lancer, material terkumpul semua, disediakan dalam waktu singkat. Dikasih pengalaman lucu pula seperti keterlambatan karya dan kemenangan itu. Jadi sempurna. Kalau semua lancar-lancar saja, rasanya seperti kurang garam, hahaha…&lt;br /&gt;DS: Iya. Apalagi buat saya yang pertama kali ke luar negeri. Antara terkagum-kagum, antara ingin main tapi harus bertanggung jawab. Rasanya saya benar-benar tersesat di sana. Dengan kemampuan bahasa Inggris yang sangat minim, saya harus melewati pengalaman begitu membingungkan. Rasanya seperti tersesat. Luar biasa. &lt;br /&gt;CAT: Di event itu memang kami sudah mencanangkan program untuk memberangkatkan Kang Eden ke Hong Kong. Biar dia dapat pengalaman macam-macam, hahaha… &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Setelah Kill The First Layer, apa lagi proyek bersama Anda?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;CAT: Yang di Lawangwangi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bagaimana persiapannya? &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;DS: Cukup panjang juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Berapa lama pengerjaannya dari mulai konsep?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;DS: Ini dari Oktober ya kalau nggak salah?&lt;br /&gt;CAT: Iya, dari Oktober tahun lalu kami sudah ngobrol-ngobrol. &lt;br /&gt;DS: Tapi normal startnya baru pada Februari karena saat itu Christine juga sedang mempersiapkan pameran tunggalnya di SigiArts. Cukup pendek juga akhirnya proses pengerjaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bagaimana konsep pameran kali ini? Apakah sedalam pameran yang sudah-sudah?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;CAT: Semua berawal dari ketidakjelasan. Kami memulainya dari mengumpulkan material. Elemen-elemennya. Paling tidak, dalam proses tersebut kami jadi menghargai hal kecil yang pernah disebutkan oleh masing-masing kami. Itu direnungkan dan dipikirkan lagi keterkaitannya. Kalau yang kali ini fokusnya memang diarahkan pada karya-karya tiga dimensi. Kami ingin menampilkan ide-ide tak biasa. Misalnya, tahu-tahu muncul ide untuk menggunakan analogi mesin tenun, sarang dari jenis binatang, dan itu berhubungan lewat jalinan dan anyaman. Tapi yang harus lebih diambil bukan masalah anyaman atau jalinannya, tapi lebih seperti apa yang pernah diungkapkan oleh Kang Deden, bahwa kalau kita lihat mesin tenun itu tidak pernah berhenti, sebisa mungkin terus berjalan, dan digerakkan oleh banyak orang. Itu yang mungkin cukup menarik untuk kami bawa ke karya tiga dimensi ini. Dalam konteks itu, subyek menjadi hilang, lebur ke dalam proses dan hasil kerja. Nama seseorang menjadi indah dan melekat di situ, ketika dia tidak lagi memikirkan apakah namanya akan tertera di kain. Semua berfokus pada kainnya, bukan siapa pembuatnya. Ketika orang melewati pekerjaan menenun itu yang terpikir adalah pakaian yang dipakai orang. Itu seperti proses yang menuju sebuah tujuan yang memang kami bilang kalau satu pabrik dibangun tanpa tujuan besar seperti itu, dia tidak akan berjalan lama. Sama seperti misalnya orang membuat usaha sekecil apa pun, kalau tidak menarik tali setinggi mungkin, dia akan berhenti. Bila dalam karya kami sebelumnya kami meninggikan Tuhan, di sini, kami ingin lebih lagi meninggikan-Nya. Kalau di sini, karena yang kami pakai sebagai penyampai pesan adalah karya tiga dimensi, kami bawa elemen yang banyak itu, kami masukkan elemen bunyi, gerak, dan sebagainya. Yang menuju sesuatu yang tinggi. Kami memang banyak mengeksplorasi suara.    Kami memakai sejenis alat musik yang menyerupai  gamelan.  Semaraknya ingin kami munculkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Digerakkannya oleh mesin atau orang?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;CAT: Karya yang besar memakai mesin  . Di dua karya lain, tetap pakai mesin tik, diubah sedikit jadi lebih  kecil, tapi tetap menghasilkan bunyi yang muncul lewat interaksi dengan pengunjung. Satu lagi, bunyi dihasilkan oleh kerja mekanik yang &lt;br /&gt;DS: Nanti ada juga karya yang berzikir terus menerus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Jadi temanya masih tentang Tuhan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;CAT: Iya.&lt;br /&gt;DS: Iya. Tapi kali ini jadi clubber, sekumpulan orang yang mencintai Tuhan. Inspirasinya muncul dari seorang teman Christine, Elizabeth (pemilik Galeri Orasi di Surabaya-red).&lt;br /&gt;CAT: Hahaha, iya, Elizabeth. Pernah saat kami mengobrol dengan Elizabeth yang aktivis gereja, dia bilang ingin membuat sebuah kafe khusus untuk para pemuja Tuhan. &lt;br /&gt;DS: Nah, di seni rupa, kami mengawalinya di pameran ini, hahaha...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kenapa Tuhan dan spiritualitas seperti menjadi sumber ide yang tak kering ditimba oleh Anda berdua? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;CAT: Mungkin karena kami sama-sama sudah memiliki concern terhadap hal itu. Namun, kami sama-sama malu untuk masuk ke daerah itu karena selalu merasa berada di ruang seni rupa yang steril. Setiap perbincangan selalu menuju pada senirupa. Tapi hal seperti itu tidak tertahankan juga pada akhirnya dan ketika terlontar, titik itu langsung bertemu. Kalau kami lihat sebetulnya itu sesuatu yang tidak kebetulan. Kami bertemu juga seperti untuk sebuah niat baik. Saya hanya berpikir, selama masih ada jalannya, kami akan terus mengeksplorasi sisi ini. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(Indah S. Ariani), Fotografer: Af Rizal, Pengarah Gaya: Quartini Sari, Busana Ay Tjoe &amp; Deden: Deden Siswanto, Sepatu Ay Tjoe: Ronald V. Gaghana, Lokasi: Lawangwangi Art Estate, Bandung. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* Terinspirasi judul buku Goenawan Mohamad, Tuhan dan Hal-hal yang Tak Selesai&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5717489757531263022-7865102923618552983?l=indah-ariani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indah-ariani.blogspot.com/feeds/7865102923618552983/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://indah-ariani.blogspot.com/2010/04/tuhan-ay-tjoe-deden-dan-hal-hal-yang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717489757531263022/posts/default/7865102923618552983'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717489757531263022/posts/default/7865102923618552983'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indah-ariani.blogspot.com/2010/04/tuhan-ay-tjoe-deden-dan-hal-hal-yang.html' title='TUHAN, AY TJOE, DEDEN, DAN HAL-HAL YANG BELUM SELESAI *'/><author><name>indahariani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01863084398389371134</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S5joGjEc2iI/AAAAAAAAAFs/giY1-nj4iUQ/S220/cemong.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S9FuBDlBOkI/AAAAAAAAAIc/qKYS7Qy64jE/s72-c/IMG_9416.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5717489757531263022.post-5307736987868096861</id><published>2010-04-23T02:35:00.001-07:00</published><updated>2010-04-23T02:39:29.984-07:00</updated><title type='text'>MENGULIK KOMIK</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S9FqoCXBwoI/AAAAAAAAAIU/OzpHOftTC9Q/s1600/ugo+untoro-LOW+SIZE.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 242px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S9FqoCXBwoI/AAAAAAAAAIU/OzpHOftTC9Q/s320/ugo+untoro-LOW+SIZE.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5463265059037889154" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Komik makin menggelitik. Ini tampak dari tiga acara yang berkaitan dengan komik di tempat dan waktu berbeda yang digelar Maret silam. Awal hingga medio Maret, duo kartunis Benny Rachmadi dan Muhammad Misrad menggelar pameran karya-karya mereka dalam ajang Benny &amp; Mice Expo di Bentara Budaya Jakarta. Pengunjung dapat melihat secara lengkap jejak karya mereka baik yang pernah dipublikasikan di harian Kompas Minggu, atau media lainnya di mana kedua kartunis itu bekerja, Harian Kontan dan Surabaya Post Minggu. Pada paruh akhir bulan tersebut, 22 perupa terlibat pameran The Comical Brothers yang diadakan di Galeri Nasional oleh Andi’s Gallery. Nama-nama kondang seperti Ugo Untoro, dan Eko Nugroho ikut terlibat dan menampilkan karya mereka yang memiliki ‘citarasa’ komik cukup kental. Dikuratori oleh Bambang ‘Toko’ Witjaksono, pameran itu mencoba merespon kemunculan karya-karya yang kerap disebut Lukisan Komikal. Kurator yang juga perupa ini, sadar benar bahwa sejatinya, komik pernah memiliki posisi signifikan dalam ranah seni rupa pada decade ‘60 hingga ‘70an. “Sayang pada era ‘80an, komik seakan kehilangan penerus,” ungkap Bambang dalam kuratorialnya. Namun, setelah hamper dua decade ‘bergerilya’ komik kini mulai kembali diminati. Generasi muda mulai mencari akar keberadaan komiknya setelah jenuh dengan serbuan komik asing. Tak mengejutkan bila nama-nama begawan komik seperti R.A. Kosasih, Kho Ping Ho, Teguh Santosa dan Saleh Ardisoma kembali muncul ke permukaan seiring diterbitkannya kembali karya-karya mereka. Nama yang disebut belakangan meluncurkan buku komik Wayang Purwa. Lewat komiknya, Saleh seakan ingin membuktikan bahwa komik masih jadi daya tarik besar di kancah seni. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(ISA), Foto:Dok. Bambang Toko                                                            &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5717489757531263022-5307736987868096861?l=indah-ariani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indah-ariani.blogspot.com/feeds/5307736987868096861/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://indah-ariani.blogspot.com/2010/04/mengulik-komik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717489757531263022/posts/default/5307736987868096861'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717489757531263022/posts/default/5307736987868096861'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indah-ariani.blogspot.com/2010/04/mengulik-komik.html' title='MENGULIK KOMIK'/><author><name>indahariani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01863084398389371134</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S5joGjEc2iI/AAAAAAAAAFs/giY1-nj4iUQ/S220/cemong.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S9FqoCXBwoI/AAAAAAAAAIU/OzpHOftTC9Q/s72-c/ugo+untoro-LOW+SIZE.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5717489757531263022.post-1345068174219892529</id><published>2010-04-23T02:11:00.001-07:00</published><updated>2010-04-23T02:33:13.170-07:00</updated><title type='text'>MENYIMAK JOGJA DALAM ALMANAK</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S9FpFQofTaI/AAAAAAAAAIM/VO2s5eYUv5w/s1600/book.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 264px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S9FpFQofTaI/AAAAAAAAAIM/VO2s5eYUv5w/s320/book.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5463263362062175650" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Apa yang ingin Anda ketahui seputar perkembangan seni rupa di Yogyakarta sepanjang kurun waktu 1999-2009? Jawabannya pasti dapat Anda temukan dalam Gelaran Alamanak Seni Rupa Jogja 1999-2009. Dalam buku setebal 872 halaman ini, berbagai informasi seputar perkembangan seni rupa di Yogyakarta diurai secara detail. Anda tak cuma bisa mengetahui aktivitas seni rupa yang terjadi sepanjang satu decade yang dirangkum dalam Kronik Seni Rupa, tapi juga membaca profil seniman-seniman, curator, juga kolektor penting di jagat seni rupa Jogja. Diterbitkan oleh Gelaran Budaya, almanak ini menggabungkan beragam bentuk pencatatan –ensiklopedia, kamus, Who’s Who, Katalog, juga daftar alamat-  yang membuatnya layak disebut sebagai sebuah buku pintar. Dilengkapi satu bagian yang khusus membahas berbagai istilah dalam seni rupa, buku ini memang akan jadi bacaan yang sangat dibutuhkan oleh mereka yang terlibat dalam seni rupa. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(ISA), Foto: Wijayanti Kusumawardani  &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5717489757531263022-1345068174219892529?l=indah-ariani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indah-ariani.blogspot.com/feeds/1345068174219892529/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://indah-ariani.blogspot.com/2010/04/menyimak-jogja-dalam-almanak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717489757531263022/posts/default/1345068174219892529'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717489757531263022/posts/default/1345068174219892529'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indah-ariani.blogspot.com/2010/04/menyimak-jogja-dalam-almanak.html' title='MENYIMAK JOGJA DALAM ALMANAK'/><author><name>indahariani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01863084398389371134</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S5joGjEc2iI/AAAAAAAAAFs/giY1-nj4iUQ/S220/cemong.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S9FpFQofTaI/AAAAAAAAAIM/VO2s5eYUv5w/s72-c/book.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5717489757531263022.post-6323338859647240319</id><published>2010-04-23T01:51:00.000-07:00</published><updated>2010-04-23T02:11:25.071-07:00</updated><title type='text'>DARI BALI, TENTANG MEREKA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S9FjQtMKfmI/AAAAAAAAAH8/sINit8-smr0/s1600/9961.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 304px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S9FjQtMKfmI/AAAAAAAAAH8/sINit8-smr0/s320/9961.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5463256961636793954" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Di balik kemahsyuran Bali, ada nama-nama yang menopangnya. Ini cerita  tentang mereka. Dituturkan lewat mata sembilan  warga dunia, kisah ini dihaturkan bagi hidup anak-anak alam. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua orang pria duduk berhadapan di tepi pantai, dinaungi payung besar. Tubuh keduanya menjelma siluet hitam di benderang siang. Mata mereka memandang jauh, jatuh mendarat di kaki lazuardi. Di kejauhan, tiga orang –satu wanita dan dua pria- bercengkerama dengan suasana. Payung mereka diterbangkan angin yang terlalu lasak mengajak mereka bermain. Payung yang mungkin membelah diri di udara dan tertangkap oleh enam pria yang berdiri berjajar di tepi kolam. Berwajah sumringah, mereka tengadah memandang ke sebuah arah. Pohon kelapa yang berdiri di antara mereka meliuk, melambai mengabarkan sukacita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sukacita yang terasa di ruang pamer Komaneka Fine Art Gallery, Ubud pada sebuah malam awal Maret 2010 silam, ketika tiga citra itu dipamerkan bersama puluhan citra lainnya dalam sebuah pameran bertajuk Bali Portraits. Terekam beku dalam kanvas, wajah-wajah pesohor Pulau Dewata tetap memancarkan aura yang sama. Taksu yang mereka punya seakan merebak di setiap sudut potret tak berbingkai yang digantung rapi dengan ukuran seragam. “Kami sengaja membuat ukuran seragam agar mood pameran ini bisa terjaga,” ungkap Indra Leonardi yang bersama Koman Wahyu Suteja menjadi kurator sekaligus koordinator pemotretan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Foto-foto yang dipamerkan sembilan fotografer yang tergabung dalam organisasi fotografer Internasional, Societ of Twenty-five –biasa juga disebut dengan XXV-, ini dilakukan hanya satu hari, di tiga tempat berbeda. “Lumayan susah mengatur waktunya, mengingat model yang begitu banyak. Tapi syukurlah, semua berjalan lancar. Fotografer dan model sama antusianya,” kisah Indra sembari tertawa. BUkan tanpa halangan. Seniman Nyoman Gunarsa, menurut Indra bahkan nyaris urung ikut berfoto. “Pak Gunarsa waktu itu sedang sakit. Kami sudah berpikir bahwa pemotretan akan berlangsung tanpa kehadirannya. Tapi Pak Gunarsa ternyata memaksa diri datang. Mengharukan sekali,” katany Indra yang merupakan satu-satunya fotografer dari Asia yang tergabung dalam XXV. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para tokoh berasal dari latar belakang yang berbeda, termasuk pendiri museum, visual artis, fotografer, perancang busana dan perhiasan, arsitek dan interior designer, musisi dan produser musik, pemilik galleri, ahli kuliner, penulis/sastrawan, dan ikon budaya. Nama-nama besar seperti Nyoman, Made Wianta, Jean Cotteau, Delia von Rueti adalah beberapa dari sekitar 30-an tokoh yang difoto oleh sembilan fotografer. Marcus Bell (Australia), Peter Dyer(UK), Hanson Fong (USA), Indra Leonardi (Indonesia), Curt Littlecott (USA), Susan Michal (USA), Ralph Romaguera (USA), Paul Skipworth (USA), Vicky Taufer (USA). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pameran ini akan dibawa ber keliling ke beberapa Negara, di mana anggota kelompok XXV berada setelah sebelumnya dipamerkan selama sepuluh hari di Komaneka. “Hasil penjualan foto yang dipamerkan akan disumbangkan kepada Komunitas Anak Alam,” jelas Indra. Komunitas Anak Alam adalah sebuah komunitas anak-anak muda Indonesia dengan latar belakang berbeda  yang bertujuan untuk membantu pendidikan, juga mensejahterakan kaum marginal dan anak-anak yang kurang beruntung di Desa Blandingan, sebuah area di bukit sekitar Danau Batur di Kintamani, Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tiga Tempat Pertama  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Untuk mereka yang berjasa membawa nama harum Bali di mancanegara, Indra dan Koman memilih lokasi yang memiliki arti tersendiri di kancah budaya Bali. “Kami memilih tiga tempat yang menjadi pionir di Bali. Ada Puri Lukisan di Ubud yang merupakan museum seni dan budaya pertama di Bali. Lalu di Tandjung Sari, Sanur butik hotel, dan terakhir di Kendra Gallery Seminyak yang merupakan galeri seni kontemporer pertama di pulau Dewata ini,” para Indra pangjang lebar. Namun, untuk alasan artistik dan suasana yang sesuai, beberapa  pemotretan dilaksanakan di tempat para tokoh penting tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal lain yang menarik dari pameran ini adalah waktu eksekusi dan persiapannya yang demikian pendek. “Hanya lima hari. Pemotretan satu hari, empat hari proses cetak dan display. Semua dilakukan serba ngebut,” tukas Indra sambil tertawa. Tentu bukan hal mudah mengkoordinasi sejumlah fotografer senior dan tersohor yang masing-masing memiliki gaya berbeda. Beruntung, semangat para fotografer yang datang dari berbagai belahan bumi itu terus terjaga hingga pameran dibuka. “Itu tadi, fotografer dan model sama excitednya. Jadi semua bisa berjalan lancer,” ungkap Indra tanpa menutupi rasa senangnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para fotografer dan modelnya, kisah Indra, berkolaborasi dengan sangat antusias untuk mencoba dan menciptakan berbagai pose yang berbeda pada setiap sesi pengambilan foto. Ratusan bingkai tercipta dari tiga sesi pemotretan yang berlangsung pada waktu yang bersamaan di tiga lokasi berbeda. Cuaca yang kurang baik tak menghalangi mereka semua membuat karya-karya dramatis dengan konsep yang kuat, kendati mereka memotret hanya dengan bantuan pencahayaan alami. Upaya yang layak ditakzimi. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(Indah S. Ariani), Foto: Dok. Societ of Twenty-five &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5717489757531263022-6323338859647240319?l=indah-ariani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indah-ariani.blogspot.com/feeds/6323338859647240319/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://indah-ariani.blogspot.com/2010/04/dari-bali-tentang-mereka.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717489757531263022/posts/default/6323338859647240319'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717489757531263022/posts/default/6323338859647240319'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indah-ariani.blogspot.com/2010/04/dari-bali-tentang-mereka.html' title='DARI BALI, TENTANG MEREKA'/><author><name>indahariani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01863084398389371134</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S5joGjEc2iI/AAAAAAAAAFs/giY1-nj4iUQ/S220/cemong.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S9FjQtMKfmI/AAAAAAAAAH8/sINit8-smr0/s72-c/9961.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5717489757531263022.post-7740818132598662452</id><published>2010-04-15T01:49:00.000-07:00</published><updated>2010-04-15T01:54:53.902-07:00</updated><title type='text'>TUHAN KEDUA JAKARTA ART MOVEMENT</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S8bTvosqTfI/AAAAAAAAAHk/QF41mP4B-9I/s1600/P1010209.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 239px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S8bTvosqTfI/AAAAAAAAAHk/QF41mP4B-9I/s320/P1010209.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5460284413565357554" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S8bTuN8HSgI/AAAAAAAAAHU/g6_IO7hqZmw/s1600/P1010141.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 239px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S8bTuN8HSgI/AAAAAAAAAHU/g6_IO7hqZmw/s320/P1010141.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5460284389202545154" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tiga huruf berukuran raksasa berjajar di pelataran gedung utama Galeri Nasional akhir Februari silam. Tubuh huruf G, O, D, berwarna jingga itu dihinggapi beberapa sosok hitam kelam, ada yang bersimpuh, memanjat, terjerembab, ada pula yang bersandar lunglai tak berdaya di huruf berukuran besar tersebut. Tersusun menjadi kata GOD, yang berarti Tuhan, instalasi tersebut adalah interpretasi Herry Kardjono dan Driananda yang tergabung dalam TIGADE Studio. Karya mereka adalah satu dari sekian banyak karya lain yang tampil dalam pameran bertajuk The Second God yang digelar oleh Jakarta Art Movement (JAM), komunitas senirupa yang baru saja diproklamirkan pada medio Februari, seminggu sebelum pameran ini diadakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kredo semua orang bisa jadi seniman, komunitas ini mencoba mengajak para perupa bergabung di dalamnya untuk mengeksplorasi ide-ide mereka. Maka tak heran jika dalam pameran perdana mereka, ada begitu banyak tawaran yang diberikan sebagai respon terhadap tema The Second God. Kenapa Tuhan kedua? “Dunia urban demikian kompleks. Perkembangan sains dan inovasi-inovasi teknologi komunikasi telah sedemikian jauh  menentukan dan mengubah hubungan antar-manusia,” tulis empat kurator – Bambang Asrini Widjanarko, Ilham Khoiri, Seno Joko Suyono, dan Imam Muhtarom- yang menggawangi ajang ini. Mereka menangkap kegelisahan yang terus saja membalut Jakarta, “Sebab Jakarta adalah kota yang sampai kini masih butuh merumuskan siapa dirinya.” Fenomena kemelekatan masyarakat pada banyak hal material, dan kini juga bergerak pada hal-hal virtual, tak ayal menambah pekat gelisah itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Tuhan-tuhan’ baru ini menjelma dalam beragam benda mulai busana hingga piranti elektronik canggih dan membenamkan banyak orang pada kenisbian. Dalam The Second God, ‘penuhanan’ itu menelusup pada banyak simbol kekinian. Tengok karya Ario Hendrasto dan tim Robotic Untar yang menerjemahkan penuhanan itu pada sesosok robot berkepala monitor yang separuh tubuhnya terdiri atas rangkaian perangkat elektronik yang lekat dengan masyarakat urban. Atau lihat beberapa permainan paling popular di jejaring sosial Facebook, yang menginspirasi kelompok seniman Fakebook membuat replika permainan-permainan itu dalam ukuran nyata. Penonton dapat masuk ke dalam tiga bilik instalasi tersebut secara berkelompok dan membiarkan diri mereka diarahkan oleh penonton di luar bilik  sembari menertawakan betapa kelekatan pada permainan-permainan daring (online) itu membuat orang tanpa sadar membiarkan diri mereka diarahkan, ditonton, bahkan ditertawakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya lainnya menyampaikan muatan yang nyaris serupa. Busana, uang, kendaraan, tepukan tangan, bahkan spirit yang menjelma jadi ambisi yang membuat manusia tak pernah punya rasa puas, diterjemahkan sebagai tuhan-tuhan kedua yang kini mungkin diimani secara lebih takzim ketimbang tuhan dengan ‘t’ besar.  &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(ISA), Foto: Dok. JAM/ Bambang Asrini Widjanarko  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5717489757531263022-7740818132598662452?l=indah-ariani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indah-ariani.blogspot.com/feeds/7740818132598662452/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://indah-ariani.blogspot.com/2010/04/tuhan-kedua-jakarta-art-movement.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717489757531263022/posts/default/7740818132598662452'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717489757531263022/posts/default/7740818132598662452'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indah-ariani.blogspot.com/2010/04/tuhan-kedua-jakarta-art-movement.html' title='TUHAN KEDUA JAKARTA ART MOVEMENT'/><author><name>indahariani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01863084398389371134</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S5joGjEc2iI/AAAAAAAAAFs/giY1-nj4iUQ/S220/cemong.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S8bTvosqTfI/AAAAAAAAAHk/QF41mP4B-9I/s72-c/P1010209.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5717489757531263022.post-656420015285916175</id><published>2010-04-15T01:44:00.000-07:00</published><updated>2010-04-15T01:48:26.945-07:00</updated><title type='text'>RADEN SALEH DAN SUBYEKTIVITAS SEJARAH</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S8bSyjj60rI/AAAAAAAAAHM/9BOzr-V3XCY/s1600/20574_359568497781_772632781_4973840_7896_n.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 211px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S8bSyjj60rI/AAAAAAAAAHM/9BOzr-V3XCY/s320/20574_359568497781_772632781_4973840_7896_n.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5460283364214493874" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sejarah selalu punya subyektivitas, bahkan ketika ia dituangkan ke atas kanvas. Keberpihakan menjadi muatan yang niscaya ada dalam sebuah karya rupa. Dan itu bukan sesuatu yang diharamkan. Bukankah seni, apa pun bentuknya adalah sebuah pernyataan sikap? Dalam pergelaran Opera Diponegoro arahan Sardono W. Kusumo di Salihara beberapa pekan silam, ada kisah menarik di balik lukisan Penangkapan Diponegoro yang dipakai sebagai latar depan pertunjukan libretto dalam bahasa Jawa tersebut. Kisah itu disampaikan dengan menarik oleh sejarawan Inggris Peter Carey. Menurut penyusun biografi Diponegoro berjudul "The Power of Prophecy Prince Dipanagara and The End of An Old Older in Java 1785-1855," Raden Saleh dengan gamblang menjelaskan keberpihakannya pada heroisme Diponegoro. “Berbeda dengan lukisan N. Pieneman, pelukis Belanda yang berjudul Penaklukan Diponegoro, karya Saleh menempatkan Diponegoro dalam sudut pandang yang berbeda. “Jika dalam karya Pieneman, Diponegoro ditempatkan sebagai pesakitan yang kalah lewat pose terpuruk dan bersimpuh di bawah kaki serdadu Belanda, Saleh menempatkannya sebagai seorang pahlawan terhormat,” Carey menjelaskan. Saleh, menurut Carey juga menunjukkan keberpihakannya dengan cara yang cukup terbuka. “Ia menempatkan sekaligus tiga gambar dirinya di antara para serdadu Belanda dengan pose menakzimi Diponegoro,” katanya. Jika diamati, ketiga sosok Raden Saleh itu memang dengan mudah dapat dibedakan dari ‘penghuni’ kanvas lainnya. Ia berpakaian beskap dalam tiga warna berbeda, dengan kumis melintang khasnya, menatap kagum pada Diponegoro. Hal lain yang juga dapat dengan mudah ditangkap sebagai keberpihakan Saleh adalah ukuran kepala serdadu Belanda yang tidak proporsional dengan tubuhnya. “Keanehan proporsi tubuh ini menjelaskan sikapnya secara eksplisit. Mungkin Saleh ingin menganalogikan para penjajah dengan buta (raksasa-red) dalam pewayangan yang selalu digambarkan dengan proporsi tubuh yang bermasalah,” jelas Carey yang segera menangguk tawa penonton. Memang, kisah di balik sebuah karya –terlebih karya fenomenal- selalu menyimpan daya tarik yang sama kuat dengan karya itu sendiri. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(ISA), Foto: Dok. Salihara/ Witjak Widhi Cahya &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5717489757531263022-656420015285916175?l=indah-ariani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indah-ariani.blogspot.com/feeds/656420015285916175/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://indah-ariani.blogspot.com/2010/04/raden-saleh-dan-subyektivitas-sejarah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717489757531263022/posts/default/656420015285916175'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717489757531263022/posts/default/656420015285916175'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indah-ariani.blogspot.com/2010/04/raden-saleh-dan-subyektivitas-sejarah.html' title='RADEN SALEH DAN SUBYEKTIVITAS SEJARAH'/><author><name>indahariani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01863084398389371134</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S5joGjEc2iI/AAAAAAAAAFs/giY1-nj4iUQ/S220/cemong.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S8bSyjj60rI/AAAAAAAAAHM/9BOzr-V3XCY/s72-c/20574_359568497781_772632781_4973840_7896_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5717489757531263022.post-6040028874841385666</id><published>2010-04-15T01:31:00.000-07:00</published><updated>2010-04-15T01:38:39.737-07:00</updated><title type='text'>RASA KAYA KRONCONG TENGGARA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S8bQLw4Bm5I/AAAAAAAAAHE/cDPXZEbVgVI/s1600/DSC_0022.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S8bQLw4Bm5I/AAAAAAAAAHE/cDPXZEbVgVI/s320/DSC_0022.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5460280498750331794" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Setelah dua tahun rehat karena Nyak Ina Raseuki atau yang lebih dikenal dengan nama Ubiet, pergelaran Keroncong Tenggara kembali menggugah kancah musik Indonesia. Albumnya sendiri telah dilansir tiga tahun silam.  Pergelaran di Salihara pada medio Februari silam, disambut antusias penikmat musik keroncong dan juga jazz. Maklum, musisi-musisi jazz yang punya acara, sebut saja Dian HP (akordeon, keyboard), Riza Arshad (akordeon), Donny Koeswinarno (flute, saxophone), Dimawan Krisnowo Adji (cello), Arief Suseno (ukulele ‘cak’), Maryono (ukulele ‘cuk’), Adi Darmawan (bas elektrik), Jalu Pratidina (kendang sunda, perkusi) ini. Tiga belas lagu mereka bawakan dengan komposisi prima yang menyandingkan keroncong dengan beragam jenis musik lain. Lagu-lagu keroncong klasik seperti Keroncong Kemayoran, Stambul Jauh di Mata, Gambang Semarang, Di Bawah Sinar Bulan Purnama, dan Keroncong Sapulidi, berbaur dengan lagu-lagu baru yang diaransemen dengan indah oleh Dian HP, seperti Kroncong Tenggara (Nirwan Dewanto), Penghujung Musim Hujan, dan Cinta Pertama (keduanya karya Sitok Srengenge). Ramuan tango, jazz, melayu, pop, dan klasik yang diberikan pada beberapa lagu, memberi nuansa kontemporer yang meruakkan citarasa baru musik keroncong. Langkah yang layak diapresiasi. (ISA), Foto: Dok Salihara / Witjak Widhi Cahya&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5717489757531263022-6040028874841385666?l=indah-ariani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717489757531263022/posts/default/6040028874841385666'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717489757531263022/posts/default/6040028874841385666'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indah-ariani.blogspot.com/2010/04/rasa-kaya-kroncong-tenggara.html' title='RASA KAYA KRONCONG TENGGARA'/><author><name>indahariani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01863084398389371134</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S5joGjEc2iI/AAAAAAAAAFs/giY1-nj4iUQ/S220/cemong.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S8bQLw4Bm5I/AAAAAAAAAHE/cDPXZEbVgVI/s72-c/DSC_0022.JPG' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5717489757531263022.post-4441845758907494395</id><published>2010-04-15T01:22:00.000-07:00</published><updated>2010-04-15T01:26:37.731-07:00</updated><title type='text'>MENAKZIMI NIETZSCHE?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S8bNkZ9tIcI/AAAAAAAAAG8/9staZB0uwHE/s1600/agus-suwage_The-Beginning,-Watercolor-%26-Tobacco-Juice-on-Paper,-67-x-57-cm,-2009.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 241px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S8bNkZ9tIcI/AAAAAAAAAG8/9staZB0uwHE/s320/agus-suwage_The-Beginning,-Watercolor-%26-Tobacco-Juice-on-Paper,-67-x-57-cm,-2009.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5460277623561986498" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan tentang hakikat manusia selalu saja berulang. Frederich Wilhelm Nietzche termasuk filsuf yang pernah ikut memikirkannya dan melontarkan pertanyaan tentang ‘aku.’ Pemikiran ini menjadi bahan diskusi yang berujung pada pameran 14 perupa. Diskusi antara seorang kurator, Heru Hikayat, dan dosen filsafat, Roy Voragen, membuahkan visualisasi. Pameran di Semarang Gallery awal Maret lalu itu memang meminjam judul buku otobiografi Nietzsche itu, Ecce Homo.  Nurdian Ichsan, misalnya, menafsirkan Ecce Homo sebagai seorang pria yang berbaring miring, menekuk lutut serupa janin yang menggeletak sendiri di tengah lantai lapang dalam karya berjudul Man on The Center. Nuansa yang mirip hadir dari karya seri Agus Suwage berjudul The Beginning dan The End. Selain persoalan ‘aku’ yang merujuk pada individu tunggal, sebagian perupa lain mengambil langsung sosok Nietzsche ke atas kanvas untuk menerjemahkan Ecce Homo. Roumy Handayani Pesona, dan Aminuddin Th. Siregar. Karya yang menggelitik dan menarik hadir dari Iswanto. Alih-alih mengurusi ‘aku’ dan Nietzsche, ia malah bermain-main dengan sosok Pramoedya Ananta Toer. Judul mbeling ia sematkan untuk salah satu karyanya, Saya Lebih Suka Pram Daripada Nietzsche. Tapi, siapa pun yang disukai, Ecce Homo tetap menarik untuk ditakzimi karena ia bicara tentang eksistensi manusia. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(ISA), Foto: Dok. Semarang Gallery.     &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5717489757531263022-4441845758907494395?l=indah-ariani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indah-ariani.blogspot.com/feeds/4441845758907494395/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://indah-ariani.blogspot.com/2010/04/menakzimi-nietzsche.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717489757531263022/posts/default/4441845758907494395'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717489757531263022/posts/default/4441845758907494395'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indah-ariani.blogspot.com/2010/04/menakzimi-nietzsche.html' title='MENAKZIMI NIETZSCHE?'/><author><name>indahariani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01863084398389371134</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S5joGjEc2iI/AAAAAAAAAFs/giY1-nj4iUQ/S220/cemong.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S8bNkZ9tIcI/AAAAAAAAAG8/9staZB0uwHE/s72-c/agus-suwage_The-Beginning,-Watercolor-%26-Tobacco-Juice-on-Paper,-67-x-57-cm,-2009.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5717489757531263022.post-5302838085825097487</id><published>2010-04-15T01:07:00.000-07:00</published><updated>2010-04-15T01:20:49.052-07:00</updated><title type='text'>MUDAHNYA BELANJA SENI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S8bMH-scBrI/AAAAAAAAAG0/lA3L_Bp2Tx8/s1600/IMG_1982.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S8bMH-scBrI/AAAAAAAAAG0/lA3L_Bp2Tx8/s320/IMG_1982.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5460276035693840050" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ada bagian baru yang menyenangkan di Grand Indonesia. Sembilan galeri papan atas (dari 12 galeri yang menjadi anggota) yang tergabung dalam Asosiasi Galeri Seluruh Indonesia (AGSI) melebarkan sayap mereka ke sana. Jakarta Art District yang diresmikan akhir Februari silam ini memberi kemudahan bagi para pencinta seni untuk bisa cuci mata kala berada di sana. Karya-karya perupa ternama dapat dengan mudah ditemukan di dinding Galeri Semarang, Mon Décor Galeri, Edwin’s Gallery,  Nadi Gallery, Canna Gallery, Langgeng Gallery, Vanessa Art Link, Puri Art Gallery, dan Andy’s Gallery yang berdiri berderet di Upper Ground East Mall. Sebuah upaya mendekatkan seni dengan penikmatnya. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(ISA), Foto: Dok AGSI&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5717489757531263022-5302838085825097487?l=indah-ariani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indah-ariani.blogspot.com/feeds/5302838085825097487/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://indah-ariani.blogspot.com/2010/04/mudahnya-belanja-seni.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717489757531263022/posts/default/5302838085825097487'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717489757531263022/posts/default/5302838085825097487'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indah-ariani.blogspot.com/2010/04/mudahnya-belanja-seni.html' title='MUDAHNYA BELANJA SENI'/><author><name>indahariani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01863084398389371134</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S5joGjEc2iI/AAAAAAAAAFs/giY1-nj4iUQ/S220/cemong.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S8bMH-scBrI/AAAAAAAAAG0/lA3L_Bp2Tx8/s72-c/IMG_1982.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5717489757531263022.post-5226840825054726146</id><published>2010-04-15T00:58:00.000-07:00</published><updated>2010-04-15T01:06:20.836-07:00</updated><title type='text'>SEMBILAN WINDU JEIHAN</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S8bHs22ZugI/AAAAAAAAAGk/YkWZ0vG1zUA/s1600/_MG_1198.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S8bHs22ZugI/AAAAAAAAAGk/YkWZ0vG1zUA/s320/_MG_1198.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5460271171685169666" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sembilan model berjajar di depan Jeihan Sukmantoro. Pelukis lulusan Institut Teknologi Bandung itu bermarathon menggambar kesembilan modelnya sementara Lena Guslina, penari senior dari Bandung mengiringi aksi Jeihan melukis dengan tariannya. Kolaborasi unik itu terjadi dalam pembukaan pameran Between Tehcniques and Instinctive Framing: 9 Windu Jeihan di Bentara Budaya Bali, Desember 2009 silam. Dalam pameran ini, pelukis yang selalu menghitamkan mata obyeknya ini, Jeihan menampilkan 42 karya terbaru yang menunjukkan kematangan teknik serta pencapaian spiritual yang unik. Sembilan windu atau 72 tahun, dan lima decade lebih menggeluti teknik lukis model tentu tak bisa dianggap waktu yang pendek untuk sebuah perjalanan. Bekal pengetahuan sebagai manusia Jawa yang dekat dengan kehidupan mistik, membuatnya mampu tiba di titik pertemuan intelektualitas dan spiritualitas. Ia menjadikan model-modelnya sebagai sarana pencarian spiritualitasnya. Misalnya saja ketika ia menggambar maestro tari topeng Cirebon Mimi Rasinah. Alih-alih menangkap wujud Rasinah, Jeihan justru menyapu kelebatan tari Panji itu sebagai sebuah esensi. Ia tak sekadar menggambar potret, tapi berusaha menangkap jiwa di baliknya. Hakikat itu pula yang ia hadirkan dalam karya-karya yang ditampilkan dalam pameran yang dibuka oleh I Gede Wiratha, Ketua Kadinda Bali ini. (ISA), Foto: Dok. Bentara Budaya Bali&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5717489757531263022-5226840825054726146?l=indah-ariani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indah-ariani.blogspot.com/feeds/5226840825054726146/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://indah-ariani.blogspot.com/2010/04/sembilan-windu-jeihan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717489757531263022/posts/default/5226840825054726146'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717489757531263022/posts/default/5226840825054726146'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indah-ariani.blogspot.com/2010/04/sembilan-windu-jeihan.html' title='SEMBILAN WINDU JEIHAN'/><author><name>indahariani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01863084398389371134</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S5joGjEc2iI/AAAAAAAAAFs/giY1-nj4iUQ/S220/cemong.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S8bHs22ZugI/AAAAAAAAAGk/YkWZ0vG1zUA/s72-c/_MG_1198.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5717489757531263022.post-2886429368610656903</id><published>2010-04-15T00:51:00.000-07:00</published><updated>2010-04-15T00:58:27.489-07:00</updated><title type='text'>KANTATA UNTUK HAK ASASI MANUSIA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S8bG-V-OY2I/AAAAAAAAAGc/cKj-uAAA-2w/s1600/IMG_1048.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S8bG-V-OY2I/AAAAAAAAAGc/cKj-uAAA-2w/s320/IMG_1048.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5460270372585628514" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ananda Sukarlan, kembali membuka tahun dengan kantatanya. Kali ini ia beri tajuk Libertas. Setelah sukses kantata Ars Amatoria yang diusung dalam pergelaran Jakarta New Year Concert (JNYC) 2008, Ananda Sukarlan kembali dengan kantata lainnya di JNYC 2010, Januari silam. Lewat Libertas, Ananda tak lagi bicara cinta secara personal. Ia memasuki ruang yang lebih luas, dan bicara tentang kemerdekaan serta hak asasi manusia. Kendati bertutur tentang tema serius seperti itu, Ananda toh tak lantas membuat komposisi-komposisi yang sulit dinikmati. Komposer yang kini menetap di Cantabria Spanyol masih mendasarkan karyanya pada puisi-puisi penyair favoritnya, baik  dalam mau pun luar negeri. Bila dalam pertunjukan perdana Libertas di ballroom Dharmawangsa Hotel pada November 2009 Ananda tampil dengan kelompok musisi dan paduan suara lebih sedikit, dalam pertunjukan ini, Andy, panggilan Ananda, memaksimalkan eksplorasi musikalitas lewat perpaduan cantik antara musisi dan paduan suara yang dalam jumlah dua kali lebih banyak. Aning Katamsi (sopran) dan Joseph Kristianto (bariton) tampil baik dalam beberapa komposisi. Kehadiran Paragita UI dan Paduan Suara ITB memungkinkan rentang irama yang dihasilkan menjadi sangat kaya. Dibuka dengan Rhapsodia Nusantara, dan Bibirku Bersujud di Bibirmu (Hasan Aspahani), konser ini menempatkan Libertas di bagian kedua setelah jeda. Kantata ini dibuka komposisi Bentangkan Sayapmu Indonesia! (Ilham Malayu), dilanjutkan  I Understand the Large Hearts of Heroes (Walt Whitman), A Un Poeta Muerto (Luis Cernuda), Palestina (Hasan Aspahani), Ia Telah Pergi (W.S. Rendra), dan Kita Ciptakan Kemerdekaan (Sapardi Djoko Damono). Krawang Bekasi (Chairil Anwar) menjadi penutup cantata. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(ISA), Foto: Dok. Yayasan Musik Sastra  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5717489757531263022-2886429368610656903?l=indah-ariani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indah-ariani.blogspot.com/feeds/2886429368610656903/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://indah-ariani.blogspot.com/2010/04/kantata-untuk-hak-asasi-manusia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717489757531263022/posts/default/2886429368610656903'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717489757531263022/posts/default/2886429368610656903'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indah-ariani.blogspot.com/2010/04/kantata-untuk-hak-asasi-manusia.html' title='KANTATA UNTUK HAK ASASI MANUSIA'/><author><name>indahariani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01863084398389371134</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S5joGjEc2iI/AAAAAAAAAFs/giY1-nj4iUQ/S220/cemong.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S8bG-V-OY2I/AAAAAAAAAGc/cKj-uAAA-2w/s72-c/IMG_1048.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5717489757531263022.post-1410930621684553584</id><published>2010-03-25T02:47:00.000-07:00</published><updated>2010-03-25T02:53:45.237-07:00</updated><title type='text'>LAKON HIDUP TIO PAKUSADEWO</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S6syfnI03jI/AAAAAAAAAGU/oaBZQxiyjaw/s1600/TioPaku.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 214px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S6syfnI03jI/AAAAAAAAAGU/oaBZQxiyjaw/s320/TioPaku.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5452507292525452850" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Berguru pada Musashi, ia tak pernah jeri melakoni berbagai peran dalam kehidupan. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Seorang anak lelaki yang baru saja menapak remaja dan sebuah makiwara –tiang untuk berlatih karate- di tengah ruangan. Tak seperti lazimnya makiwara digunakan, lelaki kecil itu justru merapat dan bukan menendang atau memukulinya. Ikatan tali menyatukan mereka, serupa kangguru dan anaknya. Beberapa saat beku, sebelum kemudian terdengar siulan dari bibir lelaki kecil itu. Segerombol anak sebayanya muncul, nekat melompati jendela. Sesaat kemudian, ‘anak kangguru’ itu lepas dari ‘induknya’, ikut melompati jendela dan melesat cepat ke lapangan bola. Senja hampir datang ketika ia –masih dengan rombongan yang sama saat berangkat- melompati lagi jendela tadi, merapat kembali ke makiwara dan mengambil posisi tepat seperti sebelumnya: tubuh terikat.                                                                                                                                 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Anomali Keluarga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Remaja itu adalah Tio Pakusadewo, aktor yang pada 2009 silam menerima piala citra keduanya, sebagai Aktor Pemeran Utama Pria Terbaik dalam Festival Film Indonesia lewat penampilannya sebagai Adam, seorang penjaga kamar mayat dalam film Identitas. Kenangan terikat di makiwara itu tersimpan hingga kini, bersama ratusan kenangan lain yang bernada sama: hukuman. Kata itu akrab dengannya sejak ia berangkat remaja. “Saya paling bandel di antara anak ayah dan ibu saya yang lain,” katanya. Orangtuanya tentu bisa dikategorikan sebagai orang tertib dan berdisiplin tinggi. Ibunya seorang librarian yang bersekolah di London dan Australia. Ayahnya perwira militer berpangkat kolonel, yang tidak hanya berdisiplin tinggi juga seorang guru karate yang tegas. Tapi Tio tumbuh seperti anomali dengan ketidaktertiban sempurna. Langganan berkelahi, Sekolah Menengah Atas (SMA), ia lewati di enam sekolah berbeda. “Saya lulus dari SMA 34 Pondok Labu. Itu sekolah keenam dan terakhir,” kenang pria bernama lengkap Irawan Susetyo Pakusadwewo ini. Hari pertamanya di sekolah favorit SMA 6 Jakarta, hanya dijalaninya satu hari saja. “Hari pertama itu juga saya dipecat karena nama saya termasuk dalah daftar hitam lulusan SMP yang sering tawuran,” ungkap Tio menerawang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rentetan kenakalan yang ia lakukan, bisa dibilang membuatnya terbuang dari keluarga. “Saat kelas dua SMP, Bapak mengusir saya dari rumah. Penyebabnya, saya membobol rumah tetangga untuk mengambil jaket dan gitar abang saya yang dipinjam anak keluarga itu. Waktu itu, rumah tetangga saya itu kosong karena keluarga itu pindah karena ayahnya terjerat kasus korupsi dan ditangkap. Abang saya bilang kalau jaket dan gitar miliknya belum dikembalikan oleh anak itu. Saking kesalnya, saya nekat membobol rumah itu dan mengajak teman-teman untuk ikut masuk. Saya mengambil jaket dan gitar milik kakak saya saja, sementara teman-teman lain mengambil barang-barang yang ada di dalam rumah,” katanya. Aksi itu harusnya berjalan mulus, kalau saja seorang temannya tak kembali lagi ke rumah itu keesokan harinya. “Entah barang apa yang ingin dia ambil, teman saya kembali masuk ke rumah itu dan ketahuan oleh petugas keamanan kompleks. Ketika diinterogasi, teman saya bilang kalau saya yang menyuruhnya masuk. Itu pertama kalinya saya merasakan sakitnya dikhianati,” kata Tio yang karena kejadian itu sempat dua hari mendekam di penjara kantor polisi. “Bapak menebus saya dari penjara, tapi kemudian menyuruh saya pergi dari rumah,” kisahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang hari, ia ‘menggelandang’ dari rumah teman yang satu ke rumah teman yang lain. “Malam hari, saya tinggal di sekolah, tidur di kelas-kelas kosong bersama pedagang yang berjualan di sekolah dan mandi di pancuran wudhu di mesjid,” kenangnya. Hal itu baru berakhir ketika ia dapat izin tinggal di Wisma Angkasa yang letaknya berhadapan dengan sekolahnya. “Kebetulan, seorang teman saya putra KSAL saat itu, Ashadi Cahyadi,” katanya. Ia senang bukan kepalang, karena merasa menemukan kemewahan dengan ruang lapang dan kolam renang yang selalu siap menyambutnya kapan saja. Sekolahnya pun dapat ia capai hanya dengan satu lompatan. Tiga bulan berjalan, sang ibu  memintanya pulang ke rumah dan bersedia melakukan ‘gencatan senjata’ dengan sang ayah. Kondisi kesehatan ibunya, membuat kelahiran 2 September 1963 ini luluh. “Berkali-kali ibu mengirim abang saya ke sekolah untuk bicara dengan saya. Tapi saya selalu menghindar. Akhirnya ibu mengirim surat dan bilang di suratnya kalau sakit jantungnya kambuh. Dengan syarat minta diberi kamar sendiri, saya mengalah dan pulang. Saya dititipkan di rumah sepupu yang letaknya berdekatan dengan rumah ibu,” katanya. Rumah mereka, menurut Tio membuat setiap anak harus berbagi kamar dengan saudaranya. Walaupun perwira berpangkat Kolonel, Tio mengenang sang ayah sebagai perwira lurus yang hidupnya sangat sederhana hingga membuatkan kamar tambahan bukanlah hal yang dapat segera dilakukan dengan mudah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bukan Jalan Biasa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pengusiran oleh sang ayah, diakui aktor yang kini mendirikan sekolah akting Satoe Acting Atelier ini sebagai luka yang torehannya terus menganga hingga lama. Hal yang setelah dewasa dan ketika sang ayah meninggal ia sesali habis-habisan. Kendati hubungan Tio dan ayahnya membaik seiring waktu, dinding yang telanjur terbangun tak bisa diruntuhkan. “Ada batas yang sulit sekali kami lintasi. Ketika Ibu bilang dia sakit dan saya kembali ke rumah, luka saya belum sembuh sepenuhnya. Hubungan saya dengan Bapak juga tidak bisa baik lagi. Komunikasi buruk sekali. Kami jarang bicara. Baru ketika saya menikah, hubungan kami mulai membaik lagi. Dia sering main ke rumah saya. Hubungannya sudah mulai enak, tapi juga tidak bisa dibilang akrab. Sudah telanjur tidak mesra. Kalau ketemu kami ngobrol biasa, tapi terbatas,” kenang ayah seorang putra dan dua putri ini .&lt;br /&gt;Hal itu juga yang ia rasakan sempat ia alami dengan putra pertamanya, Nagra. “Terasa seperti ada dinding pemisah itu. Karena waktu kecil, dia saya tinggal karena saya bercerai dengan ibunya. Waktu saya tinggalkan rumah, Nagra masihberumur lima tahun. Baru ketemu lagi setelah dia kelas tiga SMP,” ungkap Tio.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ia berusaha keras agar apa yang ia alami dengan sang ayah tak terulang serupa déjà vu dalam hubungannya dengan Nagra. “Untunglah, sepertinya ketakutan saya akan tidak punya alasan. Baru-baru ini ini saya lihat di kamar Nagra, ada coretan gambar wajah di dinding yang saya yakini sebagai wajah saya. Di bawahnya ada tulisan I love you, Dad. Ungkapan perasaan seperti itu tidak sempat saya utarakan pada Bapak pada saat dia masih hidup,” katanya. Baru ketika sang ayah sudah meninggal, Tio tahu betapa sesungguhnya, ia sangat mencintainya. Jadi banyak sekali yang saya sesali. Saya tidak pernah ngobrol dari hati ke hati. Hanya terakhir kali, sebelum dia meninggal, saya sedang di kamarnya bersama ibu saya. Dia bilang, “Saya ini sebetulnya sudah capek. Mau pergi saja. Cuma masih ada satu hal yang saya khawatirkan.” Saya Tanya, “Apa Pak?” Dia bilang, “Kalau saya meninggal, yang jaga bekas pacar saya siapa?” Saya bilang, “Itu nggak usah dikhawatirkan, Saya yang akan menjaga dalam segala keadaan. Semua tanggung jawab saya. Saya janji.” Besok hari setelah pembicaraan itu, Bapak pergi, kenangnya. Hal itu, seperti memberi sinyal pada Tio, betapa sang ayah sangat mempercayainya. “Sebab itu hanya ia sampaikan pada saya. Ke kakak saya yang paling tua saja dia tidak bilang begitu,” ungkap Tio yang lantas memenuhi janji untuk merawat ibunya. “Meski secara fisik kami tidak tinggal satu rumah, saya bersaha menjaga ibu sebaik mungkin. Dia tinggal di Bintaro sekarang, di rumah yang Bapak beli setahun sebelum dia meninggal,” jelasnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah perceraian pertamanya terjadi, Tio kembali ke ‘jalanan’. Ia mengaku hidupnya kacau. “Ngaco banget pokoknya. Herannya, sejak Bapak meninggal, banyak sekali kejadian aneh yang menimpa saya dan saya selalu saja lolos dari lubang jarum. Itu terjadi berkali-kali,” katanya dengan nada heran yang tak tertutupi. Tio lalu berkisah, suatu ketika, ia ‘disapa’ alam ketika hendak menantang orang berkelahi. “Mungkin itu yang disebut malam Lailatul Qadr. Saya nyaris membunuh orang pada suatu malam bulan Ramadhan beberapa tahun lalu. Lalu ketika saya berangkat dengan golok yang sudah terasah, di tengah jalan saya merasa tidak nyaman. Saya piker karena letak golok yang tidak baik. Saya menepi dan ketika itulah saya merasa hembusan angina yang berbeda. Bukan seperti angin biasa yang bertiup, saya merasa udara saat itu menjadi sangat sejuk, seperti berada dalam ruangan berpendingin udara. Lagi pula, daun-daun tidak bergerak sama sekali,” kenangnya. Tio yang merasakan hal aneh itu segera menoleh. Ia hanya menemukan senyap di sekitarnya. Lantas ia dongakkan kepalanya ke langit. “Di arah kiblat ada bulan purnama dalam bentuk yang sangat sempurna, dikelilingi cincin cahaya. Lalu ada awan putih tebal mengelilingi bulan. Di bawah lingkaran itu, ada semacam awan berbentuk cerobong yang bergerak melandai mengikuti pergerakan bulan. Makin silam bulan, makin turun cerobong itu hingga menyerupai tangga,” kisahnya. Sempat sepuluh menit Tio tenggelam dalam ketertegunannya. Ketika mulai lepas dari kesima, ia segera menghubungi ibu dan beberapa teman yang ia pikir harus juga melihat kejadian itu. “Mereka juga melihat hal yang sama. Sampai jam setengah tujuh ,” katanya. Alhasil, malam itu, ia urung menyatroni orang. “Kadang ketika Ramadhan datang, saya berniat ingin lihat lailatul qadr lagi dan menunggu malam 17, selalu terlewat,” katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup yang dilalui Tio memang bukan hidup yang lurus. Ada banyak kelokan yang ia lintasi. Banyak halangan yang ia temui di dalamnya. Pada keyakinan bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkannya, ia bergantung. “Spiritualitas bagi saya adalah ageman hidup. Pegangan. Tanpa itu kita pasti goyah. Cuma apa jadinya jika kita hanya diwajibkan shalat tapi tidak pernah mengenal bagaimana caranya berdoa. Padahal shalat itu kan isinya doa,” katanya. Maka, ia punya cara berdoa yang mungkin berbeda dengan orang lain. Ketika orang berdoa meminta hal-hal besar, ia meminta hal-hal kecil dan terasa remeh. “Saya sering membuktikan doa dari hal-hal yang sangat kecil. Misalnya, doa anti macet. Saya sering mengajak anak-anak membaca doa anti macet sebelum berkendara atau doa minta tempat parker. Dan selalu dikabulkan. Mungkin karena sedikit orang yang berdoa sesederhana itu. Kebanyakan orang kan berdoa untuk mendapat rezeki yang banyak. Antriannya panjang. Kalau doa saya, antriannya pendek jadi segera dikabulkan,” kelakarnya. Tio barangkali memang tak pernah menuntut banyak pada hidup. Ia mengalir dan mencari celah seperti air. Kegagalan bukan hal asing buatnya. Keterbuangan boleh jadi perasaan yang menemani sebagian besar waktunya menapaki hidup.      &lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;Tapi ia tak pernah menyesali apa pun. “Satu hal paling melekat dari apa yang pernah diajarkan Bapak adalah, jangan pernah menyesali apa yang pernah kamu buat. Jadikan sebagai anugerah yang harus kau syukuri,” katanya yakin. Maka ia jalani segala yang mampir dan ia temui dalam perjalanan hidup dengan terbuka. Banyak kekecewaan serta kemungkinan terburuk pernah ia lewati dan kini semua mengisi pundi pengalamannya. Tio yang dua kali mendapat MTV Indonesia Movie Awards sebagai Pemeran Pendukung Pria Terbaik dari Berbagi Suami (2006) dan Quickie Express (2008) ini pernah sangat terpukul dan nyaris yakin kalau ia tak akan pernah mengenyam bangku universitas. Harapannya untuk bisa kuliah di Amerika kandas setelah teman yang berjanji akan membantu mengurusnya mendapat visa pelajar mangkir setibanya Tio di sana. Dalam kecewa, ia berkelana dari Negara bagian satu ke Negara bagian lainnya. “Saya bermobil bersama teman-teman dari Boston sampai ke San Diego. Kami menjelajah sekitar 25 negara bagian di sana. Sempat juga jadi koresponden majalah Tempo ketika saya tinggal di sana,” kenangnya. Kendati kerap terombang ambing gelombang hidup, Tio tak pernah patah. Pulang ke Indonesia, ia masuk Jurusan Sinematografi Institut Kesenian Jakarta dan terbukti ia berjodoh dengan dunia peran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Langganan Peran Watak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kariernya di film, bisa dibilang berjalan mulus. Ikut terlibat dalam beberapa film seperti Bilur-bilur Penyesalan(1986) dan Catatan Si Boy II (!988), namanya mulai melekat di hati penikmat film Indonesia, ketika ia bersama Cut Rizki Theo bermain dalam film arahan Garin Nugroho, Cinta Dalam Sepotong Roti (1990). “Tio aktor yang menjanjikan. Dia punya spontanitas dan keliaran yang bagus. Dia salah satu dari sedikit pemain film yang punya keaktoran kuat. Semakin tinggi tantangan peran, makin kuat aktingnya,” kata Garin ketika ditanyai pendapatnya tentang pemeran Topan dalam film arahannya itu. Setelah Piala Citra pertama ia peroleh lewat peran sebagai Aria, seorang komponis dalam film Lagu Untuk Seruni, dunia perfilman Indonesia koma untuk waktu yang cukup lama. Namanya yang baru mulai menanjak dan disebut-sebut sebagai wajah baru actor Indonesia, menggeser Rachmat Hidayat, Didi Petet dan Mathias Muchus yang kala itu tengah berkibar kembali meredup kendati ia memiliki cukup banyak karya untuk tayangan televisi. Dalam periode itu juga, ia sempat iseng menjajal kemampuannya di bidang teknologi informasi dengan cara yang salah: menjadi hacker. “Tapi nggak berkah. Saya nggak lama nge-hack karena saat jadi hacker itu saya sering kehilangan. Lalu saya berhenti.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat dunia film kembali menggeliat di awal dekade 2000an, ia kembali unjuk gigi. Banyak film ia bintangi sejak 2004. menempatkannya dalam jajaran pemeran watak yang selalu dicari para sutradara untuk memerankan karakter berspesifikasi khusus. Misalnya saja sebagai lelaki hidung belang di Virgin (2004), Koh Abun, pedagang bebek yang takut istri dalam Berbagi Suami, sebagai penjaga kamar mayat yang kompleks dalam Identitas atau sebagai raja copet di film komedi satir Alangkah Lucunya Negeri Kami arahan Deddy Mizwar yang akan dirilis tahun ini. “Sekarang ini saya tidak lagi memilih peran, tapi peran yang memilih saya,” katanya tanpa nada jumawa. Ia melihat, para sutradara dan produser seperti menyeleksi sendiri peran yang akan mereka tawarkan pada Tio. “Sepertinya harus aneh dan tidak jelas. Padahal tidak selalu begitu. Kalau secara finansial ok masak ditolak? Tergantung juga sih. Tapi kebanyakan saya memang menempatkan bargain karakter di awal. Kalau kira-kira bisa diolah, okelah. Tapi kalau sepertinya karakternya biasa-biasa saja, kompensasinya, harus ada hal lain yang lebih baik,” jelasnya sembari tertawa. Sekarang ini, menurut Tio kebanyakan peran yang datang padanya, meski tidak selalu kuat, tapi pasti memiliki keunikan. “Seperti misalnya penderita kanker paru,  penjaga kamar mayat, atau raja copet. Untuk peran sebagai raja copet ini, saya melakukan observasi di kelompok pencopet di daerah Roxy selama seminggu. Tak gampang masuk ke dalam lingkungan mereka,” ungkapna. Pendekatan adalah cara yang selalu ia perhatikan karena itu akan sangat mempengaruhi kelancaran observasi. “Kebetulan, saya sempat lama di jalanan. Saya paham benar tata karma pergaulan orang jalanan. Mungkin kalau saya tidak tahu lingkungan mereka juga akan susah melakukan pendekatan,” katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buatnya, observasi adalah hal yang perlu dilakukan. “Perlu, dalam arti tidak harus dilakukan. Saya hanya melalukan observasi untuk peran-peran dengan tingkat kesulitan tertentu. Untuk peran-peran yang tergolong mudah seperti peran Bapak yang hidup dalam keluarga normal, mungkin tidak perlu membuat observasi karena saya sendiri juga seorang ayah. Kecuali jika ada cerita spesifik seperti dalam Kata Maaf Terakhir, di mana, saya harus berperan sebagai ayah yang mengidap kanker paru. Saya melakukan observasi selama dua hari di RS Ongkomulyo dan bicara dengan pasien-pasien terminal yang hidupnya sudah divonis hanya beberapa hari lagi. Ngeri sekali, karena mereka sudah tahu kapan mereka akan pergi. Ada yang tanpa sadar menangis sambil terus saja bercerita. Ada orang yang saya temui, dan seminggu kemudian sudah meninggal. Ayah saya juga meninggal karena paru-paru basah dan saya tahu bagaimana proses dari mulai sakit sampai ayah saya mengembuskan napas terakhir. Saya juga tidak tahu, FFI penilaiannya bagaimana, karena yang menang bukan peran saya dalam film itu dan justru yang dalam Identitas yang menang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk film Identitas saya tidak melakukan observasi, tapi saya melakukan eksplorasi gila-gilaan dalam film itu. Saya pakai gigi palsu karena Adam bergigi tonggos. Selain itu juga cara berjalannya harus diseret, sampai intonasi suara juga beda. Kalau yang memahami acting saya, akan merasakan bedanya. Adam itu digambarkan sebagai tokoh yang sakit, karena dia lebih suka bicara dengan mayat ketimbang manusia. Dari semua tokoh yang saya perankan, saya paling suka peran saya di film yang belum sempat dirilis, judulnya Senyum Yang Terampas yang juga disutradarai oleh Aria Kusumadewa. Film itu tidak tayang karena dianggap terlalu personal. Prosesnya sangat luar biasa, baik dari sisi produksi, pemain, sampai penokohan. Film ini baru selesai setelah enam tahun produksi dan tidak tayang karena tidak diterima di mana-mana. Film itu juga tidak beredar di festival-festival, karena Aria sendiri mengaku tak suka dengan festival yang ia anggap hanya berhenti sebatas perayaan. “Orang lain boleh suka festival, tapi saya tidak,” kata Aria. Untuk memahami jalan pikiran Aria yang unik, kita memang harus punya jalan berpikir yang unik juga. Kalau orang nggak bisa berpikir beda, akan sulit memahami jalan berpikir Aria. Meski baru dua kali telibat produksi filmnya, saya sudah mengenal Aria lama sekali. Dia salah satu orang yang mengajak saya terlibat dalam produksi televise. Dulu saya pernah terlibat pembuatan beberapa program TV Play di TVRI seperti Kamandaka, dan Bianglala. Baru bekerjasama lagi dengan Aria ketika ia mengajak saya ikut main dalam Senyum Yang Terampas. Tapi sampai sekarang, saya sendiri belum pernah melihat film itu.,  bagaimana jadinya, sata tidak tahu sama sekali. Peran dalam film itu menjadi sulit buat saya karena beberapa alasan. Pertama, pada saat itu ilmu saya belum banyak. (Tio lalu terlibat obrolan dengan seorang kru film, menanyakan lukisan orang itu yang ia buat. Temannya meminta Tio menandatangani lukisan itu). Saya memang senang membuat sketsa di lokasi syuting. Nanti gambarnya saya kasih untuk orang yang saya gambar. Saya selalu membawa buku sketsa, buat menggambar kalau sedang iseng menunggu. Dibilang seniman komplit tidak juga. Saya hanya suka belajar. Mungkin karena dulu saya tidak senang sekolah, jadi kehilangan masa-masa itu. Saya suka ke sekolah, tapi tidak suka belajar di kelas. Buat saya, belajar itu bisa di mana saja. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(Indah S. Ariani), Foto: Denny Ramon, Pengarah Gaya: Ayunda Wardhani, Busana: Jeffry Tan  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5717489757531263022-1410930621684553584?l=indah-ariani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indah-ariani.blogspot.com/feeds/1410930621684553584/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://indah-ariani.blogspot.com/2010/03/lakon-hidup-tio-pakusadewo.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717489757531263022/posts/default/1410930621684553584'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717489757531263022/posts/default/1410930621684553584'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indah-ariani.blogspot.com/2010/03/lakon-hidup-tio-pakusadewo.html' title='LAKON HIDUP TIO PAKUSADEWO'/><author><name>indahariani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01863084398389371134</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S5joGjEc2iI/AAAAAAAAAFs/giY1-nj4iUQ/S220/cemong.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S6syfnI03jI/AAAAAAAAAGU/oaBZQxiyjaw/s72-c/TioPaku.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5717489757531263022.post-2884556498462709523</id><published>2010-03-25T01:35:00.000-07:00</published><updated>2010-03-25T01:45:07.723-07:00</updated><title type='text'>‘CINTA MONYET’  TITI &amp; DJENAR</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S6sic7Qk--I/AAAAAAAAAGM/THo3rmSxuok/s1600/Titi-Djenar.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 214px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S6sic7Qk--I/AAAAAAAAAGM/THo3rmSxuok/s320/Titi-Djenar.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5452489654201023458" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Penghargaan terbaik mereka dapat dari debut pertama di dunia perfilman. Monyet jadi kata kunci keberhasilan mereka. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Titi Sjuman dan Djenar Maesa Ayu seperti memulai langkah dengan kaki kanan di panggung perfilman. Sebelumnya, dua perempuan cantik ini hanya berada di ‘bibir panggung’. Djenar lebih dikenal sebagai penulis cerpen dan novel yang karyanya kerap dianggap kontroversial. Ibu dua putri ini memang pernah menjadi pemain di film Koper arahan Richard Oh beberapa tahun silam. Namun, akting Djenar sebentar saja dibicarakan. Sementara itu, Titi Sjuman adalah penabuh drum yang berkali-kali muncul di banyak majalah wanita. Ia juga sempat terlibat dalam pertunjukan tari Opera Jawa, berkeliling ke beberapa kota mancanegara. Di situ, ia pun tak jauh-jauh dari drum. Sambil menari, ia menabuh drum di panggung. &lt;br /&gt;Dunia mereka berdua mulai berbeda ketika Djenar membuat film. Karya perdananya, yang berjudul sama dengan kumpulan cerpen perdana Djenar, Mereka Bilang Saya Monyet (MBSM) mendapat empat Piala Citra setelah dua tahun dirilis. Sejak awal, perempuan yang biasa disapa Nay ini bertekad untuk memproduksi sendiri filmnya. “Bisa dibilang kami sama-sama ‘pecah telur’. Tapi suasananya justru jadi enak. Karena tidak ada rasa ‘siapa yang lebih berpengalaman dari siapa’,” katanya. &lt;br /&gt;Dirilis pada 2007, MBSM mendapat banyak pujian. Namun, film yang bercerita tentang pertentangan psikologis Adjeng, tokoh dalam film tersebut, tak bisa masuk dalam ajang Festival Film Indonesia karena film berformat digital tak bisa disertakan. Begitu panitia festival membolehkan film digital ikut dilagakan pada 2009, film ini menangguk penghargaan. Djenar diganjar penghargaan sebagai Sutradara Pendatang Baru Terbaik. Bersama Indra Herlambang, Djenar juga mendapat penghargaan sebagai Penulis Skenario Adaptasi Terbaik. Sementara Titi Sjuman, ditahbiskan sebagai Pemeran Utama Terbaik Wanita. Bersama suaminya, Aksan Sjuman, ia juga menerima penghargaan sebagai penata suara terbaik. Lengkap, bukan?&lt;br /&gt;Sebagai debut, MBSM tentu membekaskan jejak penting dalam karier Djenar sebagai sutradara, dan Titi sebagai aktris. Namun, di balik riuh rendah kegembiraan seputar kerjasama mereka, Titi dan Djenar punya kisah menarik di balik persaudaraan mereka. Walaupun ipar –Djenar adalah adik Aksan (suami Titi)- mereka lebih sering dikira saudara kandung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Banyak yang menganggap Anda berdua mirip satu sama lain. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Djenar Maesa Ayu (DMA)&lt;/span&gt;: Banyak yang mengira kami berdua kakak-beradik. Saya juga agak heran. Lucunya, saat pertama kali kami bertemu adalah saat Titi dan Aksan akan menikah. Jadi kami bertemu di penjahit, mau bikin kebaya. Kami berdua memakai baju yang persis sama. Saat itu, kami berdua sama terkejutnya karena baju kami benar-benar sama. Waktu itu kami memakai atasan tank top hitam dan bawahan batik. Dari sekian banyak motif dan warna batik, kami memakai yang persis sama, baik motif mau pun warna. Di lokasi syuting juga sering sekali kami pakai baju kembar, sampai orang sering salah memanggil kami. Kalau sedang satu acara, memakai baju yang persis sama adalah hal yang biasa. Bahkan sampai ke luar negeri pun, kejadian itu tetap saja terjadi. Pernah, ketika kami mengikuti Singapore Film Festival, baju yang kami bawa, hampir semua kembar. Padahal kami packing di rumah masing-masing. Sebenarnya, kalau kami ditemukan langsung, kami berdua tidak terlalu mirip, kok. Tapi orang-orang yang tahu saya sejak kecil selalu bilang kalau saya dan Titi memang mirip. Nggak tahulah itu.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Titi Sjuman (TS):&lt;/span&gt; Hahaha, iya. Kejadian di penjahit kebaya itu paling mengagetkan. Tapi memang banyak sekali yang bilang kami mirip. Sebenarnya saya senang-senang saja, walau pun, kami berdua sering bingung, di mana miripnya. Tapi kalau kami dibilang mirip, yang untung itu Djenar. Karena orang piker Djenar masih muda. Saya yang rugi kalau dibilang mirip sama Djenar karena di lebih tua dari saya, hahaha…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bagaimana hubungan dengan Aksan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;DMA:&lt;/span&gt; Kami memang bukan tipikal kakak beradik yang secara kuantitatif bertemu. Tapi ketika bertemu, kualitas hubungan kami sangat terasa bagus sekali. Kami bisa membicarakan apa saja bertiga. Enak banget punya Titi, Aksan dan Yudhis, kakak saya yang satu lagi.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;TS:&lt;/span&gt; Kami bertiga kompak sekali. Mesra. Kami sering pelukan bertiga. Kalau sedang menginap di rumah, Djenar pasti maunya tidur bertiga dengan saya dan Aksan. Dia pasti ngerusuhin kalau saya sedang pelukan sama Aksan. Saya senang-senang saja. Djenar hanya mengesalkan saat syuting MBSM karena dia mendiamkan saya tanpa alasan. Baru belakangan saya tahu kalau mendiamkan saya adalah cara Djenar memaksa saya masuk ke dalam karakter Adjeng yang depresif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Titi pernah cemburu?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;DMA:&lt;/span&gt; Ah, enggaklah. Masak dia cemburu sama saya? Tapi ada satu cerita lucu waktu kami sedang mengerjakan music scoring Monyet (Djenar selalu menyebut MBSM dengan kata singkat Monyet- red). Saat itu saya menginap berhari-hari di rumah mereka. Suatu ketika, saat sedang berjalan menuju kamar, saya menyadari kalau Aksan sedang berjalan di belakang saya. Tiba-tiba Aksan menggoda saya, ternyata dia mengira saya itu Titi. Begitu saya berbalik dia bukan main kagetnya. Dia bilang, “Wah, nggak bener nih, nggak bener nih,” sambil kami tertawa keras. Ketika diceritakan kejadian ini, Titi tertawa geli bukan main. Kalau orang lain yang sering tertukar melihat kami, saya masih maklum. Kalau sampai kakak saya yang adalah suami Titi yang salah, itu baru cerita&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;TS:&lt;/span&gt; Buat saya malah lucu. Kok ya bisa sampai keliru begitu. Saya cuma bilang sama  Aksan, “Masak aku setua itu sampai tertukar sama Djenar?” Hahaha… Tapi Djenar itu memang tidak perlu dicemburui. Dia itu lucu dan tidak pernah menyebalkan. Paling kami cuma ledek-ledekan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Hubungan Anda berdua di luar pekerjaan bagaimana?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;DMA:&lt;/span&gt; Titi orang yang cepat melebur dan apa adanya.  Sepanjang pengetahuan saya, dari begitu banyak pacarnya Aksan, Titi adalah yang paling kami suka. Biasanya, kalau Aksan punya pacar, kami sering ngerumpiin orang itu. Titi tidak. Semuanya lancar saja. Kami seperti sudah berkenalan lama sekali. Dia sudah seperti bagian keluarga. Kadang-kadang kangen juga sama Titi.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;TS:&lt;/span&gt; Hubungan kami asyik banget. Djenar itu orang yang ceplas ceplos dan sering terlihat ekstrem. Kalau tidak terbiasa dengan dia, orang pasti terkaget-kaget mendengar ucapan atau melihat polahnya. Awalnya saya juga sempat kaget. Tapi Aksan sudah memberitahu sebelumnya, jadi saya bisa lebih cepat mengerti Djenar. Kami saling support. Apa pun yang Djenar lakukan dan alami, kami akan beri dukungan, begitu pun sebaliknya. Mungkin ini pengaruh dari pola hubungan di keluarga Aksan yang sama sekali tidak kaku.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Untuk produksi film berikutnya, apakah masih akan melibatkan Titi dan Aksan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;DMA:&lt;/span&gt; Iya. Kalau mereka sedang tidak sibuk pasti saya pakai mereka bila saya membuat film dan membutuhkan  musik. Karena, sejauh pengamatan saya, I think, they are one of the best music scorer in Indonesia. Jadi buat apalagi cari yang lain? &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;TS:&lt;/span&gt; Untuk music scoring, kalau kami sempat pasti kami akan menyanggupi kalau ditawarkan. Kerja dengan Djenar menyenangkan karena dia easy going. Kami juga paham sekali keinginan dan kemampuan produksinya, yang seringkali low budget. Buat kami itu sama sekali tidak masalah. Saya dan Aksan selalu berupaya terlibat dalam produksinya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Untuk memerankan Adjeng, berapa lama proses pendalaman yang dilakukan?&lt;br /&gt;TS:&lt;/span&gt; Saya sempat tidur di rumah Djenar selama dua hari untuk berdiskusi tentang Adjeng. Saya juga mengikuti acting coach karena itu debutku di seni peran. Saya bahkan sempat survei ke kelab-kelab di daerah Kota karena dalam cerita itu ada adegan di diskotik, gimana polah orang di tempat seperti itu. Bagaimana dengan anak muda yang pacaran dengan oom-oom dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Apa kesulitan yang Anda temui saat membuat Mereka Bilang Saya Monyet?&lt;br /&gt;DMA:&lt;/span&gt; Karena saya produser sekaligus sutradara, jadi antara kebutuhan sebagai kreator, bertabrakan dengan masalah finansial dan itu terus-menerus terjadi di lapangan. Itu yang sering kali mengganggu. Makanya, sekarang saya cenderung bikin film-film berdana kecil. Saat membuat Monyet, saya belum paham bagaimana proses produksi sebuah film. Saya membuat skenario sesuai apa yang saya bayangkan. Pemainnya banyak, lokasi juga banyak. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;TS:&lt;/span&gt; Buat saya, karena mungkin ini penampilan saya pertama kali di film, kadar ragunya lumayan banyak. Apalagi karakter Adjeng sendiri memang karakter yang sulit dengan semua konfliknya. Pemain lama saja pasti kesulitan, apalagi saya yang pemain baru? Tapi justru di situ tantangan dan daya tariknya. Lucunya, mungkin karena berusaha masuk secara total dalam karakter itu, Aksan merasa saya berubah sepanjang proses produksi. Bahkan setelah syuting selesai pun, Aksan melihat depresi Adjeng masih tertinggal dalam diri saya. Dia sampai mengajak saya berlibur ke beberapa tempat agar saya bisa lepas dari karakter itu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Toleransi apa yang paling mengganjal saat pengerjaan film MBSM?&lt;br /&gt;DMA:&lt;/span&gt; Banyak sekali yang harus ditolerir, terlebih dalam hal waktu. Karena satu hari itu akan menghabiskan anggaran. Jadi ada beberapa pilihan-pilihan estetik yang akhirnya tidak terpenuhi. Tapi untungnya, saya juga tahu kapasitas saya sebagai sutradara baru yang belajar secara otodidak. Jadi proses learning by doing memang benar-benar terjadi dalam kerja saya. Dari awal, saya memang mengutamakan konsep cerita dan pemain. Jadi yang tidak bisa ditawar adalah pemain. Kalau pemain masih jelek, dan masih harus menunggu satu dua hari lagi, saya tidak akan bisa ditawar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Karena semua pertama, apakah standar yang ditetapkan menjadi sangat ideal, atau lebih fleksibel?&lt;br /&gt;(DMA): &lt;/span&gt;Kami memaksimalkan apa yang kami bisa dan kami anggap baik. Karena karya pertama adalah tempat di mana kredibilitas profesional dipertaruhkan. Jadi kami berusaha melalukan yang terbaik. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(Indah S. Ariani), Fotografer: Robin Alfian, Pengarah gaya: Quartini Sari, Rias wajah dan rambut: Gusnaldi dan Yazeed dari Gusnalid Salon.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5717489757531263022-2884556498462709523?l=indah-ariani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indah-ariani.blogspot.com/feeds/2884556498462709523/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://indah-ariani.blogspot.com/2010/03/cinta-monyet-titi-djenar.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717489757531263022/posts/default/2884556498462709523'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717489757531263022/posts/default/2884556498462709523'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indah-ariani.blogspot.com/2010/03/cinta-monyet-titi-djenar.html' title='‘CINTA MONYET’  TITI &amp; DJENAR'/><author><name>indahariani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01863084398389371134</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S5joGjEc2iI/AAAAAAAAAFs/giY1-nj4iUQ/S220/cemong.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S6sic7Qk--I/AAAAAAAAAGM/THo3rmSxuok/s72-c/Titi-Djenar.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5717489757531263022.post-8063432566839559792</id><published>2010-03-04T02:49:00.000-08:00</published><updated>2010-03-04T02:53:51.310-08:00</updated><title type='text'>LUKISAN POP DARI POSTER CANTIK</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S4-Q_H_VlUI/AAAAAAAAAE0/giZ05T1ewpE/s1600-h/Curse+of+Beauty.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S4-Q_H_VlUI/AAAAAAAAAE0/giZ05T1ewpE/s320/Curse+of+Beauty.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5444729888665081154" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tantin berburu wajah-wajah cantik, melemparkannya ke dalam ramuan pop art, menyatukannya dengan kegelisahan industrial.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cantik itu luka, kata novelis Eka Kurniawan. I Gusti Ngurah Udiantara punya kata lain yang maknanya setali tiga uang: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;curse of beauty&lt;/span&gt;. Kecantikan memang bisa berbalik serupa kutukan yang menghantui mereka yang mendapatkannya. Si cantik tak hanya menerima pujian, tapi juga cerca dan dengki. Maka ia gambarkan sepenggal kalimat tanya menempel di dada seorang perempuan cantik: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Why did you curse me with this beauty?”&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;. Tak ada jawaban yang ia berikan, melainkan serangkaian wajah perempuan –yang semuanya cantik- tercabik-cabik, berebut tempat dengan beragam tulisan dari aneka poster dan selebaran yang saling tumpuk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Udiantara, yang biasa disapa Tantin ini, memang secara intensif mengumpulkan citra perempuan cantik, baik dari majalah dan internet. Koleksinya sudah mencapai lebih dari seribu gambar itu berbuah pameran lukisan di Semarang Gallery, medio Januari lalu, salah satunya adalah lukisan Curse of Beauty tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui serangkaian lukisan, ia berpendapat bahwa pada satu titik wajah-wajah cantik itu menjadi sangat industrial. Kecantikan, sebagai sebuah bentuk keindahan, memang acapkali harus berebut tempat dengan banyak hal lain di muka bumi ini. Seperti kontradiksi lain, kecantikan memiliki juga dua kutub yang sama: baik dan buruk. Namun, Tantin, tak hendak berbicara soal untung rugi perempuan berwajah cantik. Ia lebih tertarik pada bagaimana kecantikan dimaknai lebih luas dari sekadar anugerah untuk tubuh. Ketertarikannya pada budaya pop, membuatnya menoleh pada fakta betapa banyak taburan wajah cantik di segala jenis publikasi, dari televisi, majalah, hingga poster-poster yang memenuhi dinding di tepi jalan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kecantikan lantas terasa menjadi komodifikasi belaka dengan standar yang seragam. Saya lalu membayangkan, bagaimana perasaan para perempuan itu ketika melihat gambar mereka terpampang di media atau di poster untuk kemudian melihatnya disobek,” Tantin bertanya retoris. Ia juga bertanya-tanya, apakah pesan yang ada dalam poster itu akan sampai dengan baik manakala bagian-bagiannya tercabik. Di luar dua pertanyaan itu, pelukis kelahiran Gianyar Bali ini menangkap jiwa pop art yang kuat di dalamnya. Kontradiksi keindahan dan kesemrawutan diramu dengan sangat teliti hingga harmoni terpapar dengan sempurna di atas kanvas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menikmati lebih dari 15 lukisan yang dipajang, kontradiksi terasa kental. Daya tarik pop art terlihat begitu memikat buat Tantin. Dalam pameran bertajuk Pop Imagery ini, ia menyertakan sebuah karya dengan Marilyn Monroe sebagai obyek yang akan segera mengingatkan penikmatnya pada karya bapak pop art Andy Warhol. Ia memang tidak menjadikan Marilyn Monroe sebagai ikon. Namun tak lantas ia lepas dengan pengaruh imaji kecantikan ala Barat. Wajah-wajah cantik yang mengisi kanvasnya masih berpusar pada ikon cantik Barat salah satunya lewat wajah Megan Fox. “Tidak banyak orang yang memberi perhatian besar pada tekstur yang dihasilkan oleh sobekan-sobekan poster,” Jim Supangkat mengungkapkan dalam pidato pembukaan pameran.&lt;br /&gt;Hal yang menarik adalah, meski kuat mengangkat pop art, Tantin justru tengah mengkritisi budaya pop itu sendiri. Ia secara tegas memunculkan gambaran pop sambil mempersoalkan konflik yang terjadi di dalamnya. Kebingungannya tentang makna kecantikan yang ada di majalah-majalah gaya hidup dibenturkan pada kesejatian diri yang sesungguhnya menentang keseragaman gaya majalah dan poster itu. “Ia mempertanyakan perihal kecantikan yang sesungguhnya dengan kecantikan gaya industri,” Jim menambahkan. Itu dari masalah ide. Dari segi teknis, Jim juga menggaris bawahi perkembangan Tantin dalam mengolah materi dan teknik yang menurutnya terbilang inovatif. “Ini tampak pada tekstur sobekan poster dan kanvas-kanvas yang sengaja dibuat kusut dengan bantuan resin,” katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyimak karya Tantin, kita memang seperti diajak bermain-main dengan imajinasi visual yang melangkah dari satu potongan wajah ke potongan wajah berikutnya. Tanpa sadar, pikiran kita akan tergoda untuk menelusup ke bawah ‘sampah’ yang menutupi wajah-wajah cantik yang tak sempurna karena direcoki sobekan-sobekan kertas seperti yang tampak pada karya bertajuk The Broken Image 2. Atau, lihatlah sepotong bibir indah yang teronggok dalam selembar gambar kusut tanpa jejak siapa pemiliknya pada Wallpaper Series 1. Seperti yang dikatakan Jim, Tantin memang terlihat jelas berusaha menggali segala macam kemungkinan bentuk yang dapat dihasilkan dari eksplorasi material. Ia kawinkan kanvas dengan resin hingga muncul kekusutan yang lantas berinteraksi dengan sangat menarik bersama citra-citra yang ada di atasnya. Upaya ini terbilang sukses karena menghadirkan kesan baru pada karya Wallpaper Series 1- 4. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eksplorasi material juga terlihat pada karya berjudul Shadow yang paling banyak menangguk perbincangan malam itu. Karya yang membentuk seraut wajah ini, terlihat seperti sebuah lukisan tanpa bingkai. Beberapa orang bahkan menduga itu adalah mural yang ia terapkan pada dinding galeri. Kejutan baru terasa ketika kita menghampirinya. Empat lapis tripleks tersusun dalam gradasi warna dari kelabu hingga hitam dan mengingatkan pada teknik kerajinan tangan paper tolle. “Saya mengambil teknik layering dari Photoshop untuk membuat karya ini,” kata Tantin. Rupanya, ia memang merekam imaji popnya dalam banyak cara, yang melintasi berbagai batas kemungkinan. Boleh jadi, pop art bagi Tantin memang arena bermain yang menyenangkan, yang memberinya sedikit sekali rintangan dengan kecantikan sebagai bunga yang menghiasinya. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(Indah S. Ariani), Foto: ISA&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5717489757531263022-8063432566839559792?l=indah-ariani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indah-ariani.blogspot.com/feeds/8063432566839559792/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://indah-ariani.blogspot.com/2010/03/lukisan-pop-dari-poster-cantik.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717489757531263022/posts/default/8063432566839559792'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717489757531263022/posts/default/8063432566839559792'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indah-ariani.blogspot.com/2010/03/lukisan-pop-dari-poster-cantik.html' title='LUKISAN POP DARI POSTER CANTIK'/><author><name>indahariani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01863084398389371134</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S5joGjEc2iI/AAAAAAAAAFs/giY1-nj4iUQ/S220/cemong.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S4-Q_H_VlUI/AAAAAAAAAE0/giZ05T1ewpE/s72-c/Curse+of+Beauty.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5717489757531263022.post-3089047779248953863</id><published>2010-03-04T02:24:00.000-08:00</published><updated>2010-03-04T02:37:03.315-08:00</updated><title type='text'>MENYIBAK HALIMUN DI LAWANGWANGI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S4-NRXd0NtI/AAAAAAAAAEk/V6lfkUy4XQk/s1600-h/Mobil+Cecep.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S4-NRXd0NtI/AAAAAAAAAEk/V6lfkUy4XQk/s320/Mobil+Cecep.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5444725804010583762" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Di ketinggian Dago Giri,  ‘Halimun’ turun. Di Lawangwangi, kabut wacana yang melingkupi dunia seni rupa, sedang disibakkan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebuah Jumat malam yang masih muda dan dirembesi gerimis, Sunaryo, perupa kawakan pemilik Selasar Sunaryo melakukan aksi penembakan. ‘Target’nya berada di perbukitan, beberapa mil di seberang tempatnya berdiri. Tak terdengar letusan. Di seberang sana juga tak terdengar suara apa-apa, hanya senyap. Massa yang berdiri di sekeliling Sunaryo menahan napas, cemas menanti kejutan yang akan mereka saksikan. Sunaryo kembali mengarahkan ‘senjata’ ke seberang sana. Lagi-lagi tak terjadi apa-apa. Orang-orang makin penasaran dan memandang lebih tajam ke seberang. Di tembakan ketiga, tiba-tiba sebaris kata menyala di kejauhan sana: HALIMUN. Dengan huruf kapital dari jajaran neon, kata yang dalam bahasa Sunda berarti kabut itu, terlihat menyerupai tulisan Hollywood yang tersohor dari kejauhan. Semua orang di sekitar Sunaryo terpana menatap instalasi karya Deden Sambas tersebut, diam sejenak untuk kemudian tertawa. Sebagian lagi tersenyum sambil geleng-geleng kepala –tak sedikit pula yang menggerutu-. Barangkali mereka membayangkan permainan imaji yang melintasi kepala mereka beberapa detik sebelumnya. Sebuah saat ketika berbagai tanya bermain-main, sambil mencoba menjawab kemungkinan yang terjadi dari penembakan Sunaryo itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kolaborasi Seni dan Sains&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Performing art itu menjadi adegan paling berkesan dalam pembukaan Lawangwangi Art and Science Estate akhir Januari silam. Ratusan orang memadati pelataran curam pusat seni rupa baru untuk mengikuti seremoni dan juga pertunjukan menarik kelompok perkusi remaja Jendela Ide pimpinan Marintan Sirait. Mereka tampil dinamis dan memikat. Andonowati, profesor matematika yang juga penggagas berdirinya ArtSociates dan Lawangwangi tak mampu menutupi bahagianya ketika memberi sambutan. Dengan bersemangat dan suara bergetar, Aan –begitu Andonowati biasa disapa- menjelaskan ihwal yang melatarbelakangi mengapa ia membuka pusat seni dan menyandingkannya dengan sains. Ia juga menjelaskan tentang ArtSociates yang diresmikan pada 2007 silam, untuk memberi kontribusi pada dunia seni rupa Indonesia, lewat promosi yang diberikan untuk para seniman agar bisa makin berkibar di kancah internasional. “Banyak yang bertanya pada saya, apa beda Lawangwangi dan ArtSociates. Jawabannya, ArtSociate adalah penghuni Lawangwangi yang didesain oleh arsitek Baskoro Tejo, bersama LabMath- Indonesia,” kata Aan. LabMath Indonesia sendiri, adalah sebuah institusi riset yang menstimulasi dan membantu eksekusi riset saintifik tentang masalah-masalah penting yang meliputi oseanografi garis pantai dan lingkungan air, termasuk efek perubahan cuaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keyakinan bahwa seni sejatinya bersaudara dengan sains, membuat Aan dan ArtSociates menggagas pula program residensi antara seniman dengan ilmuwan yang untuk kali pertama akan dijalani oleh Christine Ay Tjoe. Perupa yang akan berpameran di Lawangwangi pada April mendatang, direncanakan akan menjalani residensi di Belanda selama dua bulan, Mei hingga Juli dan akan berkolaborasi dengan fisikawan Detlef Lohse. Selain program itu, ArtSociates juga akan menggelar ajang Art Award yang terbuka bagi umum, untuk menjaring bakat-bakat baru berkualitas dalam kancah seni rupa Indonesia. Kurator Jim Supangkat, kritikus senirupa Carla Bianpoen, Deborah Iskandar dari balai lelang Sotheby’s, dan kolektor Syakieb Sungkar dipilih untuk menjadi juri ajang ini. Kolektor menjadi juri? Aan berkilah bahwa tanpa kolektor, pergerakan karya dan apresiasi terhadap benda seni tidak akan terjadi.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Menghalau Pasar&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Namun bukan berarti Aan dan ArtSociate mengagungkan pasar lebih tinggi dari ide dan karya itu sendiri. Sebab, pameran bertajuk Halimun -dikuratori oleh Rifky Effendi- yang digelar menandai dibukanya Lawangwangi sejatinya adalah upaya untuk kembali menempatkan karya seni di tempat semestinya: sebagai penentu pasar dan bukan sebaliknya, pasar menjadi penentu karya seni. Dalam pengantar pameran yang dibuat oleh Rifky, terbersit kecurigaan seni rupa yang bergantung pada pasar. Gaya artistik yang mapan saat ini dianggap sebagai akibat dari pusaran pusar belaka. Kondisi ini ditengarai membentuk lapisan tanda-tanda yang mengecoh dan mengganggu pengamatan penikmat seni rupa. “Suasana ini seperti membentuk lapisan kabut yang menyelubungi suatu tempat yang menyelimuti, menyelubungi, dan menghalangi pandangan, kendati kita masih bisa melihat sesuatu dengan batasan jarak pandang tertentu. Halimun dalam pameran ini menjadi metafora untuk menjelaskan gejala medan sosial kapital seni rupa Indoenesia saat ini,” Rifky menjelaskan.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Rifky, pameran ini merupakan upaya untuk kembali mengajak khalayak seni rupa untuk kembali masuk ke dalam pusaran lapisan nilai, dan meninggalkan sejenak keriuhan pasar, tempat di mana, nilai acap kehilangan makna. Diikuti 49 perupa, memang terlihat adanya upaya menjawab kegelisahan tersebut. Dalam pameran itu, karya yang bicara. Euforia pasar sedikit redam, terganti bisik-bisik penikmat seni yang lantas memberi nilai secara lebih objektif. Dalam pameran tersebut segala tema dan material menjadi sebuah keniscayaan. Banyak seniman yang tetap berpegang pada ciri khasnya. Beberapa lainnya, mengolah material baru untuk mendapatkan kesan berbeda, sisanya, mencoba memasuki ruang eksplorasi baru atau juga melakukan kilas balik dan mencoba datang dengan gaya mereka sebelumnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebut misalnya Mella Jaarsma. Ia masih senang bermain-main dengan jubah dari berbagai materi yang telah ia lakukan selama beberapa tahun terakhir. Kali ini, ia mengambil piring kaleng sebagai material dan menghadirkan efek yang menarik, karena dua jubah yang diletakkan tepat di depan jendela kaca itu, serupa sepasang pengantin yang tengah bersanding menikmati hijau bukti di kejauhan. Radi Arwinda, mungkin tepat untuk menyontohkan perupa yang menggunakan material baru. Ia ‘menyalin’ Pet Pet, monster rekaannya ke dalam material kayu yang menghadirkan kesan baru dari objek jenaka itu. Dalam pameran ini, beragam gaya memang mewujudkan dirinya secara utuh. Realis terasa sebagai aliran yang sangat kuat terlihat. Sebagian besar seniman memang melandaskan kreativitasnya pada aliran ini. Yogie Achmad Ginanjar, Cecep M.T., juga kelompok TAXU dari Bali adalah sedikit dari sekian banyak seniman yang memilih garis realis. Di kelompok TAXU, hanya Gde Mahendra Yasa yang kali ini meninggalkan gaya realisnya. Seniman yang biasa menjadikan torehan cat yang baru keluar dari tube sebagai obyek eksplorasi karya, kali ini menampilkan lukisan abstrak dari seri apropriasi atas karya abstrak De Kooning. Citra abstak perempuan telanjang dalam berbagai paduan warna cerah akan terasa mengagetkan jika kita terbiasa dengan ketelitian realisme Hendra. Terlebih bila kita belum kenal karya De Kooning. Gambar itu akan terasa sangat asing dan barangkali menggelitik pikiran untuk bertanya, “Di mana indahnya?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun begitulah, di Halimun, semua ide memang sah-sah saja digulirkan. Perubahan apa pun menjadi niscaya dan serupa tantangan untuk menyiapkan diri keluar dari lapisan pusaran pasar. Barangkali terlalu dini untuk berharap banyak pada Lawangwangi. Perjalanan panjang masih harus ditempuh baik oleh Aan, ArtSociates dan Lawangwangi untuk membuktikan diri bahwa komitmen mereka juga bukan sekadar euforia. Mampukah mereka? Kita tunggu saja kiprahnya. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(Indah S. Ariani), Foto: ISA &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5717489757531263022-3089047779248953863?l=indah-ariani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indah-ariani.blogspot.com/feeds/3089047779248953863/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://indah-ariani.blogspot.com/2010/03/menyibak-halimun-di-lawangwangi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717489757531263022/posts/default/3089047779248953863'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717489757531263022/posts/default/3089047779248953863'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indah-ariani.blogspot.com/2010/03/menyibak-halimun-di-lawangwangi.html' title='MENYIBAK HALIMUN DI LAWANGWANGI'/><author><name>indahariani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01863084398389371134</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S5joGjEc2iI/AAAAAAAAAFs/giY1-nj4iUQ/S220/cemong.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S4-NRXd0NtI/AAAAAAAAAEk/V6lfkUy4XQk/s72-c/Mobil+Cecep.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5717489757531263022.post-4338543316852679606</id><published>2010-03-04T02:17:00.000-08:00</published><updated>2010-03-04T03:01:08.960-08:00</updated><title type='text'>MEMBURU SIMETRI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S4-S2cKkwpI/AAAAAAAAAFE/pKnKvc6XDlA/s1600-h/16,+Menyimak+Symmetrical+Sanctuary.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S4-S2cKkwpI/AAAAAAAAAFE/pKnKvc6XDlA/s320/16,+Menyimak+Symmetrical+Sanctuary.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5444731938485355154" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S4-J7kJLgiI/AAAAAAAAAEU/FZ66F-8_klk/s1600-h/6.+Sebagian+dari+lukisan+20+meter.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S4-J7kJLgiI/AAAAAAAAAEU/FZ66F-8_klk/s320/6.+Sebagian+dari+lukisan+20+meter.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5444722130921685538" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pameran Ay Tjoe kali ini menantang penikmatnya untuk menjadi simetri: 20 meter kanvas, 20 potong lukisan, 20 orang kolektor.  &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Perburuan karya selalu punya kisah bagi tiap kolektor. Lazimnya, mereka berburu diam-diam. Kalau pun ada cerita, umumnya kisah perburuan itu beredar hanya sebatas teman. Kabar baru akan tersebar jika sebuah karya –apalagi karya seniman papan atas- sudah bertengger di dinding rumah atau museum pribadi sang kolektor. Tapi kelaziman ini dilompati di pameran tunggal Christine Ay Tjoe awal Januari lalu. Di sini, dua puluh kolektor yang berminat memiliki karya seniman jebolan Institut Teknologi Bandung ini diajak duduk bersama, berdiskusi, dan berembug soal bagian mana yang akan jadi bagian mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Inovasi Perburuan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebuah ruang bulat mengisi bagian tengah ruang pamer utama di galeri Sigi Arts. Sebuah pintu kecil menjadi jalan masuk ke dalam ruang menyerupai tabung itu. Segerombol orang membagi diri mereka dalam kelompok lebih kecil, berpencar menelusuri dinding kayu berbentuk silinder dan menyimak gambar sepanjang 20 meter –mengingatkan kita pada wayang beber- yang dipajang di sana dengan intens. Mereka bergeser, berpindah dari satu sisi ke sisi lainnya sambil sibuk berdiskusi. Beberapa orang di antara mereka memegang post it, menyobeknya dan menempelkan kertas kuning muda itu ke lukisan berwarna pastel yang direkatkan dengan tablet magnet ke bilah besi yang menempel di dinding tabung. Sebagian lain sibuk menunjuk-nunjuk, melakukan gerakan-gerakan memenggal kertas dengan ukuran lebar berbeda di udara. Wajah-wajah serius sesekali berganti senyum atau bahkan tawa. Celoteh segar acap berujung pada obrolan serius yang menyedot perhatian semua orang dalam tabung itu untuk ikut merubung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rombongan itu lalu kembali pindah ke ruang depan di mana sebelumnya berlangsung diskusi hangat yang membahas soal bagaimana ‘pembagian’ yang paling tepat untuk lukisan panjang itu. Awalnya, karya yang diberi judul Symmetrical Sanctuary itu akan digunting menjadi 20 bagian agar ke-20 kolektor yang mendapat ‘tiket’ hadir di acara siang itu mendapat karya tersebut. “Tapi akhirnya dibagi 19 dan sistem pembagian berdasarkan undian,” kisah Syakieb Sungkar, salah satu kolektor yang ikut serta memperebutkan karya Christine Ay Tjoe, seminggu setelah acara itu. Undian, adalah wacana yang mengemuka dari lantai diskusi ketika keduapuluh kolektor melihat langsung karya yang ditawarkan. “Kalau dibagi 20, sepertinya akan membuat pemenggalan gambar jadi tidak pas dan lukisan justru kehilangan estetikanya,” begitu alasan yang mereka lontarkan. Potongan lukisan tetap genap menjadi 20 karena Ay Tjoe membuat satu lukisan terpisah yang awalnya ia maksudkan sebagai contoh potongan. Karya ini belakangan ikut diperebutkan untuk memenuhi kuota 20 lukisan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Interaksi Interaktif&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Minat tinggi untuk memiliki karya Ay Tjoe bukan fenomena baru dalam dunia seni rupa kontemporer. Karya perempuan cantik berkulit putih ini selalu jadi incaran para kolektor karena orisinalitas gagasan yang ia tawarkan. Angka acap bergerak sangat elastis ketika berhadapan dengan karyanya dan itu adalah fakta yang biasa. Pameran dan antusiasme memang hal yang pasti terjadi. Maka, ketika ia datang dengan ide mempertemukan para kolektor, banyak yang sangsi apakah itu bisa dilakukan. Sebab seperti yang selama ini diyakini, perburuan koleksi adalah serupa arena kompetisi, di mana semua orang ingin menjadi pemenang. Mereka harus berhadapan dengan satu hal tak kasat mata bernama: ego.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyatanya, di ruang diskusi itu, sebuah interaksi menarik terjadi. Mereka yang diragukan kesediaannya untuk duduk bersama, terbukti mau berkumpul dan sama-sama berbagi wacana. “Saya memang ingin menawarkan nuansa baru pada cara orang menikmati karya. Hal yang utama, di sini bukanlah tema melainkan interaksi yang terjadi antara mereka,” kata Ay Tjoe di sela-sela kesibukan menjawab pertanyaan para kolektor. Ia, Asmudjo Jono Irianto sang kurator, dan Rachel Ibrahim pemilik Sigi Arts memang berusaha tidak mengintervensi diskusi itu. Mereka hanya duduk mendengar dan sesekali menjawab atau memberi masukan pada diskusi yang berjalan sangat dinamis itu. Ketika perbincangan antar para kolektor itu mulai mengerucut pada soal bagaimana membagi karya Ay Tjoe, Rachel bahkan menarik Ay Tjoe dan Asmudjo keluar arena dan melipir ke ruang kantornya. “Supaya keputusan mereka benar-benar murni hasil diskusi. Kami sengaja tidak mau terlibat,” kata Rachel. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu bukan hal mudah menerapkan pola itu. Kebingungan terlihat jelas dalam sesi yang baru pertama kali diadakan ini. “Bagaimana menentukan bagian mana yang harus dipotong?” tanya seorang peserta diskusi. Ay Tjoe mengaku, “Sama sekali tak mudah memutuskan di bagian mana karya ini harus dipotong.” Itu sebabnya, ia memberi kesempatan pada ke-20 orang itu untuk menyimak dan menentukan sendiri bagian mana yang mereka sukai. Nyatanya, cara seperti itu cukup sulit menghasilkan kesepakatan. Bagaimana kalau satu bagian disukai beberapa orang sekaligus? “Justru itu yang saya harapkan. Jadi mereka harus berkompromi untuk mendapat jalan keluar,” katanya sambil tersenyum. Menurutnya, interaksi antar-kolektor itu sesungguhnya yang menjadi muatan utama pamerannya kali ini, “Lukisan hanya saya tempatkan sebagai sarana dan bukan obyek utama.”  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ziarah Hidup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Namun, kendati diposisikan tidak sebagai obyek utama, lukisan Ay Tjoe tetap saja jadi pusat perbincangan. Citra, tarikan garis dan pilihan warna yang ‘sangat Ay Tjoe’, mengundang berbagai penafsiran. Dalam dua puluh meter kanvas yang ia jadikan taman bermain ide-idenya, Ay Tjoe menyodorkan begitu banyak peluang penafsiran. Kekuatan garisnya yang ‘sangat grafis’ membentuk citra sarat makna. Ambiguitas terasa jelas pada tarikan garis dan pulasan warna, meruakkan paradoks yang begitu kuat. Introvert-ekstrovert, rapuh-tegar, banal-lembut, sederhana-kompleks, diam-lantang, dan beragam tarik menarik kutub mengundang berbagai interpretasi personal yang berbeda akan muncul antara satu orang dengan yang lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin Ay Tjoe tak bermaksud menuangkan begitu banyak paradoks ke dalam Symmetrical Sanctuary. Ia hanya bercerita tentang apa yang selama ini ia amati, alami, dan serap dari hidup –baik hidupnya, maupun pusaran kehidupan di sekelilingnya- untuk ia tuangkan kembali menjadi imaji yang bisa mewakili. Seperti yang diungkapkan Asmudjo dalam kuratorialnya, berkarya adalah katarsis bagi Ay Tjoe. Kecenderungan Ay Tjoe untuk melakukan pendekatan intuitif –berbeda dengan perupa lain yang cenderung menggunakan perencanaan visual yang pasti-  meniscayakan terjadinya percikan atau bahkan ledakan perasaan ke permukaan kanvasnya. Alih-alih bersuka ria dalam euforia realis yang tengah mendominasi ‘etalase’ seni rupa, Ay Tjoe memilih jalan sepi ke dalam dirinya, menziarahi, dan lantas menggali tumpukan-tumpukan kesan, pikiran, perasaan yang mengendap untuk kemudian menariknya satu persatu sebagai imaji multi-tafsir yang sangat mungkin lantar bersimetri dengan geliat jiwa penikmatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini diakui Ay Tjoe. Pada Asmudjo, ia mengatakan bahwa yang tertuang pada bidang panjang itu adalah rangkaian fragmen hidupnya yang terjadi dalam babak yang lantas ia sebut sebagai symmetrical sanctuary. “Sulit untuk dapat menduga sejak kapan fase ini berlaku dalam perjalanan hidupnya,” tulis Asmudjo. Maka buramlah batasan rentang masa lalu yang dikunjungi Ay Tjoe. Bisa setahun, dua tahun, sewindu, juga bisa saja satu atau dua dekade di belakangnya. Dalam ranah waktu, Ay Tjoe menarik kembali karyanya sebagai sebuah catatan personal yang hanya ia sendiri yang paham huruf dan simbol yang tertera di dalamnya. Ia pemegang kunci yang membiarkan orang yang berada di hadapan ‘buku’ itu untuk memprediksi secara bebas bicara tentang apa kisah di dalamnya. Menurutnya, memahami cerita adalah hal yang tak terlalu penting dilakukan oleh penikmat lukisannya. Ia mungkin lebih senang mengajak mereka menyimetrikan cerita, mengambil peran dalam kisah tersebut dan bersama-sama menyebut ‘kita’ untuk dirinya dan mereka. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(Indah S. Ariani) Foto: ISA&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5717489757531263022-4338543316852679606?l=indah-ariani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indah-ariani.blogspot.com/feeds/4338543316852679606/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://indah-ariani.blogspot.com/2010/03/memburu-simetri.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717489757531263022/posts/default/4338543316852679606'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717489757531263022/posts/default/4338543316852679606'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indah-ariani.blogspot.com/2010/03/memburu-simetri.html' title='MEMBURU SIMETRI'/><author><name>indahariani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01863084398389371134</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S5joGjEc2iI/AAAAAAAAAFs/giY1-nj4iUQ/S220/cemong.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S4-S2cKkwpI/AAAAAAAAAFE/pKnKvc6XDlA/s72-c/16,+Menyimak+Symmetrical+Sanctuary.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5717489757531263022.post-4284096870478304150</id><published>2010-03-04T01:52:00.001-08:00</published><updated>2010-03-04T02:16:19.601-08:00</updated><title type='text'>Dunia Kata  DIAN &amp; LEILA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S4-IWOcpxkI/AAAAAAAAAEM/oR6gnOeJd0k/s1600-h/Dian-Leila.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 222px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S4-IWOcpxkI/AAAAAAAAAEM/oR6gnOeJd0k/s320/Dian-Leila.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5444720389930993218" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dunia Tanpa Koma menghubungkan mereka. Kirana membuktikan bahwa keduanya teman sejiwa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima tahun silam, sebuah keyakinan mampir di benak Leila S. Chudori ketika mulai membuat konsep mini seri Dunia Tanpa Koma (DTK). Sejak awal, ia sudah memastikan,  Dian Sastro sebagai orang yang paling tepat memerankan Raya, wartawan cerdas rekaannya. Rasa sangsi sempat melintas di benak Leo Sutanto produser mini seri itu, tapi Leila tak surut. Di peluncuran Ungu Violet, sejilid skenario diangsurkan ke tangan Dian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mini seri 14 episode itu juga menandai dimulainya jalinan persahabatan antara Dian dan Leila. Kedekatan terjalin tak hanya karena kerja mereka. Banyak hal di luar pekerjaan yang mereka perbincangkan. Dari mulai kondisi politik internasional, hingga kepiawaian memasak si Mbok di rumah Leila. Sementara itu, kerjasama terus berlanjut. Drupadi, sebuah film pendek yang dibintangi Dian, adalah hasil kolaborasi mereka berikutnya. Film yang disutradari Riri Riza itu menangguk banyak perhatian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun lalu, ketika Leila meluncurkan kumpulan cerpennya, 9 Dari Nadira, mereka membuat produksi teater bersama. Diselenggarakan oleh Yayasan Dian Sastro, acara peluncuran buku yang di gelar di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki itu menjadi sangat berbeda. “Saya memang tidak mau acaranya sekadar baca cerpen. Lalu terpikir untuk mengadopsi salah satu cerita menjadi naskah teater,” kata Leila.  Berpasangan dengan Lukman Sardi, Dian tampil cemerlang. Penampilan mereka menangguk banyak pujian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Saat bertemu pertama di DTK, sudah pernah bertemu sebelumnya?&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dian Sastrowardoyo (DSW):&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Belum pernah, tapi saya sudah seringkali mendengar nama Leila Chudori dari ibu saya. Menurutnya, Mbak Leila adalah salah satu teman baik ayah. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Leila S. Chudori(LSC):&lt;/span&gt; Bayangkan, saya dulu berteman dengan ayahnya, sekarang dengan anaknya, hahaha. Dulu, ayahnya itu teman dekat kakak saya. Waktu awal kenal, Dian memanggil saya Tante, karena mamanya menyuruh dia memanggil begitu pada saya. Tapi saya keberatan dan meminta Dian memanggil Mbak saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi hubungan itu sebenarnya sudah dimulai jauh sebelum kerjasama dimulai, ya?&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;DSW:&lt;/span&gt; Iya, lewat orang tua saya dan kakak Mbak Leila. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;LSC:&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Bahkan juga lewat eyang Dian, Pak Subagio Sastrowardojo, saya sudah kenal lama, ketika beliau mendirikan Yayasan Lontar bersama Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono, John McKlein, dan beberapa orang lainnya. Jadi begitu Dian muncul di film pertamanya, Bintang Jatuh, saya langsung bertanya-tanya, anak ini siapanya Pak Subagio dan Marina Sastrowardoyo (Tante Dian-red), ya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Di luar urusan kerja, apa yang biasanya Anda berdua bicarakan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;LSC:&lt;/span&gt; Banyak hal. Sering Dian menelepon saya sekadar untuk berdiskusi tentang hal-hal yang menarik perhatiannya, seperti konflik Palestina, atau urusan pribadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Interaksi seperti apa yang diperoleh dari hubungan ini?&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;DSW:&lt;/span&gt; Saya merasa bisa bertukar pikiran dengan orang yang punya logika berpikir yang sama dengan saya. Mbak Leila berasal dari keluarga yang cara berpikirnya tidak jauh berbeda dengan cara berpikir keluarga saya. Jadi saya seperti bertemu dengan anggota keluarga lainnya. Saya seperti bertemu Tante atau sepupu yang jauh lebih dewasa.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;LSC:&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Hahaha, “Tante”? Tapi memang, waktu pertama kali bertemu di DTK, Dian berusia 27 tahun dan itu artinya kami berbeda usia tepat 20 tahun. Umur saya memang jauh lebih dekat dengan ibunya. Tapi jarak itu tidak terlalu jadi kendala. Kalau saya melihat keputusan-keputusan hidup Dian, saya pikir, keputusan itu memang yang seharusnya diambil oleh orang seusianya.     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bagaimana kerjasama Anda bisa berlanjut hingga sekarang?&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;LSC:&lt;/span&gt; Semua berawal dari DTK. Sejak membuat konsep naskah, saya sudah membayangkan Dian yang harus memerankan tokoh Raya. Saya bilang pada produser dari Sinemart, Leo Sutanto dan dia menyambut baik. Dia bilang, bagus sekali kalau bisa menarik Dian, karena dia susah sekali diajak membintangi sinetron.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;DSW:&lt;/span&gt; Saya bekerjasama dengan Mbak Leila selalu berhubungan dengan tulisan. Kalau tidak urusan script film, script serial, atau buku. Saya biasanya ‘jauh jodoh’ sama penulis. Banyak penulis di Indonesia, tapi jarang sekali yang saya langsung merasa cocok dengan tulisannya. Gaya penulisan Mbak Leila bagi saya distinctive sekali, gaya bahasanya, saya banget! Saat pertama membaca naskahnya, saya langsung berpikir, “Ok, saya mengerti jalan logikanya. Cara orang menulis itu kan cara orang berbahasa. Cara orang berbahasa itu cara orang berpikir dan saya rasa, saya suka sekali dengan caranya berpikir. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kenapa saat itu yang terpikir adalah Dian?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;LSC:&lt;/span&gt; Tokoh dalam mini seri itu, Raya, adalah perempuan cerdas yang juga punya kelemahan. Dia seperti manusia cerdas lainnya yang menginginkan hal baik, tanpa sadar kalau ada wilayah di luar dirinya yang terlanggar. Saya membayangkan, yang bisa memainkannya adalah dia.  Pak Leo sampai memikirkan bagaimana strategi agar Dian mau bermain. Lalu saya membuat treatment lebih panjang, menyerupai script. Kami memberikan treatment itu di peluncuran film Ungu Violet. Saya tidak sempat kenalan juga saat itu, karena ramai sekali, dan saya tidak terlalu senang berada dalam kerumunan, kecuali untuk tugas reportase. Saya tidak tahu kalau treatment itu benar-benar diberikan pada Dian saat itu. Dua hari kemudian, Wisnu, manajer Dian menelepon saya dan memberitahu bahwa Dian bersedia main dalam mini seri kami. Dia bilang, selama ini belum pernah mendapat naskah sinteron seperti yang saya buat. Dia banyak tanya pada saya bagaimana agar bisa masuk ke dalam peran ini dengan baik. Saya menawarkan Dian untuk observasi kerja wartawan di kantor majalah Tempo. Dian sempat tandem dengan saya bekerja di Tempo selama beberapa hari. Dia ikut rapat redaksi, dan tur berkeliling ke redaksi sampai percetakan. Saya melihat itu sebagai bukti kesungguhannya dalam dunia peran. Dari situ kami merasa cocok. Dalam banyak kesempatan, dia juga memberi banyak masukan pada saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Apakah improvisasi yang Dian lakukan sesuai dengan apa yang Anda bayangkan?&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;LSC:&lt;/span&gt; Iya. Dian juga sangat kritis. Dia jauh lebih berpengalaman dari saya dalam dunia film. Maka masukan-masukannya, memperkaya wawasan saya di bidang film. Dia termasuk orang yang peduli pada produk, jadi ketika dia terlibat dalam sebuah produksi, biar pun hanya sebagai pemain, ia peduli dan ikut memikirkan bagaimana agar film itu bagus. Kalau ada jalan cerita yang aneh, dia pasti langsung bertanya, kenapa begini. Saya menghargai itu. Itu penting buat saya. Mungkin tidak semua kreator suka mendapat masukan seperti itu. Dian selalu ingin  ending yang membuat bangga semua orang. Buat orang yang tidak terbiasa dengan kekritisan, Dian akan dianggap sebagai orang yang sok tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain karena chemistry yang nyambung, apa ada alasan lain yang membuat kerjasama Anda berdua terjalin begini baik dan panjang?&lt;br /&gt;LSC: Saya sudah tahu how she is, mostly biarpun kami tidak ketemu tiap hari. Maksudnya, saya sudah tahu dia akan bereaksi bagaimana seperti juga dia sudah tahu saya akan bereaksi seperti apa ketika menanggapi hal-hal tertentu. Hal lainnya, saya kan single mother, Dian juga dibesarkan oleh seorang single mother. Ada banyak hal yang saya pelajari dari dia dalam menanggapi persoalan-persoalan tertentu    dan bagaimana saya menghadapi anak saya karena saya membesarkan anak saya sendirian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara Dunia Tanpa Koma ke kerjasama berikutnya, Drupadi, dan lalu yang terbaru kemarin, Kirana, Anda berdua tetap berhubungan?&lt;br /&gt;LSC: Iya. Beberapa kali kami punya rencana kerjasama. Tapi sering tidak jadi.  Ada saja kendala yang membuat kerjasama itu tidak jadi. Baru pada saat Drupadi, kerjasama kami terjalin lagi. Lalu yang terakhir Kirana. Tadinya saya tidak bermaksud membuat pertunjukan ini. Saat saya bicara pada Wisnu, manajer Dian, saya hanya ingin bertanya bagaimana cara kalau ingin bikin acara di Goethe (Goethe Institut-Jakarta-red). Wisnu malah menawarkan diri membantu saya mengurusi semua. Saya bilang padanya, kalau saya tidak ingin acara peluncuran buku ini hanya berisi pembacaan cerpen karena cerpen saya panjang dengan kalimat-kalimat yang juga panjang. Lebih menarik kalau dibuat seperti teater. Dian awalnya bilang tidak bisa tampil karena ia memang sedang sibuk kerja. Tapi setelah skenarionya jadi, Dian bilang kalau ia siap bermain. Kami lalu memilih Arswendi sebagai sutradaranya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari semua kerjasama yang pernah di lakukan, mana yang paling berkesan?&lt;br /&gt;DSW: Kalau saya pribadi, yang terakhir kemarin, 9 Dari Nadira. Ketika saya berperan menjadi Kirana. Karena itu proyek yang kami persiapkan secara kilat. &lt;br /&gt;LSC: Oya? Saya malah menyangka Dian tidak menikmati karena dia sempat nggak pe-de berteater dan memang terlihat agak nervous. Saya sampai berpikir, “Dian enjoy nggak ya?” Baru pada gladi resik terakhir saya lihat Dian sudah terlihat mulai rileks. Saat pertunjukan, Goenawan Mohamad bilang pada saya, kalau Dian dan Lukman Sardi bermain sangat baik.    &lt;br /&gt;DSW: Memang. Itu sebabnya, ketika pentas dan semua berlangsung lancar, saya kaget dan gembira sekali. Sampai gladi resik pun, saya masih susah menghapal naskah. Akting Lukman juga memang luar biasa. Dia, saat itu, bisa membuat saya melihat padanya dan benar-benar merasa kalau dia adalah suami saya. Begitu kuat aktingnya hingga saya terbawa masuk dan bisa mengimbangi. &lt;br /&gt;LSC: Saya terpaku di bangku sampai akhir pertunjukan, padahal saya harus segera naik panggung untuk memberi bunga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat Anda, mana yang paling berkesan?&lt;br /&gt;LSC: Saya suka DTK dan Kirana. Tapi bagi saya, yang paling berkesan justru ketika DTK. Mungkin karena itu pertama kalinya saya terlibat produksi film. Biasanya saya selalu bekerja secara soliter. &lt;br /&gt;DSW: Iya, saya pun pertama kalinya terlibat pembuatan film televisi. Dan hanya Mbak Leila yang bisa bikin saya main mini seri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang kabarnya Anda berdua sedang mengerjakan buku?&lt;br /&gt;DSW: Kami mau membukukan skripsi saya. &lt;br /&gt;LSC: Sebenarnya sudah lama, tapi saya saja yang belum sempat menyelesaikan editing, jadi tertunda terus peluncurannya. Mudah-mudahan bisa tahun ini. Tunggu saja. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(Indah S. Ariani), Fotografer: Arino Mangan, Pengarah Gaya: Karin Wijaya, Tata Rias Wajah &amp; Rambut: Oscar Daniel, Busana Dian Sastro: Tomodachi, Lokasi: Bibliotheque&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5717489757531263022-4284096870478304150?l=indah-ariani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indah-ariani.blogspot.com/feeds/4284096870478304150/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://indah-ariani.blogspot.com/2010/03/dunia-kata-dian-leila.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717489757531263022/posts/default/4284096870478304150'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717489757531263022/posts/default/4284096870478304150'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indah-ariani.blogspot.com/2010/03/dunia-kata-dian-leila.html' title='Dunia Kata  DIAN &amp; LEILA'/><author><name>indahariani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01863084398389371134</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S5joGjEc2iI/AAAAAAAAAFs/giY1-nj4iUQ/S220/cemong.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S4-IWOcpxkI/AAAAAAAAAEM/oR6gnOeJd0k/s72-c/Dian-Leila.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5717489757531263022.post-8444002794153332542</id><published>2010-02-08T04:46:00.000-08:00</published><updated>2010-02-08T05:11:17.252-08:00</updated><title type='text'>DIMENSI DINAMIS SHIERLY NANGOY</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S3ANaVFsFUI/AAAAAAAAAEE/oN-DUGxlzWo/s1600-h/D+39.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 214px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S3ANaVFsFUI/AAAAAAAAAEE/oN-DUGxlzWo/s320/D+39.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5435859496224953666" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pergerakannya di dunia kecantikan tak mengungkungnya hanya dalam satu dimensi saja. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Di balik perjalanan panjang produk perawatan rambut Makarizo meretas pasar, ada seorang perempuan cantik yang bekerja penuh cinta. Shierly Nangoy. Cintanya yang demikian besar pada kecantikan, membuat perempuan Leo ini menyerahkan diri utuh-utuh pada segenap kesibukan yang membuatnya hanya punya sedikit sekali waktu untuk dirinya sendiri setiap hari. “Me time saya adalah satu jam membaca buku sebelum tidur,” katanya. Dan itu cukup baginya untuk me-recharge energi dan kembali bergumul dengan segala meeting dan perjalanan bisnis keesokan harinya dengan tubuh segar dan binary wajah benderang. “Kerja saya baru mereda pada Jumat sore. Hari lainnya, tak jarang saya melakukan meeting bersamaan di tiga ruang di kantor kami,” katanya sambil tergelak menceritakan harinya yang padat. Shirley seperti tak punya kata lelah dalam kamusnya. Energi positif meruap dari binar wajahnya yang selalu benderang. “Saya selalu percaya, alam akan menangkap apa yang kita pikirkan,” ungkapnya mantap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keyakinan yang terbukti mampu mempercepat guliran roda bisnis Makarizo yang kini menjadi salah satu pemain penting dalam dunia perawatan rambut di Indonesia. Sebelas tahun silam, Shierly bergabung dengan perusahaan perawatan rambut yang tengah ingin melakukan pemetaan ulang produknya di kancah kecantikan tanah air. Ketika itu, Makarizo, produk yang meski sudah cukup lama dibawa masuk ke Indonesia, belum juga berhasil ‘menyisir’ pasar dan menjejakkan citranya secara ajeg. Produk perawatan yang formulasinya dibuat sebuah perusahaan farmasi Jerman itu seperti selalu menginjak lahan gambut yang labil hingga sulit untuk menanam dan membiakkan bisnisnya. “Saat itu, perusahaan kami masih sangat kecil. Saya harus berjalan dengan hanya sekitar 14 karyawan,” ungkap Shirley mengenang. Dengan hanya memiliki 18 varian perawatan, Makarizo kala itu memang menjadi bukan siapa-siapa di tengah arena kecantikan yang mulai banyak diisi pemain lain, baik produk lokal maupun internasional.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alih-alih gentar, Shirley justru menganggap ‘kekecilan’ perusahaannya sebagai sebuah keuntungan. “Kami bisa bekerja dengan lebih solid dan kompak,” katanya. Berangkat dengan ilmu manajemen hasil kuliah di Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran, ia percaya, hanya inovasi yang bisa mengentaskan Makarizo dari pinggir arena. Shierly juga meyakini bahwa setiap hal dalam hidup memiliki keunikan masing-masing, begitu juga ketika bicara tentang sebuah produk. “Dalam bayangan saya, inovasi juga tidak melulu sekadar persoalan teknologi. Bicara tentang perawatan rambut, formulasi tentu jadi jualan utama. Pergerakan inovasi sudah pasti jadi indikasi kemutakhiran sebuah produk. Jadi ini tidak bisa diganggu gugat, harus dimiliki Makarizo,” katanya. Yakin dengan daya saing formulasi dan teknologi yang dimiliki produknya, Shierly lantas beranjak menuju ruang lain yang menurutna juag penting dikembangkan. “Kami lalu mencoba membuat riset untuk mengetahui consumer behavior yang tentu akan sangat membantu kami membaca peta pasar,” ungkapnya.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka ia berdayakan tim kecilnya itu untuk melakukan kerja-kerja besar untuk mengejar target yang ia dan perusahaannya canangkan. “Saya bilang saat itu, yang paling mungkin kami lakukan adalah membuka pasar baru bagi Makarizo, dan bukan merebut pasar produk lain,” katanya mengenang. Dengan hanya satu trainer yang dimiliki, Shierly yang pada 1998 itu menjabat sebagai general manager, memberanikan diri menggelar pelatihan buat pemilik salon yang menggunakan produk mereka. “Namanya masih baru, susah sekali mengajak orang ikut pelatihan yang kami adakan. Jangankan setengah dari jumlah peserta satu pelatihan sekarang yang bisa mencapai 500 orang untuk tiap event, 100 orang saja tidak sampai. Itu pun kami harus juga menjemput mereka ke tempat,” kisahnya diiringi tawa. Konsistensi yang pantang menyerah itu nyatanya berbuah. Peluang yang ada memang harus dijawab bukan hanya dengan asset perusahaan semata. “Harus ada misi yang mengedepankan nilai kemanusiaan. Sebab, kami memang membutuhkan semangat banyak sekali orang untuk menggulirkan terus roda bisnis ini,” katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat slogan Funtastic yang dipilih sebagai penyemangat, Shierly bergerak. “Kerja hanya jadi menyenangkan bagi semua orang ketika ada kemajuan bersama yang bisa diraih. Bukan cuma soal menaikkan omset penjualan dan mendapat laba sebanyak-banyaknya,” kata ibu tiga anak kembar –Nicole, Stephanie, dan Alexander- ini. “Kami selalu berupaya menjadikan kerja sebagai sesuatu yang menyenangkan bagi setiap orang. Tim kecil dan tim besar sama saja, fun itu menjadi keharusan. Tidak boleh kerja hanya menyenangkan dalam tim kecil. Bahkan dengan tim besar pun harus sama menyenangkannya,” ungkapnya. Lalu apa makna Funtastic yang ia terapkan? “Selain fun, kerja juga harus didukung elemen lain untuk bisa mencapai hasil maksimal, yakni trust worthy, attitude yang harus dilandasi pola piker positif, dan self motivation. Team work juga merupakan hal penting yang harus dijaga. Harus ada penghargaan yang layak, yang akan membuat semua orang dalam tim merasa dihargai, sekecil apa pun perannya. Setelah itu, Innovation dan Communicate precisely yang kalau digabungkan akan membentuk tim yang Funtastic,” katanya menjelaskan filosofi kerja ia dan timnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shierly sangat percaya bahwa semua orang baik, dan akan memberikan yang terbaik pula bila dihargai secara layak. Maka, perempuan yang pernah bekerja di Sinar Mas dan Sariayu ini mengaku sudah sejak lama membuang kata tersinggung dari kamus hidupnya. “Saya yakin, kalau mau dilatih, hati kita bisa sangat lentur menerima apa pun yang masuk ke dalamnya,” katanya. Bukan hal mudah tentu. Tapi ia punya kiat jitu menghalau rasa tak nyaman yang dating ketika ada banyak hal di luar dirinya yang membuat ia gusar. “Saya melatih kemampuan saya melihat segala hal secara dimensional. Dimensi itu bisa detail dan global, past, present, dan future, juga persamaan dan perbedaan. Latihan ini sejauh yang saya rasakan, membuat saya sangat fleksibel memandang sesuatu,” katanya. Hal lain yang ia rasakan sebagai manfaat berlatih melihat dimensi itu adalah hidup yang menjadi ringan tanpa beban stres. “Karena kita jadi mudah mengadjust kondisi tidak ideal menjadi ideal,” sambungnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Berhasil membawa Makarizo sejauh ini, Shierly seperti membuktikan bahwa ada sedikit pandangan keliru tentang langkah pertama. Umumnya, orang meyakini kalau langkah pertama adalah yang utama, yang sangat menentukan sukses tidaknya sebuah pekerjaan. “Pengalaman saya di sini membuktikan bahwa langkah pertama bukan segalanya. Dengan konsistensi dan inovasi yang secara tekun dilakukan, langkah pertama yang kurang tepat bisa diperbaiki dengan hasil pencapaian yang di luar dugaan,” jelasnya. Baginya, daya tahan menghadapi tantangan merupakan hal yang sangat berpengaruh. “Berhenti berarti mundur. Bukan karena berjalan ke belakang, melainkan karena orang-orang di sekitar kita bergerak maju melampaui posisi kita berdiri,” katanya sedikit berkias. Hal itulah yang lantas diterapkan perempuan yang kini menjabat Group General Manager di Makarizo untuk target perusahaan. “Harus selalu maju dengan inovasi yang konsisten. Berhenti berarti mundur dan saya sangat optimis kami bisa terus berjalan maju,” ucapnya mantap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah bekerja di perusahaan pulp and paper, membuat dunia kecantikan seperti surga baginya. “Bagaimana tidak, bergerak di bidang kecantikan membuat saya hanya bertemu yang indah dan menyenangkan sepanjang hari, semelelahkan apa pun,” tukasnya seraya tertawa. Ini pula yang ia akui menjadi amunisi semangatnya. Namun, kendati hamper selalu bekutat dengan hal-hal yang bersifat fisik, Shierly justru percaya bahwa kecantikan dan kesehatan sejati tertanam di dalam, dan bukan permukaan tubuh. “Semua perempuan bisa jadi cantik kalau dia mau bukan hanya menghias wajah dan tubuh, tapi juga mengisi hati dan jiwa. Semua harus dikembalikan ke dalam,” katanya tanpa maksud mereduksi arti penting perawatan kecantikan. Shierly sendiri, boleh jadi adalah pengejawantahan definisi cantik yang ia buat. Tubuh ramping bebas lemak –ini pernah dibuktikan ketika ia melakukan tes penghitungan lemak yang membuat petuga yang menghitung kadar lemaknya tercengang dan berpikir bagaimana ada tubuh perempuan yang berkadar lemak nihil-, kulit sehalus pualam, tatanan rambut dan rias wajah prima membuat penampilan Shirley layak mendapat nilai sempurna. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengaku tak punya resep apa pun. “Saya hanya berusaha makan dan tidur teratur, juga menghindari makanan berminyak,” katanya berbagi kiat. Jam tidurnya tetap dalam sehari, “Sesibuk apa pun, saya tidak pernah mengurangi jam tidur. Saya menetapkan enam jam sebagai waktu tidur. Tidak boleh kurang dari itu.”   Selain itu, tidak ada upaya berlebih yang ia lakukan untuk menjaga kecantikan. “Kalau untuk kesehatan, saya juga rutin berenang,” cerita Shierly yang menyukai garis-garis sederhana busana rancangan Cavalli dan Marciano, serta sepatu dan tas Louis Vuitton. Untuk statemen fashion Shierly memang mengaku sebagai orang yang cenderung memilih gaya aman. “Saya agak konservatif terutama untuk pemilihan warna. Kalau nggak putih, pilihan saya akan jatuh pada hitam, coklat dan biru. Selain aman, warna-warna itu rasanya kok lebih cocok untuk kulit saya,” katanya serius. Namun bukan berarti ia anti tren. “Saya juga mengikuti perkembangan tren. Tapi saya memilih hanya yang pas buat saya dan itu adalah desain yang umumnya biasa-biasa saja. Bagi saya yang penting terlihat pantas dan rapi, karena ketika kita berpakaian rapi, kita bukan hanya menghargai diri sendiri, tapi juga orang lain yang kita hadapi,” jelasnya. Bila Shierly kebingungan mendefinisikan gaya busananya, Oktarina, public relation executive Makarizo yang juga  dengan mudah menggambarkan penampilan atasannya sebagai sophisticated. “Selalu enak dilihat,” ungkap Rina tentang atasannya yang juga gemar belanja. “Saya senang cuci mata dan melihat barang-barang bagus. Mungkin ini sama seperti senangnya saya bekerja di dunia kecantikan. Semuanya bicara tentang hasil, “katanya ringan, diikuti tawa renyah.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar penampilan, isi kepala juga selalu jadi salah satu perhatian utamanya. “Jangan Cuma penampilan yang dipikirkan. Pengetahuan baru juga harus selalu ditambah,” katanya. Itu sebabnya, ia tak pernah bisa melewatkan satu hari pun tanpa buku yang menemani ke mana pun ia pergi. Ia membaca apa saja, mulai dari buku marketing, leadership hingga spiritual. “Tiap orang pasti akan punya kebutuhan bacaan yang sangat personal, mengikuti perkembangan mereka. Dalam kasus saya, perkembangan itu juga terlihat jelas dan sangat saya sadari. Dulu saya suka sekali buku-buku marketing, lalu leadership dan sekarang spiritual. Pada satu titik, manusia memang akan selalu membutuhkan kelengkapan bagi jiwa dan hidupnya, kan?” tanyanya retoris. Di luar ‘me time’ satu jam sehari yang ia isi dengan ‘berkencan’ bersama buku-bukunya, Shierly menghabiskan waktu luangnya dengan bercengkrama bersama keluarga. “Membayar waktu saya yang lebih banyak habis untuk pekerjaan. Anak-anak juga makin besar dan makin lucu,” katanya tentang dua putri –Nicole, Stephanie- dan satu putra –Alexander- kembar yang ia peroleh lewat program bayi tabung. “Mereka sangat kritis dan seringkali saya dapat pelajaran dari interaksi antara saya dan anak-anak,” katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia berkisah, ketika menonton film Christmas Carol bersama ketiga buah hatinya akhir November silam, Shierly yang takut ketiga anak kembarnya itu terpengaruh fantasi berlebihan dalam film itu mengajak mereka berdiskusi. “Saya waktu itu mengumpakan film itu seakan-akan menjadi sesuatu yang terjadi dalam dunia nyata. Tentang eksistensi hantu baik dan hantu jahat yang berasal dari orang baik dan orang jahat. Bukannya menyetujui pendapat saya, Nicole justru menyanggah saya untuk tidak percaya karena menurutnya itu hanya imajinasi dalam film saja. Saya jadi tertawa dalam hati, ternyata anak-anak lebih dewasa dari yang saya duga,” kisah Shierly yang mengaku tak repot punya tiga anak sekaligus. Meski sempat jeri, ia tak sempat lama mengalami rasa panic, “Soalnya bala bantuan segera dating begitu ketiga bayi saya lahir. Ibu, mertua dan adik saya berebut membantu merawat mereka,” kisahnya.  Shierly memang tak perlu panik. Sebab hidupnya yang penuh dinamika senantiasa berputar dalam orbitnya. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(Indah S. Ariani), Foto: Dennie Ramon, Pengarah gaya: Dany David, Rias wajah &amp; rambut: Tim artistik Makarizo, Busana: Koleksi pribadi, Lokasi: Macaroon, Perenials, Plaza Indonesia. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5717489757531263022-8444002794153332542?l=indah-ariani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indah-ariani.blogspot.com/feeds/8444002794153332542/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://indah-ariani.blogspot.com/2010/02/dimensi-dinamis-shierly-nangoy.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717489757531263022/posts/default/8444002794153332542'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717489757531263022/posts/default/8444002794153332542'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indah-ariani.blogspot.com/2010/02/dimensi-dinamis-shierly-nangoy.html' title='DIMENSI DINAMIS SHIERLY NANGOY'/><author><name>indahariani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01863084398389371134</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S5joGjEc2iI/AAAAAAAAAFs/giY1-nj4iUQ/S220/cemong.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S3ANaVFsFUI/AAAAAAAAAEE/oN-DUGxlzWo/s72-c/D+39.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5717489757531263022.post-3689145622263025166</id><published>2009-12-02T02:21:00.000-08:00</published><updated>2009-12-02T02:33:34.818-08:00</updated><title type='text'>PANGGUNG BARU RATNA &amp; ATIQAH</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/SxZBrjz4qEI/AAAAAAAAAD4/jyqKE3bWprQ/s1600-h/dewi-013rtsm.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 213px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/SxZBrjz4qEI/AAAAAAAAAD4/jyqKE3bWprQ/s320/dewi-013rtsm.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5410584218935273538" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Berdua, mereka bahu membahu membangun impian akan masa depan perfilman Indonesia yang lebih cerdas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Sahabat, aku pamit ke Mumbai untuk kasih keynote speech di sebuah kongres perempuan yang berlangsung di sana, lalu ke Rome untuk Festival Asiatica Filmmediale. Doain Jamila memang, siapa tahu berpengaruh pada posisi Jamila sebagai wakil Indonesia di Oscar. Salam, Ratna.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah SMS bertanggal 31 Oktober 2009 yang diterima beberapa orang dalam lingkup pertemanan Ratna Sarumpaet, akan segera dapat mengabarkan gairah baru yang tersimpan dalam diri pemain teater kawakan itu. Jamila yang disebut-sebut Ratna dalam SMS itu maksudnya adalah Jamila dan Sang Presiden (JDSP),  judul film perdana yang diluncurkan Satu Merah Panggung (SMP), rumah produksi yang merupakan pemekaran dari kelompok teater yang dibentuk Ratna puluhan tahun silam. Film adalah ranah karya baru yang dimasuki teater yang identik dengan pertunjukan bertema perlawanan. Berkisah tentang perdagangan perempuan, JDSP merangkum kegetiran yang sarat gugatan, layaknya karya Ratna di panggung teater. Kali ini di panggung yang berbeda: layar film. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama putri bungsunya, Atiqah Hasiholan, Ratna mantap menyongsong era baru masa depan teater yang begitu selalu berada di belakang perlawanan Ratna terhadap kemapanan. Kondisi sulit, acap menghadang Ratna sebab pilihan sikapnya. Mulai dicekalnya pertunjukkan, hingga jeruji penjara. Atiqah tahu benar risiko yang harus diambil ibunya demi apa yang diyakini. Maka tak sekali pun Atiqah surut mendukung ibunya dengan cinta. Tak hanya sekadar menjadi pemain andalan SMP, Tiqah yang memerankan Jamila kini terjun langsung mengelola rumah produksi yang menghasilkan film yang kini tengah berkelana di berbagai festival film dunia.     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Atiqah diproyeksikan untuk menjadi penanggung jawab Satu Merah panggung kelak? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Atiqah Hasiholan(AH):&lt;/span&gt; Sebenarnya, tanpa diproyeksi, semua sudah mengalir sendiri. Kami sudah sama-sama berjalan ke arah itu. Jadi saya tidak merasa terbebani. Kebetulan itu memang dunia yang saya sukai dan saya punya passion di situ. Saya malah bersyukur karena sudah punya wadah yang dipersiapkan oleh ibu saya selama puluhan tahun dan jadi tanggung jawab saya. Saya ingin membuktikan kemampuan, baik untuk Umi mau pun diri saya sendiri. Hidup itu kerja, bukan? &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ratna Sarumpaet (RS):&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Saya nggak perlu bicara sesuatu secara eksplisit padanya karena seringkali, Tiqah sudah berjalan lebih jauh dari apa yang saya duga. Sekarang ini, Tiqah menjadi produser di rumah produksi Satu Merah Panggung. Satu-satunya yang bisa saya wariskan pada anak-anak dan kebetulan Tiqah yang paling dekat dengan itu. Saya nggak akan minta dia untuk melakukan misalnya menjadi sutradara teater dan sebagainya. Tapi saya hampir yakin, bersama waktu, Tiqah akan tahu mengelola itu. Dalam beberapa percakapan saya dengannya, saya tahu dia sudah di sana. Saya tidak merasa perlu membuat perjanjian hitam di atas putih untuk meminta komitmennya pada Satu Merah Panggung, tapi saya merasa, dia sudah di sana. Satu yang saya harapkan dari dia adalah dia bisa meletakkan dirinya di dunia perfilman tidak dipengaruhi ambisi yang ada dipermukaan saja, supaya potensinya tidak mubazir. Tapi saya nggak mau membebani Atiqah untuk jadi seperti saya karena mungkin saja dia malah bisa berjalan lebih jauh daripada saya. Tugas saya adalah memberikan spirit baginya. Saya punya cita-cita, meskipun nanti saya sudah mati, SMP akan tetap bisa dihormati orang dan tetap bisa memberikan karya-karya yang signifikan secara kualitas baik kualitas kreatif juga misi. Saya tidak pernah membuat karya tanpa misi sebab itulah yang menurut saya paling penting. Kalau sekadar berani buka baju, atau bicara pornografi, itu keberanian yang masih sangat dangkal menurut saya. Tapi saya juga tidak membahas itu dengan Tiqah karena saya tahu, dengan apa yang dia lihat dari diri saya, dia mungkin berpendapat ‘ah, ini bukan ruang saya’. Tapi nggak tahu juga Tiqah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Jamila dan Sang Presiden karya pertama rumah produksi Anda?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;RS&lt;/span&gt;: Ya. Karya pertama yang diluncurkan oleh rumah produksi kami, juga karya pertama saya sebagai penulis skenario dan sutradara. Walau pun tidak terlalu laku di pasar film tanah air, film ini disambut baik terlihat dari animo di berbagai festival internasional. Film ini akan mewakili Indonesia di ajang Academy Award mendatang. Buat saya, yang penting bukan Oscar-nya, tapi bahwa Indonesia memilih JDSP sebagai wakil di Academy Award itu buat saya kemajuan. Pengakuan bahwa kita butuh bicara tentang peradaban, tidak lagi hanya sekadar bicara tentang hal-hal artsitik yang menurut saya sudah seharusnya disajikan oleh seorang pembuat film. Itu standar. Karya yang bisa menjadi lebih, menurut saya adalah, ketika karya itu juga berbicara tentang peradaban, jadi bukan sekadar dongeng yang dirangkai dari mimpi. Saya memilih satu cerita yang bisa menyiram orang untuk berpaling pada soal peradaban dan memahami, bagaimana kemiskinan membuat orang berubah dalam kultur. Tapi ini memang konsep pribadi saya yang mungkin berbeda dengan konsep SMP yang berfokus pada pembuatan karya yang baik. Untuk rumah produksi mungkin akan berbeda dengan teater. Rumah Produksi harus bisa membuat film cerdas, tapi juga laku dijual. Ini tantangannya. Dia (sambil menunjuk Atiqah) yang harus cari duit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Anda berdua sempat menyinggung soal perdebatan yang acap terjadi. Sehebat apa perdebatan yang terjadi di antara Anda berdua selama proses produksi berlangsung?&lt;br /&gt;AH&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;: Umi itu orangnya sering keras pada awalnya. Tapi kalau diberi waktu berpikir, dia akan bisa menerima, sekeras apa pun bantahannya di awal perdebatan. Kalau bicara sama Umi memang harus ‘muka tebal’. Kebetulan, saya termasuk orang yang sangat cuek dan konsisten. Kalau sudah A ya A, B ya B. Saya straight forward saja. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;RS&lt;/span&gt;: (Tiba-tiba memotong dan mengabaikan gerutu protes Atiqah yang merasa giliran bicaranya diambil sang Umi) Dalam hal ini, yang membuat sangat sulit adalah saya dan Atiqah ada di pihak yang berseberangan. Dia produser, saya sutradara. Saya punya kebutuhan banyak dan dia larang saya terus. Ini membuat kami berdamai. Yang menyulitkan saya adalah karena dia juga pemain. Saya nggak mau karena dia stress sebagai produser, ekspresinya jadi jelek. Tapi saya harus terima semua protesnya karena pembengkakan biaya yang terjadi di lapangan, kan? Kalau sebagai pemain, dia saya lepas. Kalau pun ada kritik, saya bisa dengan santai menyampaikannya di kamar. Yang banyak membuat kami sikut-sikutan dan sangat mungkin mempengaruhi proses produksi justru dari posisisnya sebagai produser.&lt;br /&gt;AH: Terlepas dari produser atau nggak, ini kita bicara secara general. What I said? Umi itu orangnya keras. Nggak banyak yang bisa kasih masukan buat Umi. Dengan sikap Umi yang keras begitu, orang sudah mundur duluan. Untungnya, saya ‘muka tebal’. Straight forward saja kalau bicara. Terserah Umi nggak setuju atau kesal dengan apa yang saya sampaikan. Umi selalu butuh waktu sebelum akhirnya setuju dengan pendapat saya. Kalau orang lain, begitu didebat Umi, langsung malas menanggapi dan akhirnya memilih mengalah saja. Itu salah satu faktor yang membuat saya bisa bekerja sama dengan Umi adalah, dia orang yang keras, tapi tetap bisa menerima masukan. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;RS&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;: Atiqah bisa meyakinkan saya. Itu kuncinya. Kebanyakan orang punya pendapat, tapi tidak bisa meyakinkan orang lain tentang pendapatnya. Mungkin kelebihan lain yang dimiliki Atiqah adalah dia kenal saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapan rencana produksi berikutnya?&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;RS&lt;/span&gt;: Sudah mulai berjalan sekarang. Keberhasilan JDSP mungkin buah dari kekompakan kami. Sebab sebagai pemeran dan produser, juga anak yang tinggal serumah dengan saya, banyak yang kami hadapi. Kami bergulat berdua. Beruntung Tiqah punya stamina yang kuat untuk menghadapi saya. Kalau kami tidak cukup kompak, produksi ini mungkin tidak akan berjalan lancar. Karena membuat film itu seperti membabat dan mereboisasi sebuah hutan. Tapi kami berhasil memperoduksi sebuah film dan menurut saya itu bukti dari kerjasama yang baik. Tapi berhasilnya film itu disukai orang, tentu ada andil banyak orang lain di luar kami berdua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sekarang sudah mulai produksi film berikutnya?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;RS&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;: Sekarang ini kami masih konsentrasi membawa JDSP ke berbagai festival. Kami masih meramu resep yang mungkin berbeda dari resep rumah produksi lain yang mungkin memakai tema horror atau percintaan atau komedi seperti yang marak akhir-akhir ini. Saya setuju orang harus menonton sebuah produksi, tapi tetap harus yang cerdas. Misalnya pun kami membuat film dengan tema-tema yang dipilih arus besar perfilman Indonesia, film itu tetap harus cerdas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Apa yang akan dilakukan SMP ke depan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;RS&lt;/span&gt;: kalau diperhatikan, SMP memang bukan seperti teater yang produktif menggelar pertunjukan rutin setahun sekali, misalnya. Sebenarnya, saya super produktif juga, hanya tidak dalam konteks pertunjukan. Saya terlalu banyak memiliki cabang hingga pertunjukan kami bisa dibilang relatif jarang dan jadi sulit produktif. Tidak dengan keluhan-keluhan standar seperti dana yang sulit, atau tidak ada penonton. Itu sih masalah klasik dunia teater, tidak perlu dibicarakan. Masalah produktivitas itu lebih pada pertanggung jawaban saya terhadap karya. Saya hanya berkarya ketika saya memang yakin akan mempertunjukan karya yang baik, bukan sekadar karena saya harus membuat pertunjukkan walau pun sering, setelah dua tahun tidak membuat pertunjukan, kerinduan untuk itu selalu muncul. Apalagi, umumnya dalam sebuah teater, selalu ada central figure yang membuat ketergantungan pada anggota teater lainnya. Ini yang coba saya hindari di sini. Membuat production house (PH) ini salah satu upaya saya untuk menghindari ketergantungan itu. Saya sediakan tempat seluas mungkin bagi anak-anak muda untuk berkarya, dan hasilnya saya belum tahu. Kita lihat nanti. Paling tidak, saya sudah menitipkan PH ini pada Atiqah. Saya yakin, dia pun nanti akan punya kebutuhan untuk berteater dan nggak perlu saya atur-atur. Jadi semua memang mengalir saja. Mungkin nanti kalau sudah menjadi rumah produksi, akan ada pola kerja yang berbeda dari seperti yang selama ini saya terapkan di sini. Atiqah mungkin harus membangun manajeman yang tidak bisa serileks yang saya terapkan di teater. Sejauh ini, saya lihat Tiqah mampu menjalaninya dengan total. (Indah Ariani), Pengarah Gaya: Karin Wijaya, Foto: Nelly Wibisono, Rias wajah&amp;rambut: Aries&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5717489757531263022-3689145622263025166?l=indah-ariani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indah-ariani.blogspot.com/feeds/3689145622263025166/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://indah-ariani.blogspot.com/2009/12/panggung-baru-ratna-atiqah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717489757531263022/posts/default/3689145622263025166'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717489757531263022/posts/default/3689145622263025166'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indah-ariani.blogspot.com/2009/12/panggung-baru-ratna-atiqah.html' title='PANGGUNG BARU RATNA &amp; ATIQAH'/><author><name>indahariani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01863084398389371134</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S5joGjEc2iI/AAAAAAAAAFs/giY1-nj4iUQ/S220/cemong.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/SxZBrjz4qEI/AAAAAAAAAD4/jyqKE3bWprQ/s72-c/dewi-013rtsm.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5717489757531263022.post-1329572530449581659</id><published>2009-12-01T05:08:00.000-08:00</published><updated>2009-12-01T05:41:17.345-08:00</updated><title type='text'>SESEDERHANA IDE TEGUH OSTENRIK</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/SxUbFaYZDKI/AAAAAAAAADo/_9HLUR2Ujj4/s1600/TOstenrik.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 214px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/SxUbFaYZDKI/AAAAAAAAADo/_9HLUR2Ujj4/s320/TOstenrik.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5410260307150441634" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Karya-karya besarnya, acap bermula dari sebuah ide sederhana&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Karya seni spektakuler, seringkali berawal dari sebuah ide sederhana yang sama sekali jauh dari berbagai kajian filosofi yang rumit. Pada banyak kesempatan, itulah yang terjadi dalam proses kreatif Teguh Ostenrik. Perupa jebolan Hochschule der Künste, -kala itu masih Jerman Barat- ini acap berangkat dari kejadian-kejadian kecil dalam hidup yang memberinya ide besar. “DeFacement dan Wok With Me adalah dua dari sekian banyak karya saya yang dimulai dari ide sederhana,” katanya di sebuah petang yang hangat di beranda berpemandangan lembah di rumahnya yang artistik. Menurutnya, impresi yang ia rasakan ketika mengalami sesuatu lebih banyak memberi ide untuknya, ketimbang buku dengan berbagai teori dan filosofi. Dengan kesederhanaan itulah, Teguh berkelana ke berbagai pameran seni rupa penting di banyak belahan dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dalam banyak kali, langkah yang ia ambil dengan alasan kepraktisan teknis, mendapat apresiasi estetika yang demikian gempita. “Ada hal yang lucu terjadi pada saat saya memamerkan kerya berjudul The Light of Bromo di Koln. Ketika itu saya masih tinggal di sana dan baru saja pulang dari Indonesia. Sempat jalan-jalan ke Bromo dan begitu terpukau dengan keindahan matahari terbit di sana, saya membuat karya itu dalam ukuran cukup besar, 2,50m X 2,50 m. Karena studio saya berada di lantai lima dan harus melewati tangga dengan bentuk memutar, karya itu lantas saya pecah ke dalam lima panel. Alasannya sangat praktis. Begitu dipamerkan, seorang penulis seni yang kebetulan pernah ke Bromo dan jadi sangat suka lukisan itu karena katanya saya bisa menuangkan dengan tepat nuansa warna matahari Bromo mengira pembagian lima panel itu sebagai sebuah pertimbangan estetika,” katanya sambil tertawa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dari Sawah dan Wajan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Teguh yang baru-baru ini memukau publik Jakarta lewat puluhan patung baja berkarat di Gedung Arsip Nasional dan ratusan wajan melayang di kubah atrium mal mewah Pacific Place ini juga menemukan tanpa sengaja konsep ide karya yang ia beri judul DeFacement dan Wok With Me itu. DeFacement menurut ayah empat putra ini berasal dari keterpukauannya pada bentuk tanah dan sawah yang ia lihat dari jendela pesawat sementara Wok With Me tak sengaja ia temukan  dari wajan berisi spaghetti. “Saya memang senang memasak dengan wajan, dan bukan pan. Ketika sedang kumpul-kumpul dengan keluarga dan saya memasak buat mereka, saya melihat pola menarik yang terbentuk ketika sebagian wajan itu tertutup makanan. Tida-tiba saja muncul ide untuk membuat karya dari wajan. Awalnya saya ingin membuatnya dari wajan bekas. Selain ingin memuliakan wajan yang kerap hanya dianggap sebagai sarana memasak dan tak lebih penting dari makanan yang dibuat di dalamnya, saya juga ingin karya saya mendaur ulang limbah, seperti yang saya terapkan pada DeFacement,” kisah seniman yang karyanya dikoleksi beberapa museum seperti Museum Dahlem Berlin, Jerman dan Museum Seni Modern, Fukuoka, Jepang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal menarik dari proses berkarya putra keenam dari Marsini dan Ostenrik Tjitrosunarjo ini adalah kendati tak pernah menyerah pada persoalan teknis yang berpeluang menghambat idenya, ia memiliki ketaatan sangat tinggi terhadap perhitungan teknis. “Hal pertama yang saya lakukan sebelum memulai sebuah proyek adalah mencari perhitungan teknis,” Teguh menjelaskan. Keika mengerjakan Wok With Me, ia berkonsultasi tak hanya pada Hadi, pemilik pabrik pemotongan baja yang jadi mitranya, tapi berkonsultasi pada konsultan arsitektur mal untuk mencari tahu kapasitas teknis maksimal yang tak membahayakan orang yang berlalu lalang di bawah karyanya. “Keterbatasan teknis bagi saya adalah frame. Saya akan berkarya sesuai kemungkinan yang ada di dalam frame. Meski tak menyerah pada kendala teknis, saya menghormati sekali perhitungan itu. Ketika dibilang pada saya batas kekuatan senar baja tempat karya itu digantungkan adalah 50 kilogram, saya bermain di bawah itu. Juga ketika disebut bahwa jarak antara wajan yang satu dengan yang lain harus 75cm dengan diameter maksimal wajan adalah 70cm, semua saya taati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tantangan Kanvas Kecil&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Di mana pun berpameran, Teguh akan selalu memperhatikan hal itu. “Waktu memamerkan patung Yesus di Singapura, awalnya saya hanya ingin pakai satu sling-tali baja untung menggantungkan karya- agar tidak kelihatan. Tapi orang konstruksinya bilang harus pakai tiga supaya kuat dan aman, ya saya ikuti,” katanya. Akhirnya Teguh menggunakan tiga tali sesuai yang disarankan dan mengikuti aturan peletakan tali serta sudut kemiringan patung. “Saya percaya pembatasan teknis itu adalah struktur yang di dalamnya ada estetika. Saya tidak mau mengada-ada membuat estetika sampai mengabaikan struktur,” katanya.       &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya-karya Teguh umumnya berukuran besar. Khalayak seni rupa tentu masih ingat ketika ia membeli bagian-bagian Tembok Berlin dan memamerkannya sebagai karya seni. Kali lain, ia datang dengan lukisan-lukisan berukuran minimal 140 cm dengan ukuran maksimal tak terhingga. Hal ini sudah ia lakukan ketika mengerjakan tugas akhir masternya di Berlin, dengan karya berukuran 9 meter yang dibagi dalam 7 panel.  “Mungkin karena saya suka dengan gerakan tubuh saya sendiri. Dengan media berukuran besar saya bisa melakukan gerakan dengan sangat leluasa ketika berkarya,” katanya. Teguh lantas membandingkan dengan karya-karya mutakhirnya yang baru saja dipamerkan di Galeri AOD di bilangan Panglima Polim. 500 panel lukisan yang dipamerkan hanya berukuran 10cm X 10cm. “Membuat karya yang kecil seperti ini jauh lebih susah karena kita harus membatasi ruang dan gerak,” katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati demikian, Teguh mengaku dari tingkat kepuasan, kanvas kecil memberi lebih karena keterbatasan ruang di kanvas kecil, menurutnya,  menimbulkan masalah teknis yang sangat kompleks, “Tantangan kanvas kecil itu lebih besar. Kalau di kanvas besar, pelukis itu kayak tukan cat, bidang yang bisa digarap banyak.”  Teguh lantas berkisah tentang sebuah gambar punggung perempuan berukuran kecil karya Pablo Picasso sangat bagus meski hanya terdiri dari empat gari. “Ketika seorang awam bertanya pada Picasso berapa lama mengerjakan karya tersebut, maestro itu bilang, 30 tahun. Pengalaman saya sendiri pun memang begitu. Butuh 34 tahun sebelum akhirnya saya bisa membuat karya berukuran 10cm X 10cm. Awam sering menyangka, makin kecil karya, makin singkat waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan. Itu asumsi yang tidak benar. Lalu awam juga sering menganggap realis bagus, tapi mereka tidak tahu bahwa untuk menjadi abstrak tiap seniman harus mempelajari realis dengan baik. Kalau tidak, dia tidak akan bisa mendekonstruksi imaji,” Teguh menjelaskan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persinggungannya dengan tari dan Buddha Zen, diyakini Teguh sebagai hal yang membuatnya dapat berdamai dengan bidang kecil kala berkarya. “Saya juga pernah membuat banyak sketsa (mencapai 1600 gambar) di sebuah block note kecil -juga berukuran 10cm X 10cm-. Semua saya buat di atas subway kota New York dan menghasilkan gambar yang menarik karena efek gerakan seismografis karena bukan tangan kanan saya saja yang bergerak, tapi juga tangan kiri karena gerakan kereta. Seri karya itu pernah saya pamerkan di Köln. Hal ini yang ingin saya ulangi dengan kanvas kecil itu,” ungkap perupa yang juga kerap merancang tata panggung dan cahaya bagi pertunjukan tari dan teater ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kompleksitas Kesederhanaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pria yang pernah mengenyam pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti ini memang tak hanya bermain dalam satu bidang seni rupa saja. Selain lukis, patung, serta dekorasi panggung,  Teguh pun membuat video art, bahkan koreografi untuk pertunjukan dan fashion show. Mana yang paling disukainya? “Semuanya sama.saja. Saya hanya selalu berusaha membuat karya yang provokatif. Provokatif terhadap ruang, juga provokatif terhadap orang-orang yang berada di ruang itu. Misalnya untuk Wok With Me. Otokritik saya terhadap karya itu adalah karena harus berkompromi dengan berbagai masalah teknis, kesan provokatif itu tak dapat dipenuhi dan berhenti pada kesan dekoratif saja,” katanya. Teguh mengatakan, awalnya, ia berencana menggunakan 40 wajan berdiameter 1,5m untuk menghasilkan kesan luar biasa. “Sayangnya secara teknis tidak memungkinkan,” katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruang memang menjadi bagian penting dalam karya perupa ini. “Saya selalu berusaha menciptakan interaksi antara karya dan penikmatnya,” ungkapnya. Ia mengambil contoh karyanya yang berjudul Jalan Salib yang berada di Manado. “Kalau biasanya cukplikan Jalan Salib itu dibuat dalam diorama, maka saya membuatnya dengan patung-pantung berukuran life size yang mau tidak mau akan membuat penontonnya merasa jadi bagian dari karya itu,” kata perupa yang selalu melakukan pendalaman lewat bacaan untuk semua karya, bahkan yang berangkat dari hal-hal praktis sekali pun. “Karena bacaan itu penting untuk mencari penjelasan tentang apa yang dari pikiran praktis itu tak dapat diterapkan. Sebab saya lebih percaya bahwa ide itu lahir dari kerja, bukan dari bermimpi” ungkapnya lagi. Barangkali, ini serupa anomali dari konsep awam tentang seniman yang lebih sering berpandu mimpi ketika berkarya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pandangan pria kelahiran Jakarta, 59 tahun silam ini, Seorang seniman sejatinya adalah pengamat sejati. “Kerja seniman yang sesungguhnya itu adalah observasi dan membuat keputusan. Karyanya adalah keputusan. Saya selalu mengajarkan murid-murid saya untuk melakukan observasi,” tutur Teguh yang juga mengadakan kelas melukis realis di rumahnya. Proses observasi, menurutnya merupakan kunci penting dalam kerja seorang seniman. Hal penting lainnya menurut Teguh adalah media. “Sebab media itu membuat karakter karya yang sama berubah menjadi lain. Beberapa karya, sengaja saya terapkan dalam lebih dari satu media. Misalnya saja karya saya yang berjudul Homo Sapiens. Selain di kanvas, saya menerapkannya juga di terracotta, perunggu, etching. Begitu juga karya saya yang berjudul Kamasutra. Ternyata memang, seniman tetap harus menghormati media, bukan hanya sebagai alat, tapi juga partner yang berinteraksi dengannya sepanjang proses berkarya,” ungkap Teguh yang mengaku menakzimi setiap media karena sifat dan daya tariknya yang berbeda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar kapabilitas teknis yang ia miliki, Teguh punya hal lain yang membuat karyanya selalu menjadi penting: kemampuan mengemas ide menjadi sebuah konsumsi public yang menarik. Misalnya saja ketika menggelar DeFacement. Teguh –dan timnya- berhasil membuat orang membicarakan pameran tersebut lewat rangkaian diskusi yang dengan sukses membentuk opini tentang karyanya.&lt;br /&gt;“Kalau saya tidak punya kemampuan itu, mungkin saya akan mengada-ada dan membuat sesuatu yang over aesthetic dan akhirnya tidak memikirkan detail lagi. Justru karena saya selalu observe, selalu berpihak pada struktur, pada bentuk yang sederhana, semuanya menjadi terfokus. Membikin sesuatu yang sederhana itu tidak sederhana lho. Sama sekali nggak gampang,” katanya. Dalam pandangannya, kesederhanaan adalah proses deformasi segala kompleksitas menjadi sesuatu yang mudah dipahami, “Dan itu tidak mudah.” &lt;br /&gt;Kedekatan Teguh dengan Buddha Zen barangkali bisa menjadi penjelasan tentang perjalanannya menuju kesederhanaan. “Itu yang dicari banyak orang sekarang: kekosongan dan zen memberi saya banyak pengaruh tentang pemahaman ini,” tandasnya. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(Indah Ariani) Foto: Eliska, Leonardi Portaiture &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5717489757531263022-1329572530449581659?l=indah-ariani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indah-ariani.blogspot.com/feeds/1329572530449581659/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://indah-ariani.blogspot.com/2009/12/sesederhana-ide-teguh-ostenrik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717489757531263022/posts/default/1329572530449581659'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717489757531263022/posts/default/1329572530449581659'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indah-ariani.blogspot.com/2009/12/sesederhana-ide-teguh-ostenrik.html' title='SESEDERHANA IDE TEGUH OSTENRIK'/><author><name>indahariani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01863084398389371134</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S5joGjEc2iI/AAAAAAAAAFs/giY1-nj4iUQ/S220/cemong.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/SxUbFaYZDKI/AAAAAAAAADo/_9HLUR2Ujj4/s72-c/TOstenrik.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5717489757531263022.post-1785751641765674246</id><published>2009-12-01T02:03:00.000-08:00</published><updated>2009-12-02T02:20:56.354-08:00</updated><title type='text'>TARIAN HATI HARTATI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/SxY_acnhuYI/AAAAAAAAADw/SXvianZKDS0/s1600-h/Tati.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 214px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/SxY_acnhuYI/AAAAAAAAADw/SXvianZKDS0/s320/Tati.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5410581725923359106" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Hartati hari ini adalah geliat gerak hati yang tak lagi takut pada jumud masa lalu atau ragu masa depan.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Perjalananku, pergerakanku, seluruh cerita hidupku sepertinya berlangsung di dalam kotak. Sudah bergerak ke mana saja aku? Sudah bergerakkah aku? Apa yang sudah kulakukan? Dari mana kotak ini berasal? Siapa yang meletakkan kotak ini di sini, mengurungku? Atau siapa yang meletakkan aku di dalam kotak ini?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan retoris itu terucap lirih di sela-sela gerak bisu dan musik sendu yang melingkupi panggung di Teater Salihara beberapa bulan lalu. Suara Hartati, koreografer pertunjukan bertajuk In/Out itu seperti tercekat kegalauan ketika membaca teks pendek itu. Tanpa tampil ke atas pentas, rangkaian pernyataan berimbuh deretan pertanyaan itu seperti dengan tepat melukiskan ekspresi hati Hartati. Seperti biasa, ada sejuta cerita (perempuan tepatnya) dalam tiap pertunjukan penata tari yang tumbuh besar di Muara Labuh, Solok, Sumatera Barat ini. Cerita yang mengungkap pergulatan batin yang mungkin terjadi dalam hati dan hidup banyak sekali perempuan. “Jadi sangat wajar ketika ada penonton yang lantas merasa karya saya mewakili mereka. Sebab ini tidak hanya tentang saya, tapi memang juga tentang mereka, kita semua,” kata Hartati beberapa jam setelah pertunjukkan malam itu. Bergabung dengan GUmarang Sakti &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbincang dengan Hartati terasa seperti tengah menggali kuburan di mana segala kenangan tersimpan. Dalam dirinya, ada sebuah ruang tempat seluruh pergulatan batin perempuan berkulit sawo matang ini menggenang, lalu mengendap menjadi sumber bahan bakar kreativitasnya sebagai penata tari. “Sejak kecil, saya terbiasa melihat betapa tidak adilnya dunia ini pada perempuan,” katanya pelan. Tati –begitu ia biasa disapa- bercerita, ketika masih tinggal di kampung halaman, ia acap main ke rumah teman yang memiliki banyak anak. “Di rumah itu, saya sering melihat ibu teman saya menyediakan makan untuk suami dan anak-anaknya. Hanya sedikit makanan yang tersedia, dengan begitu banyak mulut yang harus dibagi. Semua orang di rumah itu kebagian, kecuali sang ibu. Saya bertanya, kenapa dengan pekerjaan dan tanggung jawab yang demikian banyak, justru ibu itu yang nggak kebagian makanan?” kesahnya. Di kemudian hari, endapan kisah itu ia gali dan olah menjadi koreografi berjudul Membaca Meja yang dipentaskan pada 2002. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah itu hanya satu dari sekian banyak ketimpangan yang dialami perempuan. Sebab banyak karyanya yang lahir dengan cara seperti ini. Pertanyaan demi pertanyaan menyangkut kesetaraan antara lelaki dan perempuan, terus saja menghampiri Tati lewat berbagai pengalaman yang ia lalui. Perjalanannya mewujudkan obsesi menjadi penata tari, acap terbentur dinding kesempatan yang seperti berlaku tak seimbang baginya. “Status saya sebagai istri dan ibu, sering jadi alasan yang seperti pisau bermata dua. Beberapa kali saya kehilangan kesempatan karena pasangan tidak mengijinkan,” katanya tentang kejadian yang seirng terjadi di masa lalunya. Masa lalu karena pada 2007 Tati memutuskan berpisah dengan Boi G. Sakti, sesama koreografer yang selama lebih dari dua decade (sejak Tati bergabung dengan kelompok tari Gumarang Sakti pimpinan Ibunda Boi Gusmiati Suid) bersama-sama berjalan mengembangkan karier di dunia tari.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Membaca Tanya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Berbagai beasiswa Tati terima, kadang-kadang bersama dengan Boi seperti ketika mereka berangkat ke New York pada 2001 atas undangan Asian Cultural Center. “Baru pada tahun itu saya membuat karya dengan nama sendiri. Biasanya saya selalu muncul sebagai bagian dari Gumarang,” kenangnya. Karya itu berjudul Sayap Patah yang juga berkisah tentang perempuan yang dilumpuhkan oleh keadaan. Suara hati Tati lagi-lagi tertuang di sini. “Saya merasa ada sesuatu yang membuat kemampuan saya tak bisa tereksplorasi secara maksimal,” Tati menjelaskan. Karya solo perdana itu menjejakkan kaki Tati di kancah tari dengan cara yang berbeda. Ia menarik perhatian banyak pengamat dan membuatnya dipercaya menerima hibah dari Kelola, -sebuah lembaga yang berupaya mendukung kemajuan seni pertunjukan di Indonesia- yang menghasilkan karya Membaca Meja. “Meja adalah tempat kita belajar. Entah itu di sekolah mau pun di rumah. Dan meja makan, menurut saya adalah tempat pembelajaran hidup paling menarik jika merujuk apa yang saya lihat dulu, ketika masih kecil di kampung,” katanya.  &lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Tati terus menari sambil berusaha mengatasi kegelisahannya tentang berbagai hal seputar perkembangan kariernya. Pada satu titik, ada semacam rentetan tanya yang berpusar pada persoalan eksistensi. Potensi yang ia miliki, sering tak berhasil menggapai tingkat tertinggi, karena keadaannya sebagai istri dan ibu seakan menjaringnya untuk kembali ke tanah. “Sistem matrilineal yang dielu-elukan sebagai penghormatan bagi perempuan, nyatanya tidak bisa menghalangi lelaki untuk memenjarakan perempuan dalam system yang walaupun sering tidak berpihak pada perempuan, tetap saja dibela mati-matian oleh para perempuan sendiri,” katanya geram. Tanya yang tak terjawab, seringkali memang terakumulasi menjadi satu kejumudan yang tak terhindari. Pada 1997, Tati memutuskan berhenti menari dan melipir ke pinggir panggung. Saya gamang dan marah. Sebagai penari, saya sudah berada di jenjang paling tinggi. Sudah mentok, tidak ada lagi yang lebih tinggi. Kalau tidak mulai menjadi koreografer, tentu karier saya akan selesai,” katanya dengan luka yang seperti masih bisa diraba. Ia benar-benar memutuskan tidak bersentuhan dengan dunia tari. Ia tenggelamkan dirinya dalam kesibukan mengurus keluarga. “Kalau pun terlibat kerja dalam sebuah pertunjukan, saya benar-benar memilih kerja yang jauh dari panggung, seperti menjadi penangung jawab ticketing,” kisahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunda mertuanya lalu datang menawarkan solusi kala itu. “Ibu mengajak saya menjadi koreografer, tandem dengannya. Beliau memang mitra kerja yang baik dan sangat mengerti kegelisahan saya. Mungkin karena kami sama-sama penari dan  perempuan, Ibu lebih mengerti gejolak yang terjadi dalam diri saya,” tutur Tati tentang Gusmiati yang ia kagumi. Ia menjawab tawaran Gusmiati dengan kreativitas. Ia buktikan kemampuannya dengan mengolah gejolak batinnya jadi gerak-gerak rancak yang membuat namanya terus melaju sebesar apa pun halangan yang diletakkan di hadapannya. Totalitas Tati diganjar beasiswa dari ACC untuk ia dan Boi. Mereka berangkat dengan anak pertamanya Menthari Ashia yang kala itu masih balita dan seorang adik iparnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses kreatifnya kembali bergulir dan Tati dapat membuktikan bakat besarnya memang layak mendapat acungan jempol. Dalam masa ini, ia cukup produktif mencipta karya yang cukup fenomenal seperti Sayap Patah, Membaca Meja dan Ritus Diri. Karya yang terakhir itu disebutnya sebagai karyanya yang paling buuruk secara estetika. menjadi semacam salam perpisahan keduanya pada panggung tari. Ketidaksepahaman soal eksistensi mencuat lagi dan membuatnya tak bisa menghindari kenyataan paling buruk yang harus menimpa pernikahannya denga Boi yang dalam pandangan banyak orang begitu ideal. “Di satu titik, saya harus memilih. Tidak ada orang ketiga dalam pernikahan kami. Masalah terbesar mungkin memang hanya persoalan eksistensi,” katanya lirih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Saat itu. keputusan saya bulat untuk tidak berkesenian lagi. Saya merasa sangat bimbang dan putus asa soal eksistensi saya sebagai seorang seniman,” katanya. Saat itu, Tati mendapat beasiswa dari sebuah lembaga yang harusnya bisa menjadi ajang untuk menempatkannya sebagai sosok yang diakui di kancah tari internasional. “Paling tidak untuk Asia Pasifik dan Amerika. Tapi ijin keberangkatan tidak juga diberikan oleh suami saat itu,” kisahnya. Dengan rasa frustrasi yang sangat sarat, Tati kembali memilih keluar dari hiruk pikuk panggung pertunjukan. “Saya menyewa toko di pasar Depok dan berjualan baju. Itu saya pilih untuk tidak membiarkan diri saya terus memikirkan karier saya yang seperti kembali menemui jalan buntu,” katanya. Tati yang mengaku tak suka belanja itu pun harus bergelut dengan sekian banyak kerepotan standar yang harus dilalui seorang pedagang. “Saya belanja sendiri ke Pasar Pagi, berdamai dengan segala hal yang tak saya sukai seperti berpusing-pusing mencari model baju paling bagus, menawar, dan membawa pulang belanjaan,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Belajar di Pasar&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; Upaya itu cukup berhasil tak hanya untuk menghapus kekecewaan, tapi juga memupus identitasnya sebagai seorang koreografer cemerlang. “Siapa juga yang tahu saya di pasar?” tukasnya ringan diimbuhi tawa. Untuk memperlancar usaha, Tati tak segan berjualan di pasar kaget yang biasa ada di perumahan dekat rumahnya pada minggu pagi. “Saya nggak malu melakukannya. Santai saja,” kata Tati yang mengaku banyak mendapat pelajaran dari kegiatan berdagang itu.  Layaknya laku lain, merasa mendapat ‘kekayaan’ dari salah satu fase dalam hidupnya itu. “Hal paling mengejutkan saya adalah kesadaran untuk tidak lagi meremehkan diri sendiri. Kita bisa melakukan apa saja yang awalnya terasa tak mungkin kita lakukan. Tapi pada saat yang bersamaan, saya juga disadarkan untuk tidak bersikap percaya diri berlebihan, karena manusia itu sesungguhnya bukan siapa-siapa ,” ungkapnya. Kontradiksi itu juga menumbuhkan sebuah keyakinan menarik dalam dirinya, “Setinggi apa pun posisi kita dalam masyarakat, kita tidak pernah benar-benar berada di atas. Selalu ada yang menempati posisi di atas kita, Jadi sombong itu memang sesuatu yang nggak perlu dalam hidup ini,” katanya arif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam masa itu pula, relasinya mengalami cobaan besar. Ia berpisah beberapa tahun setelah Gusmiati mangkat. Tanpa mertua yang benar-benar mengerti isi hatinya, Hartati harus berjalan sendiri melewati masa paling sulit dalam hidupnya. Perceraian yang terjadi pada 2007, membawanya kembali ke panggung pertunjukan lewat komposisi tari Hari Ini yang dipentaskan di Goethe Institute. Seperti kelahiran baru, karya Tati terlihat mengalami pergeseran bentuk kala itu. Gerak-gerak rancak pencak silat menjadi lebih hening dengan tuturan ide yang lebih sublime. Perkenalannya dengan banyak hal baru –salah duanya adalah yoga dan buku Laa Tahzan- kala melewati masa sulitnya, memberi Tati cara pandang baru yang lebih tenang dan matang. “Hal yang membahagiakan saya adalah kenyataan, bahwa orang menerima saya dengan tangan terbuka ketika saya kembali pada 2008 silam. Support mereka sangat luar biasa bagi kemantapan saya kembali berkarya,” katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah semua yang ia lalui, Tati kini mengaku ingin bisa memberi kebaikan bagi banyak orang. “Saya hanya ingin bisa berguna bagi orang lain, entah lewat karya atau lewat mengajar,” kata Tati yang kini mengajar di almamaternya, Institut Kesenian Jakarta. Sepak terjang Tati memang makin terasa di kancah pertunjukan tari. Baru-baru ini, bersama Miroto dan Eko Supriyanto, ia mengomandoi pertunjukan kolaborasi tiga institute seni dalam Festival Kesenian Indonesia 2009. Dinamika yang sejak kemucnulannya kembali telah pelan-pelan ia sampaikan. Lewat karya Hari Ini, Tati mengaku ingin bercerita tentang dirinya yang baru, yang siap memasuki segala kemungkinan yang terjadi dalam hidup. Jelas ada otimisme di sana. Ia nyatanya memang kembali dengan nuansa estetika yang jelas lebih matang. Penerima penghargaan Empowering Women Artist dari Kelola dan Hivos ini masih mempertanyakan banyak hal tentang ketimpangan yang terjadi pada perempuan. Ia masih menggugat lewat karyanya yang terus saja bermunculan. Tapi Tati memang hanya mau bicara tentang hari ini. “Sebab hanya hari ini yang nyata buat kita. Masa lalu sudah lewat dan gelap, sementara masa dating masih jadi sesuatu yang gaib, yang tidak kita ketahui bentuknya,” katanya mengutip Laa Tahzan. Di luar segala keinginannya untuk eksis di kancah seni, ibunda Menthari Ashia (10) dan Mikhailham Muhammad (6) ini  ternyata masih menyimpan satu harapan sederhana,” Saya ingin jadi ibu yang bisa mengekspresikan diri.” Apa pun harapan Tati, tentu itu muncul dari geliat hati yang senantiasa menari. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(Indah Ariani), Foto: Hermawan, Pengarah Gaya: Karin Wijaya, Rias wajah&amp;rambut: Aries, Lokasi: Salihara       &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5717489757531263022-1785751641765674246?l=indah-ariani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indah-ariani.blogspot.com/feeds/1785751641765674246/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://indah-ariani.blogspot.com/2009/12/tarian-hati-hartati.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717489757531263022/posts/default/1785751641765674246'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717489757531263022/posts/default/1785751641765674246'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indah-ariani.blogspot.com/2009/12/tarian-hati-hartati.html' title='TARIAN HATI HARTATI'/><author><name>indahariani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01863084398389371134</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S5joGjEc2iI/AAAAAAAAAFs/giY1-nj4iUQ/S220/cemong.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/SxY_acnhuYI/AAAAAAAAADw/SXvianZKDS0/s72-c/Tati.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5717489757531263022.post-4383848841258248333</id><published>2009-12-01T01:59:00.000-08:00</published><updated>2009-12-01T05:06:58.189-08:00</updated><title type='text'>CINTA MATI KOLEKTOR SENI</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Di mata para kolektornya, seni tak berhenti pada titik investasi, melainkan pada cinta yang penuh apresiasi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Apa arti seni tanpa apresiasi? Menjadi kolektor adalah satu dari sekian banyak cara  mengapresiasi. Siapa pula yang bisa secara intens memberikan apresiasi kalau tak mengoleksi benda seni? Kolektor dan koleksi pada akhirnya memiliki interaksi personal yang acap tak terjamah oleh berbagai teori. Hubungan yang terjalin, acap kali melompat melebihi sekadar pembeli dan benda yang dibeli. Hati yang ikut bekerja, membuat seni tak berhenti pada titik di mana ia menjadi berharga sebagai investasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;CHRISTINE SALIM&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sekitar satu dekade silam, saat kuliah di Los Angeles, Christine Salim jatuh cinta pada seni rupa. Waktu senggangnya, lebih sering ia gunakan untuk berkeliling berbagai galeri dan museum yang ada di sana. Kekagumannya pada lukisan sebenarnya telah tumbuh saat itu. “Cuma uang saku saya nggak cukup untuk membeli real paiting yang di Amerika harganya selangit,” kisahnya. Alhasil, ia hibur dirinya dengan mengoleksi litograf yang hingga akhir masa kuliahnya berjumlah cukup banyak. Keadaan itu membuatnya &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kapan mulai mengoleksi karya seni?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sejak masih kuliah. Hanya saja, saat itu saya baru mampu beli litograf saja, karena harganya jauh lebih murah dari lukisan yang di Amerika harganya setinggi langit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Apa yang dirasakan ketika mengamati karya seni yang Anda miliki?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Heran dan takjub sambil kepala saya tidak berhenti bertanya, “Kok bisa ya senimannya membuat karya sebagus ini?” Sebab, seringkali, sebuah lukisan atau obyek dating dari ide yang sangat sederhana, tapi dipresentasikan dalam bentuk yang menakjubkan. Selain persoalan teknis seperti itu, saya juga merasa sebuah tempat atau rumah akan menjadi lebih bernyawa dengan penyematan karya seni di dalamnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bagaimana cara Anda menilai sebuah karya seni?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Saya selalu melandaskan penilaian pada pendapat pribadi. Kalau suka, saya akan beli. Jarang sekali saya membeli karya seni hanya berdasarkan keinginan untuk ikut arus, misalnya karena senimannya sedang naik daun dan karyanya pasti akan berharga mahal. Buat apa saya membeli mahal-mahal kalau setelah itu saya tidak bias menikmati? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Karya seperti apa yang menarik minat Anda?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Feminin dan cute. Saya suka sekali karya-karya seniman muda seperti  Indie Guerillas, Radi Arwinda, Wedhar Riyadi karena karya mereka yang jenaka. Saya juga mengoleksi karya-karya feminin milik Bunga Jeruk, Ay Tjoe Christine, dan Ayu Arista. Koleksi saya memang kebanyakan kontemporer. Kalau dari old master, saya suka Hendra Gunawan karena cenderung feminin dengan warna-warni cerah.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Seberapa gigih Anda mengejar koleksi yang diincar?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kalau sudah naksir satu karya dan tidak berhasil membeli, biasanya saya akan ikuti terus pergerakan karya tersebut. Kalau tidak berhasil membelinya di galeri, kadang-kadang saya dapat lewat lelang. Kepuasannya beda lho, mendapatkan karya dari lelang. Dulu, saat masih kuliah di LA dan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kapan biasanya Anda punya waktu menikmati semua koleksi?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Secara reguler, saya merotasi koleksi. Waktunya bisa dua atau tiga minggu sekali, kadang juga sampai sebulan, tergantung keinginan. Menikmati koleksi, biasanya saya lakukan malam hari, saat sudah santai. Saya senang berkeliling rumah untuk mengamati dan sampai saat ini, masih mengagumi koleksi yang ada. Biasanya saat keliling itu saya terpikir untuk merotasi karya. Saya juga sering mengajak anak-anak berkeliling melihat lukisan dan patung serta instalasi. Begitu pun kalau ingin membeli, saya juga menanyakan pendapat mereka. Hitung-hitung melatih apresiasi mereka terhadap seni rupa. Foto: Ferdy Adrian Yulianto  (Kencana Art Photography, Yogyakarta   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;AZIZAH MARZUKI-PAPADIMITROU&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dari mertua dan sang suami, ia belajar mengeja seni. Dari sebutir benih ketertarikan, Azizah melangkah pada ranah keterikatan yang terus saja berbuah subur, menumpuk berbagai manik, keramik, dan benda antik yang terus saja berebut ruang di apartemennya di bilangan Pakubuwono. Ia mengaku tak punya kata yang tepat untuk menjabarkan cintanya pada seni. “Ya, suka saja dan itu sulit dijelaskan,” katanya ringan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kapan dan kenapa Anda tertarik mengoleksi benda seni?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sepuluh tahun lalu. Awalnya karena mengamati mertua dan suami yang suka mengoleksi lukisan dan benda seni lainnya. Tapi saya tidak terlalu suka lukisan karena mertua saya punya banyak sekali koleksi lukisan. Keterbatasan ruang di rumah juga membuat saya tidak terlalu tertarik pada lukisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Karya pertama yang Anda beli berdasarkan pilihan Anda?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Keramik. Untuk urusan memilih keramik dan benda antic berkualitas, saya belajar pada dokter Hardojo dan mertua. Lalu saya bergabung dengan Himpunan Keramik Indonesia. Koleksi saya teridiri dari keramik seperti guci dan piring-piring, juga lemari antic dan beads. Saya suka sekali menumpulkan manik-mani dan bola-bola batu yang sering saya buat jadi hiasan digabung dengan perak. Manik-manik yang saya kumpulkan, sebagian saya untai jadi kalung. BIasanya saya tambahkan emas atau perak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ke mana Anda biasanya ‘berburu’ koleksi antik?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kalau sekarang, biasanya ada yang menawarkan pada saya. Tapi banyak juga yang saya dapatkan di balai lelang atau saat saya sedang jalan-jalan ke luar negeri. Seperti beads Afrika ini, saya dapatkan di Paris. Ada juga manik-manik saya yang berasal dari jaman Majapahit. Saya juga mengumpulkan gading gajah yang dulu dijadikan mas kawin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kenapa Anda suka manik, gading, keramik dan furniture antik?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Lucu saja. Manik-manik itu bentuknya bisa di olah jadi benda lain yang lebih artistik seperti jadi kalung atau hiasan meja. Lagi pula, untuk saya yang tinggal di apartemen, koleksi benda antik berukuran kecil jauh lebih memungkinkan karena tidak memerlukan ruang terlalu banyak dan bisa jadi bagian dari interior.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Setelah sepuluh tahun, berapa banyak koleksi yang sekarang Anda miliki?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Belum terlalu banyak, kok. Beli sedikit-sedikit saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Anda menyediakan waktu khusus untuk berburu?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sambil jalan saja. Malah kalau sekarang, tukang antiknya yang telepon kalau sedang ada barang bagus. Kalau diladeni bisa sering. Tapi saya lihat-lihat dulu. Biasanya tiga bulan atau enam bulan sekali saya beli koleksi baru. Tapi sekarang ini, saya makin selektif. Kalau benar-benar bagus, baru saya beli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kepuasan apa yang Anda rasakan saat memiliki koleksi baru?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mmmm… Senang tentu dan ada rasa excited. Walaupun kadang-kadang suami saya sering protes karena barang di apartemen kami makin bertambah, saya selalu berkelit dengan alasan, barang ini akan bisa mempercantik rumah kami nanti. Sekarang ini, koleksi saya tersebar di beberapa tempat, seperti rumah mertua dan kantor suami saya. Jadi bias dibilang, hobi saya sering terkendala keterbatasan tempat, hahaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Koleksi Anda didominasi benda antik dari mana?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Macam-macam. Kalau keramik dan furniture kebanyakan dari Cina. Kalau dari Indonesia, kebanyakan manik-manik dan perangkat perak, juga batik kuno. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Anda mengikuti perkembangan lukisan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tidak secara intens. Kalau untuk lukisan, biasanya saya mengikuti perkembangannya lewat diskusi dengan mertua dan beberapa sahabat yang memang bergelut di dunia lukisan. Saya tidak terlalu tertarik pada lukisan, karena suami saya dan keluarganya sudah mengoleksi banyak sekali lukisan. Saya ingin sesuatu yang berbeda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Seni bagi Anda bermakna apa?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sesuatu yang saya senangi dan penilaiannya sangat personal. Kalau senang, saya beli saja tanpa berpikir apakah karya itu sedang jadi tren atau tidak, berseni atau tidak. Saya menurut kata hati saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Apakah koleksi yang dimiliki mencerminkan diri Anda?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Agak bingung ya, karena saya mengoleksi banyak sekali benda. Susah kalau harus mengidentifikasi diri saya dengan satu jenis koleksi saja. Tapi mungkin, apa yang saya pilih itu pasti saya sukai. Semua yang menurut saya bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sering berburu di lelang?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Cukup sering, tapi biasanya saya tidak datang ke tempat lelang. Seringnya lewat telepon saja. Kebanyakan koleksi, saya dapat di lelang Christie’s. Kebanyakan furniture antic saya dapat dari lelang. Kalau keramik dan pernak-pernik lain, biasanya pemilik toko antiknya yang datang dan menawarkan pada saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Membeli lukisan di lelang?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pernah juga, tapi itu untuk di kamar anak. Karena mertua saya kolektor lukisan, jadi suami sering bilang, nggak usah terlalu banyak membeli lukisan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Perawatannya Anda percayakan pada siapa?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri. Lagipula benda seni saya kebanyakan furniture dan pernak pernik yang setiap hari dibersihkan. Sementara untuk kalung manik dan gelang-gelang, jarang sekali saya pakai. Jadi perawatannya bisa dibilang tidak merepotkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mana yang paling Anda sukai?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Semua saya suka. Jadi susah juga kalau disuruh memilih mana yang paling suka. Sebab saya hanya membeli karya yang saya suka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Apakah benda seni Anda mempunyai ‘efek terapi’ yang membuat Anda merasa lebih relaks setelah beraktifitas?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Nggak ya, biasa saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;PAULA DEWIYANTI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Lahir di keluarga pecinta seni, Paula tumbuh besar di antara koleksi lukisan orangtuanya. Kecintaan kolektor yang membeli koleksi pertamanya pada usia 20 tahun ini pada seni terasah sejak usia belia. Kendati koleksi pertamanya adalah lukisan dekoratif karya seorang pelukis Vietnam, Paula justru terpikat karya seniman kontemporer yang menurutnya punya sihir yang menariknya masuk kedalam labirin keterpesonaan tak berujung. “Saya merasa sehati dengan karya kontemporer dan sanagt senang melihatnya,” katanya.  Meski mengaku koleksinya belum terlalu banyak, Paula toh membutuhkan rumah dan kantor sebagai tempat memajang koleksi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sejak kapan Anda jatuh cinta pada seni rupa? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sejak kecil saya suka seni. Dulu sempat les menggambar dan orang tua saya memang mengoleksi banyak lukisan. Tapi keinginan untuk benar-benar punya koleksi sendiri baru muncul pada usia 20-an. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Apa koleksi pertama Anda?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Koleksi pertama saya adalah lukisan dekoratif Vietnam, non kontemporer. Saat itu saya suka melihat pemandangan indah.  Warna-warna dalam lukisan itu kebetulan atraktif dan vibrant.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bila sekarang Anda lebih serius mengoleksi karya kontemporer, impresi apa yang Anda rasakan saat melihatnya.?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hal menarik perhatian dari karya kontemporer adalah persoalan visual yang bagi saya -saat itu pertama kali bersinggungan dengan seni kontemporer-  tidak biasa. Seperti agak minimalis. Saya langsung bisa menikmati dan mengerti karya tersebut tanpa membaca katalog. Saya merasa sehati dengan karya tersebut dan amat sangat senang melihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Berapa banyak karya seni yang Anda koleksi saat ini? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Baru sekitar 40-an. Belum banyak untuk ukuran kolektor. Lagipula jumlah terus bertambah. Saya juga gak sembarangan beli karena saya punya pertimbangan2 lain seperti saya harus suka sama karya2 senimannya secara total, bukan cuman karena 1 karya saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Di simpan di mana? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebagian dipajang di rumah, di kantor dan sebagian mau tak mau harus disimpan di gudang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kapan Anda menikmati koleksi tersebut? Punya waktu khusus?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Setiap waktu saat saya di rumah atau di kantor. Lebih sambil lalu daripada meluangkan waktu khusus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Perasaan apa yang muncul dalam benak saat menikmati koleksi Anda?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Dari masing-masing koleksi saya punya imajinasi sendiri tentang karya tersebut dan relevansinya terhadap pengalaman pribadi saya.  Ada banyak perasaan timbul waktu mengamati koleksi saya. Satu hal yang pasti, stres langsung hilang. Segala problema hidup sesaat seperti dapat dilupakan. Mungkin tepatnya membawa saya ke dunia lain dan saya sangat menikmati perasaan yang ditimbulkan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Koleksi mana yang Anda anggap paling berharga? Ukuran yang Anda terapkan untuk membuat sebuah karya Anda anggap berharga, dari nominalnya, upaya mendapatkannya atau kisah di balik proses penciptaan karya tersebut?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Beberapa karya yang sudah jadi koleksi permanen, saya anggap sebagai yang paling berharga. Dan itu tidak melulu karena nominalnya. Ada sebagian karya yang saya anggap berharga sekali walaupun nominal harganya tidak atau belum tinggi. Tidak terbersit sedikit pun untuk menjual koleksi permanent itu karena karya-karya itu sudah menjadi bagian dari hidup saya. Mungkin karena ikatan emosionalnya, seperti kalau kita berpisah dengan karya tersebut ada bagian dari hidup kita hilang.  Kesannya mungkin agak sentimental atau norak tapi saya rasa banyak kolektor berperasaan seperti itu. Saya rasa hal ini karena koleksi atau benda-benda sehari-hari yang kita miliki sadar atau tidak sadar itu adalah bagian dari identitas kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Di mana biasanya Anda berburu koleksi? Galeri, pameran, lelang, langsung pada seniman, dsb dan apa kelebihan serta kekurangan masing-masing tempat tersebut?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Biasanya lewat galeri. Ada kalanya membeli lewat lelang dan art fair.  Sesekali beli langsung dari seniman tapi amat jarang sekali.  Kelebihannya kalau lewat galeri karya sudah diseleksi. Senimannya juga sudah diseleksi. Kita bisa bertanya kepada pihak galeri informasi yang lebih dalam tentang karya dan senimannya.  Lalu kalau pamerannya di galeri ada kurasinya. Kalau lewat artfair karya-karya yang dipamerkan jauh lebih banyak pada saat yang bersamaan, jadi lebih banyak pilihan.  Lewat artfair tidak ada kurasinya walaupun kadang ada juga. Kalau lewat balai lelang pilihan juga banyak dan untung-untungan bisa dapat barangnya atau tidak di harga yang kita kehendaki.  Jadi ada perasaan yang beda juga pada saat membeli lewat balai lelang. Ada perasaan kompetitif, cemas, semangat atau emosional pada saat bidding. Kekurangannya kalau di galeri pilihannya tertentu. Kalau tidak atau belum bisa menikmatinya maka tidak ada yang bisa dikoleksi saat itu. Kalau di artfair kita diburu waktu untuk mengambil keputusan. Kalau suatu karya diminati banyak orang kita jadi harus cepat mengambil keputusan, siap atau tidak. Padahal kadang untuk beli karya seni butuh waktu untuk mikir dan menimbang banyak hal apakah karya tersebut cocok untuk koleksi kita.  Kalau di balai lelang adalah masalah harga, kadang kita mungkin beli kemahalan, tapi ya itu “winner’s curse” istilahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Di tengah booming pasar seni rupa seperti sekarang, apa yang Anda jadikan landasan untuk menilai kualitas seni? Harga atau teknik?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Saya punya banyak landasan untuk menilai kualitas karya seni. Setidaknya ada enam hal yang selalu saya pertimbangkan saat akan membeli. Pertama, visualnya bagus atau tidak. Kedua seberapa tinggi tingkat kesulitan teknis dan skill dari sang seniman. Ketiga, pengolahan medium yang jadi indikasi akurat kreatifitas seniman itu.  Keempat yang menurut saya sangat tidak bias diabaikan adalah konsep dari karya itu sendiri sebab ini akan menunjukan kecerdasan dan kepribadian sang seniman. Kelima adalah, apakah karya tersebut dapat dinikmati dan diapresiasi oleh saya atau kolektor lain dan hal terakhir yang tak kalah penting adalah apakah harga yang dipatok memang layak untuk seniman dan karya tersebut ditinjau dari rekam jejak sang seniman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Koleksi apa yang punya kisah perburuan paling seru?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Buat saya sepertinya kadang koleksi itu seperti jodoh.  Kadang karyanya datang ke kita atau akhirnya kita yang miliki padahal waktu pertama kita karya tersebut sepertinya tidak bisa dimiliki karena sudah direserve orang lain atau sudah laku. Tapi selang beberapa waktu tahu-tahu karya tersebut ditawarkan ke kita lagi dan akhirnya menjadi koleksi kita. Ada juga karya yang saya kepikiran terus sejak pertama kali melihatnya karena sangat suka tapi ragu-ragu untuk beli karena alasan tertentu. Beberapa bulan kemudian ternyata karya masih ada dan akhirnya saya tidak tahan juga untuk tidak membeli.  Akhirnya saya pikir yang namanya mengoleksi itu adalah tentang kehidupan dan kepribadian kita dan kalau karya itu rasanya mencerminkan hal itu maka sayang kalau dilewatkan.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mana yang Anda pilih, senirupa untuk diapresiasi atau senirupa sebagai investasi?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Sebagai apresiasi. Karena kalau sebagai investasi malah bikin saya stress, hahaha… Sebab, yang namanya investasi bisa saja rugi dan itu yang banyak orang lupa.  Orang hanya berorientasi pada profit.   Investasi saja tanpa diapresiasi tidak bisa dinikmati.  Idealnya sih memang seni yang kita apresiasi juga meningkat nilai ekonomisnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ketika membeli karya seni, apakah Anda meminta pendapat orang lain juga atau memutuskan sendiri?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Kadang meminta pendapat orang lain untuk assurance saja bahwa pilihan kita gak salah, bukan tanya untuk ambil keputusan.  Pada akhirnya setelah mengolah pendapat orang lain dan diri sendiri saya ambil keputusan, beli atau tidak.  Saya merasa saya harus punya pendirian juga. Tidak bisa hanya mendengarkan orang lain karena tiap orang punya selera, pengetahuan, dan pengalaman hidup berbeda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sebagai kolektor, adakah karya yang sampai sekarang ingin Anda miliki tapi belum tercapai?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Banyak. Sepertinya kolektor tidak pernah merasa cukup memiliki karya. Selalu ingin menambah terus, apalagi saat ini banyak sekali seniman baru dengan nuansa karya yang juga baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Siapa seniman favorit Anda? Kenapa?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Handiwirman Sahputra, karena karyanya amat progresif. Ay Tjoe Christine juga. Yunizar, Mantofani, Suwage, Stefan Buana juga saya suka.  Karya Yuli Prayitno saya juga suka karena mengolah medium.  Saya suka medium yang tidak melulu oil/acrylic on canvas. Bisa dua dimensi non acrylic on canvas atau tiga dimensi.  Saya juga suka street art seperti Farhan Siki karena expressive dan spontan dalam merespon ruang atau benda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Definisikan dalam tiga kata, kolektor seperti apa Anda…&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Selektif, alternative minded, dan berharap nanti bisa bertambah dengan kritis dan berpengetahuan banyak. Kalau saat ini masih dalam perjalanan menuju definisi yang terakhir itu. (Indah S. Ariani), Pengarah Gaya: Karin Wijaya, Foto: Dennie Ramon&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5717489757531263022-4383848841258248333?l=indah-ariani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indah-ariani.blogspot.com/feeds/4383848841258248333/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://indah-ariani.blogspot.com/2009/12/cinta-mati-kolektor-seni.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717489757531263022/posts/default/4383848841258248333'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717489757531263022/posts/default/4383848841258248333'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indah-ariani.blogspot.com/2009/12/cinta-mati-kolektor-seni.html' title='CINTA MATI KOLEKTOR SENI'/><author><name>indahariani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01863084398389371134</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S5joGjEc2iI/AAAAAAAAAFs/giY1-nj4iUQ/S220/cemong.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5717489757531263022.post-6267395893049103883</id><published>2009-12-01T00:09:00.000-08:00</published><updated>2009-12-01T01:13:27.237-08:00</updated><title type='text'>LINGKARAN IMAJI  SAM, NURULITA, &amp; NICOLINE</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/SxTdhbFU3fI/AAAAAAAAADg/9uyKq7C8qlo/s1600/_MG_9355vintage.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 214px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/SxTdhbFU3fI/AAAAAAAAADg/9uyKq7C8qlo/s320/_MG_9355vintage.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5410192618654326258" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sederet rekan kerja dimiliki Sam Nugroho di agensi fotografi The Looop. Dua di antaranya bidadari yang punya kemampuan tinggi merangkai imaji. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Looop adalah agen gaya hidup. Mereka membekukan imaji tentang keindahan dan kemewahan lewat bidikan sempurna. Sederet orang muda penuh semangat berdiri di belakangnya. Sam Nugroho, yang bersama Jen Halim menggagas agensi fotografi ini dibantu banyak associates –sebutan untuk para fotografer yang bergabung dengan The Looop- yang bersama-sama membangun citra tentang sebuah kemewahan. Jaringan yang tersebar di beberapa negara Asia, The Looop begitu terdengar gaungnya di kancah fotografi komersial. Puluhan perusahaan multinasional pernah merasakan tangan dingin meraka. Dari sekian banyak associates yang ada, terselip dua bidadari cantik yang bergabung pada kurun waktu berbeda. Nurulita Adriani Rahayu, dan Nicoline Patricia Malina. Dua perempuan yang bakat besarnya mengejutkan Sam.     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sejak kapan The Looop berdiri?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sam Nugroho (SN): Sekitar delapan tahun yang lalu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sudah lama juga ya, bisa ceritakan perjalanan awalnya?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;SN: Sebenarnya The Looop itu adalah soal memaksimalkan jejaring. Keinginan utama saya sebenarnya adalah mengembangkan jaringan di wilayah Asia. The Looop sendiri memang ada di beberapa Negara seperti Shanghai, Hongkong, Singapore dan Jakarta. Kami, saya dan Jen Halim memulai The Looop di Hongkong. Pertimbangan kami dulu adalah, kalau kami mulai di Indonesia, akan susah keluar karena Indonesia itu negara yang unik. Biar pun sama-sama di Asia, gaya hidup di Indonesia sangat berbeda dibandingkan negara lain, misalnya Cina, Jepang, bahkan Singapura yang terdekat. Makin ke utara, perbedaan itu makin kentara. Tapi pengembangan bisnis di sana menjadi penting karena mereka sudah menerapkan sistem global. Kalau kita mau menyasar pasar internasional, kita harus memulai di tempat yang sudah punya sistem berstandar itu bukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Saat itu namanya sudah The Looop?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;SN: Belum. Kami membawa nama masing-masing saja, dia Jen Halim Photography dan saya Sam Nugroho Photography. Setelah saya mulai punya associates seperti Anton dan Heret, saya merubah nama jadi Sam Nugroho and Associates. Karena saya piker, kalau lompat langsung ke The Looop akan susah. Kami baru membuat The Looop dua tahun setelah perubahan itu, sekitar tahun 2002. Jejaring adalah makna yang tersirat dalam tiga huruf O yang ada dalam nama The Looop, menggambarkan banyaknya kaitan, keterhubungan yang mencakup segalaha, tak hanya semata-mata fotografi, tapi juga manusia yang terlibat di dalamnya dan juga soal citra. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sekarang ada berapa banyak associates yang dimiliki?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;SN: Cukup banyak. Sekarang ini kami membagi associates dalam dua kategori, senior dan junior. Nurulita, Ully, dan Nicoline termasuk senior. Mereka ini bisa disebut sebagai brand-nya. Di Hongkong dan Shanghai, kami punya Jen Halim, we have Jen Halim, Marten von Rauschenberg, Anatol Kotte dari Germany dan beberapa yang lain. Ada juga yang junior seperti Glenn Prasetya dan ada yang masih benar-benar baru seperti Edwin, dan Andre Lee. Kami kini juga punya associates yang membuka kantor sendiri dan kami sebut sebagai The Looop Kemang yang ditangani oleh Iswanto yang berencana akan melebarkan sayap ke Vietnam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Rekruitmen fotografernya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;gimana&lt;/span&gt;?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;SN: Tidak  mudah. Sebab ini menyangkut soal bagaimana  perasaan setiap orang saat bekerjasama. Kalau cocok, silakan terus. Kami biasanya memberi waktu enam bulan percobaan. Tapi ada yang masa percobaannya lebih singkat dari ini, seperti Nurul dan Nicoline yang memang berbakat dan merasa sangat cocok dengan The Looop. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Anda sudah lama bergelut di bidang fotografi. Apakah Anda bisa dengan cepat mengidentifikasi orang yang berbakat dan punya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;taste&lt;/span&gt; bagus?   &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;SN: Ada dua hal yang bisa dilihat ketika saya bertemu fotografer. Ada yang memang punya bakat besar hingga mereka bisa melaju dalam lompatan-lompatan besar, ada yang bakatnya tidak terlalu mengejutkan, tapi mereka gigih belajar dan konsisten, dan ini pun, mereka tetap bias maju karena kemauan mereka mengasah kemampuan. Bakat mengejutkan itu saya rasakan saat pertama melihat karya Nurul dan Nicoline. Nurul bilang saat itu, dia tidak punya kamera. Buat saya, itu sangat mengejutkan. Kalau tanpa kamera saja dia bias bikin portfolio begitu bagus, artinya, bakat besar itu memang miliknya. Begitu juga dengan Nicoline. Saya sama sekali tidak tertarik ketika seorang teman mengenalkan dia pada saya karena saya piker, teman saya membawa model. Saat itulah saya dihadapkan pada kebenaran pepatah Don’t judge a book by its cover. Karena begitu melihat portfolionya, saya menemukan sesuatu yang sangat menarik dan saya segera tahu Nicoline berbakat besar. Mereka berdua mungkin punya gaya foto berbeda, tapi keduanya akan sama ketika kita bicara bakat. Tapi tidak semua punya bakat alam yang begitu besar seperti mereka. Ada juga yang secara talenta tidak terlalu mengejutkan tapi karena ketekunan dan disiplin kerja yang baik, mereka bias juga membuat karya yang bagus. Bagi saya, saat bekerja yang penting itu hati, persistensi, komitmen dan hasrat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kenapa hati menjadi penting?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;SN: Tanpa hati, orang tidak akan mau berjuang untuk apa yang diakerjakan. Banyak kan orang yang berpikir bisnis saja ketika bekerja? Padahal, saat bekerja banyak masalah, banyak kesakitan, dan kekecewaan yang kalau dihadapi tanpa hati, tentu tidak akan bisa dilampaui. Menurut saya, fotografi itu bisnis yang berat karena ini menyangkut rasa. Kalau tidak siap menghadapi kekecewaan, Anda bisa hancur. Sangat bias terjadi misalnya, tahun ini kondisi Anda sangat baik, dan tahun berikutnya Anda bukan siapa-siapa. Jadi memang ini semua menyangkut bagaimana kita bisa bekerjasama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pola kerja sama yang diharapkan bagaimana? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;SN: Tiap orang berbeda-beda melakukan apa yang mereka kerjakan. Apalagi dalam bisnis ini, mereka ahlinya, mereka senimannya. Jadi memang rasa nyaman dengan pekerjaan harus ditumbuhkan, karena masing-masing orang punya kepribadian yang berbeda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Nah, kalau dua bidadari ini, bagaimana awalnya bergabung dengan The Looop?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Nicoline Patricia Malina (NPM): Seperti yang diceritakan Sam. Saya bergabung di sini karena seorang teman mengenalkan, sebab saat itu saya masih tinggal di Belanda dan baru belajar fotografi. Sebenarnya awalnya saya hanya ingin minta masukan dari fotografer senior. Lalu dia bilang bagus dan menawarkan saya untuk bergabung. Saat itu saya belum bias menjawab karena saya masih di Belanda. Kembali ke Indonesia karena liburan saja. Tapi selama sebulan itu saya mulai mencari tahu tentang kantor ini, karena saat itu saya benar-benar orang asing yang tidak kenal siapa-siapa. Tapi saya sangat menghargai dukungan mereka yang demikian besar. Saya diberi kebebasan membuat portfolio di sini. Sam itu baik dan supportif. Saya piker, tidak ada salahnya bergabung. Tapi saat itu saya masih harus kembali ke Belanda selama setengah tahun untuk menyelesaikan urusan di sana. Begitu kembali kesini saya langsung  menjadi associate di sini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nurulita Adriani Rahayu(NAR) : Sebelum di sini, saya sempat di media selama satu setengah tahun. Lalu saya dengar di sini mencari associate dan saya tanay, apa saya bias melamar ke The Looop. Tapi orang sini bilang, kami tidak menerima lamaran, tapi kami merekrut, jadi orang tidak bias melamar, melainkan dipilih. Tapi pihak The Looop menawari saya untuk meninggalkan portfolio saya untuk dipelajari. Saya santai saja menitipkannya. Beberapa hari kemudian, Sam menelepon saya menawari untuk bergabung dan saya memutuskan untuk bergabung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Apa perbedaan yang dirasakan antara The Looop dan tempat lainnya?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;NAR: Kalau saya, yang jelas terasa itu adalah soal jam kerja. Kalau di majalah itu jam kerjanya baku, di sini saya hanya dating kalau sedang ada jadwal pemotretan saja. Hanya yang sempat membuat saya kaget adalah karena saya sama sekali tidak punya pengetahuan tentang sitstem kerja agensi fotografi. Jadi saya harus belajar lagi dari nol soal hal yang harus diurusi dari hulu ke hilir sebuah agensi foto. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Apa Sam ikut memberi arahan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;NPM: Iya, kalau dia sedang ada di sini. Sayangnya Sam itu kan sangat sibuk dan sesekali saja ada di kantor. &lt;br /&gt;NAR: Iya, kalau ada di sini, Mas Sam pasti jadi teman diskusi yang asyik. Tapi di The Looop juga ada Account Executive yang akan mengarahkan kita bagaimana dealing dengan klien, gimana kalau mendapat layout yang rumit, jadi kendala yang ada tidak terlalu memusingkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bagaimana pendapat Anda berdua tentang Sam?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;NAR: Perfeksionis dan sangat idealis. Tapi yang paling saya kagumi dari Sam Nugroho adalah sistem pencahayaannya yang menurut saya tidak ada duanya. Saya bicara begini bukan karena saya ada di The Looop. Saya berani bilang begini setelah mengamati pencahayaan hampir semua fotografer komersial senior di sini (Jakarta). Bahkan, mungkin kalau dibandingkan dengan fotografer komersial Asia pun, Sam masih bisa diadu sistem pencahayaannya. Dia bisa melukis cahaya. Kalau sebuah objek difoto seorang fotografer lain, dengan lampu yang sama hasilnya tetap akan berbeda ketika difoto oleh Mas Sam. Itu yang banyak saya pelajari ketika ‘menonton’ Mas Sam memotret. &lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Yang paling berkesan dari kerja di The Looop?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;NAR: Dukungan yang saya dapat di sini. Sejak lama saya memang ingin sekali terjun ke fotografi komersial. Ilmu saya tentang pencahayaan, tentang bagaimana dealing dengan klien meningkat pesat selama saya di sini karena dukungan Sam dan tim The Looop. Kalau saya jalan sendiri, mungkin proses yang sala lewati tidak berjalan secepat sekarang. The Looop bias dibilang katalisator saya menjadi fotografer komersial. &lt;br /&gt;NPM: Setuju sama Mbak Nurul. Tapi kalau secara personal,  yang berkesan buat saya adalah ketika Sam pameran foto fashion 1939 di Senayan City beberapa bulan lalu. Di sana dia kolaborasi sama saya. Buat saya ini sebuah penghargaan, sebab sepanjang pengetahuan saya dan teman-teman di sini, saya dan dia itu sangat bertolak belakang. Kalau Sam perfeksionis, maka saya kebalikannya, sangat tidak perfeksionis. Mungkin itu yang ingin dipertemukan, dia biasa sees beauty in perfection, sementara saya terbiasa sees beauty in imperfection.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Chemistry Anda berdua dengan Sam dan teman-teman lainnya?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;NPM: Saya sih sayang sama dia (sambil menunjuk Nurul), dia aja yang sering nolak saya, hahaha… Tapi teman-teman The Looop itu asyik semua. Terutama dengan Glenn yang sudah saya kenal sejak kami masih di Surabaya. &lt;br /&gt;NAR: Kalau sama Mas Sam, mungkin karena jarang ketemu, jadi chemistrynya tidak sekuat dengan teman-teman lain. Kalau dengan teman lain seperti Ully, karena frekuensi bertemunya lebih banyak, jadi kami lebih dekat. Kalau mau bergosip, saya datang ke Nicoline. Semua pada dasarnya okey, Cuma ya itu, susah ketemunya. Kita mau rapat lengkap saja susahnya minta ampun. Tapi kalau sudah ketemu sih asyik banget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sebagai Sebagai dua perempuan di antara sekian banyak lelaki, apakah ada perlakuan khusus yang diberikan, lebih dimanja misalnya?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;NAR: Nggak ada sama sekali. Kami mungkin malah sering dianggap lelaki juga, hahaha… Eh, tapi kalau Nicoline masih dianggap perempuan ya, hahaha…  &lt;br /&gt;NPM: Itu karena saya pakai high heels. Tapi ada loh, perlakuan khusus, barang bawaan kita sering dibawakan, hahaha… (Cetusan NIcoline segera disambut Nurul dengan anggukan kepala bercampur tawa). &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(Indah Ariani), Fotografer: Glenn Prasetya&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5717489757531263022-6267395893049103883?l=indah-ariani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indah-ariani.blogspot.com/feeds/6267395893049103883/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://indah-ariani.blogspot.com/2009/12/lingkaran-imaji-sam-nurulita-nicoline.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717489757531263022/posts/default/6267395893049103883'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717489757531263022/posts/default/6267395893049103883'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indah-ariani.blogspot.com/2009/12/lingkaran-imaji-sam-nurulita-nicoline.html' title='LINGKARAN IMAJI  SAM, NURULITA, &amp; NICOLINE'/><author><name>indahariani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01863084398389371134</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S5joGjEc2iI/AAAAAAAAAFs/giY1-nj4iUQ/S220/cemong.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/SxTdhbFU3fI/AAAAAAAAADg/9uyKq7C8qlo/s72-c/_MG_9355vintage.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5717489757531263022.post-6305818037667803686</id><published>2009-11-30T23:41:00.001-08:00</published><updated>2009-12-01T00:08:58.262-08:00</updated><title type='text'>KEMEWAHAN HATI DELIA MURWIHARTINI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/SxTPBC_Cv2I/AAAAAAAAADY/OYrkDmROhao/s1600/Delia.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 214px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/SxTPBC_Cv2I/AAAAAAAAADY/OYrkDmROhao/s320/Delia.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5410176669266919266" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Berpandu hati, ia meraih sukses besar justru kala krisis terjadi. Baginya, hidup adalah kemewahan paling berharga yang pernah ia terima.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau mampir ke rumah luasnya yang asri di Yogyakarta, kita akan segera bisa mengidentifikasi kesuksesan Delia Murwihartini dari sebagian hal mewah yang tampak. Sebuah Maserati seri terbaru dengan interior customized yang dipesan langsung di Italia dan VW Tuareg seharga Porche berjejer mengisi garasi luas di bagian samping rumah. Dapur barunya, terisi dengan kitchen set yang ia pesan langsung dari Jerman. Belum lagi jajaran koleksi pakaian dari runway label ternama serta sepatu-sepatu bermerek di kamarnya yang menyerupai paviliun besar. Sebuah ‘tempat persembunyian’ dibuat di belakangnya: kamar mandi besar dengan berbagai fasilitas perawatan untuk memanjakan tubuhnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, kesan itu justru makin berkilau manakala kita berbincang dengan pengusaha tas berlabel The Sak dan Dowa ini. Sikapnya yang bersahaja dan apa adanya, sesungguhnya adalah kemewahan alami yang ia miliki. Boleh jadi, ini pula yang membuat ibu dua anak ini mampu meraih apa yang ia impikan. “Sejak mulai menjual tas, saya selalu bermimpi suatu saat punya pabrik besar yang bisa memproduksi tas dalam jumlah banyak dan pasar produksi yang luas hingga mancanegara,” katanya di sebuah senja di pendopo rumahnya yang langsung menghadap halaman luas berisi tanaman bunga dan buah. Sambil mengudap penganan, ia berkisah tentang perjalanannya yang tak mudah meretas jalan usaha hingga produknya berkibar di Eropa dan Amerika. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putaran Roda Hidup&lt;br /&gt;Memulai bisnis dengan menjajakan tasnya ke penginapan-penginapan di sekitar Prawirotaman, Delia tak pernah mau menyerah pada keterbatasan. Rintangan, sepelik apa pun, selalu berhasil ia atasi dengan ketenangan luar biasa. “Kita diberi hidup itu kan untuk menyelesaikan masalah,” katanya ringan. Misalnya saja ketika ia hendak memenuhi pesanan besar pertama yang dating padanya dari seorang eksportir Swedia. Kondisi keuangan yang tak memungkinkan, membuatnya kelimpungan mencari bantuan. Pengajuan pinjamannya pada beberapa bank, belum mendapat respon sementara waktu terus berjalan dan saat pengiriman bertambah dekat. Dengan nekat, Delia mendatangi beberapa pemasok bahan baku dan mengajak mereka bekerjasama menyediakan bahan baku untuknya dengan janji pembayaran dilakukan ketika ia sudah menerima pembayaran pesanannya. Masalah terselesaikan dan semua berjalan sesuai rencana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di matanya, tak ada masalah yang terlalu susah untuk dipecahkan, “Bukan menggampangkan, tapi kita memang hanya bisa menunggu masalah datang dan menyelesaikannya. Maka jadilah orang baik, bukan cuma sekadar pintar,” ungkapnya serius. Delia sepertinya punya segudang mutiara batin yang  ia kumpulkan dengan telaten dari apa pun yang terjadi dalam hidup. Tekun mungkin adalah nama tengahnya. Sebab, meski sangat mungkin melamar kerja dengan mengandalkan ijazah sarjana, lulusan Fakultas Komunikasi Universitas Gajahmada ini lebih memilih bersusah payah belajar menjahit dan memasarkan tas-tas kreasinya door to door.  Ia tak gentar harus memulai usaha dari titik nol. “Saya percaya Tuhan pasti akan menolong kalau kita mau berusaha,” cetusnya mantap. Hal lain yang membuatnya tak pernah surut menghadapi cobaan apa pun, adalah rasa syukurnya yang demikian besar atas hidup. “Kalau saya jatuh dan menangis, artinya saya tidak bersyukur. Sebenarnya hal yang paling penting itu adalah mengayakan diri kita. Nasib manusia itu tidak bias diprediksi,” katanya. Kekayaan yang ia maksud, tentu bukan semata soal materi. Ia bicara, lebih pada persoalan kematangan jiwa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Delia sadar benar, kalau hidup serupa roda berputar. “Bisa jadi pada usia 40, kita akan jatuh lima meter. Kalau dari muda kita membangun batin setinggi-tingginya, sekaya-kayanya, ketika kejatuhan itu harus kita alami, ia tidak akan terlalu menyakitkan. Jatuhnya tidak akan di titik nol lagi. Jatuhnya orang kaya itu selalu beda dengan jatuhnya orang miskin secara batin,” katanya beranalogi. Delia tak hanya bicara. Sebab hidup dan usahanya pun, memang berputar seperti roda yang kadang bergulir cepat untuk kemudian melambat dan menghimpitnya di posisi sulit. Salah satunya ketika pada tahun 2000, saat pamor The Sak tengah berkibar di Amerika, masuklah produk Cina yang jauh lebih murah dengan meniru mentah-mentah desainnya. “Kala itu, saya tak hanya berperang kreativitas, tapi juga kecepatan menawarkan inovasi. Saya punya motto, jadilah pionir. Pembebek tak akan pernah bisa mengalahkan orang yang berjalan duluan,” kisahnya. Meski sebagian besar pasarnya direbut paksa, Delia tak limbung. “Semua sudah ada dalam perhitungan dan kontrol saya. Apalagi saya tak mengembangkan usaha dengan uang pinjaman. Maka saya lebih mudah mengakselerasi produksi,” kata wanita yang lebih senang menyetir sendiri ini. Masalah yang ia hadapi memang banyak dan besar. “Tapi kenapa saya tetap bisa menghadapinya dengan tersenyum dan optimis? Karena saya tahu di balik kesulitan itu ada kemudahan,” tukasnya yakin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia melihat, kebanyakan orang merasa tamat ketika menemui kesialan bertubi dan terpaku pada masalah itu tanpa melakukan apa pun. “Padahal, di situlah ada kunci yang harus dicari. Kalau terpancang pada kesulitan-kesulitannya saja, rezeki besar tidak akan terlihat,” katanya lugas. Ia selalu memilih untuk tidak membesar-besarkan masalah itu, “Lebih baik introspeksi. Bukan untuk menyalahkan diri, tapi untuk mencari jalan keluar. Jadi pola pikir kita adalah solusi, solusi, solusi selain kita tahu apa penyebabnya sehingga kita tidak jatuh di lubang yang sama.” Hal yang juga selalu ia tanamkan dalam keyakinannya adalah, “Di dunia ini, tidak semua orang akan suka, sebaik dan sebersih apa pun kita.  Nabi-nabi saja banyak yang membenci, apalagi kita yang derajatnya jauh di bawah mereka.” Keyakinan ini selalu membuat Delia santai saja, manakala menerima sikap tidak menyenangkan dari orang di sekelilingnya. Ia tak mudah sakit hati atau terpukul karena ia selalu yakin, yang melakukan itu bias dipastikan bukan sahabat atau teman dekatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya Ada Bahagia&lt;br /&gt;Delia orang yang sangat senang mendengarkan kata hatinya. Saat memilih sahabat, ia selalu mengandalkan pesan yang ia tangkap dari hati. “Saya bergaul dengan sebanyak mungkin orang. Tapi siapa yang tepat untuk jadi sahabat, itu hati yang membisiki,” katanya. Takaran yang sama, juga ia terapkan manakala memilih berbagai benda koleksi, mulai benda fashion hingga karya seni. “Mungkin karena Taurus, saya memang cenderung tidak peduli apa yang sedang happening. Kalau menurut saya bagus dan pantas, saya beli,” katanya. Maka, apa yang melekat padanya, akan mencerminkan siapa Delia. Contohnya saja lukisan-lukisan yang memenuhi dinding rumahnya. Ia tak bergeming pada demam kontemporer yang melanda pasar seni rupa. Delia hanya akan membeli lukisan –karya seni yang paling banyak dikoleksinya- hanya jika ia merasa ada relasi kuat yang terjalin antara hatinya dan karya visual yang tengah ia amati. Baginya, nilai sebuah karya terletak pada bagaimana karya itu punya makna bagi orang yang memilikinya. “Kalau ketika melihat sebuah lukisan saya mendapat spirit darinya, maka saya akan membeli karya itu. Kalau tidak, buat apa saya memilikinya?” katanya lugas.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara Delia memaknai karya seni barangkali memang unik. Ia pernah melontarkan kritik. Sebab katanya, “Tidak ada karya yang jelek. Masalahnya adalah, apakah orang yang melihat cocok dan senang dengan karya itu atau tidak.”  Maka, wanita yang memprioritaskan karya seniman Yogyakarta -ini sebagai solidaritas local, katanya- untuk dikoleksi ini tak pernah melontarkan kritik pada karya yang ia lihat. “Kalau tidak suka ya tidak usah dibeli. Itu sudah jadi bentuk kritik non verbal saya,” katanya santai. Karya seni yang ia miliki tersebar di rumah dan kantornya dengan jumlah ratusan. “Saya sedang membuatkan catalog supaya ada pencatatan yang baik. Lukisan-lukisan yang saya punya itu pasti saya suka. Jadi tidak terbersit sedikit pun untuk menjualnya,” kata Delia yang memesan lukisan pertamanya pada perupa perempuan ternama, Lucia Hartini. Ia memang menerapkan standar yang sangat personal untuk beberapa hal dalam hidup yang ia anggap sebagai ‘investasi batin’.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula soal fashion. Ia selalu membeli yang terbaik dari koleksi terbaru, demi menghargai rezeki yang ia terima dari Sang Pencipta. “Kalau bias dibelanjakan dengan mudah, artinya memang itu porsi rezeki saya. Tiap orang kan diberi porsi berbeda dan harus bisa mensyukuri nikmat sesuai tingkatannya,” ungkap Delia. Hanya saja, untuk benda fashion, ia menerapkan aturan berbeda. Kalau lukisannya dijamin tak akan berpindah tangan, tidak begitu dengan fashion. “Saya tidak suka menumpuk baju. Jadi kalau saya beli lima, baju di lemari saya juga harus berkurang lima. Begitu juga dengan sepatu. Saya hanya mematok 50 sepatu untuk saya koleksi tiap kali. Alasannya sederhana saja, karena lemari sepatu saya sengaja saya buat hanya punya 50 kabinet ,” kisahnya sambil tertawa. Ia juga rutin ‘mencuci lemari’ dua bulan sekali untuk memastikan, hanya busana yang masih ia butuhkan saja yang ada di dalamnya. “Saya selalu merasa bersalah tiap kali melihat benda yang tidak bermanfaat teronggok di rumah atau lemari saya. Maka, dengan rutin ‘mencuci lemari’ saya bias yakin kalau benda yang saya miliki akan tetap bermanfaat. Caranya, saya berikan pada orang lain,” katanya serius. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Delia percaya, hidup semata hanya tamasya sesaat yang suatu saat harus berakhir. Menjadi bermanfaat adalah satu syarat mutlak yang ia cantumkan dalam tiap proposal hidupnya, setelah rasa ringan dan bahagia. Maka, ia lebih senang menggunakan kasih sebagai landasan hidupnya. Kekecewaan yang pernah ia alami, mengajarkannya untuk tak lagi mendewakan cinta. “Cinta itu cenderung materialistis. Hanya fisik. Kasih jauh lebih murni karena ketika kasih diberikan, bias dipastikan ada ketulusan di dalamnya,” Delia berteori. Itu sebabnya, meski berdarah, ia tak patah manakala ada yang menusuknya dari belakang, seperti yang pernah ia alami bebera tahun silam. Dikhianati seorang sahabat diakuinya sebagai masalah terberat yang pernah ia rasakan. “Sakit. Tapi saya juga bersyukur, karena kalau tidak mengalami itu, saya mungkin tidak akan tahu ada pintu lain yang terbuka buat saya,” katanya, tanpa mau merinci kejadiannya. Delia tahu, seburuk apa pun, sebuah kejadian hanya terjadi karena perkenan Tuhan. “Kita kadang tidak bias mengelak dari takdir. Yang bias kita lakukan hanyalah berdoa dan berusaha membelokkan takdir buruk menjadi baik,” papar penyuka buku manajemen praktis dan spiritual ini.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbekal keyakinan itulah, ia mengaku bisa menikmati tiap detik yang terjadi dalam hidupnya. Entah sedang berkutat dengan pekerjaan di kantor dan pabriknya di kawasan Parangtritis, mengunjungi satu persatu showroom tasnya dari Yogyakarta hingga Amerika, atau bersantai menikmati udara pantai di destinasi favoritnya di Savona Italia. Kita akan menjumpai orang yang sama. Delia yang selalu ceria, yang tak pernah berpura-pura. Dan ia bahagia karenanya.  (Indah S. Ariani), Pengarah Gaya: Karin Wijaya, Foto: Ferdy (Kencana Art Photography, Yogyakarta), Busana: Carmanita&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5717489757531263022-6305818037667803686?l=indah-ariani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indah-ariani.blogspot.com/feeds/6305818037667803686/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://indah-ariani.blogspot.com/2009/11/kemewahan-hati-delia-murwihartini.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717489757531263022/posts/default/6305818037667803686'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717489757531263022/posts/default/6305818037667803686'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indah-ariani.blogspot.com/2009/11/kemewahan-hati-delia-murwihartini.html' title='KEMEWAHAN HATI DELIA MURWIHARTINI'/><author><name>indahariani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01863084398389371134</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S5joGjEc2iI/AAAAAAAAAFs/giY1-nj4iUQ/S220/cemong.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/SxTPBC_Cv2I/AAAAAAAAADY/OYrkDmROhao/s72-c/Delia.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5717489757531263022.post-7469447837557192359</id><published>2009-11-30T23:14:00.001-08:00</published><updated>2009-11-30T23:40:01.549-08:00</updated><title type='text'>BILA BATAS MAKIN MENCAIR</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/SxTH2hXmLuI/AAAAAAAAADQ/NqKSe5lH7XQ/s1600/Ok2.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/SxTH2hXmLuI/AAAAAAAAADQ/NqKSe5lH7XQ/s320/Ok2.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5410168791863013090" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Seni rupa, kini memasuki ruang yang lebih lapang. Batas yang mencair, membuat orang tak lagi jeri mengapresiasi.&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang berbeda di Pacific Place (PP) sepanjang bulan Agustus silam. Begitu melewati mesin pemindai di pintu masuk, mata pengunjung tak hanya disambut jajaran butik label ternama, tapi juga akan segera menangkap pemandangan tak biasa. Beberapa butir ‘kacang’ raksasa berkulit loreng tergeletak begitu saja di lantai, di depan sebuah butik yang tengah menawarkan koleksi Fall Winter terbaru. Di sisi lain, seorang lelaki bertubuh putih, berjongkok, mengukur lantai dengan meteran. Sedepa di depannya, sebuah gergaji raksasa teronggok entah untuk apa. Di ujung ruang, dekat Coffee Bean, mendadak ada sebuah traffic light yang tak henti bernyanyi. Berbelok sedikit, kita akan bertemu para perupa ternama yang membeku dalam berbagai gaya. Membingungkan? Tidak juga. Sebab pengunjung justru menikmatinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benda-benda asing itu adalah sebagian karya yang tersebar di seantero mal di bilangan SCBD itu sepanjang ajang BRI Platinum – Bazaar Art Jakarta. Di bagi dalam dua pangsa, gelaran itu diawali dengan program Mall Art yang mencakup tiga segmen, pameran A Maze Public Art Project yang diikuti 53 seniman dengan karya dalam berbagai media, Artistocrat, pameran foto para perupa karya Indra Leonardi, dan Wok With Me, sebuah kerja besar Teguh Ostenrik yang didukung langsung oleh PP. Di antara karya lain yang tersebar berbagai sudut dan selasar lantai dasar hingga lantai empat, karya Teguh menjadi semacam centerpiece. Dipajang di atrium utama beratap jenjang, 500 wajan almunium yang melayang-layang sontak menarik perhatian setiap orang yang melintasi lokasi yang berada tepat di jantung mal itu. Dekonstruksi yang dilakukan Teguh, sesungguhnya adalah upaya perupa yang beberapa bulan lalu baru saja menggelar pameran tunggal bertajuk DeFacement ini untuk memuliakan wajan yang acap terlupakan. “Kapan wajan dianggap sebagai sesuatu yang penting? Padahal tiap hari, semua orang menggunakannya untuk memasak makanan mereka,” jelas Teguh tentang karyanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wok With Me, adalah satu dari sekian banyak karya bercerita yang terdapat di pameran tersebut. Sejatinya, seni rupa kontemporer memang merupakan ‘bahasa’ yang sebagai reaksi atas sebuah kondisi seni rupa modern yang terlalu mapan yang tak bisa ditembus oleh genre lain yang tak sealiran dengannya. Maka, pada banyak kesempatan, aliran ‘sempalan’ ini mengususng tema yang sangat dekat dengan realitas masyarakat, yang tak tersuarakan, termarginalkan. Ketika kebaruan kerap dianggap sebagai liyan, maka seni memang selalu bisa jadi alas an untuk dipilih sebagai penyambung lidah. Dan lidah itu kini makin tajam mengupas tiap senti kejadian dalam kehidupan manusia kini. Simbol-simbol dan media yang digunakan, tak lagi baku. Semua mencair dan melebur jadi satu, tanpa batasan yang jelas. Lukisan, instalasi, video, boleh dibuat dari bahan apa saja dan semuanya tetap boleh disebut seni. Tak hanya berhenti di sini, ruang rupa pun kini boleh meluas ke mana saja seperti yang terlihat jelas pada pemilihan tempat art fair ini: mal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya ‘mencairkan’ batas antara seni dan khalayaknya, memang bukan baru kali ini dilakukan. Sebelum acara ini, Dewan Kesenian Jakarta dan Majalah C-Arts telah pula berusaha menggotong seni masuk ke dalam mal  saat digelarnya Jakarta Biennale 2008 dan C-Arts Fair 2009. Dua acara itu digelar di Grand Indonesia dan mendapat animo besar dari pengunjung, seperti yang terjadi pada bulan seni di PP ini. Selain berminat mengamati lebih teliti karya yang dipamerkan dalam A Maze, Artistocrat, dan Wok With Me, pengunjung antusias melongok Art Fair yang diadakan pada 28 hingga 30 Agustus 2009. Diikuti sekitar 20 galeri dari Jakarta, Yogyakarta, Surabaya dan Bali, pasar seni ini berhasil menggambarkan peta seni rupa Indonesia. Seksi khusus Islamic Modern and Contemporary Art of Indonesia, Koleksi Pribadi DR. Ing. H. Fauzi Bowo, Indonesia Odyssey, Fashionart, Museum Pasifika Bali, dan Heritage Indonesia memberi kemeriahan tambahan dalam acara yang digelar di Ballroom 1 The Ritz Carlton Jakarta itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai sebuah produk budaya, seni kini memang tak bisa lagi dipandang terpisah dari gaya hidup. Pelan tapi pasti, sepuluh tahun terakhir ini,  seni telah punya tempat sendiri dalam kehidupan kaum urban. Berbagai tema seputar kedudukan seni dan pengaruhnya, dikupas tuntas dalam rangkaian diskusi yang digelar selama dua hari. Definisi seni kontemporer dipertanyakan kembali, bersama dengan bahasan tentang peluang dan tantangan galeri menyiasati perkembangan pasar seni rupa, hingga soal investasi seni. Semua memang makin mencair dalam seni rupa yang terus menelusup masuk ke berbagai ranah hidup manusia urban. Satu hal yang harus dipertanyakan mungkin, adalah seberapa siap kita membuka pintu dan membiarkannya masuk mewarnai hari-hari kita? (Indah S. Ariani), Foto: ISA, Repro katalog&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5717489757531263022-7469447837557192359?l=indah-ariani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indah-ariani.blogspot.com/feeds/7469447837557192359/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://indah-ariani.blogspot.com/2009/11/bila-batas-makin-mencair.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717489757531263022/posts/default/7469447837557192359'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717489757531263022/posts/default/7469447837557192359'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indah-ariani.blogspot.com/2009/11/bila-batas-makin-mencair.html' title='BILA BATAS MAKIN MENCAIR'/><author><name>indahariani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01863084398389371134</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S5joGjEc2iI/AAAAAAAAAFs/giY1-nj4iUQ/S220/cemong.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/SxTH2hXmLuI/AAAAAAAAADQ/NqKSe5lH7XQ/s72-c/Ok2.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5717489757531263022.post-6701490786820585504</id><published>2009-11-30T22:51:00.000-08:00</published><updated>2009-11-30T23:03:28.818-08:00</updated><title type='text'>BERJUMPA IVAA DI DUNIA MAYA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/SxS_VWWeGWI/AAAAAAAAADA/-YJZnnkgebM/s1600/IVAA+OK.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/SxS_VWWeGWI/AAAAAAAAADA/-YJZnnkgebM/s320/IVAA+OK.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5410159425876793698" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Apa arti sejarah tanpa pencatatan? Maka kiprah IVAA sangat layak ditakzimi. Kini mereka memasuki era digitalisasi dan merambah dunia maya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegelisahan beberapa pelaku dan pengamat seni rupa kontemporer Yogyakarta -Nindityo Adi Purnomo, Mella Jaarsma, Agung Kurniawan, Anggi Minarni, Raihul Fajri, Neni dan Koni- lebih dari satu dekade lalu, berbuah sebuah langkah progresif yang ditujukan bagi lestarinya seni rupa kontemporer Indonesia. Kesadaran akan pentingnya pencatatan dan pengumpulan berbagai data, informasi dan referensi tentang wacana dan perkembangan seni rupa kontemporer, membuat keberadaan lembaga arsip dianggap menjadi sebuah kebutuhan krusial. Maka dibentuklah Indonesian Visual Art Archive (IVAA) yang saat pertama kali dibentuk bernama Yayasan Seni Cemeti (YSC). Langkah penting itu dilakukan bahkan sebelum pasar seni rupa kontemporer Indonesia menggeliat dan berkibar seperti saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dokumentasi awal yang dimiliki IVAA saat didirikan pada 1995 itu adalah arsip-arsip seni rupa milik Nindityo dan Mella yang terus bertambah hingga kini memiliki sekitar 17.869.315 data dengan referensi seni kontemporer tertua bertahun 1960-an. Setahun setelah YSC berubah menjadi IVAA pada 2007, terbit ide mendigitalisasi seluruh data yang dimiliki. Upaya ini mendapat dukungan dari dua lembaga asing dari Amerika (Ford Foundation) dan Belanda (Hivos). Langkah itu diambil untuk memastikan kalau data yang dimiliki IVAA akan jauh lebih aman tersimpan. Proses digitalisasi yang mulai dikerjakan pada 2008 silam itu, lantas berkembang dan memunculkan ide untuk membuat format online untuk seluruh data IVAA yang bisa diakses dari seluruh pelosok dunia. “Bisa dibilang, kami memasuki wilayah baru dalam pola pengarsipan. Dari manual menjadi digital dan kini kami maju satu langkah lagi agar semua orang di dunia bias mengakses data yang kami sediakan,” ungkap Farah P. Wardani, Direktur Eksekutif IVAA.                                                          &lt;br /&gt;                                            &lt;br /&gt;Menurut Farah yang juga kurator independen ini, pengarsipan adalah sebuah kerja penting dalam seni –dan juga dalam banyak bidang lain- yang tak tergarap dengan baik oleh pemerintah. “Maka kami berusaha mengisi kekosongan itu dengan melakukan apa saja yang kami bisa. Harus ada yang mau melakukan kerja ini. Proses trial and error pasti terjadi, tapi kami harus ambil risiko itu. Anggap saja ini sebagai pilot project yang bisa diterapkan juga pada bidang seni lain semisal teater, tari, atau musik,” katanya. Upaya keras mendigitalisasi data itu, diakui Farah belum berakhir, karena masih cukup banyak teks koleksi IVAA yang belum tergarap. Tapi kini hasil kerja Farah dan timnya sudah dapat diunduh lewat www.ivaa-online.org/archive yang boleh jadi merupakan situs data seni rupa kontemporer pertama di Indonesia. “Siap tidak siap, kami sepakat melemparkan ini ke khalayak. Perkembangan bisa dilakukan sambil jalan,” jelas Farah di sela-sela persiapan peluncuran IVAA Online di Galeri Nasional beberapa waktu lalu.  Ya, kerja memang masih belum selesai. Tapi harus ada langkah diayunkan, bukan? Dan ini layak diapresiasi. (Indah Ariani) Foto: ISA&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5717489757531263022-6701490786820585504?l=indah-ariani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indah-ariani.blogspot.com/feeds/6701490786820585504/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://indah-ariani.blogspot.com/2009/11/berjumpa-ivaa-di-dunia-maya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717489757531263022/posts/default/6701490786820585504'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717489757531263022/posts/default/6701490786820585504'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indah-ariani.blogspot.com/2009/11/berjumpa-ivaa-di-dunia-maya.html' title='BERJUMPA IVAA DI DUNIA MAYA'/><author><name>indahariani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01863084398389371134</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S5joGjEc2iI/AAAAAAAAAFs/giY1-nj4iUQ/S220/cemong.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/SxS_VWWeGWI/AAAAAAAAADA/-YJZnnkgebM/s72-c/IVAA+OK.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5717489757531263022.post-813086175738720466</id><published>2009-08-20T00:01:00.000-07:00</published><updated>2009-08-20T00:03:34.159-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Khas Feature'/><title type='text'>PEMETA SENI RUPA</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 10"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 10"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CIA1499%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C03%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="PlaceType"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="PlaceName"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="country-region"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="City"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="State"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	mso-hyphenate:none; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-language:AR-SA;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman";} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Di balik kemeriahan pameran seni rupa, tersimpan kerja keras dan kejelian&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kurator dalam mengonsep serta memilih gagasan dan karya terbaik para perupa.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Di antara gegap gempita pasar seni rupa dan eforia lonjakan harga karya ke tingkat paling fantastis, ada sebuah jalan yang hanya dilalui sedikit orang. Jalan para kurator ini, masih terbuka luas, karena masih sedikit orang yang memilih&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;profesi tersebut. Dalam lingkaran kecil kurator yang dimiliki seni rupa &lt;/span&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;, ada bidang lebih kecil lagi yang diisi para perempuan kurator. Namun, meski sedikit, mereka bisa mewarnai dunia seni rupa kontemporer &lt;/span&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt; lewat kiprah yang tak layak diabaikan. Empat orang pilihan &lt;i&gt;dewi&lt;/i&gt; kali ini setidaknya akan bisa mewakili kiprah para perempuan kurator memetakan ranah seni rupa &lt;/span&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Alia Swastika&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Kurator&lt;/span&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;st1:state&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Ark&lt;/span&gt;&lt;/st1:state&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt; Galerie&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Ketika bergabung dengan surat kabar mahasiswa, Newsletter Surat, yang diterbitkan Yayasan Cemeti Yogyakarta, Alia Swastika sama sekali tak menyangka kalau dunia tulis-menulis akan membawa langkahnya memasuki sebuah ‘jalan sunyi’ dalam seni rupa. Menjadi kurator bukan tujuan awal kariernya, meskipun Alia selalu punya ketertarikan pada dunia seni lain seperti teater, musik, dan film. Persinggungan intensif dengan seni rupa ketika ia bekerja di &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Surat&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;, mempertemukannya dengan sebuah peluang yang ketika ia jajaki, memberi kepuasan tersendiri buatnya. “Suatu hari saya melihat lowongan sebagai manajer artistik di Rumah Seni Cemeti. Mengkurasi pameran adalah salah satu kerja yang harus dilakukan. Saya coba mengambil peluang itu dan ternyata menikmatinya,” kata Alia yang kini menjadi kurator &lt;i&gt;in house &lt;/i&gt;Ark Galerie.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Masa awal memulai kerjanya sebagai manajer artistik, Alia mengaku banyak mengamati dan mempelajari bagaimana duo pemilik Rumah Seni Cemeti, Mella Jaarsma dan Nindityo Adipurnomo mengelola galeri. “Saya perhatikan cara mereka membuat konsep kurasi dan berhubungan dengan seniman. Banyak yang bisa saya pelajari dari &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;sana&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;, karena mereka juga sering kedatangan publik seni internasional,” Alia berkisah. Perempuan yang menyukai teater ini, lantas mendapat sebuah ide menarik saat ia menonton sebuah pertunjukan. “Saya melihat properti pertunjukan itu seperti sebuah patung. Lalu saya pikir, kenapa tidak membuat pameran dengan properti panggung teater dan tari sebagai instalasi seni?”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ia lalu mengajukan proposal kurasi ke Cemeti yang langsung disetujui. Orisinalitas ide Alia menjadi daya tariknya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Saat itu Alia mengundang Teater Garasi, Teater Payung HItam di Bandung, dan Boi G. Sakti untuk terlibat dalam pameran yang ia beri judul &lt;i&gt;In The Shadow of Light.&lt;/i&gt; “Sebab saya melihat, cahaya juga merupakan elemen seni rupa yang penting dalam sebuah pertunjukan teater,” kenangnya. Debutnya pada 2005 itu mendapat sambutan baik, karena saat itu jarang sekali ada pameran dengan format yang berhasil menarik pula publik teater dan tari yang berada di luar seni rupa. “Karena dianggap memiliki ketertarikan pada kerja kurasi, setelah pameran pertama itu saya dipercaya mengambil alih beberapa proyek kurasi di Cemeti. Bersama Mella dan Nindit, saya menangani beberapa pameran rutin dan mempersiapkan pameran di luar negeri,” katanya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Ada&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt; proses kerja panjang yang harus dilalui seorang kurator untuk menggelar sebuah pameran. “Tiap pameran, persiapannya bisa mencapai 8-12 bulan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Walaupun untuk pameran kelompok, saya melakukan pendektan yang sama seriusnya dengan pameran tunggal. Begitu pula perlakuan saya terhadap seniman, baik seniman senior, yang sudah tenar atau seniman baru. Tidak ada perbedaan,” katanya. Integritas, adalah hal penting untuk memastikan setiap proses persiapan berjalan lancar. “Saya orang yang sangat percaya prinsip integritas. Ketika bekerja dengan para seniman, itu yang saya pegang. Saya mencoba bekerja sesuai prosedur dan kesepakatan dengan mereka,” katanya tegas. Menurutnya, kerja kurasi yang baik baik adalah bentuk apresiasinya pada kerja kreatif seniman. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Hal penting yang juga perlu dilakukan dalam profesi ini menurutnya adalah melakukan riset, mengenal seniman, dan juga mengetahui jenis karya yang akan dipamerkan. “Dia harus kenal seniman, harus tahu kecenderungan karyanya dan paham bagaimana itu harus dipresentasikan. Karena dari situ, konsep bisa dielaborasi lebih jauh dan dipresentasikan ke publik dengan cara yang tepat,”&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;kata kurator yang baru saja menggelar pameran pameran Golden Age di Museum Akili itu. Seorang kurator, dalam pandangan Alia, tak bisa dibilang sukses jika publik seni hanya menemukan karya-karya bagus dalam ruang pamerannya. “Kalau itu yang terjadi, yang berhasil adalah senimannya, bukan kuratornya. Karena yang mengerjakan itu senimannya. Keberhasilan kurator diukur dari apakah publik bisa membaca gagasan di balik pameran itu,” tukas kurator yang menghindari melakukan ‘kerja jarak jauh’ dengan senimannya ketika sedang mempersiapkan pameran. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;“Modal utama menjadi kurator adalah persahabatan dengan seniman. Sepintar apa pun seorang kurator, kalau tidak bisa menjalin hubungan baik dengan seniman atau tidak bisa membuat seniman percaya, ya tidak akan ada manfaatnya. Pasti susah sekali,” kata kurator. Tanpa latar belakang seni rupa, lulusan Komunikasi dari Universitas Gajah Mada ini yakin, bahwa pengetahuan dan ketajaman rasa dalam seni, itu bisa dipelajari sambil jalan. “Saya merasa banyak diuntungkan oleh kesempatan untuk pergi ke luar negeri. Kalau saya tidak mengalami itu, mungkin yang saya ketahui hanya sebatas apa yang ada di katalog dan buku-buku,” ungkapnya. Ia merasa diperkaya pengalaman itu, yang berimbas langsung pada sensibilitasnya terhadap seni. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Sensibilitas, menurut kurator yang sempat magang di &lt;/span&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Asia Society Museum&lt;/span&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;st1:state&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;New   York&lt;/span&gt;&lt;/st1:state&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt; ini merupakan hal penting yang tidak berdiri sendiri. “Dia dikonstruksi oleh konsep, pengetahuan, dan pengalaman,” ungkap Alia yang senang memerhatikan kerja seniman karena memperkaya pengetahuan teknisnya. (Untuk itu ia sering menyempatkan diri bertandang ke studio seniman dan melihat langsung proses pembuatan karya). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Lalu apa sebenarnya yang membuatnya jatuh cinta pada profesi ini? “Buat saya, bersahabat dengan seniman adalah kemewahan yang tidak semua orang punya kesempatan untuk itu. Mereka punya pola pikir yang berbeda dengan kebanyakan orang. Saya menikmati sekali petualangan gagasan yang sangat menarik. Seperti duduk di &lt;i&gt;roller coaster&lt;/i&gt; ketika berinteraksi dengan para seniman yang memiliki latar pengaruh berbeda,” tandasnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Farah P. Wardani&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Kurator Independen&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Di antara kurator yang terlibat dengan sebuah institusi seni, terdapat pula mereka yang memilih untuk tidak terikat satu lembaga seni sebagai kurator dan bahkan menjalani profesi kurator hanya sebagai profesi pendamping. Salah satu yang memilih itu adalah Farah P. Wardani. Sejak awal, ia memang memilih untuk menjadi kurator lepas. Farah yang kini menjadi manajer Indonesian Visual Art Archive (IVAA), memilih untuk lebih berfokus pada lembaga nirlaba yang mengurusi pendokumentasian catatan tentang perkembangan seni rupa &lt;/span&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt; itu. “Apalagi sekarang ini saya dan IVAA sedang sibuk mempersiapkan peluncuran Online Archive. Jadi sementara memang tidak terlalu aktif sebagai kurator,” katanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Tapi itu tidak lantas membuatnya sama sekali vakum mengkurasi. Setelah menjadi kurator dalam pameran di Nadi Galeri dan Galeri Nasional Jakarta, Farah sempat juga mengkurasi pameran Bambang Toko di Valentine Willy Gallery di Kuala Lumpur. “Sekarang ini saya lebih banyak menulis pengantar pameran saja, seperti untuk pameran Bob Sick dan S. Teddy D. kemarin di Yogyakarta,” ujar Farah yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kini juga sedang membantu Edwin Rahardjo dari Edwin’s Gallery mempersiapkan pameran untuk memperingati 25 tahun galerinya – salah satu dari 25 kurator yang diminta menangani pameran koleksinya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Mengkurasi koleksi sebuah lembaga seni, menurut Farah yang pernah aktif di Ruang Rupa Jakarta ini,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;memang kerja seorang kurator yang umumnya bekerja di museum, “Tapi dalam perkembangannya, di luar museum juga ada lembaga-lembaga seni lain seperti galeri dan &lt;i&gt;biennale&lt;/i&gt;.” Hal ini, dalam pandangannya,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;membuat infrastruktur seni rupa jadi berkembang makin kompleks. Kurator akhirnya tidak lagi hanya mendekam di museum, tapi melangkah ke luar, menjadi partner seniman untuk menciptakan inovasi atau perkembangan baru dalam seni rupa. “Sayangnya, hal itu belum berjalan terlalu sempurna di sini. Karena di sini, museum seni rupa yang sangat memadai seperti Museum of Modern Art (MOMA) di &lt;/span&gt;&lt;st1:state&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;New York&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:state&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;, atau &lt;/span&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;st1:placename&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Fukuoka&lt;/span&gt;&lt;/st1:placename&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;st1:placename&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Asian&lt;/span&gt;&lt;/st1:placename&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;st1:placetype&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Art Museum&lt;/span&gt;&lt;/st1:placetype&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt; itu belum ada,” katanya. Tak heran, Farah menangkap fakta kalau kurator di &lt;/span&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt; akhirnya lebih berperan sebagai penggagas pameran. “Saya lebih suka menyebutnya dengan istilah &lt;i&gt;program director&lt;/i&gt; untuk acara seni, entah pertunjukan atau pameran, ketimbang kurator. Mirip dengan &lt;i&gt;music director&lt;/i&gt;, tapi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;untuk acara seni rupa,” Farah menambahkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Kondisi dilematis itu, menurut analisisnya, terjadi karena belum adanya dukungan memadai dari pemerintah terhadap pengembangan seni rupa. “Memang belum memungkinkan selama pemerintah juga belum memberi dukungan yang memadai. Sekarang memang seni rupa sedang sangat meriah dan sudah bisa jadi sumber penghidupan. Tapi kalau boleh bicara, secara esensi, kerja seni rupa itu belum selesai,” ungkapnya. Farah mengambil IVAA sebagai contoh. Kerja pendokumentasian yang dilakukan di IVAA menurutnya adalah upaya untuk mengisi kekurangan referensi yang seharusnya menjadi begian kerja pemerintah. “Orang yang ingin tahu sejarah seni rupa, ingin tahu proses yang terjadi di situ, belum punya banyak sarana untuk itu. IVAA ini adalah salah satu sarana yang bisa digunakan untuk hal tersebut,” Farah menjelaskan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Di luar keterbatasan sarana itu, lulusan Desain Komunikasi Visual dari Universitas Trisakti ini merasa referensi adalah elemen penting yang sangat membantu kerjanya sebagai seorang kurator. “Saya dapat banyak referensi untuk kerja kurasi dan kerja kurasi saya juga menambah daftar rujukan di IVAA,” ungkapnya. Kadar kebutuhan atas referensi itu sendiri, menurut salah satu penulis buku &lt;i&gt;Indonesian Women Artist The Curtain Opens&lt;/i&gt; ini sangat tergantung pada pameran yang digelar. “Kalau seperti saya yang banyak menangani seniman muda dan bertindak layaknya seorang &lt;i style=""&gt;talent scout&lt;/i&gt; sekaligus memberi masukan untuk seniman muda itu, referensi yang saya gunakan tidak banyak mengenai seniman muda itu, tapi lebih pada soal kajian budaya dan fenomena apa yang diwakili dan sebagainya meski kadarnya berbeda tergantung skala pameran,” jelasnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Farah yang memang lebih sering membawa nama-nama baru dalam pamerannya itu, merasa perlu menjelaskan tak hanya penilaian secara estetik, melainkan juga kedudukan seniman itu dalam peta generasi seni dan fenomena sosial tertentu. “Ini sama halnya seperti dalam musik. Selalu perlu ada sesuatu yang ditawarkan. Itu memang pekerjaan yang tak pernah habis kalau memang terus dipelajari. Itu bagian dari profesi,” katanya. Untuk menjaga bobot kualitas pameran yang ia tangani, Farah mengaku mematok hanya mau menerima maksimal &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;lima&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt; saja tawaran menggelar pameran. “Karena saya sebenarnya lebih suka antara pameran yang satu dengan pameran lainnya tidak berbarengan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Satu pameran saja tiap kali,” ungkap peraih master sejarah seni dari &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;London&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;’s &lt;/span&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;st1:placename&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Goldsmith&lt;/span&gt;&lt;/st1:placename&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;st1:placetype&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;College&lt;/span&gt;&lt;/st1:placetype&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt; ini. Apalagi saat ini, prioritas utamanya memang tengah tertuju pada IVAA dan kurator diakuinya sebaai kerja sampingan saja. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Namun, kendati sudah mengatur agar kelima pameran itu tidak terjadi dalam bulan yang sama, tak jarang tenggat waktu perupa yang mundur membuatnya harus mengerjakan beberapa proyek di waktu yang berbarengan. “Kerja kurator itu memang susah-susah gampang. Dibilang susah dan menyita waktu sekali juga tidak. Tapi saya juga harus menjaga &lt;i style=""&gt;mood&lt;/i&gt; saat memantau seniman-senimannya, butuh fokus sendiri. Jadi ketika ada yang menawarkan pekerjaan, biasanya saya menolak. Tapi seringkali terjadi, dalam prosesnya, seniman seringkali mengundur pameran, jadilah ujung-ujungnya numpuk juga. Tapi itu juga sudah saya perkirakan. Karena seniman seringkali menunda hingga galeri pun terpaksa mengikuti mereka,” keluhnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Kondisi itu tak jarang menempatkannya pada posisi tengah yang tak nyaman. “Seringnya berada pada posisi sebagai jembatan yang melintang antara manajemen galeri dan proses berkarya seniman yang sangat cair. Itu sudah bagian kerja kurator sebenarnya, tak bisa dihindari,” katanya. Karena itu biasanya Farah memilih bekerajsama dengan galeri yang memang bisa memahami proses kerja seniman. “Apalagi sekarang banyak sekali galeri. Saya sangat selektif memilih galeri supaya bisa menghindari kondisi seperti itu,” katanya menambahkan. Untuk mengatasi hal itu, ia lantas selalu membuat tenggat waktu yang tegas untuk para seniman, dengan toleransi penangguhan waktu yang hanya boleh dilakukan dua kali saja. “Lebih dari itu, saya biasanya memilih membatalkan pameran, walau ini belum pernah terjadi,” kisahnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Konsekuensi dari pilihan tidak membatalkan pameran itu, membuat Farah justru kerap harus berkompromi dengan idealisme konsepnya sendiri. “Buat saya, kalau memang jadi, ya jadi. Tapi ya itu, ide-ide saya akhirnya banyak yang belum bisa terealisasi,” katanya sambil tertawa. Ia lantas mengambil pameran Bohemian Carnaval di Galeri Nasional beberapa waktu lalu sebagai contoh yang tak memungkinkannya menerapkan seluruh ide. Membawa 18 seniman muda dari &lt;/span&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Yogyakarta&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;, ia harus mengurangi banyak konsep artistik yang tak mungkin diterapkan karena terbentur kondisi para seniman yang tengah disibukkan oleh tugas akhir kuliah mereka. “Tadinya kami ingin sesuatu yang sangat eksperimental dan ingin merepresentasikan spirit anak Jogja sekarang. Tapi akhirnya saya bilang pada mereka kalau kami tidak mungkin melakukannya karena waktu pameran tidak mungkin diundur. Alhasil, jadi tidak seheboh yang kami bayangkan,” Farah mengenang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Sebagai seorang kurator, Farah menganggap gagasan adalah hal paling utama yang harus dimunculkan, dan juga dipertanggungjawabkan. Itu sebabnya, ia sangat peduli pada soal penyebutan dirinya dalam sebuah pameran. “Saya, hanya menyebut diri saya sebagai kurator kalau konsep pameran itu muncul dari saya atau bisa juga idenya muncul dari seniman, tapi saya benar-benar mengikuti proses berkaryanya sejak awal, seperti waktu saya membantu pameran Angki Purbandono di Biasa Artspace tahun lalu,” ungkapnya. Akan berbeda keadaannya jika ia baru terlibat belakangan dan hanya membuat tulisan tentang pameran tersebut. “Misalnya saat saya membantu pameran Teddy dan Bob Sick. Saya hanya menyebut diri saya sebagai penulis karena tidak terlibat sama sekali dalam proses kreatifnya,” ia menjelaskan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Bagi Farah, kerja kurasi menjadi sah hanya ketika ia juga memiliki otoritas untuk menentukan pesan. Soal ini bukan tanpa alasan. Ia tak mau terjebak kerancuan istilah dan mengambil tanggung jawab yang tak seharusnya ia pikul. Seperti juga Inda, ia berpendirian bahwa tidak semua penulis yang membahas sebuah pameran di dalam katalog bertindak sebagai kurator pameran itu. Oleh karenanya, penulis tidak bertanggung jawab akan konsep sebuah pameran, karena ia hanya membuat semacam review, merespons apa yang terlihat, bukan menyampaikan sebuah pesan. “Kalau saya mengkurasi pameran, saya punya ide dan mengajak mereka berkarya atas konsep yang saya buat. Kalau itu, silakan tanya apa yang ingin saya ungkapkan,” kata Farah yang senang dengan perkembangan seniman sekarang yang umumnya sudah matang secara konsep. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Inda C. Noerhadi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Kurator Galeri Nasional &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Di antara deretan laki-laki yang menjadi kurator di Galeri Nasional (Galnas) Jakarta, terdapat satu perempuan yang tak asing bagi publik seni, Inda C. Noerhadi. Bersama Rizki A. Zaelani, Agus Burhan, dan mendiang Maman Noor, pada 2003 ia diangkat menjadi tim kurator. Namun jauh sebelum itu, ia sudah menjalani kerja kurator saat Galeri Cemara 6 didirikan pada 1993. “Karena harus mempersiapkan pameran, mau tidak mau saya terlibat banyak dalam pemilihan karya Mochtar Apin dan Salim yang digelar untuk meresmikan galeri. Diskusi dengan Mochtar yang terjadi secara intensif saat itu, tanpa saya sadari melibatkan saya pada kerja kurator, misalnya menentukan fokus pameran, diskusi dengan seniman, dan sebagainya. Saat itu, belum banyak orang yang menjadi kurator. Baru ada nama seperti Jim Supangkat, Asikin Hasan, dan beberapa lainnya,” kenang Inda. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Sambil terus mengasah kematangannya dalam pengelolaan galeri, perempuan pelukis ini juga terus melakukan kerja kuratorial, bersinergi dengan kurator lain. “Pada 1998, atas anjuran Jim Supangkat, saya mengikuti &lt;i&gt;workshop&lt;/i&gt; kurator yang pertama kalinya diadakan Japan Foundation bekerjasama dengan Departemen Pendidikan. Pada saat bersamaan, saya juga sedang sibuk menyiapkan pameran Galeri Cemara 6 yang diadakan di Vatikan, berjudul &lt;i&gt;Woman in the Realm of Spirituality&lt;/i&gt; yang diikuti para perempuan perupa,” kisahnya. Sepuluh peserta dari &lt;i&gt;workshop &lt;/i&gt;itu dikirim ke Jepang, termasuk Inda. Perjalanannya ke sana memberi banyak masukan pada pemahamannya tentang kerja kurasi. “Di sana, kami berkeliling ke berbagai museum untuk melakukan studi banding, mulai dari melihat koleksi, berdiskusi dengan para kurator dan kepala museum, hingga melihat &lt;i&gt;loading&lt;/i&gt; barang,” kisah Inda.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Menurut Inda yang menyelesaikan pendidikan Sejarah Seni di University of Pittsburgh itu, ada perbedaan mendasar antara pemahaman kurator di luar negeri dengan di Indonesia. “Di sana, kurator adalah penanggung jawab koleksi museum. Mereka yang tahu soal asal-usul dan segala hal tentang sebuah karya termasuk kedudukannya dalam sejarah seni rupa. Kerjanya lebih banyak berhubungan dengan arkeologi. Karya seni dalam konteks itu jadi mirip dengan artefak,” Inda menjelaskan. Kerja kurator yang juga ia pahami adalah sebagai kritikus seni yang menulis, menggali problem, dan presentasi yang disuguhkan oleh seniman. “Tapi mungkin akhirnya kerja kritikus seni tidak populer lagi karena orang malas membaca kritik seni. Maka pergeseran itu mulai terjadi. Kurator lebih populer dalam konteks sebagai pengesah pameran. Karena pameran kalau tidak ada kurator dianggap tidak seru, tidak berbobot. Itu kecenderungan yang terjadi sekarang dan menurut saya, ini membahayakan,” katanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Kekhawatiran Inda memang cukup beralasan. Sebab menurutnya, membuat kritik seni sebenarnya adalah bagian terbesar kerja seorang kurator. Dengan pola kerja seperti yang lazim dilakukan sekarang, Inda curiga akan terjadi degradasi pemahaman profesi kurator hanya sebagai &lt;i style=""&gt;event organizer&lt;/i&gt;. “Istilah kurator mulai populer di sini setelah terbuka akses untuk berpameran ke dunia internasional. Perupa-perupa kita banyak peluang pameran ke luar negeri, dan kebutuhan adanya orang yang bisa menjelaskan konsep dan pesan karya serta persoalan seni di baliknya menjadi penting.“ Ini, menurut Inda, menjadikan kurator mempunyai otoritas cukup tinggi dalam percaturan seni rupa. “Ketika kita bicara dalam konteks pasar seni, kurator akhirnya menjadi seperti legitimasi dan penentu posisi seorang seniman dalam pasar,” katanya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Kerja kurator sekarang ini juga menjadi sangat tergantung pada bagaimana sebuah institusi seni – seperti museum atau galeri – menempatkannya. “Ada yang terlibat penuh sejak urusan membuat konsep hingga memajang karya di ruang pamer, ada juga yang hanya mengantar pameran, dan sebenarnya ia sedang melakukan kritik seni,” Inda memaparkan. Itu sebabnya, salah besar jika mengartikan semua orang yang menulis kuratorial dalam katalog sebagai kurator. Selain memiliki porsi kerja yang berbeda, penulis pengantar tidak lantas menjadi kurator yang bertanggung jawab atas konsep pameran. Melihat perkembangan yang ada, Inda mengaku ingin sekali ada sebuah standarisasi yang mengatur rambu dan etika profesi ini. “Bukan untuk mengekang, tapi memberi arahan, supaya kurator tidak lantas sekadar menjadi humas seniman. Sebab sekarang ini, ada kecenderungan kurator memegang seniman tertentu sehingga nilai seniman terutama soal harga menjadi &lt;i&gt;booming&lt;/i&gt; karena nama kuratornya,” katanya. Inda tidak menyalahkan hal itu, namun ia mengaku khawatir hal itu akan memengaruhi objektivitas kurator dan itu akan berimbas pula pada kualitas kurator itu sendiri.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Lebih dari satu dekade bergelut dalam dunia kurasi, Inda menangkap adanya kondisi tak seimbang antara posisi kurator dan dinamika pasar. “Kurator seperti&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;terbanting oleh dinamika pasar yang terjadi beberapa tahun terakhir ini. Dia mau tidak mau dipaksa mengikuti arus besar pasar yang mengarah pada seni kontemporer. Asumsi bahwa seni kontemporer yang bagus, membuat orang tak lagi tertarik pada banyak karya bagus yang tidak masuk dalam seni kontemporer dan itu membuat kurator cenderung tak berani menyuguhkan sesuatu yang berada di luar seni kontemporer,” keluhnya. Inda lalu memberi contoh pameran Umi Dahlan, di Galeri Nasional. ”Meski Jim Supangkat mengatakan bahwa itu adalah pameran yang sangat penting, tetap saja pameran itu tidak menarik minat pencinta seni karena tidak termasuk aliran kontemporer. Sedangkan dalam seni kontemporer, yang akhirnya dibicarakan hanya sebatas besarnya perputaran uang yang terjadi di sana, tapi abai pada persoalan seberapa penting sebuah karya atau perupa dalam percaturan seni rupa,” ungkapnya prihatin.&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Tapi Inda, menganggap, keleluasaan pilihan ada di tangan para kurator. Bidang seni rupa yang masih tidak terlalu diminati ini menurutnya masih membutuhkan lebih banyak orang dengan peluang eksplorasi yang juga masih sangat luas. “Semua kembali pada masing-masing kurator untuk memilih bagaimana cara mereka menggali kelebihan, kesungguhan menjalani profesi, dan sebagainya. Peluang di bidang ini sangat baik. Beberapa orang dulu selalu bilang pada saya, buat apa jadi perupa, karena sudah banyak. Lebih baik jadi kurator yang masih jarang.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Mella Jaarsma&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Kurator Rumah Seni Cemeti&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Berbicara tentang seni rupa kontemporer Indonesia, kita pasti akan menyebut Yogyakarta sebagai salah satu kantung seni rupa. Dan membicarakan Yogyakarta, tak akan sah rasanya kalau tidak membicarakan Rumah Seni Cemeti yang bisa dibilang merupakan lokomotif pembawa perubahan dalam perkembangan seni rupa kontemporer di sana. Dan bicara tentang Cemeti, tak akan lengkap tanpa menyebut dua penggagasnya, suami istri Mella Jaarsma dan Nindityo Adipurnomo. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Perjalanan kedua orang itu dimulai dari kesadaran mereka akan ketiadaan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ruang pamer di Yogyakarta. Mereka ingin membangun ruang pamer yang memiliki pusat informasi seni rupa serta ruang berdiskusi. “Pada era 1980-an, sudah banyak sekali mahasiswa di ISI dan seniman yang membuat karya menarik seperti Heri Dono atau Eddie Hara. Tapi biasanya, ketika mereka selesai kuliah, susah memamerkan karyanya di sini, apalagi untuk mencari uang. Mereka kebanyakan lalu pindah ke Bali atau Jakarta dan selalu hilang,” kenang Mella tentang Rumah Seni Cemeti yang kini menjadi satu institusi seni penting dalam percaturan seni rupa Indonesia.. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Itu juga yang lantas menghubungkan perupa kelahiran Emmloord, Holland ini berkesplorasi dengan berbagai media dengan kerja kurasi. “Satu alasan kami membuat ruang pamer itu supaya orang bisa melihat perkembangan seni rupa di sini. Karena pada waktu itu yang tampil hanya galeri batik komersial yang benar-benar seperti toko. Kami ingin sesuatu yang berbeda yang lebih menampilkan kreativitas teman-teman,” katanya. Menurut Mella, di balik ide pembukaan galeri itu, ada kerja yang terfokus pada bagaimana mengedukasi masyarakat agar bisa mengapresiasi seni. Ia lalu terlibat dalam penentuan, siapa saja seniman yang akan ditampilkan di galeri yang berawal dari ruang tamu sebuah rumah di daerah Keraton yang berukuran 4X7 meter. “Dari ruang itu, kami mengembangkan visi yang lebih luas,” kata Mella yang selalu menyebut dirinya sebagai kami, ketimbang saya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Dulu, ia mengenang, karena keterbatasan ruang yang ada, hanya pameran tunggal yang bisa digelar dengan jumlah karya yang tergantung pada ukuran karya tersebut. “Kalau seniman membawa lukisan kecil, yang dipamerkan bisa banyak. Tapi kalau ukurannya lumayan besar, hanya beberapa saja. Ya, apa yang bisa diharapkann dari dinding di ruangan seluas 4X7 meter, yang masih pula dipotong pintu dan jendela,” tukasnya sambil tertawa. Sejak awal, Mella sebenarnya telah melakukan kerja kurasi di Cemeti. “Tapi pada waktu itu kata kurator belum dikenal. Bahkan istilah &lt;i&gt;contemporary art&lt;/i&gt; saja belum terdengar, baru ada &lt;i&gt;modern art&lt;/i&gt;,” katanya menjelaskan. Mengandalkan kesenimanannya, Mella dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Nindityo melakukan pengamatan, penilaian, dan pemilihan seniman untuk diajak berpameran di ruang rupa mereka. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;“Kalau kami dengar ada teman yang punya karya menarik, kami undang mereka untuk berpameran di Cemeti. Lama-lama, kami memang mengkurasi pameran. Tapi tidak selalu saya dan suami yang melakukan. Kami juga sering mengundang kurator untuk mengkurasi pameran atau bisa juga senimannya yang memilih kuratornya sendiri,” ungkapnya. Sejauh pengamatan dan pengalamannya, Mella mengaku, ada banyak fungsi yang harus dijalani oleh seorang kurator. “Dalam kancah seni rupa &lt;/span&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;, mungkin bisa juga dibilang kurator ini satu profesi yang tidak begitu jelas kerjanya,” kata Mella yang hanya setahun saja berkuliah di Institut Seni &lt;/span&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;. Ia memberikan sinyalemen,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;telah terjadi kerancuan yang acap terjadi dalam mendefinisikan kurator. “Kadang-kadang hanya menulis satu artikel dalam katalog sudah disebut kurator. Menurut saya, kurator harusnya lebih mengikuti perkembangan seni rupa seorang seniman. Jadi bukan hanya memikirkan tema, mengundang seniman dan menulis kuratorial, tapi juga harus melakukan survei mendalam tentang perkembangan seorang seniman,” katanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Namun Mella merasa, hal penting itu kerap diabaikan oleh beberapa orang yang menyebut diri sebagai kurator. “Kadang-kadang kurator sama sekali tidak turun langsung ke lapangan untuk mengikuti proses kreatif yang dialami seniman dan hanya mengambil teori dari berbagai buku,” ujarnya gusar. Padahal, ia melihat, upaya itu penting dilakukan dan harus dilihat sebagai sebuah riset terhadap perkembangan seniman. Itu sebabnya, Mella melakukan aturan itu secara ketat di Cemeti. Ketika ia mengundang seorang seniman untuk berpameran, itu selalu terjadi setelah beberapa lama ia menjalin hubungan dan melewati banyak sesi diskusi. “Jarang sekali kami langsung mengundang seniman di saat pertama kami melihat karyanya. Pasti semua melalui proses. Biasanya kami datang ke studionya, ngobrol, melihat karya lama dan membandingkannya dengan perkembangan karyanya yang sudah kami amati,” Mella memaparkan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Untuk kerja kurasinya, Mella memang tak pernah mengabaikan hal itu. Baginya, survei dan membangun hubungan personal dengan seniman sama pentingnya, karena karena dari situ ia akan bisa melihat sikap, cara berpikir, dan bagaimana konsep di belakang karya seniman tersebut. “Saya jarang sekali berangkat dari objek visualnya saja,” katanya. Itu ia lakukan karena pameran baginya bukan sekadar bertujuan menjual karya, tapi lebih pada keinginan untuk mencatat perkembangan artistik setiap seniman yang ditampilkan. “Kami ingin bisa memberi sesuatu yang terus bisa diingat, membawa orang pada sesuatu. Bukan sekadar membuat objek yang indah, nikmati sebentar dan selesai,” katanya. Itu sebabnya, konsistensi seorang seniman menjadi indikasi penting pula dalam pengamatan Mella. “Tapi ini juga akan menunjukkan tingkat keseriusan seorang kurator. Apakah dia benar-benar melakukan riset yang serius atau hanya sekadarnya saja dan mengundang seniman hanya karena alasan nama besar atau karena karyanya pasti laku dijual,” paparnya dengan kritis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Namun, kendati begitu tegas dalam soal pengamatan, Mella mengaku menerapkan litasi waktu yang relatif untuk setiap seniman.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;“Kadang-kadang bisa agak cepat, kalau dibantu rekomendasi untuk mengamati karya seorang seniman dan atau saya melihat karya menariknya di sebuah pameran. Tapi bisa juga prosesnya lebih lama, bisa mencapai setahun sampai dua tahun setelah pengamatan, kami baru berani mengajak seorang seniman berpameran,” ungkapnya. Buat Mella, referensi memang juga hal yang tak bisa diabaikan dalam proses pengamatan. “Itu sebabnya saya berusaha selalu aktif datang ke pameran di tempat lain, &lt;i&gt;browsing &lt;/i&gt;internet&lt;i&gt;,&lt;/i&gt; dan sebagainya. Tapi sekarang begitu banyak pameran, tidak sanggup juga mendatanginya semua,” cetusnya sambil tertawa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Dengan usia yang terbilang panjang dan menjadi saksi lahirnya aliran kontemporer dalam seni rupa &lt;/span&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;, tak pelak banyak seniman besar saat ini yang pernah menjadi ‘anak asuh’ Mella dan Cemeti. Tapi, kendati lebih dari 30 seniman kontemporer yang 'dihasilkannya', Mella dengan rendah hati menolak sebutan sebagai ‘pengorbit’ seniman. “Tidak adil kalau dibilang seperti itu. Karena kemajuan seniman pun tergantung cara mereka membangun jejaring. Kami membantu mereka awal kariernya dengan coba mencarikan mereka residensi di luar negeri, mempromosikan mereka ikut di &lt;i&gt;biennale &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;triennale&lt;/i&gt; di luar negeri. Karena pada saat itu, kurator dan kolektor &lt;/span&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt; juga belum terlalu mengikuti perkembangan seni kontemporer di sini.” ungkapnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Sebagai kurator yang juga seniman, Mella punya indikasi sendiri tentang kerja kurasi. Menurutnya, secara ideal, kurator harus paham benar perkembangan seniman yang dia kurasi, bukan hanya dari baca dan berbincang, tapi juga bisa mengupas dan melihatnya dalam konteks besar seni rupa. “Kurator juga harus bisa menulis. Itu sebabnya, saya sebenarnya tidak berani menyebut diri saya kurator, karena meski mengkurasi pameran, saya merasa tidak pandai menulis,” cetussnya sambil tergelak. Mengapa menulis menjadi indikasi penting? “Karena seorang kurator harus bisa menjelaskan pada khalayak tentang kenapa karya seorang seniman menjadi penting dengan bahasa yang mudah dipahami dan diterima lingkup yang lebih luas,” katanya berteori. “Tak hanya bagus,” lanjutnya, “Tulisannya juga harus analitis. Kurator juga sebaiknya pandai berbahasa Inggris, karena ini penting untuk membuka jejaring yang lebih luas dan tidak hanya berkutat dengan perkembangan seni rupa local,” tandasnya. Satu hal yang tak boleh absen dari seorang kurator, menurut Mella, adalah memiliki visi khusus, “Kalau tidak punya visi, bagaimana dia bisa mengambil posisi? Dan pilihan visi itu boleh berbeda dengan orang lain. Dia harus ambil sikap yang jelas,” tandasnya tegas. &lt;b style=""&gt;(Indah Ariani) Pengarah Gaya: Karin Wijaya, Dany David, Fotografer: Suryo Tanggono, Ferdy, Busana: Rias Wajah&amp;amp; Rambut Alia Swastika:Aries, Lokasi: Museum Akili, Galeri Nasional, Rumah Seni Cemeti, IVAA&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5717489757531263022-813086175738720466?l=indah-ariani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indah-ariani.blogspot.com/feeds/813086175738720466/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://indah-ariani.blogspot.com/2009/08/pemeta-seni-rupa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717489757531263022/posts/default/813086175738720466'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717489757531263022/posts/default/813086175738720466'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indah-ariani.blogspot.com/2009/08/pemeta-seni-rupa.html' title='PEMETA SENI RUPA'/><author><name>indahariani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01863084398389371134</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S5joGjEc2iI/AAAAAAAAAFs/giY1-nj4iUQ/S220/cemong.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5717489757531263022.post-4707709724594610291</id><published>2009-06-08T01:25:00.000-07:00</published><updated>2009-06-08T02:31:00.599-07:00</updated><title type='text'>DUNIA NADA DEWI DAN PETER</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/SizXX1seVRI/AAAAAAAAABY/qsHam79RQFM/s1600-h/Dewi-Peter.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 214px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/SizXX1seVRI/AAAAAAAAABY/qsHam79RQFM/s320/Dewi-Peter.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5344883662332515602" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Lewat musik dan tangan dinginnya,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mereka berdua berhasil ‘membawa dunia’ ke &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Pada paruh akhir 2004, di tengah kesenyapan festival musik jazz tanah air, setelah vakumnya Jak Jazz&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang cukup fenomenal pada dekade ‘90an, pecinta jazz &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Jakarta&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt; dikejutkan sebuah kabar tentang akan digelarnya Jakarta International Java Jazz Festival. Dengan slogan &lt;i style=""&gt;bringing the world to &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;, banyak orang yang memandang festival tersebut terlalu ambisius. Namun itu tak mengurangi antusiasme warga &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Jakarta&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt; menanti nama-nama besar seperti James Brown, Laura Fygi dan Incognito yang direncanakan datang ke festival itu. Sepanjang ‘penantian’ menuju Maret itu, aura jazz seakan membalut &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Jakarta&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;. Radio-radio dan media cetak seperti menjadikan ajang yang lebih kerap disebut dengan nama Java Jazz ini sebagai tema seksi yang selalu menarik dibicarakan. Berbagai kuis berhadiah tiket masuk Java Jazz digelar beberapa radio dan selalu kebanjiran peserta. Semua dibuat penasaran oleh Java Jazz. Itu baru di udara. Di kantor Java Festival Production(JFP) di bilangan Permata Hijau, kesibukan tak henti berputar mempersiapkan hajatan besar yang debutnya digelar pada 2005. Belum lagi, sebulan terakhir sebelum hari H, setiap puluhan wartawan seliweran keluar masuk ruang &lt;i style=""&gt;media relation&lt;/i&gt; untuk mengurus kartu identitas mereka. Entah untuk difoto atau mengambil &lt;i style=""&gt;id card&lt;/i&gt; yang sudah jadi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Memasuki awal 2005, debaran jantung para pecinta jazz berdetak makin kencang seiring semburan musik jazz yang terus saja mewarnai langit &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Jakarta&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;. Dan degupan yang dipendam berbulan-bulan itu seakan tumpah di jantung &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Jakarta&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;, tepatnya di Jakarta Convention Center(JCC) pada awal Maret 2005. Buncahan gembira itu bersambut gempita musik yang memancar dari berbagai ruang di seluruh JCC. Nyaris tak ada ruang yang sepi pengunjung. Dari konser besar James Brown, hingga klinik musik tak pernah ditampik pecinta jazz yang rela berlari-lari dari saru ruang ke ruang lainnya. Ratusan lainnya duduk menggeletak di tepi-tepi ruangan, melepas lelah, meluruskan kaki sambil berceloteh girang tentang apa yang barusan mereka lihat bersama teman-temannya. Pemandangan unik yang lantas jadi generik terjadi pada setiap Java Jazz yang terus saja meningkat pengunjungnya hingga tahun kelima digelar. Festival jazz yang dengan jujur diakui mengambil konsep North Sea Jazz Festival yang sangat terkenal itu, menangguk sukses bahkan melebihi acuannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Tahun 2009 ini, tak kurang dari 80 ribu orang memenuhi JCC untuk menyaksikan Java Jazz. Semua pengunjung seperti datang ke rumah sendiri dan sudah tahu aturan mainnya. Mereka mengantre berjam-jam untuk menonton artis idola mereka seperti Jason Mraz atau Bryan Mc Knight. Mereka membuang sampah di tong-tong sampah atau plastic-plastik besar yang disediakan di hamper setiap sudut ruangan. Yang paling mengharukan adalah, ketika sebuah konser akan dimulai, seisi ruangan dengan lantang menyanyikan Indonesia Raya yang membuat bulu kuduk akan meremang. Kendati mungkin terlihat kecil, hal-hal detail ini sanggup membuat kebanggaan sebagai Bangsa &lt;/span&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt; muncul. “Kami memang ini menunjukkan pada dunia, bahwa &lt;/span&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt; bangsa berbudaya yang bisa punya festival kelas dunia,” kata Peter F. Gontha yang bersama putrid tercintanya berhasil mengukuhkan Java Jazz sebagai sebuah festival penting di percaturan musik jazz dunia. Tapi bukan kberarti segalanya mudah bagi mereka. Ada banyak cerita tersimpan di balik sukses festival yang tahun 2010 mendatang akan menempati ‘rumah’ baru di area Jakarta Fair di Kemayoran. Tak ada kata coba-coba dalam kamus mereka karena apa yang dilakukan pasti sudah melalui pertimbangan dan perdebatan panjang yang kadang-kadang berujung ‘perseteruan’ antara Peter dan Dewi. Namun meski mereka berdua kerap lelah dan berpikir untuk menyudahi kerja mereka, keduanya toh sepakat kalau Java Jazz tak boleh mati. Namun mereka menolak disebut sebagai spesialis jazz. “Karena kami membuat festival musik lain juga. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Kelihatannya Java Jazz sekarang ini bukan lagi sekadar ajang musik, tapi sudah melebar menjadi sebuah ajang &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;gaya&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt; hidup. Banyak hal yang biasanya seperti tidak bisa diterapkan nyatanya bisa diterapkan dengan baik pada JJF, misalnya soal kebersihan, soal budaya mengantri dan itu sebuah fenomena yang menarik. Bagaimana pendapat Anda tentang ini?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Peter F. Gontha(PFG)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;: Gini, sebetulnya, kami sedang mendidik orang untuk menghargai industri kreatif. Kalau di dunia, &lt;i style=""&gt;entertainment industry&lt;/i&gt; itu industri yang paling besar, lebih besar dari pada industri otomotif atau yang lainnya. Di Amerika, pendapatan yang diperoleh dari industri kreatif ini paling besar nilainya. Ini termasuk dari televise, film, radio, talkshow, musik, drama dan sebagainya. Di Indonesia juga sebenarnya demikian. Hanya saja belum disadari. Bayangkan saja, dari &lt;i style=""&gt;ring back tone&lt;/i&gt; (RBT) volume pemakaiannya sedemikian besar di &lt;/span&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt; dan &lt;i style=""&gt;revenue&lt;/i&gt; yang dibuat dari &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;sana&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt; sedemikian besar. Tapi ini &lt;/span&gt;&lt;st1:state&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;kan&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:state&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt; ada beberapa kendala. Kalau kita lihat penonton sebuah konser musik rock, itu yang datang rocker semua dan rocker itu punya tendensi konsernya akan terkesan ugal-ugalan. Padahal tidak. Ini kami buktikan ketika kemarin kami menghadirkan Slank di arena JJF. Nyatanya banyak orang yang suka musik rock juga. Cuma karena kesannya urakan, orang yang senang rock jadi tidak datang. Ketika kemarin konsernya digelar di ajang yang teratur, mereka datang dan meski pun dalam pertunjukan Kaka buka baju, tapi mereka menerima itu sebagai part of a concept. Sampai kemarin para personil Slank sendiri cukup kaget ketika menyadari penonton mereka kebanyakan perempuan. Mereka berkomentar lucu,” Kalau polisi punya polwan, ternyata kami punya Slank-wan. Perempuan penggemar Slank.” Ini &lt;/span&gt;&lt;st1:state&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;kan&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:state&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt; sebuah bukti kalau musik itu punya kemampuan menembus batas apapun. Memang JJF ini jadi satu fenomena tersendiri. Tapi jangan salah, tiap kali kita bikin usaha, ada hal menarik yang saya amati, yang terjadi dengan pers. Pers punya tendensi untuk ‘memusuhi’ pengusaha yang membuat sesuatu dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;memberi penilaian ‘miring’ pada apa yang dilakukan oleh pengusaha. Tapi itu tidak terjadi dengan JJF. Ini seperti anomaly. Mungkin karena musik entertaining, menyenangkan orang, jadi tanggapannya juga selalu positif. Wartawan ini contoh ekstremnya. Saya piir, hal yang sama juga terjadi pada lingkup masyarakat yang lebih luas. Melalui musik mereka jadi senang, sehingga, ini jadi sesuatu yang ditunggu. Dari pengamatan kami, begitu sudah Senin sebelum festival, itu sudah terasa hype jazz-nya. Semua terasa bersemangat dan ketika Senin setelah JJF terasa juga keengganan mereka meninggalkan JJF. Itu fenomena aneh menurut saya. Kalau kami sendiri, setelah ini selesai, kami plong. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Dewi Gontha – Sulisto(DGS&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;): Tapi juga ada perasaan kosong setelah hari-hari padat menjelang Java Jazz. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Bisa dibilang Java Jazz ini adalah ‘bayi’ yang Anda berdua lahirkan dan asuh. Pasti ada pasang surutnya. Bisa diceritakan?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;(Sebelum Dewi menjawab, Peter menyambar cepat, “ &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Ada&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt; yang harus diluruskan dulu. Java Jazz ini lahirnya memang dari saya. Tapi setelah itu bayinya ditinggal. Dewi yang mengasuh dan membesarkannya jadi seperti sekarang, hahaha...”)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;DGS&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;: Wah, Papa bisa saja. Sebenarnya sih kalau ditarik ke awal berdirinya Java Jazz ini, yang paling banyak membantu itu media. Karena dari tahun pertama, media memberi kontribusi besar pada JJF. Media cetak dan radio biasanya bahkan sudah memberitakan JJF sejak Desember tahun sebelumnya. Belum lagi beberapa grup media besar yang secara konsisten mendukung baik sebagai sponsor maupun media partner. Dengan pemberitaan yang demikian intensif dan luas, jelas tingkat keterdengaran tentang JJF jadi tinggi juga. Begitu juga dari sponsor. Awalnya sponsor bertanya-tanya apa yang kami jual? Lalu satu sponsor masuk dan akhirnya sponsor-sponsor lain ikut masuk. Pendekatannya memang dari Pak Peter karena saat itu kami belum punya akses ke perusahaan-perusahaan tersebut. Tapi pemilihan media juga membantu kami menentukan market yang hip dan kalau dilihat sekarang, akhirnya, media cetaknya juga memang yang dekat ke &lt;i style=""&gt;lifestyle&lt;/i&gt;, terutama untuk majalah. Kalau untuk &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;surat&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt; kabar sifatnya lebih umum yang bisa menjangkau berbagai lapisan sosial dan umur. Cuma dari situ ternyata pasar terbentuk dengan sendirinya. Yang paling menentukan sebenarnya adalah pemilihan artis. Siapa saja artis yang akan tampil di pertunjukan, akan menentukan siapa saja yang datang, perempuan atau lelaki, umur berapa, itu akan terpengaruh dari artis yang datang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;PFG&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;: Mungkin ini satu hal yang harus diceritakan, dan saya minta ini ditulis. Salah satu orang yang ikut melahirkan dan mensukseskan Java Jazz itu &lt;b style=""&gt;Angki Kamaro&lt;/b&gt;. Tanpa Angki Kamaro yang saat itu jadi Direktur Utama Sampoerna, nggak akan ada Java Jazz ini. Saat itu saya mengejarnya sampai ke &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Los Angeles&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;, saya tunggui dia di hotel untuk menjelaskan tentang konsep acara ini. Angki langsung melihat keunikan acara ini dan langsung setuju bahwa acara ini harus terjadi. Dia, dengan A Mild memutuskan untuk menjadi sponsor pertama. Maka saya berpikir akan membuat Angki Kamaro Award di Java Jazz, karena tanpa dia tidak akan ada event ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Apa ini ‘bocoran’ apa yang akan terjadi di Java Jazz tahun depan?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;DSG&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;: Hahaha, mungkin. Karena biasanya, kalau sudah tercetus begini, tinggal dieksekusi saja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;PFG&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;: Ya, boleh ditulis soal ini. Karena saya pikir, The Angki Kamaro Award ini akan jadi sebuah jadi penghargaan kami buat Angki Kamaro.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Untuk pemilihan artis penampil, porsi pengambilan keputusannya bagaimana? Di mana biasanya kompromi dilakukan?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;DGS&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;: &lt;i style=""&gt;We don’t compromised&lt;/i&gt;. Hahaha… Tapi sebenarnya begini, Papa membuat semua menjadi balance. Beliau yang menjaga keseimbangan sehingga apa yang disebut jazz oleh orang-orang, akan tetap pada tempatnya. Kalau saya mungkin lebih larinya ke acid jazz dan pop. Biasanya kami yang muda-muda mengusulkan beberapa nama yang memang menurut kami sedang hip, seperti misalnya Baby Face atau Jason Mraz. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;PFG:&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt; Saya belum pernah dengar Jason Mraz dan saya Tanya pada mereka, siapa yang kalian datangkan ini? That’s what happened.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Artinya tingkat kepercayaan harus tinggi dalam pengajuan usulan nama ini ya? Bahwa nama-nama yang diajukan sudah sesuai dengan segmen Java Jazz dan akan bisa menyasar pasar dengan tajam, ya?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;DGS:&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt; Iya. Tahun pertama, saya dan teman-teman tidak ikut campur . Hanya Papa dan bagian &lt;i style=""&gt;programming&lt;/i&gt; yang mengatur siapa saja artis yang akan tampil. Dari situ kami melakukan evaluasi sehingga tahun kedua, kami sudah tahu formatnya akan seperti apa. Kami menyarankan siapa yang harus tampil di tahun kedua, lalu Papa dan bagian &lt;i style=""&gt;programming&lt;/i&gt; menentukan mana yang akan diambil dan mana yang harus diganti. Makin ke sini, kami makin berani memberi usulan nama-nama baru.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;PFG:&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt; Seperti sekarang, saya sudah mulai memutuskan untuk tahun 2010. Tahun 2010, umpamanya kalau kita lihat ini (Peter menunjukkan laptop Apple-nya yang tengah menayangkan deretan nama artis yang akan tampil tahun depan sementara Dewi berkomentar, “Waduh… di-release duluan nih, hahaha…”) kita sudah ada Arturo Ferrel, ada Four Brothers, Harry Allan, kemudian ada Sierra Walton, Hendrick Warkins dan untuk tahun depan, headliners kita ini, ada Santana, Baby King, Winton Merzalaes dan sebagainya. Ini email dari road manager-nya Santana, Chris Dalton (Peter kembali menunjukkan layer laptopnya). Saya akan ketemu dia minggu depan, kebetulan saya akan ke LA. Dia mau ketemu saya minggu besok. &lt;i style=""&gt;It takes a whole process&lt;/i&gt; untuk mendatangkan orang-orang seperti Santana. Sebab Santana harus ditarik kemari bukan hanya dengan uang. Santana nggak mau datang ke &lt;/span&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt; karena dia tahu &lt;/span&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt; tukang babat hutan sementara dia seorang environmentalist. &lt;i style=""&gt;That’s why the motto for next year will be Green and Clean.&lt;/i&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Jadi memang harus ada isu-isu yang dimunculkan untuk memberi benang merah dalam setiap festival ya?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;DGS:&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt; Iya. Tahun ini kami mengusung&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tema Festival for All. Tahun depan Green and Clean. Tapi sebenarnya, sudah dua tahun terakhir ini kami bekerja sama dengan LSM lingkungan hidup juga untuk &lt;i style=""&gt;recycling project&lt;/i&gt;. Kami bekerjasama dengan WWF dan beberapa lembaga lain. Makanya sejak 2008, di sudut-sudut tertentu kami memasang video tentang lingkungan hidup. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Efektifkah memasukkan isu-isu sosial seperti itu dalam sebuah festival &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;gaya&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt; hidup seperti Java Jazz? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;DGS:&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt; Efektif atau tidak, kami tidak tahu. Karena bukti apakah mereka menyerap dan melakukan pesan yang disampaikan di sini atau tidak akan terjadi di luar &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;sana&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;. Tapi paling tidak, pesannya itu sampai ke mereka. Kalau kami memberi flyer belum tentu mereka baca. Kalau ini, sebelum show, kami memutar videonya dan mereka akan melihat dengan harapan, awareness mereka tumbuh. Kami hanya bisa melakukan sampai di titik menyampaikan pesannya. Apakah mereka melakukan atau tidak, itu akan tergantung manusianya masing-masing.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Bicara soal ideal, apakah Java Jazz ini sudah memenuhi kriteria ideal Anda berdua untuk sebuah festival?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;DSG&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;: &lt;i style=""&gt;For me its never enough&lt;/i&gt;. Pasti selalu ada yang bisa diperbaiki. Pasti akan selalu ada perbandingan dengan tempat lainnya. Kalau tempat lain bisa membuat itu, kenapa kami tidak? Jadi biasanya kami juga melakukan studi banding dengan festival-festival sejenis di tempat lain. Biasanya Pak Peter yang sering keliling-keliling dan kalau kembali biasanya selalu dengan ide baru. Contohnya seperti kemarin, beliau ingin pakai e-ticket, tiba-tiba semuanya harus online. Memang inovasinya sering dalam hal-hal kecil yang mungkin tidak diperhatikan orang. Tapi pengerjaannya tetap memakan waktu. Bikin ID seperti apa, flownya seperti apa, itu biasanya kami belajar dari melihat di tempat lain lalu coba diaplikasikan dan digabungkan dengan yang sudah berjalan. It’s good enough for now tapi pasti bisa lebih baik. Kalau nggak, jadi nggak kreatif.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;PFG:&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt; Dan kami selalu ingin menonjolkan musisi &lt;/span&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;. Artis-artis &lt;/span&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt; sering salah memahami kami. Kebanyakan mereka punya perasaan kalau kami menganaktirikan mereka. Itu sama sekali tidak benar. Contohnya saja, kemarin kami membuat konser Dwiki Dharmawan dan Saung Angklung Udjo. Itu buat membuka mata orang asing kalau &lt;/span&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt; juga punya talent yang luar biasa. &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Ada&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt; hal yang sangat membanggakan saya di Java Jazz kemarin ketika sedang ada musisi asing yang terkenal main, penonton justru membludak di tempat Kla Project. Itu &lt;/span&gt;&lt;st1:state&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;kan&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:state&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt; bukti bahwa musik negeri sendiri tetap jadi tuan rumah. Saya benar-benar bangga melihat itu. Yang juga tidak banyak diketahui orang adalah bahwa kami juga memproduksi banyak sekali DVD Java Jazz yang kami pasarkan di seluruh dunia dan sekarang DVD itu sudah mulai sangat laku terjual. Setidaknya sudah &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;lima&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt; proyek, seperti Bob James, Tetsuo Sakurai, Jody Watley, Baby Face&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Ini kabar baik di tengah kebanyakan orang &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt; justru membeli produk luar negeri &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;st1:state&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;kan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:state&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;PFG:&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt; Problemnya adalah, produk kami ini justru sudah dibajak di &lt;/span&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;. Padahal, Java Jazz ini juga terkenal di luar negeri itu karena DVD ini. Karena ini orang kenal Java Jazz, orang kenal &lt;/span&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Bagaimana animo pasar luar negeri terhadap DVD ini? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;PFG:&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt; Besar sekali. Sama dengan animo orang membeli produk Amerika.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;DGS:&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt; Karena DVD ini, ada satu stasiun televisi Amerika yang ingin membeli semua program kami untuk tayang di &lt;i style=""&gt;channel&lt;/i&gt; mereka. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Apakah dengan begitu Anda lebih mudah mengadakan pendekatan dan mengundang artis-artis dunia untuk tampil di &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;DGS:&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt; Iya, tentu saja. Cuma kalau boleh mengutip Papa, &lt;i style=""&gt;the best ambassador for the festival&lt;/i&gt;, sebenarnya adalah artis yang tampildi Java Jazz. &lt;i style=""&gt;When they go back, they tell others, they wanna come back with the different project&lt;/i&gt;. Karena akhirnya, artis-artis yang kami undang hanya perlu melihat profil kami di website, melihat nama artis-artis yang pernah tampil festival dan mereka bilang iya. Tanpa sadar kami sudah membangun kredibilitas perusahaan dan jadi jauh lebih mudah untuk meminta mereka datang, termasuk untuk soal negosiasi. Posisi kami jadi lebih kuat. Enaknya kalau festival itu adalah kalau satu artis nggak bisa datang, kami bisa mendatangkan artis lain yang sekelas. Beda dengan konser tunggal yang kalau artisnya nggak datang, acaranya selesai. Jadi kami selalu punya kelebihan untuk nego lebih baik. Dan dari sisi eksekusi, kemudahan lainnya adalah kami sudah punya sistem yang baik dan hanya perlu disempurnakan terus menerus. Yang sedikit jadi hambatan itu justru menyangkut perijinan di dalam negeri. Selalu lama, meskipun kami banyak dapat dukungan dari pemerintah DKI dan Departemen Pariwisata. Tapi itu pun tetap kami cari solusinya supaya tiap tahun kendala yang menghadang kami bisa terus diminimalisir. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Ayah dan anak terlibat dalam satu kerjasama professional. Bagaimana menjaga profesionalitas ketika dalam keadaan hectic?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;PFG:&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt; Justru itu yang sering membuat saya bilang, “Sudah deh, berhentiin saja Java Jazz kalau kita jadi berantem. Kadang hari saya piker, udah deh, nggak mau kerjain Java Jazz, kamu kerjain aja sendiri, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;saya nggak mau turut-turutan. Jadi ribut.” Biasanya itu terjadi karena ada satu pendapat ada yang saya anggap lebih penting, ada yang dia anggap lebih penting padahal dia musti jalanin. Contohnya saja kemarin, saya mengajak Dewi untuk ketemu dengan orang perizinan. Tapi di saat yang sama, dia janji juga ketemu dengan sponsor. Menurut saya, perizinan sebaiknya ditemui dulu karena kalau ada sponsor tapi izinnya nggak dapat &lt;/span&gt;&lt;st1:state&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;kan&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:state&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt; sama saja, acaranya nggak mungkin bisa terlaksana. Kadang-kadang soal prioritas seperti ini yang membuat kami jadi ribut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;DGS:&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt; Padahal menurut saya kalau sponsornya nggak ada, acaranya nggak akan jalan. So that’s where’d they become an argument. Karena menurut saya, apa bisa kita bisa bagi badan? Sementara beliau ini agak susah ‘ditawar’. Kalau beliau mau ke perizinan dulu, maka saya harus ikut ke perizinan. Sementara saya memegang sponsor yang penting dan mereka ini punya kebiasaan kalau nggak ketemu langsung dengan saya, mereka nggak mau. Karena biasanya mereka langsung ngomong branding dan sebagainya. Nah, dalam kondisi seperti itu sebenarnya enak sekali bekerja dengan ayah, karena saya tahu beliau ini kreatif sekali dan pikirannya lebih maju dari kita-kita. Cuma memang beratnya justru karena jadi anak, beliau jadi lebih keras, (Dewi cepat-cepat menyelipkan kata “berasanya” setelah mengucapkan kalimat ini) kepada saya untuk menunjukkan pada yang lain, &lt;i style=""&gt;“I’m not giving you special priorities. You’re my daughter, but you part of company.&lt;/i&gt;” Nah, gitu-gitunya kadang-kadang yang membuat hati kecil saya bilang “waduh, aku &lt;/span&gt;&lt;st1:state&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;kan&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:state&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt; anaknya. Tapi kok keras sekali ya sama aku?” Cuma pada akhirnya saya coba saja lakukan apa yang harus dilakukan. Untungnya tim kerja saya pun menyadari kalau ini memang perusahaan keluarga, jadi sudah maklum. Biasanya kalau sudah mentok sama saya, Papa akan minta tolong pada yang lain. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Jadi enak tidak kerjasama dengan anak atau ayah?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;PFG:&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt; Nggak juga. Mau marah itu anak, nggak dimarahin saya yang stres. Nggak juga kalau dibilang enak. Tapi ya oke-oke saja, hahaha... &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;DGS:&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt; Kalau saya, sejak pulang memang sudah kerja dengan Papa. Jadi ritme kerjanya yang sangat cepat itu yang justru membuat saya terpacu untuk ikut cepat maju. Soalnya kalau dapat orang yang lebih slow atau tidak sepintar papa, mungkin saya juga akan berkembang dengan lambat karena tantangannya kurang. Jadi kalau ditanya enak atau tidak, tentu enak karena saya bisa belajar banyak. Baru kemarin saya bilang, kalau nggak ada Papa, mungkin, &lt;i style=""&gt;I might, I might not wanna do it anymore&lt;/i&gt;. Karena yang nge-&lt;i style=""&gt;push&lt;/i&gt; ini Java Festival Production ini adalah Papa. (Peter menyahut cepat begitu mendengar kalimat ini. Katanya, “Itu satu kesalahan. Saya selalu bilang, ada atau tidak ada saya, Java Jazz tidak boleh tidak ada. Kalau Dewi tidak lagi mengerjakannya, orang lain saja yang mengerjakan. Karena Java Jazz ini tidak boleh lagi berhenti. Karena bagaimana pun, festival ini sudah jadi kebanggaan &lt;/span&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;”). Tapi saya serius. Enaknya bekerja bersama Papa adalah karena saya bisa belajar banyak. Setiap tahun saya belajar banyak hal dari beliau dan ide-ide yang dilontarkannya. Papa itu punya kebiasaan, kalau maunya A, maka kemungkinan A yang akan terjadi itu lebih banyak. Papa tidak senang yang formatnya negosiasi. Kalau negosiasi itu terjadi jauh-jauh hari, fine, beliau masih bisa terima. Tapi kalau negosiasi itu terjadi sebulan sebelum acara, itu sudah tidak ada lagi kemungkinannya. Kalau beliau maunya ini ya sudah, ini yang harus jalan. Itu mungkin yang membuat kerjabarengnya jadi susah. Karena posisi saya adalah pemimpin perusahaan, di satu sisi, kondisi ini membuat dilemma buat saya karena pasti orang berpikir, ini kok pemimpin perusahaannya nggak bisa bicara apa-apa ya kalau komisarisnya datang? Tapi menurut saya semuanya enak-enak saja. (Peter tiba-tiba bertanya pada Dewi, “Tapi &lt;i style=""&gt;so far&lt;/i&gt;, masih ok ya apa yang kita putuskan? Dewi menjawab sambil tertawa, “Masih oke. Tambah kemari sih saya makin diberi kebebasan untuk memutuskan kok.” Peter melanjutkan, “Saya sekarang ini juga sudah semakin tidak &lt;i style=""&gt;involve&lt;/i&gt; kok.”) &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Kabarnya lokasi penyelenggaraan Java Jazz akan dipindah dari &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Jakarta&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt; Convention Centre ke arena &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Jakarta&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt; Fair di Kemayoran. Ini rencana jangka panjang atau coba-coba yang akan di kembalikan ke tempat semula kalau ternyata jumlah pengunjung berkurang dan sebagainya?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;PFG:&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt; Nggak boleh coba-coba. Kami sudah merencanakan kepindahan ini sejak tiga tahun yang lalu. Tapi kami memang menunggu sampai Java Jazz ini &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;lima&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt; tahun berjalan dulu. Kami juga ingin membangun image baru tentang Jakarta Fair. Selain itu, di &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;sana&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt; parker lebih gampang. Kalau dibilnag jauh, tidak juga. Saya dan Dewi sudah mengetes pergi bermobil ke &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;sana&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt; pada hari Jumat sore, Sabtu sore dan Minggu sore. Dari Semanggi sampai ke Kemayoran, hanya 25 menit. Kalau sekarang kita lihat di Java Jazz, orang mau mengantri, parkirnya di lapangan tennis atau bahkan di Hotel Mulia dan harus berjalan kaki cukup jauh. Sementara kalau di Kemayoran nanti, parkir tersebut bisa diatasi. Orang nggak akan lagi kesulitan mencari parkir dan bisa menikmati jazz dengan tenang. &lt;b style=""&gt;(Indah S. Ariani) Pengarah Gaya: Ayunda Wardhani, Foto: Honda Tranggono, Busana (jaket dan kemeja Dewi): Sally Koeswanto, Rias Wajah: Billy Arya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5717489757531263022-4707709724594610291?l=indah-ariani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indah-ariani.blogspot.com/feeds/4707709724594610291/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://indah-ariani.blogspot.com/2009/06/dunia-nada.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717489757531263022/posts/default/4707709724594610291'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717489757531263022/posts/default/4707709724594610291'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indah-ariani.blogspot.com/2009/06/dunia-nada.html' title='DUNIA NADA DEWI DAN PETER'/><author><name>indahariani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01863084398389371134</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S5joGjEc2iI/AAAAAAAAAFs/giY1-nj4iUQ/S220/cemong.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/SizXX1seVRI/AAAAAAAAABY/qsHam79RQFM/s72-c/Dewi-Peter.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5717489757531263022.post-4491794916566564606</id><published>2009-05-07T21:13:00.001-07:00</published><updated>2009-05-10T10:00:51.288-07:00</updated><title type='text'>JAM SESSION Slank dan Ursula</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/SgO4hsIqHKI/AAAAAAAAAAM/WHrUK_qFX84/s1600-h/slank.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 293px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/SgO4hsIqHKI/AAAAAAAAAAM/WHrUK_qFX84/s400/slank.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5333309272659467426" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;Lewat gambar, mereka ‘menyanyikan’ &lt;/b&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;b style=""&gt;Indonesia&lt;/b&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;b style=""&gt; dengan irama yang tak biasa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;Siapa tak kenal Slank? Grup musik rock legendaris era 90-an yang eksistensinya masih terpancang kokoh hingga kini. Berbasis fans yang mereka sebut sebagai &lt;/i&gt;Slankers,&lt;i style=""&gt; mereka mewarnai tak hanya kancah musik, tapi juga sosial politik lewat lirik lagu mereka yang ‘&lt;/i&gt;slengean&lt;i style=""&gt;’ dan sangat lugas. Tahun 2008 silam, mereka menapak usia 25. Sebuah daya tahan cukup fantastis dari sebuah grup musik. Maka tak salah kalau Garin Nugroho tertarik membuat catatan tentang mereka dalam bahasa visual. Ide yang sempat tercetus saat &lt;/i&gt;jarig&lt;i style=""&gt; ke-20 Slank ini sempat beku oleh kesibukan dua pihak. Ide yang lalu menggeliat setelah &lt;/i&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;i style=""&gt;lima&lt;/i&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;i style=""&gt; tahun tertidur karena Garin bertemu Ursula Tumiwa yang setuju membiayai pembuatan filmnya. “Iya, seperti orang gila mencari orang gila. Kalau nggak gila, Ula (sapaan Ursula) tentu tidak akan mau membiayai film ini, “ tukas Bimbim sambil tertawa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;Maka mulailah mereka menyusun rencana. “Slank cuti konser dua minggu penuh supaya bisa mentaati jadwal syuting yang sangat berbeda dengan pola kerja mereka di musik. Tawar menawar waktunya juga cukup alot dengan pihak produksi,” cerita Masto, manajer Slank, di sela-sela latihan merka untuk tampil di Java Jazz 2009 lalu. Banyak hal baru yang ditemui para personil Slank, juga Ursula yang baru pertama kali memproduseri sebuah film musik. Banyak bahasa visual yang cukup susah mereka mamah. Namun banyak pula hal menyentuh yang mereka rasakan sepanjang proses pembuatan film yang diberi tajuk Generasi Biru. “Awalnya mau dibuat film biografi. Tapi saya nggak mau film yang terlalu mengkultuskan Slank. Saya pikir, akan lebih baik merekam kecintaan kami pada bangsa ini dengan lagu-lagu kami sebagai benang merahnya,” ungkap Bimbim. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;Maka hadirlah Indonesia yang getir dan sedih, terlukai oleh berbagai kejadian tak berpihak pada rakyat seperti penculikan, kerusuhan dan kejahatan kemanusiaan. “Kami ingin bicara banyak sekali lewat film ini. Betapa rakyat kerap jadi korban demi Negara yang dicintainya,” air wajah Bimbim redup saat mengatakan ini. Tapi tak semua suram. Sebab asa adalah hal yang juga ingin mereka semat dan gantungkan di pucuk tertinggi segala pesan yang tersirat. &lt;/i&gt;Peace, Love, Unity, Respect&lt;i style=""&gt;, empat kata yang menjadi jiwa Slank, juga jadi pesan penting. “Indonesia akan bangkit kalau punya damai, cinta, kesatuan dan respek. Kelam dan muram yang terpampang dalam film kami sesungguhnya pengingat bahwa kerusuhan, penculikan dan penindasan hanya akan merusak. Bangsa ini bisa besar kalau itu tak ada.” Pesan yang sama sekali tak sumir dari sebuah film tentang sekelompok musisi rock.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;Siapa yang punya ide awal membuat film Generasi Biru?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;Ursula Tumiwa(UT)&lt;/b&gt; : Ide awal membuat film ini sebenarnya saya dan Mas Garin. Tapi film ini juga tidak akan pernah terwujud kalau teman-teman Slank tidak menerima ide kami. Mas Garin sendiri memang sudah pernah menawarkan ide ini ke mereka beberapa tahun lalu. Cuma belum sempat terwujud karena belum ketemu orang yang mau membiayai. Lalu kami bertemu, ngobrol dengan Bimbim dan senang sekali karena komunikasi berjalan lancar. Konsepnya meluncur dengan cepat. Saya sendiri memang senang dengan film musikal seperti biografi Pink Floyd. Saya berpikir, kalau di &lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;, siapa ya yang paling tepat saya buatkan dokumentasinya. &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; tiga nama yang muncul dalam diskusi saya dan Mas Garin soal ini. Slank, Iwan Fals dan Koes Plus. Pilihan kami jatuh pada Slank.&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;Tanggapan Slank atas tawaran tersebut bagaimana?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;Bimbim (BB)&lt;/b&gt; : Sebenarnya beberapa kali kami ketemu Mas Garin tanpa sengaja dan sempat berdiskusi soal film. Sempat pula tercetus ide membuat film kami. Sekitar &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;lima&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; tahun lalu, saat Slank ulang tahun ke-20 sempat ada upaya membuat dokumentasi tentang kami. Tapi saat itu kami sama-sama sibuk, jadi rencana itu tidak berjalan dengan baik. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;Berapa lama persiapan yang dilakukan dari ide tercetus, datang persetujuan dari Slank sampai mulai syuting?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;UT &lt;/b&gt;: Lumayan cepat. Sebenarnya ide ini oleh-oleh ketika kami pulang dari &lt;st1:state&gt;&lt;st1:place&gt;Berlin&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:state&gt; pada tahun lalu, setelah kami melihat film Rolling Stone. Februari 2008 saya menyambangi tempatnya Mas Bimbim dan diskusi tentang ini. Kebetulan ada momen yang tepat kala itu, seabad Kebangkitan Nasional. Saat itu saya masih bimbang soal sudut pandang yang ingin kami angkat. Kalau kami mengangkat Slank secara utuh, ini akan jadi film biografi. Tapi Mas Bimbim punya ide untuk membuat sebuah film tentang &lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; yang benang merahnya ada dalam lagu-lagu Slank. Setelah ketemu format yang tepat, kami mulai melakukan syuting dokumenternya pada Maret, April, Mei. Untuk dokumenternya, selain menyorot konser Slank di beberapa tempat, kami juga mengangkat para Slankers di tiap &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;. Sebab fenomena Slankers ini sangat menarik. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;BB&lt;/b&gt; :&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Karena kalau kami tidak ada cuplikan konser dan Slankers, film ini akan menjadi sangat tidak hidup. Nyawa kami ada di atas panggung dan para Slankers itu. Bisa dibilang Slank itu akan jadi lebih keren ketika tampil di panggung ketimbang di album.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;b style=""&gt;Ada&lt;/b&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;b style=""&gt; kesulitan meleburkan ide?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;UT &lt;/b&gt;: Kalau dari saya tidak, sebab kami sudah punya bayangan akan jadi seperti apa film ini. Jadi sebenarnya, tantangan itu lebih banyak datang pada Slank. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;BB : Ya. Kami berusaha keras menerjemahkan ide Mas Garin yang memang lumayan berat dan tidak gampang dijabarkan. Kami berusaha membuatnya menjadi lebih enteng, tapi hasilnya ternyata tetap berat juga, hahaha… Untuk soal akting, kami terbantu sekali oleh kemampuan Mas Garin mengeksplorasi kami. Jadi kami ‘tidak sempat’ &lt;span style="font-style: italic;"&gt;jaim&lt;/span&gt; di depan kamera dan bisa tampil natural. Tiap kali terasa kami akan akting, Mas Garin akan menegur, “Jangan akting. Jadi &lt;i style=""&gt;rock star&lt;/i&gt; saja.” Maka kami tampil apa adanya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Bisa dibilang, tidak ada kesulitan bagi saya untuk diajak gila-gilaan. Kalau bisa dianggap kesulitan, yang paling berat adalah mengatasi rasa malu. Canggung sekali ketika saya yang biasa pegang alat (drum) harus tampil di depan kamera, gila-gilaan tanpa pegang alat. Sempat terpikir untuk berhenti saat baru mulai latihan. Tapi setelah beberapa kali akhirnya terbiasa juga. &lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;Kaka (KK)&lt;/b&gt; : Untungnya kami ini selalu punya ketertarikan pada hal-hal baru dan segala hal dalam pembuatan film ini sama sekali baru bagi kami. Tawaran untuk menari misalnya, itu sesuatu yang baru yang berusaha kami nikmati prosesnya. Akhirnya jadilah begitu. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;Ridho (RD)&lt;/b&gt; : Saya dan Ivanka tidak mendapat porsi menari terlalu banyak, jadi relatif tidak terlalu masalah. Tapi memang ada beberapa gerakan yang harus kami hafal dan eksplorasi. Itu yang lumayan berat. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;Di film Generasi Biru, Anda semua dapat ‘pasangan’ main yang berbeda. Bimbim dengan Lio yang tuna rungu, Abdee dengan para ibu yang mencari orang hilang, Ridho dan Ivanka dengan manusia hewan. Casting yang paling menyenangkan mungkin jatuh pada Kaka yang dipasangkan dengan Nadine. Apa yang lain puas dengan pembagian peran tersebut?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;KK &lt;/b&gt;: (sambil tertawa keras) Wah… jangan mancing, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;dong&lt;/span&gt;…&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;BB &lt;/b&gt;: Iya, saya minta tukar peran nggak boleh sama Mas Garin, hahaha&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;Ivanka (IV)&lt;/b&gt; : Tapi saya melihat, Mas Garin sangat jenius untuk memilih karakter. Dia bisa dengan tepat memberi peran sesuai karakter kami. Contohnya saya dan Ridho. Bisa dibilang, kami memang selalu kemana-mana berdua sampai orang sering keliru membedakan antara saya dan Ridho. Sering tertukar.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;UT &lt;/b&gt;: Kalau dari sisi produser, saya benar-benar senang karena kesediaan mereka terlibat proses pembuatan film ini seperti sebuah penghargaan Slank bagi kami. Ketika proses produksi sudah selesai, saya berpikir, ini kerja berat yang tidak mudah dilakukan dan Slank melakukannya dengan sempurna. Mereka benar-benar berkelas, meski banyak yang menganggap film ini tidak cair. Tapi mereka sejak awal toh memang sudah berbeda. Bagus juga kalau mereka juga membuat film yang berbeda. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;Bagaimana cara Slank menyesuaikan diri dengan hal dan lingkungan kerja baru?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;UT&lt;/b&gt; : Mereka ber-&lt;i style=""&gt;jam session&lt;/i&gt;. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;BB&lt;/b&gt; : Ya. &lt;i style=""&gt;Jam session&lt;/i&gt;. Itu istilah yang tepat. Kalau ketika bermusik kami ber-&lt;span style="font-style: italic;"&gt;jam session&lt;/span&gt; dengan musisi, maka di sini kami melakukannya dengan kameramen, koreografer, dan animator. Persis seperti kalau kami datang ke tempat latihan dan mulai mencari nada untuk dipadukan. Kelihatannya, orang-orang yang terlibat dalam film ini memang sengaja dipilih yang pernah bekerja sama dengan kami dalam pembuatan klip atau produksi lain, sehingga tidak terlalu sulit menjalin komunikasi. Itu juga membuat mereka sudah paham musik dan jiwa Slank. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;Film ini berarti apa bagi Anda semua?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;BB&lt;/b&gt; : Saya ingin &lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; punya film musik. Saya berharap ini jadi harta karun buat Indoensia karena tidak akan habis dimakan waktu. Entah itu ceritanya, lagunya, gambarnya. Mungkin sepuluh tahun lagi, film ini akan jadi acuan film musik dari &lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. Jadi nggak cuma Pink Floyd, The Doors atau Rolling Stones saja yang punya dan bisa dijadikan acuan. &lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; pun punya. Saya agak prihatin melihat dokumentasi musik &lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. Setidaknya, ini adalah awal dan contoh bagaimana sebaiknya sebuah film musik dibuat. Saya yakin setelah ini, akan banyak yang membuat seperti ini. Bukankah budaya adalah jendela yang sangat biasa untuk melihat sebuah bangsa?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;UT&lt;/b&gt; : Film ini, meski bercerita tentang &lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;, sebenarnya juga mencerminkan sekali ruh Slank. Bagaimana mereka konsisten menyebarkan virus damai sekaligus tetap kritis pada fenomena sosial yang terjadi di masyarakat.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;KK&lt;/b&gt; : Buat saya, film ini menunjukkan kalau saya tidak cocok jadi bintang film, hahaha… Kapok sih tidak, tapi saya rasa, pola kerja film itu tidak pas dengan pola kerja saya. Kerja dari jam enam pagi dan kelarnya entah jam berapa. Tapi saya bangga sekali bisa membuat film ini bersamaan dengan 100 tahun Kebangkitan Nasional, ulang tahun Slank yang ke-25 dan 2008 kemarin, tahun yang baik bagi Slank karena banyak sekali kejadian baik yang kami terima, ditutup dengan selesianya film ini. Jadi ini sebuah fenomena yang bersejarah sekali bagi kami. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;Abdee (AB)&lt;/b&gt; : Saya tidak tahu apakah pesan dalam film ini tersampaikan dengan baik. Tapi bagi saya dan Slank sendiri, ini hal baru yang sangat eksperimental. Cara tutur Slank dalam lagu yang sangat lugas, sebenarnya agak berbeda dengan cara tutur film ini yang sangat simbolik. Saya masih menyimpan pertanyaan besar itu. Apakah &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;gaya&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; tutur simbolik ini akan efektif menyampaikan pesan Slank yang biasa disampaikan secara lugas. Tapi memang seperti kata Bimbim, film ini akan jadi harta karun karena ini pola yang benar-benar baru untuk sebuah film tentang grup musik. Biasanya, sebuah film musik hanya butuh tiga unsur untuk membuatnya menarik. Musik, gambar dan drama. Di film ini, unsur itu ditambah lagi dengan unsur lain seperti animasi, pantomim, dokumenter, instalasi. Bisa dibilang hampir semua unsur seni ‘berat’ itu coba dimasukkan. Maka, saya penasaran sekali apakah ramuan itu akan berhasil atau tidak.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;IV&lt;/b&gt; : Saya &lt;i style=""&gt;excited&lt;/i&gt; sekali karena terlibat dalam sebuah karya luar biasa yang belum pernah ada di &lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. Buat saya ini eksperimen yang dahsyat. Mungkin masyarakat memang akan perlu waktu untuk mencerna film ini sampai mereka mengerti benar pesan apa yang ingin kami sampaikan. Dan ketika saat itu tiba, film ini akan jadi buah tangan dari Garin dan Slank untuk bangsa ini, terutama bagi generasi setelah kami. Mereka akan bisa memahami bahwa &lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; pernah punya permasalahan. Saya setuju dengan Abdee. Kami tinggal tunggu saja bagaimana film ini akan bergulir nanti. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;RD &lt;/b&gt;: Film ini membuat saya punya penglaman pribadi terlibat dalam sebuah produksi film, ditangani oleh sutradara berkelas, temanya juga nggak jauh-jauh dari pekerjaan saya sebagai musisi walaupun perlu beberapa kali menonton untuk memahami dengan baik apa arti film kami sendiri. Tapi ini akan jadi pengalaman berarti yang bisa saya ceritakan pada anak cucu saya nanti. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;Apakah personil Slank lain masih berminat main film lagi atau seperti Kaka yang sudah menyerah bilang tidak cocok main film? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;IV &lt;/b&gt;: Mau kalau Nadine-nya ada &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;lima&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;, hahaha…&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;RD&lt;/b&gt; : Iya, akan dipikirkan lagi mau tidaknya kalau Nadine-nya ada &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;lima&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;KK&lt;/b&gt; : Hahaha, &lt;i style=""&gt;gue&lt;/i&gt; nggak minta lho untuk dipasangkan dengan Nadine! Tapi memang di awal pembicaraan tentang film ini, Mas Garin bilang kalau nanti, saya akan mendapat porsi koreografi lebih banyak dari teman-teman lain. Lalu ditanyakan juga pada saya siapa kandidat pemeran wanitanya. Saat itu nama yang muncul dari saya adalah Aura Kasih dan Kinaryosih. Nadine sama sekali tidak muncul. Tim produksi yang memilih. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;BB&lt;/b&gt; : Asumsi saya tentang pertimbangan memilih Nadine barangkali adalah, kalau Slank dianggap sebagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;rock band&lt;/span&gt; &lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;, maka Putri &lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; yang pas untuk jadi pendampingnya. Terserah Putri &lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; tahun berapa, hahaha… &lt;b style=""&gt;(Indah S. Ariani) Pengarah Gaya : Karin Wijaya, Fotografer : Albert , Busana Ursula : , Rias wajah: Adi Wahono&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5717489757531263022-4491794916566564606?l=indah-ariani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indah-ariani.blogspot.com/feeds/4491794916566564606/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://indah-ariani.blogspot.com/2009/05/jam-session-slank-dan-ursula.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717489757531263022/posts/default/4491794916566564606'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717489757531263022/posts/default/4491794916566564606'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indah-ariani.blogspot.com/2009/05/jam-session-slank-dan-ursula.html' title='JAM SESSION Slank dan Ursula'/><author><name>indahariani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01863084398389371134</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/S5joGjEc2iI/AAAAAAAAAFs/giY1-nj4iUQ/S220/cemong.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_YOSJo2wTdyA/SgO4hsIqHKI/AAAAAAAAAAM/WHrUK_qFX84/s72-c/slank.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
